Empat Puluh Lima

1874 Kata
"Ayo makan." Sam mengulas senyum kepadaku. Sungguh ingin aku jitak kepalanya. Bisa-bisanya dia sebahagia itu setelah hampir mengisi penuh piringku. Bagaimana jika aku tidak berhasil menghabiskannya? Paman Ryn mungkin akan mendelik tajam. Apalagi, namaku pun kian buruk di matanya. "Biar gemuk," kata Sam dengan tangan menjepit pipi kiriku. Huh! Dia kira aku sekurus apa? "Kamu diet, Del?" Pertanyaan Paman Ryn spontan membuat aku melihat piring Adelin. Isinya hanya sedikit nasi dan sotong panggang. "T-idak, Paman." Gelagapannya mencurigakan benar. "Jadi, kenapa begitu sedikit?" Perhatian Paman Ryn aku kira berlebihan. Biarkan saja Adelin makan sedikit. Kalau kelaparan nanti palingan dia akan makan lagi. "Sam, tambah makanan Adelin." Ah jadi ini maksudnya? Sengaja begitu agar mendapat perhatian Paman Ryn dan Sam di saat yang sama. Sudah aku duga. Memang tingkahnya mencurigakan. "Tidak perlu, Paman. Saya bisa sendiri." Aku kira juga memang tidak perlu, tapi Sam langsung mengambil alih piring Adelin. "Sam, sudah." Adelin menepuk-nepuk pelan lengan Sam. Mungkin berharap Sam berhenti agar dia tidak terlihat seperti perempuan manja, tapi dari matanya aku tahu itu juga yang dia harapkan. Cih, menjijikkan. Aku akhirnya memilih meraih sendok dan garpu. Mulai memotong sotong panggang menjadi beberapa bagian kecil. Oleskan dengan sedikit saus, lalu makan. Eum, rasanya..berbeda. Lah iya. Bumbu saus ini dibuat oleh Adelin. Pantas saja. "Tidak enak?" Aduh, Sam. Kenapa segala ditanya? Aku jadi bingung antara ingin jujur atau tidak. Masalahnya kalau aku jujur, Adelin akan dipermalukan. Meski dia jahat, tapi aku juga tidak berminat membuat dia semakin menyedihkan. Kudorong bibir ke telinga Sam, mengabaikan ketakutan bahwa Paman Ryn mungkin akan berpikir aku membicarakannya. "Iya, tidak seperti buatan kamu." Bibirnya tertawa kecil. Dilanjutkan oleh tangannya yang mengusak-usak suraiku. "Apa yang kamu tertawakan?" Sam menggeleng akan pertanyaan Paman Ryn. Dia mengambil udang asam manis dan menambahkannya ke piringku. Ya ampun, Sam. Piringku sudah penuh loh. Karena tidak mungkin memarahinya sekarang, aku pun melanjutkan makan saja. Mengetahui saus buatan Adelin tidak lezat, aku pun mengolesnya dengan kuah dari udang asam manis. Ini baru lezat. Ternyata benar. Keahlian memasak Sam adalah bakat. Buktinya Adelin tidak dapat melakukan yang sama, sedangkan Sam dengan mudah dapat melakukannya. "Kenapa rasa saus untuk panggangan ini berbeda? Apa kamu kehilangan keahlianmu, Sam?" Tuh kan. Bahkan Paman Ryn menyadarinya. Cepat-cepat aku melihat wajah Adelin. Ada pias malu di sana, tapi dia cepat mengatasinya dengan terkekeh kecil. "Itu saya yang membuatnya, Paman. Maaf kalau ternyata tidak selezat buatan Sam." "Pantas saja," gumam Paman Ryn sembari menyingkirkan saus buatan Adelin ke pinggir. "Tapi tidak masalah. Kamu sudah berusaha." "Di zaman modern ini perempuan muda jarang memilki keahlian memasak. Awalan yang kamu lakukan sangat bagus." Pilih kasih! Dengan Adelin Paman Ryn terlihat lembut. Sedangkan dengan aku dia seperti tengah menatap musuh saja. Kutarik pandangan agar tidak semakin kesal. Hal yang sama juga dengan pendengaran karena setelahnya mereka membicarakan masa lalu. Dimana jelas-jelas tidak ada aku sama sekali. Sam sesekali melirikku untuk memastikan keadaan. Tapi dia tidak dapat mengabaikan bahwa cerita-cerita yang diangkat berhasil menarik dia pergi dariku. Aku benci suasana ini. Suasana dimana aku hanya seperti angin yang tidak terlihat. Alhasil aku menutupi sedih dengan terus menyuapkan makanan. Beberapa membuat pipiku jadi seperti marmut. Tidak perlu khawatir, karena pastinya tidak ada yang peduli pada penampilanku tersebut. Nasi menggunung dan lauk yang banyak dari Sam akhirnya tandas. Segera aku merasakan perutku begitu penuh. Bahkan jalan nafas terasa sedikit sulit. Mau bagiamana lagi, ini pertama kalinya aku makan dengan porsi empat kali lipat. Ternyata perasaan kesal dan marah memberikan kekuatan hebat begini. Jika terus berlanjut mungkin aku akan segera berakhir menjadi gemuk. "Kami akan langsung pulang," kata Sam begitu dia selesai menghabiskan isi piringnya. "Secepat ini?" Dia mengangguk. "Aku mau mengurus beberapa hal di bengkel." Paman Ryn mengangguk setuju. "Baiklah. Nanti jika ada waktu aku akan berkunjung. Tapi tidak dalam waktu dekat." Pandangan Paman Ryn bergeser pada Adelin. "Kamu juga mau pulang, Del?" "Iya, Paman. Aku mau membantu Sam di bengkel." Kerutan-kerutan halus hadir di dahi Paman Ryn. "Kamu membantu Sam?" Adelin tersenyum kecil. "Sesekali jika ada waktu luang. Tapi aku masih belum ahli. Hanya bisa membantu membongkar-bongkar mesin saja." Cari muka terus! "Luar biasa. Paman tidak menyangka bahwa kamu menyukai otomotif juga." Lagi dia tersenyum kecil. Sok kalem benar. Padahal aslinya seperti iblis. Argh, lama-kelamaan aku ingin menarik lepas topengnya. "Dia tidak menyukainya," sergap Sam. "Tapi hanya mau mengusikku saja." Adelin mencebikan bibir. Yang paling tidak aku duga adalah Sam yang segera tergelak. Tangannya bahkan menjepit hidung Adelin dengan jahil. Jujur, ini pertama kalinya aku melihat perlakuan manis Sam pada Adelin. Mungkin juga adalah kelakuan aslinya yang selama ini tidak aku ketahui. "Adelin adalah satu-satunya perempuan yang dia terima. Terlepas dari dia menyatakan cinta atau tidak, tapi semua orang tahu bahwa hanya Adelin yang paling dia terima. Matanya membuktikan itu dengan jelas." Tubuhku rasanya menyusut mengingat kalimat Paman Ryn semalam. Memang hanya Adelin yang Sam terima. Meski dia tidak menyatakan dengan cinta atau tepatnya mereka hanya dalam lingkaran persahabatan, namun jelas terlihat bahwa Sam menerima Adelin penuh. Itu juga sudah sejak lama. Bisa dibilang sekalipun aku berarti, kini masih tetap kalah jauh dari Adelin. "Kamu hanya alat. Kamu tidak mungkin menerima Sam dan dia juga tidak pernah menerima perempuan seperti kamu." Mungkin aku memang sekedar alat. Lalu yang perlu diingat adalah perasaanku sendiri. Aku tidak menyukai Sam. Jadi tidak masalah jika dia juga tidak menyukaiku. Kutandaskan air mineral di gelas dan kembali meletakannya ke meja. Saat itu Sam segera beranjak, diikuti oleh Paman Ryn dan Adelin. Barang-barangku ternyata telah dikemas oleh maid. Jadi kami hanya perlu langsung masuk ke dalam mobil. Sialannya Adelin akan menumpang. Dia menolak dengan sok mandiri, tapi saat kini berhasil duduk di kursi belakang oleh dukungan Paman Ryn dia pun tersenyum cerah. Memang benar-benar perempuan munafik. "Mau membeli oleh-oleh?" Jika Adelin tidak ada, mungkin aku akan setuju. Tapi karena dia ada, minatku terkuras tanpa sisa. Semakin banyak aku berinteraksi dengan Sam, maka akan semakin banyak dia bertingkah. Lalu hal itu akan membuat mataku kian panas. Akan bahaya jika berujung dengan meledaknya emosi. "Ayo, Ser. Ada banyak kerajinan indah dari desa ini." Tuh kan langsung muncul sikap sialannya. "Aku tidak tertarik," kataku memilih melihat ke luar jendela. Itu terlihat lebih menarik daripada pantulan wajah Adelin di kursi belakang. "Ayolah. Kamu perlu membawa buah tangan untuk sahabat-sahabat kamu atau mungkin pacar kamu." Kalimat itu keluar dengan lancar. Mungkin dia berharap Sam mengartikannya ketidaksengajaan, sementara aku terdorong jauh ke belakang agar sadar bahwa Sam bukan milikku. Tepatnya lagi dia ingin merasa menang akan Sam. Aih, kenapa semakin membuat naik darah ya? "Sahabat-sahabatku tidak suka kerajinan dan pacarku pula tidak pantas untuk itu." Adelin terdiam. Tidak dapat aku artikan sebagai rasa bersalah, karena pastilah dia hanya membuat drama agar Sam tidak menyalahkannya. "Benar tidak mau?" "Tidak, Sam. Aku tidak menyukai kerajinan. Jika kamu dan Adelin suka, berhenti saja. Aku akan menunggu di mobil." Tangan Sam terulur mencapai kepalaku. "Tidak, aku juga tidak menyukai kerajinan." Kamu menjaga hatiku lagi, Sam. Apa kamu mengerti apa artinya? Ataukah memang kamu ingin aku salah paham agar kamu berhasil mencapai tujuan? Awalnya aku percaya bahwa kata-katamu adalah benar. Tapi semakin kesini entah kenapa aku merasa bahwa itu adalah kesalahan. Terlebih sikap kamu terhadap Adelin berubah sedikit aneh. Memang masih secuil, namun itu berhasil membuka tutup kepercayaanku padamu. Mungkin saja memang benar, aku hanya sebuah alat. *** "Ini." Aku menerima kelapa yang diulurkan oleh Sam dan mengaduk isinya dengan sedotan yang ada. "Dimana Adelin?" "Dia berganti baju. Katanya mau berenang juga." Sudah aku duga. Tadinya kami memang akan langsung pulang, tapi Sam secara sepihak menghentikan mobil tidak jauh dari pantai. Awalnya aku enggan, tapi melihat hamparan pasir putih dan biru lautan berhasil membuat semangatku bangkit. Bukan hanya semangat untuk memijakkan kaki di sana, tapi juga untuk berenang. Alhasil aku membeli pakaian renang dan Sam melakukan yang sama. Oh tentu, Adelin pasti tidak akan mau ketinggalan. "Ayo berenang." Nah itu dia. Datang dengan senyum cerah. Aku jadi heran. Apa dia tidak lelah bermain drama terus? Bukankah lebih nyaman dengan menunjukkan ekspresi yang sesungguhnya. "Ayo." Sam menarik tanganku untuk berdiri. Aku menyeruput air kelapa sesaat. Terkejut karena Sam yang tepat di depanku membuka kemeja pantainya. Dada bidangnya tekespos indah. Membuat mataku bersemangat untuk melihat ke bawah. Benar saja. Ada enam kotak di sana dan garis V. Damn! Tubuh Sam ternyata sepanas ini. Belum lagi dia memiliki otot lengan yang sempurna. Pantas saat dia memelukku rasanya begitu kokoh. "Pakaian renangmu membuat aku tidak tenang." Aku mengenakan model one piece. Belahan dadanya tidak rendah, tapi model bawahannya memang triangle. Jadilah pahaku yang mulus terekspos sempurna. Mungkin ini yang dimaksud oleh Sam. Tapi kan