Dua Puluh

2042 Kata
"Sam, tadi Robee kemari loh," laporku saat Sam baru masuk ke ruang santai. Ia melepas topi hitamnya. Jelas terlihat bekas lebam di sudut bibirnya. Hanya itu, tapi menyakinkan aku bahwa dia telah berperang dengan Robee. "Apa yang dia lakukan?" "Minta maaf. Padahal dia tidak punya salah." Aku membuka lembar buku berikutnya. "Aneh bukan?" "Apa anehnya. Kamu saja yang tidak menyadari." Sam menyampirkan jaketnya di punggung sofa. "Makanya lain kali jangan pakai pakaian SD lagi." "Maksudnya?" "Lupakan." Ia menarik remote dan mengganti siaran. "Ayahmu sudah berangkat?" "Sudah, tadi sore." "Apa yang kamu baca?" Dia memiringkan tubuh, sontak aku menjauhkan wajah. Aroma nikotin dan woodynya itu loh. Mainly benar. Tidak puas dengan isinya, dia memiringkan buku untuk melihat covernya. "Fashion design. Bagus." Ia menjatuhkan wajah dan melipat kaki, mengganti channel tanpa berbalik lagi. Kelakuan yang sangat absurd. Tring Ian. Begitu yang langsung diteriakkan oleh kepalaku. Benar saja. Itu memang Ian, dia bertanya hasil ulangan matematikaku hari ini. Sayang nilainya belum keluar. "Kalau rendah kamu harus mentraktir aku." Begitu katanya. Loh kok begini? "Siapa yang kamu chat?" Kujauhkan ponsel darinya. "Hanya teman." "Oh." Ia beranjak. "Aku mau ke dapur. Mau sesuatu?" "Kata Bibi Felin salad karage ayam itu buatan kamu. Buatin lagi dong." "Oke." Penurut benar kamu, Sam. *** Hari minggu akhirnya tiba. Ian bilang dia akan menjemput pukul sembilan, jadi aku langsung bergegas mandi dan mencari pakaian yang pas. Hampir semua baju aku coba patutkan di depan kaca namun semuanya terasa salah. Tring "Pleated skirt dan crop top ungu." Bagiamana dia bisa tahu aku sedang kebingungan? Perhatian yang manis sekali. Aku pergi turun selesai berpakaian dan make up. Kuminta supir mengantar ke cafe simpang agar tidak ada yang tahu aku dijemput oleh cowok selain Sam. Bisa bahaya jika itu sampai ke telinga papa. Sepuluh menit aku berdiri di depan trotoar cafe. Akhirnya sebuah mobil hitam mengkilap berhenti. Kaca depannya turun kemudian. Ian. Manisnya. Aku menarik pintu dan segera menutup kembali. Terkejut sungguh karena mata Ian berkilat marah. Apa aku membuat kesalahan? "Kenapa kamu menuruti kalimatku?" "Hah?" Ia melepas sweater hitamnya, menyisakan kaos putih saja di badan. "Pakai." Aku menerimanya dan langsung memakainya. Aroma lembut parfumnya menggelitik hidung akan sebuah kenyamanan. Mobil begerak menembus keramaian saat dia berkata, " aku tidak percaya seberarti itu bagi kamu." Sudut bibirnya tertarik. Beberapa detik saja sebelum menjadi garis lurus. "Tapi kamu harusnya lebih menghargai tubuh kamu, Seria." Jantungku berdetak. Seperti kalimat Sam. Benar. Aku terlalu ingin tampil sesuai keinginannya hingga lupa menghargai apa yang tubuhku inginkan. Kepala ini tertunduk, malu sekali untuk melihat wajah Ian. Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman akan pleated skrit satu jengkal di atas paha yang aku kenakan ini. "Kamu menarik tanpa mengumbar tubuh. Lain kali jangan seperti ini. Aku khawatir akan ada orang yang tidak mengendalikan diri." "Maaf." Aku mencicit bagaikan tikus yang mengharap pengampunan kucing. "Minta maaflah kepada diri kamu sendiri. Maaf, aku mungkin terdengar menggurui. Tapi Seria, aku tidak ingin orang lain mengganggu kamu. Maaf." Ya ampun apa yang aku lakukan. Malah dia yang meminta maaf. Aku bodoh sekali sih. *** Rasa bersalah masih bersamaku saat kami duduk di salah satu kursi outdoor restauran. Ian melambai pada waiters. Dia memesan beberapa lalu memberi sorot tanya padaku. "Kamu mau apa?" "Sama saja." Aku tidak peduli dengan makanannya lagi. Tentang seberapa spesialnya hari ini hingga seberapa manis Ian dengan rambut hair up-nya. