Jarinya mengetuk-ngetuk stir mobil. Sesekali aku bisa melihat sudut matanya melirik padaku dengan gelisah, sama seperti yang mataku lakukan—meliriknya.
Seperti ada yang ingin disampaikan bibir itu, namun ia terlihat ragu untuk mengatakannya.
"Terimakasih untuk yang kemarin. Aku benar-benar berhutang padamu."
Ah akhirnya dia membuka suara. Lega sekali. Suasana jadi tidak sepertiku kuburan lagi.
"Santai saja. Kamu tidak perlu sungkan begitu. Secara pribadi aku memang kesal dengan perempuan tanpa akhlak tersebut."
"Ya aku rasa semua orang juga memiliki kekesalan pribadi dengan tindakannya."
Aku mengangguk setuju.
"Aku jarang mendapatkan libur dari asrama. Bagimana jika hari ini aku mentraktir kamu makan sebagai ucapan terimakasih?" tawarnya bersama seulas senyuman manis.
Melihat senyumnya yang manis tersebut secara otomatis aku ikut tersenyum. "Boleh." Tentu saja. Siapa yang bisa menolak kemanisan itu.
Dia menghentikan mobil di salah satu restauran. Aku canggung saat turun karena masih mengenakan seragam sekolah. Lagian kenapa dia mengajak tiba-tiba sih. Kan aku jadi tidak memiliki persiapan sama sekali.
Kami kemudian berjalan masuk ke dalam restauran. Ada spasi yang lumayan di tengah kami. Siapapun pasti tahu hubungan kami masih terlihat canggung.
Meja di sudut menjadi pilihan kami. Jendela kaca besar menampakkan taman hijau. Suasana menjadi sangat nyaman sekali.
"Selamat siang."
Waiters menghampiri meja, memberikan kami masing-masing satu buku menu.
Aku diam-diam mengamatinya, mencoba melihat halaman berapa yang ia buka. Tentu saja kalau aku akan memilih salad. Kalau dia entahlah.
"Kamu mau memesan apa?"
"Ah itu.." Aku menjatuhkan cepat kepalaku pada buku menu. Duh Seria, untung tidak ketahuan.
"Mau coba ramen?" tawarnnya.
"Boleh." Aku langsung menutup buku menu. "Satu porsi ramen dan sparkling cucumber limeade."
"Samakan dengan punya saya," kata Ian. "Untuk dessert saya mau chocolate cake."
Kepergian waiters menjadikan suasana kembali canggung. Aku tidak tahu harus mengangkat topik apa. Rasa-rasanya tidak ada yang baik.
"Soal pertandingan itu, apa kamu jadi datang?"
"Kenapa? Kamu salah satu pemainnya ya?" ledekku. Pasalnya dia terlihat antuasias mengundang. Jadi aku tidak bisa menahan curiga kalau memang dialah salah satu pemain dari Andromeda.
"Begitulah."
Aku berbinar. "Serius?"
Dia mengangguk. Oh Ian, bisakah kamu berhenti tersenyum setiap mengeluarkan kalimat. Apa kamu tidak sadar, itu sangat-sangat manis tahu.
"Apa posisi kamu?"
"Striker," balasnya.
"Keren! Kamu pasti jago."
"Biasa saja. Jadi bagaimana, aku yang akan main. Kamu datang atau tidak?"
"Gimana ya?" Aku pura-pura berpikir, menikmati ekspresi penasarannya. "Boleh deh. Tapi duduk kan di tribun itu panas."
"Aku keluar dari asrama dua minggu sekali. Kamu bisa minta traktiran saat itu."
Ya ampun, dia menganggap serius kalimatku. Padahal hanya candaan loh.
"Oke," kataku setuju. "Aku akan minta traktiran saat kamu keluar dari asrama."
Dia tersenyum saja. Ya Tuhan, kenapa laki-laki ini selalu tersenyum? Aku bisa diabetes. Apalagi dia memiliki wajah tampan disaat yang bersamaan. Damage dari perbuatannya tersebut menjadi berkali-kali lipat.
***
Senyumnya manis sekali. Bahkan tidak hanya saat berfoto. Setiap berbicara dia juga kerap tersenyum. Manis sekali. Tawanya apalagi. Argh, kenapa bisa ada cowok semanis dia?
"Senyum-senyum terus. Kesambet lo!"
Suara galak Devi benar-benar merusak mood. Aku menutup cepat galeri. Bisa-bisa terjadi gempa jika Devi tahu aku menyimpan foto Ian ada di galeriku.
Siapa suruh foto itu terlalu manis. Jadi aku tidak tahan untuk tidak menyimpannya. Dijadikan wallpaper mungkin akan lebih bagus. Tapi aku bukan siapa-siapa Ian. Akan terasa aneh jika aku memasangnya.