semua orang yang berenang memang begitu, mengekspos banyak kulit mereka kepada air. "Cepat pakai." Dia menyelipkan kemejanya di tangan kiriku, sementara tangan kanannya bergerak meraih kelapa yang aku pegang. "Semua orang di sini memang berpakaian seperti ini," kataku bermaksud menolak. "Tapi tidak boleh dengan kamu." Lalu karena tidak sabar dia merebut kemeja di tanganku dan membantu memakaikan. Akhirnya aku menyerah, mendorong tubuhnya dan mengancingkan sendiri kemeja pemberiannya. Ukurannya besar. Setengah pahaku segera tertutup. Lalu agar tidak terlalu gerah aku membiarkan tiga kancing atas terbuka. Eum, gaya ke pantai yang baru. Mungkin aku perlu mengambil beberapa gambar. "Tolong fotokan." Aku benar-benar melakukannya. Memberikan ponsel pada Sam dan menariknya ke pinggiran pantai untuk berpose. Dia tidak menolak atau bahkan menyerah ketika aku memerintah berkali-kali. "Terimakasih." Kuberikan senyum termanis sebagai hadiah. Ia ikut tersenyum kecil dan mengusak kepalaku. Perlakuan yang sederhana, tapi karena senyumnya tulus aku jadi merasa senang. "Sam, aku juga mau." Datang-datang Adelin langsung menyodorkan ponselnya. Sedari tadi aku telah melihat dia gelisah akan interaksi kami. Tapi dia tidak mendekat sama sekali. Aku tersenyum memikirkan bahwa alasannya mungkin takut dimarahi oleh Sam karena menganggu momen yang ada. "Berenang lah lebih dulu, aku akan menyusul." Kuiyakan kalimat Sam. Setelah meletakkan ponsel ke tas, aku menjeburkan kaki ke air laut. Berjalan lebih jauh hingga akhirnya seluruh tubuhku basah. Waktu masih sekitar pukul sembilan. Sinar matahari terasa lembut dan air laut juga dingin untuk dinikmati. Lalu intensitas orang yang tidak ramai menambah kenyamanan. Jelas saja. Hari ini masih hari kamis. Tidak banyak orang berkunjung karena terikat urusan kerja atau mungkin sekolah. Aku memutar tubuh membelakangi laut, menonton Sam di ujung sana yang ternyata tergelak bahagia bersama Adelin yang berpose menantang. Kenapa dia sebagaia itu? Aku curiga bahwa nama Adelin ada di hatinya. Lalu karena lingkaran persahabatan yang teramat kental dia jadi tidak menyadarinya. Astaga, kenapa aku jadi memikirkan ini seolah berhak akan Sam. Mungkin kepalaku butuh air. Kusetujui pikiran tersebut dan segera menyelam ke dalam air. Dinginnya menyengat kulit. Tapi aku masih merasakan panas di dalam sana. Aih, kenapa jadi begini? Aku mengeluarkan kepala ke atas air. Sam sudah beberapa centimeter di depanku. "Bagaimana?" tanyanya. Aku mengedikan bahu. Tidak mengerti rasa apa yang muncul dari menyelam tadi. Jelas, aku tidak dapat menikmatinya karena Sam dan Adelin berlari di kepala dan hati. Dasar dua orang perusak suasana! "Ayo ke tengah." Dia menarik tanganku untuk mengikuti langkah. Kulit dinginnya yang menyentuh membuat aku tersetrum oleh kedinginan yang lebih dalam. Aku tidak peduli artinya, lebih peduli malah akan wajah Sam yang tampak bahagia. Ini masih sisa dari Adelin kan? Berarti benar. Ada Adelin di hatinya. Mungkin sebaiknya dia segera sadar agar menemukan kebahagiaan. Karena jujur, semakin hari aku semakin ingin melihat dia bahagia. Di saat yang sama keputusan tersebut akan menjadi jalan bagiku memiliki Ian seutuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN