"So, ini bunga dari raja iblis?"
Devi tiba-tiba mengikuti gelar yang diberikan Zion untuk Sam. Tapi itu memang cocok. Dia raja iblis. Kasar dan suka seenaknya.
"Sayangnya iya."
Aku menarik malas pandangan dari buket super besar tersebut. Memang dapat menggantikan bunga-bunga di loker tadi, tapi karena ini dari Sam maka itu tidak berhasil. Aku tetap marah akan nasib hadiah valentineku.
Itu dibeli dengan uang loh. Sam malah seenaknya menghancurkan tanpa berpikir bahwa uang untuk membelinya didapatkan dengan peluh keringat susah payah. Dasar tidak punya perasaan!
Aliya di sofa melipat tangan angkuh. Ya dia memang begitu. Lalu matanya turun kepada dua puluh kotak coklat di meja. "Terus ini?"
"Dari dia juga." Aku malas mengingatnya, tapi tetap juga teringat bagaimana dia kembali lagi setelah mengantarku pulang.
Saat itu ia memakai hoodie hitam yang dipasangkan bersama ripped jeans. Rambutnya sedikit basah dan tidak tertata. Namun dengan pedenya ia mengangkat dagu tinggi. Harusnya aku maklum, ini adalah Samuel Dagantara.
Tanpa bicara ia meletakkan dua puluh kotak coklat beraneka jenis ke meja. Aku sendiri berpura-pura menganggap dia angin. Padahal sejujurnya aku terkaget akan perbuatannya.
Dia kemudian terlihat membuka sebuah kotak coklat, menarik salah satunya dengan bentuk hati. Aku berpura-pura bermain ponsel saat dia mendekat. Lalu bayangan datang, menutup cahaya yang menerangiku. Aku tersetrum saat kulitnya menyentuh. Ia menarik pelan daguku padanya dan mendorong masuk coklat tersebut.
Gerakannya memang lembut, tapi kenyataan dia memaksa aku memakannya tanpa bertanya membuatku kesal bukan kepalang. Sam gila! Suka benar seenak jidat.
Aku memalingkan wajah dan menekuk bibir. Kesal terkumpul semakin banyak karena aku terpaksa mengunyah coklat yang ia berikan.
Jemarinya menarik daguku lagi. Aku mempercepat kunyahan untuk mengumpat, tapi dia lebih dulu merunduk. Selanjutnya jantungku tidak terkendali terlebih ketika bibirku ditekan lembut oleh bibir dinginnya.
Panas menjalar cepat ke pipi. Tapi dia adalah pria yang tidak tahu malu. Alih-alih menyadari perbuatannya, ia justru melenggang pergi.
"Seria, itu boneka lama kelamaan hilang loh kepalanya."
Tersadar, aku merunduk untuk melihat boneka beruangku yang tersiksa. Gara-gara Sam sih.
"Sepertinya dia cemburu," kata Mila.
"Cemburu sih cemburu, tapi gak perlu seperti itu kali," sambarku. "Apalagi dia sendiri sudah setuju untuk menyembunyikan hubungan kami. Dengan kelakuan gobloknya tadi semua orang jadi salah paham kembali."
"Sudahlah, besok suruh dia menyelesaikannya." Aliya terlihat gerah karena kemarahnku. Tapi mau bagaimana, hanya dengan beginilah aku merasa puas.
"Aliya benar," setuju Mila. "Tadi dia baru saja mendapatkan api besar."
Devi kemudian melanjutkan. "Dari yang aku dengar Robee mengatakan dia menyukai kamu. Parahnya itu ketua OSIS songong mengatakan bahwa dirinya lebih pantas."
"Let me guess, setelahnya dia pasti memaparkan semua kebaikannya," sambung Mila malas. "Dasar manusia songong! Selalu saja merasa lebih baik dari seluruh manusia."
"Aku sih bersyukur karena Sam membantainya." Aliya tersenyum meluncurkan kalimat tersebut. "Dia jadi paham sekarang dimana posisinya."
"Benar juga sih." Aku membuka kotak coklat, menarik satu dan mengambil gigitan kecil. "Itu ketua OSIS selalu membuatku muak. Tidak masalah jika Sam membantainya. Tapi aku masih kesal karena dia menghancurkan semua hadiah valentineku. Bisa kalian bayangkan seperti apa perasaan orang-orang yang mengirimkannya? Pasti mereka akan sedih. Sam sialan tidak memakai otak ketika melakukannya. Ingin benar rasanya aku memukul kepalanya."
"Cobalah." Ada ejekan di dalam kalimat Devi. Damn! Dia tahu aku punya ketakutan akan Sam.
Detik berikutnya kami larut dalam pembicaraan tak tentu arah. Mataku pula mewaspadai ponsel di meja. Tidak ada notifikasi pesan masuk.
Ian sedang apa? Mungkinkah begitu sibuk hingga tidak bisa membalas pesan?
Tapi ini hari valentine. Apa dia tidak ingin sedikit memberi ucapan? Seria! Sadar diri dong. Tali kamu dan dia hanya pertemanan. Tidak etis dan mungkin jika dia mengucapkan selamat valentine.
Malam semakin larut. Ketiga temanku akhirnya pamit pulang. Aku sediri masih berbaring di sofa ruang santai, menikmati beberapa coklat yang Sam bawa.
"Nona, ini ada paket untuk anda."
Salah satu penjaga pos depan meletakkan satu kotak paket ke meja. "Dari siapa, paman?"
"Itu.."
Ia terlihat mencoba mencuri nama yang tertera. Ah iya, kan ada nama pengirimnya.
"Biar saya sendiri. Terimakasih."
"Sama-sama, Nona. Saya pamit."
Aku bangkit setelah kepergiannya. Membawa kotak paket ke atas pangkuan. Ini semacam kotak kado, tapi aku tidak berulang tahun.
Ian Hirataga.
Mataku tidak percaya membaca nama pengirimnya. Senyum menyusul cepat kemudian.
Jari-jariku bergerak antusias melepaskan kertas warna cream yang membungkus kotak. Tampilah kotak berwarna merah yang dililit pita silver.
Ternyata dia mengingatku. Tunggu-tunggu, ini sangat istimewah untuk sekadar hadiah. Jangan-jangan dia telah menganggap aku lebih dari seorang teman. Terlebih dia memberikannya dalam rangka valentine yakni hari kasih sayang.
Memikirkannya telah menghasilkan debaran-debaran aneh. Semakin menjadi begitu pita silver telah terlepas dan aku menarik penutupnya.
Eternal rose berbalut tabung kaca. Aku menekan tombol di bawahnya dan membuat lampu LED kerlap-kerlip menerangi mawar merah tersebut.
Aku memeluknya. Ini sangat indah. Begitu berarti pula karena Ian yang memberikannya.
Di dalam kotak masih tersisa kartu. Ketika dibuka tulisan rapi Ian menyambut.
Aku tidak tahu harus mulai darimana. Ini pertama kalinya aku mengirimkan surat dan hadiah valentine dari hati. Mungkin tidak akan seromantis yang kamu inginkan tapi ya begitulah.
Ini akan sangat memalukan. Aku seperti seorang pengecut melalui surat ini. Kamu mungkin tidak akan suka, tapi aku menyukaimu. Kalimat yang sudah biasa terdengar. Aku tidak bisa menemukan yang lain. Benar-benar tidak romantis,bukan?
Tawa kecilku pecah membacanya. Lucu sekali. Ian sepertinya kebingungan memilih diksi.
Di bawahnya kemudian berlanjut.
Sejak dimana kamu membelaku di depan semua orang itu adalah hari dimana aku menyukai kamu.
Dadaku berdebar semakin cepat saat menggeser pandangan ke tulisan di bawahnya. Dia menyukaiku. Astaga, tolong jantungku tidak terkendali.
Terlepas dari kecantikan, aku menyukai kepribadian kamu. Pendekatanku terlalu biasa dan singkat, tapi aku mengatakannya sekali lagi. Aku menyukaimu. Ketika kamu selesai membaca surat ini apakah kamu mau menerimaku?
Aku menunggu jawabanmu minggu depan.
"Tertanda, Ian."
Dia menyukaiku. Yas. Perasaanku tidak sepihak. Kupeluk erat tabung eternal rose seakan itu adalah Ian.
"Aku menerimamu," gumamku kecil. "Aku menerima kamu, Ian."
Tiba-tiba hari minggu terasa begitu jauh. Aku ingin segera membalas perasaannya. Bolehkah sekarang aku mengirimnya pesan?
Tidak-tidak. Jangan begitu. Dia telah memintaku menunggu, maka aku harus begitu. Jangan membantahnya atau dia kemungkinan akan sedikit kesal.
***
"Ada apa dengan bibirmu?"
Senyumku sontak luntur. Cih mengganggu suasana saja. "Tidak ada."
"Kalau begitu keluar, ini sudah sampai di parkiran."
Loh sejak kapan? Aku meluruskan pandangan. Eh benar. Ini sudah di sekolah. Gosh, sepertinya tadi aku menghayal dengan penuh penghayatan.
Kudorong pelan pintu. Orang-orang yang berlalu lalang menyempatkan diri memberi tatapan aneh. Ada apa ini?
Kakiku meninggalkan parkiran. Di sepanjang lorong aku juga mendapatkan tatapan yang sama.
"Seria, kamu berpacaran dengan Sam ya?" celetuk salah seorang murid.
Apa yang mereka katakan? Darimana juga datangnya pemikiran itu?
"Yang benar saja pilihan kamu si buruk rupa. Aku bahkan lebih baik."
"Itu benar, Seria. Kamu dewi kecantikan Neptuna, masa sih mau dengan orang seperti Sam?"
"Biarkanlah. Dia sudah frustasi karena tidak ada pria lain yang menyukainya. Ah, ternyata kecantikan tidak selamanya diincar."
Kupercepat langkah menuju kelas. Sialannya malah berpas-pasan dengan Kei Canting.
"Seria, aku ikut bahagia. Akhirnya kamu memiliki kekasih. Tapi sayang. Kenapa begitu buruk rupa?"
"Dia tidak laku," sambung dayang Kei Canting.
"Sepertinya kamu harus segera memutuskan Sam." Suara simpati yang dibuat-dibuat Kei membuatku ingin muntah. "Ambilah salah satu mantanku. Itu akan membuat fansmu merasa lebih baik."
Damn!
Aku menabraknya, mencapai kelas cepat dan membuka ponsel. Ada banyak yang mengirimkan pesan di i********:. Sekilas aku melihat isinya pertanyaan kebenaran bahwa Sam kekasihku atau bukan.
Parah. Sejumlah orang yang membenciku sengaja meramaikan tagar Seria tidak laku. Haters bergabung dan membuat komentar jahat.
Tidak-tidak, imageku hancur.
"Apa-apaan ini?" bentakku saat notifikasi dari akun gosip sekolah muncul.
Dewi kecantikan ternyata tidak laku. Dia memilih Sam Dagantara si buruk rupa.
Sebuah komentar membuat hatiku panas.
Sam itu kaya. Meskipun jelek dia tentu mau menjilatinya. Betapa kasihan sang dewi kecantikan. Oh juga murahan.
Begitu katanya.
"Ser.." Tangan Mila menepuk bahuku lembut.
"Kenapa mereka seenaknya?"
Mila mengelus-elus punggungku. "Tenanglah. Kita akan mengatasinya."
Tapi nyatanya sampai hari menjelang sore klarifikasi yang aku buat tetap tidak bisa melawan haters. Aku benci akan opini kurang ajar mereka.
Kalimat aku tidak laku mungkin masih biasa saja. Lain halnya dengan mengatakan aku ingin menjilat harta Sam. Sialan, mereka pikir aku semiskin dan semurahan apa?
Sam pula tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Saat aku mampir ke kelasnya mereka bilang Sam bolos untuk sebuah tawuran. Bisa-bisanya dia menikmati dunianya disaat telah menciptakan masalah seperti ini. Benar-benar sialan kamu Sam.
Bahkan kakaku sendiri tersenyum senang saat menyambut kepulanganku. "Bagaimana?"
"Apanya yang bagiamana?" semburku.
Bibir merahnya memecah tawa. "Calm down. Aku tidak akan menambahkan bahwa nasibmu memang jelek. Diantara semua pria kamu mendapatkan si buruk rupa. Sayang benar kecantikanmu. Oh mungkinkah pria-pria muak dengan wajahmu? Tidak-tidak, kamu adalah dewi kecantikan. Jadi.."
Aku membenci nada rendahnya tersebut. "Apa kamu benar-benar ingin menjilat harta Sam? Pantas saja kamu tidak menolaknya. Itu bagus, Seria. Kamu hanya perlu lebih memanjakan dia setelah ini dengan tubuhmu. Pastilah dia akan memberikan kamu segalanya. Saranku begitu bagus. Santai, kamu mendapatkannya dengan gratis."
Senyum mengejek mengakhiri kalimatnya. Ia menarik cangkirnya dan menyesap anggun. Kepuasan memenuhi matanya. Apa yang perlu aku herankan? Selama ini dia memang akan di pihak musuh.
"Tidakkah kamu berpikir aku lebih beruntung?" tanyanya kemudian. "Aku memiliki Arkan yang tampan dan kaya. Ia juga menyayangiku."
Tidak mau mendengar lebih banyak, aku cepat-cepat masuk ke dalam lift saat suara Aera mengudara lagi.
"Hei jangan marah. Aku hanya mengatakan fakta."
Fakta kepalamu. Arkan tidak menyukaimu. Dia adalah player yang pandai memanfaatkan perempuan untuk kesenangan dan kamu adalah salah satunya. Lalu saat kadaluwarsa dia akan menduakan kamu atau mungkin malah sekarang sudah begitu.
Sudut mataku tiba-tiba memanas. Dalam setengah hari ini aku telah mendengar begitu banyak cacian. Ingin acuh tapi beberapa benar-benar duri yang menusuk. Darah sudah membanjiri, tapi aku tidak kunjung menemukan solusi atau sedikit bantuan penenang.
Ini semua gara-gara Sam sialan. Dia membuat aku malu tanpa batas. Argh, kenapa aku dulu tidak menolaknya? Kejadian ini bahkan tak kalah menakutkan daripada dibuang dari keluarga Manhataga.
***