"Kata nenek aing, kalau senyum-senyum sendiri itu pertanda umurnya tinggal seliter."
Ucapaan Zion pokoknya jangan dimasukkan ke hati. Itu saja pesanku.
"Seliter gundulmu!" sambar Devi. "Kamu kira air apa?"
"Ibunya singa diam deh. Aing jadi gak fokus nih main gamenya."
"Halah game gak jelas begitu dimainin."
"Berisik! Daripada maneh, mainya t****k. Joget-joget seperti monyet gila. Bukannya nambah followers malah nambah dosa."
"Gak usah sok bener kamu, cicak purba. Sana pulang! Sudah memasuki waktu indonesia tidur nih."
Ya, jam memang telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dua curut bernama Kevin dan Zion masih belum pulang. Sebenernya bukan hal tabu lagi. Dua orang itu memang telah sering numpang wifi di rumahku. Kalau ditolak nekat duduk di pos satpam berjam-jam. Tidak lupa ikut numpang ngopi. Meresahkan benar.
Bisa dibilang dua orang ini tidak tahu malu. Hal bagusnya, mereka tidak sadar diri jadi kesehatan mental mereka baik-baik saja meskipun telah disindir berjuta kali.
"Sabar dong. Aing mau download film dulu."
"Zi.." panggilku.
"Aya naon, Ratu?"
"Kamu ini sebenarnya anak kolongmerat bukan sih?"
"Tahu tuh," tambah Mila. "Rumah segede istana negara, tapi motor hampir mau roboh. Kuota tiap hari sekarat pula."
"Biasalah mau merasakan kenikmatan miskin," sambung Kevin.
"Kalian jahat ih. Udah ah, aku mau pulang."
Zion menyakukan ponselnya ke saku hoodie hitam yang ia kenakan. "Buruan, Kev. Lima belas menit lagi pintu surga akan ditutup."
"Eh iya." Kevin mematikan ponselnya. Kata orang-orang ibunya galak. Kalau dia terlambat pulang, pintu akan ditutup. Ujung-ujungnya apa? Dia akan tidur di pos satpam. Entah benar atau tidak. Tapi orang-orang mengatakan seperti itu.
"Aing pulang ya, ladies. Jangan kangen ok."
"Pulang sih pulang, tapi gak usah nyomot makanan orang juga ya," sindir Devi.
Cowok rambut brush on top tersebut pun terkekeh. Oh tentu saja tetap lanjut mengambil snack yang ada di meja.
"Bye bye Seria. Jangan lupa suruh Sam kerjain tugas matematika ya."
"Eh iya.." Aku membuka ponsel, memeriksa pesan yang aku kirim pada Sam beberapa menit lalu. Dia bilang ok, tapi sampai detik ini batang hidungnya belum kelihatan juga.
Aliya menyeret naik tubuhnya dari lantai ke sampingku. "Emangnya dia mau datang jam segini?"
"Katanya sih oke, tapi entahlah."
Tring
Sebuah pesan masuk. Dari Zion.
"Plis, Ser. Aku tahu aku ganteng dan hot. Tapi tolong katakan pada Mas Sam kalau kita hanya berteman, tidak lebih. Hanya simbiosis parasitisme saja."
"Apaan sih." Tidak jelas sekali.
"Malam, Tuan."
Aku mendengar suara pelayan Ran dari teras. Detik berikutnya tubuh Sam sudah muncul di daun pintu. Wajahnya sama seperti tadi siang, masih seperti kriminal. Seragam acakan dan tas bahkan masih melekat di tubuhnya. Dia tidak pulang ke rumah? Terus tadi siang hingga malam begini dia dimana?
"Aku numpang mandi."
Manik gelap yang tajam tersebut hanya memandang datar saat melihat ke arahku. Sepadan benar dengan suara dinginnya. Apa dia marah kepadaku karena permintaan tadi siang? Aih kenapa sih aku terus memikirkannya.
Dia menaiki anak tangga. Langkahnya sedikit lemah. Barangkali sudah lelah karena aktifitas seharian ini.
"Dia itu tidak bisa senyum apa," omel Devi. "Hari-hari seperti itu. Apa tidak capek ya?"
Aku mengedikkan bahu. "Al, tadi katanya mau maskeran?"
"Aku kan sudah bilang, sayang. Aku lupa membawa masker."
"Seria kamu kan punya banyak masker. Sedakahin dong sama kaum duafa ini."
Yang Mila katakan memang benar. Aku punya satu laci besar yang hanya khusus menyimpan masker.
"Mau masker apa?"
"Peel of deh." Sementara Aliya meminta jenis itu Devi pula berkata, "aku sleep mask saja. Malas banget nungguinnya."
Aku menyenterkan mata kepada Mila, dia tengah berkutat dengan ponselnya. "Kamu, Mil?"
"Peel of."
Aku meninggalkan mereka. Berharap Sam sedang di kamar mandi. Takut tahu melihat manik dinginnya yang siap membekukan itu.
Syukurlah. Saat aku masuk Sam sudah di dalam kamar mandi. Suara shower terdengar jelas. Bagus, mandi di kamar mandi orang. Untung dia lagi terlihat badmood, aku jadi takut melawannya. Kalau tidak maka sudah pasti kusuruh dia mandi di kamar lain.
Peel of dan sleep mask. Oke. Aku menutup kembali laci. Debam suaranya mungkin terdengar ke telinga Sam hingga suara beratnya mengudara, "siapa?"
"Aku."
Hening.
Tanya atuh ngapain? Suka banget memutuskan pembicaraan. Cih! Dasar badboy kulkas.
***
"Nih pakai di wajah, jangan dimakan."
Aku meletakkan beberapa bungkus peel of mask ke meja dan satu sleeping mask. Tidak lupa beserta mangkuk dan spatulanya.
Saat kami asik berbincang derap sendal terdengar. Itu Sam. Dia tengah menuruni anak tangga sembari memiringkan kepala dan mengetuk pelan. Mungkin air masuk ke dalam telingnya. Jadi heran. Dia mandi memangnya seperti apa sampai air bisa masuk ke telinga?
"Mana?"
Aliya merosot turun, pindah ke samping Mila saat Sam mendekatiku. Dia duduk, masih mengetuk-ngetuk telinganya.
"Kemasukan air?" tanyaku berbasa-basi seraya mengeluarkan buku dari rak bawah meja kopi.
"Hmm."
Sudahlah, jangan berharap lebih kalau berbicara sama dia.
"Lap dulu dong rambutnya. Nanti sisa airnya menetes ke buku lagi."
Dia meraih handuk kecil yang melingkar di lehernya. Mengusak-usak ke rambut legamnya yang telah terlihat panjang. Benar-benar tidak tahu aturan sekolah memang.
Setelah terlihat setengah kering, ia menarik buku cetak matematika dan buku tugasku mendekat. Manik gelapnya terpaku pada soal sesaat, lalu detik berikutnya penanya mulai menari di kertas. Secepat itu dia tahu caranya? Hebat sekali.
"Lihat sini." Dia mengetuk penanya. Aku pun memajukan tubuh. Dia menjelaskan rumusnya, lalu mulai membahas cara pengerjaannya.
Tiga temanku hanya diam. Tidak ada yang menyela selama tiga puluh menit Sam menjelaskan.
Ia menutup kedua buku tersebut. "Paham kan?"
"Iya." Aneh sekali. Aku paham penjelasannya meskipun belum mengingat rumusnya. Penjelasan dia jauh lebih mudah dimengerti dari penjelasan Bu Reta. Sungguh.
Dia beranjak, pergi menuju ke arah dapur.
Huh
Aku mendengar helaan Mila. "Serem banget sih dia."
"Hala.."
"Apa?" potongku. "Kamu mau bilang tidak, Dev? Kenapa tadi tidak mengatakan begitu di depannya?"
Wajah Devi merengut. "Siapa yang mau bilang begitu."
"Kamu mah cuma jago di belakang," ejek Aliya setengah terkikik.
"Diam kamu!"
Devi-Devi. Kelihatannya benci banget sama Sam. Tapi tidak berani mengatakan langsung. Hadeh. Sama sih, aku juga hiks.
Namun belum benci, masih perasaan tidak suka saja akan cara hidupnya. Pakaian asal, cara memandangnya, aku tidak suka itu.
"Ser, sini bukunya. Aku mau foto."
Aku memberikan bukuku. Cepat-cepat Mila memfotonya.
"Kirim ke aku," seru Aliya.
Mila melirik Devi. "Kamu mau juga tidak, Dev?"
"Gak perlu. Aku bisa minta Nayala."
Terserah dia saja. Aku tidak peduli. Palingan kalau sudah kepepet bakalan minta juga.
"Gengsi bener," ejek Aliya. "Padahal sama Nayala belum tentu dikasih."
"Siapa bilang? Aku sudah mengancam dia."
"Mengancam? Dengan apa?" tanyaku heran. Selama ini ancaman seperti akan dijauhi, dibully atau apalah itu selalu diabaikan oleh Nayala. Keberhasilan Devi patut dipertanyakan. Apa ancaman yang dia berikan?
"Ada deh."
Yah dia malah main rahasian.
***