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin pulang dan menangisi kebodohanku. "Maaf aku jadi membuat kamu tersinggung." Sesal menghias penuh wajahnya. Ian! Bagimana bisa kamu menyalahkan diri semudah itu? "Tidak." Aku menggeleng. "Aku yang terlalu bodoh." Harusnya aku benar-benar mengikuti kata Sam. Lebih menghargai diri sendiri. Lihat, bahkan Ian juga ilfeel akan kelakuanku yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. "Hei angkat kepalamu. Aku tidak marah jika kamu berpikir begitu." Takut-takut aku membawa pandangan kepadanya. Ia mengambangkan senyum. Manis dan lembut untuk menghapus perasaan ingin pulangku di dalam sana. "Aku hanya kesal," lanjutnya. Manik tersebut membuktikan jelas. Rasa malu bercampur kesal pada diri sendiri meningkat dibuatnya. "Kenapa kamu memprioritaskan aku di atas diri kamu sendiri? Apa diri kamu setidak berharga itu? Hei kenapa jadi nangis." Ian beranjak, berjongkok di bawahku segera. Panik mengambil alih cepat wajahnya. "Suaraku kekerasan ya? Maaf, aku terbawa emosi." Kugelengkan kepala. "Bukan, Ian. Aku bukan marah, tapi aku malu. Kalian menghargai diri aku melebihi aku sendiri. Sangat memalukan benar." Kulit lembut menyentuh daguku. Membawa aku untuk melihat wajah tanpa ekspresinya. Pelan-pelan jempolnya mengusak-usak air mata yang keluar di sudut mata. "Kenapa kamu menangis? Kalau kamu malu itu wajar, tapi jangan menangis begini. Aku tidak suka." Aku tertunduk. Menepis air mata menggantikan tanganya. Kini yang aku rasakan adalah takut, takut bahwa Ian akan sangat ilfeel padaku. Dimana ia akan menjadikannya alasan untuk menjauh dariku. "Sudah-sudah jangan menangis. Aku semakin merasa bersalah loh." Dia menarik kursinya ke dekatku. "Angkat kepalamu. Senyum," suruhnya kemudian. Kutarik lengkungan paksa. "Nah begini lebih baik." Dia ikut tersenyum. Jelas berbeda. Senyumnya sangat manis sedang aku senyum dibuat-buat saja. *** "Yakin cuma sampai di sini saja?" "Iya, aku mau bertemu temanku." Dia mengangguk. Tapi matanya menelusup jauh ke dalam kaca pintu cafe. Mungkin mencurigai salah seorang di dalam sana yang padahal sama sekali tidak ada hubungannya denganku. "Oh iya sweater kamu." "Simpan saja." Yes. Aku mendapatkan sweaternya. "Terimakasih, Ian." Kudorong pelan pintu. "Hati-hati." Kepalanya mengangguk beriringan senyum. Mobilnya lalu meluncur beberapa menit setelah aku keluar. Oke waktunya menelepon supir. Lama juga aku dan Ian makan. Matahari sampai sudah hampir terbenam padahal kami pergi dari pagi. Makan seafood hanya dua jam, itu pun di d******i oleh obrolan. Lalu kami duduk di pinggir dermaga dan mengobrol panjang. Dia bertanya banyak tentangku, lalu aku melakukan yang sama. Namun tidak bisa begitu banyak karena orientasi obrolan ada padaku. Mungkin karena aku orang baru makanya dia jadi antusias segala tentangku. Baguslah. Aku naik ke level orang yang ia kenal sedikit mendalam. Sampai di ruang tamu aku disuguhi oleh Tuan Samuel Dagantara yang baru menutup majalah di tangannya. "Dari mana?" Aku sebenarnya tidak perlu terkejut. Dia kan selalu bolak balik ke rumah ini seperti miliknya sendiri. "Jalan-jalan." Aku meletakkan tas ke meja dan duduk di hadapannya. "Kamu kenapa datang?" "Berkunjung saja." Tatapan datarnya mulai bermain, menelisik kepala hingga ke ujung kakiku. Naik lagi lalu berhenti pada tubuhku, bukan. Mungkin lebih tepatnya sweater yang aku gunakan. Dari ukuran jelas bukan miliku, belum lagi aroma maskulin yang mengudara. Siapapun tidak akan yakin ini milikku. "Apa sih?" Aku memarahi tatapannya. Ia menariknya kembali. Masih dengan tatapan datar. "Mandilah." "Mandi?" "Adelin berulang tahun hari ini. Dia mengundang kita." "Kenapa dia mengundang aku? Kami kan tidak saling kenal dekat." Aneh benar. Jelas-jelas maniknya selalu memandang aku tidak senang. Kenapa dia malah membuat kesempatan bertemu dengan orang yang tidak dia sukai ini? "Tapi dia menganggap kamu temannya." "Liar!" "Seria.." Nada memperingatkanya menyebalkan sekali. "Aku mau belajar." "Jam 7. Aku jemput." Ia mengembalikan majalah ke meja dan bangkit. "Aku pulang." Pemaksa ihh. Si Adelin itu kenapa juga segala melibatkan aku? Ihh! Meski demikian aku tetap bersiap-siap. Tidak ada dress code kan? Bodo lah. Kalau salah kostum aku pulang saja. Aku mengenakan gaun lilac berbahan sutra sebatas kaki dengan model sheath. Lehernya tipe scopp, jadi untuk menutupi leher jenjangku terekspos banyak aku pun menggerai rambut yang telah digelung ujungnya. "We're just attending a birthday party," kata Sam saat aku keluar menemuinya pukul tujuh. "So what?" Aku memutar tubuh, memperlihatkan kepadanya setiap sisi gaun. "It's doesn't exhibit too much of my skin." Ia menghela kasar. Berbalik dan kemudian menarik pintu mobil. Apa-apaan wajahnya itu? "Aku tidak membawa kado." Jujur saja. Tidak ada juga niat membelikannya kado sama sekali. "Tidak apa-apa. Aku sudah membeli untuknya." "Tentu saja. Kamu kan sangat menyayangi dia." Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa arti. Namun Sam melirik curiga. "Ada apa dengan kalimatmu?" "What? It's just a word, right?" Dia tidak mendebat. Hanya fokus mengemudi hingga sampai di kediaman Adelin. Rumah yang besar. Jika Adelin memang peer group Sam sejak kecil itu berarti salah satu orang tuanya kemungkinan mafia. Wajar saja dia kaya. Begitu turun tangan Sam melingkar posesif ke pinggangku. "Gerah, Sam." Aku menurunkan tangannya. Lagipula nanti Adelin bisa salah paham. Pesta di gelar di ruang tamu yang begitu luas. Perabotan dan dekorasi di d******i oleh warna ungu. Mungkin warna kesukaan Adelin. "Sam." Dia melempar diri ke pelukan Sam begitu kami sampai di depannya. Aku melirik sekitar, riuh rendah terdengar. Ah bagimana aku bisa lupa. Teman-teman Adelin yang hadir adalah murid Neptuna. Pasti mereka bertanya-tanya kenapa aku datang bersama Sam. "Selamat ulang tahun." Sam mendorong tubuh Adelin, terlihat memaksa tapi dalam gerakan lembut. Ia kemudian mengambil mengeluarkan kado mungil dari saku celana panjangnya. Aku benci mengatakan ini, tapi malam ini dia tampan. Tubuh atletisnya dibalut tuxedo hitam dan rambutnya yang ditata ke atas oleh gel sangatlah mempesona. Aura mainly makin menguar kemana-mana. "Aku buka ya?" Kebahagiaan memenuhi wajah Adelin ketika membuka kado mungil tersebut, dia lalu berbinar, melompat senang ke pelukan Sam. Apa sih? Norak banget. "Terimakasih, Sam. Terimakasih." Tangannya memeluk erat Sam. Gosh, kenapa aku jadi merasa salah tempat ya? Mungkin sebaiknya tadi aku tidak datang. "Ayo kita lihat." Sam menarik tangan Adelin. Perempuan tersebut secara otomatis menggerakkan para tamu untuk keluar. "Dia memberikannya mobil." Aku mengelus d**a akan kehadiran Geri. Kulitnya tampak eksotis dengan tuxedo hitam yang ia kenakan. Sepertinya itu memang dress code malam ini. Mungkin. Aku juga tidak tahu pasti, toh datang jalur undangan Sam bukan Adelin. "OMG, lamborgini urus ungu. Sam baik sekali." "So sweet parah. Aku juga mau woi." "Pantas saja Adelin mau dengannya. Dia tidak pelit dan penyayang." "Memangnya mereka pacaran?" Nama Sam dan Adelin naik menjadi bahan gosip sementara aku mulai berpikir. Baik sekali dia sampai membelikan Adelin lamborgini urus. Itu bukan murah. Mungkin dia perlu menjual ginjal seandainya tidak terlahir sebagai Dagantara. "Dia memang sangat sayang kepada Adelin." Ucapan Geri mengembalikan pikiranku. Saat aku menyorotnya untuk meminta lebih dia melanjutkan, "Adelin selalu ada untuknya sejak lama. Jadi dia menganggapnya begitu berharga. But they doesn't love each other. I guess." Nada rendah yang ragu di akhir kalimat sama benar seperti apa yang aku pikirkan. Setelah momen luar biasa tersebut pesta kembali berjalan normal. Adelin masih sangat bahagia bercerita kepada Sam akan pestanya. Sementara aku seperti orang bodoh di samping mereka. Ingin rasanya pulang, tapi dengan siapa? "Kenapa dia ada di sana?" "Kau tidak tahu? Tadi dia berangkat bersama Sam?" "Mungkinkah mereka juga punya hubungan?" "Tidak mungkin. Sam saja mengabaikan dia dan lagi, dia adalah Seria Manhataga." Nah aku jadi bahan gosip. Kugerakkan pandangan ke sembarang arah, berakhir pada Geri yang bercanda bersama anak RedMan lainnya. Lebih baik aku menghampiri mereka. "Boleh bergabung?" "Hai ibu negara," sapa Jason bersemangat. "Cantik banget hari ini." "Sabar-sabar," sambar Deni menarik Jason ke belakang. "Tahan iman. Ini istri Pak Bos." Tawa mereka kemudian meledak. "Kalian ini," hardikan Geri menghentikan tawa mereka. "Abaikan saja, Ser. Ini." Geri memberikan satu gelas minuman dari buffett di belakangnya. "Moctail?" "Coctail," koreksinya. "Kenapa? Kamu tidak minum alkohol?" "Minum." Aku menyesap sedikit. Dingin yang langsung menggerogoti d**a membuat aku baru sadar seberapa panasnya dadaku sebelum ini. Loh kok bisa? Aku kan tidak merasa terpicu oleh apa-apa sedikitpun. "Bu Bos, jangan cemburu." Kalimat Deni sampah benar. Apa aku terlihat cemburu? Tidak kan? "Pak Bos memang baik sama Adelin, tapi gak ada love-love nya. Santai saja. Posisi aman." Gelak pecah lagi. Sialan mereka mengolok-olok aku. "Apa yang kalian tertawakan? Auara gelap yang datang dari belakang menggerakkan leherku. Sudut mataku lalu melirik ke arah kiri. Adelin sendirian di sana, menyambut tamu. Yah drama cintanya sudah tamat. "Tidak ada." Jason mewakili cepat. "Kami hanya bercanda akan hal tidak penting." Pandangan Sam jatuh padaku. "Ayo pulang." Aku memberikan gelas kepada Geri. "Aku pulang dulu ya." "Yoi, hati-hati Bu Bos." Jason melambai-lambai. "See ya di sekolah." Kuberikan senyum tipis. "See ya." "Damn, ibu bos senyumnya manis bener dah. Jadi pengen dikarungin." "Jason!" Suara berat, penuh penekanan dan ancaman. Wajah Jason menjadi kaku. "Maaf, Bos." Dia menepuk bahuku. Dengan demikian aku berjalan mendahuluinya. "Apa tidak apa-apa kita pergi sebelum pesta selesai?" "Hmm." Loh-loh, kenapa aura badmood? Tadi baru saja terlihat senang. Cepat sekali suasana hatinya berubah. "Sam.." panggilku di sela perjalanan kami. "Kamu punya uang darimana membelikan Adelin lamborgini urus?" "Aku punya usaha bengkel mobil dan alat elektronik. Lumayan besar hasilnya. Aku menyimpan beberapa setiap bulan." "Jadi kamu membelikannya mobil itu dengan hasil jerih payahmu?" "Iya." Berarti benar Adelin baginya. Eum, kapan aku mendapatkan yang sama dari Ian? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN