Enam

1623 Kata
"Ciee rambut baru." Devi datang meledek tepat ketika aku hendak mendaratkan tubuh di kursi. "Ngecat gak ngajak-ngajak," kata Mila kemudian. Bibir cantiknya bahkan sampai maju beberapa centi. "Aku kira kamu sibuk ngedrakor. Ya udah gak jadi ngajak. Lagipula Sam mau nemenin kok." "Sam? Serius?" Aku melototi Aliya. "Gak usah teriak kali," sindir Devi. Aliya tercengir lebar. "Maaf-maaf, aku terkejut," katanya sebagai pembelaan. Mila menepuk bahuku. "Eh lanjut-lanjut." "Pokoknya dia anteng nungguin aku selama empat jam. Ya udah sih, gitu aja." "Serius?" Devi memicingkan matanya. "Kamu tidak berbohong kan?" "Ngapain aku berbohong?" Dia pun mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Kok bisa dia mau ya?" Aliya mengelus dagunya. "Pacar aku saja ogah. Padahal cuma dua jam setengah." Aku mengedikan bahu. "Setelah itu?" Dahiku berkerut kecil akan pertanyaan Mila. "Apanya?" "Kalian kemana?" tanyanya lebih jelas. "Cafe, makan, setelah itu pulang dan tamat." Aku melepaskan tas ke meja. "Dev, pinjam buku latihan matematika kamu dong." "Makanya jangan jalan-jalan melulu lo." Meski mengejek aku melihat ia bergerak ke kursinya. "Memangnya kamu udah siap?" Pertanyaan Aliya baru menyadarkan aku. "Belum lah." Devi menjawabnya lantang. Ya ampun aku lupa. Devi itu lebih malas daripada aku. Meskipun tidak terlalu pandai matematika, aku tetap berusaha mengerjakannya. Biasanya akan berakhir dengan nilai di bawah KKM, tapi setidaknya aku sudah berusaha kan? Semalam aku pulang jam sebelas lewat. Langsung tidur dong. Mata juga tinggal 2 watt. Tidak akan berjalan mulus jika dipaksa mengerjakan tugas, apalagi matematika yang selalu membuat emosi. "Kalian berdua sudah?" Aku bertanya pada Aliya dan Mila. Keduanya pun menggeleng bersamaan. Hadeh. Punya teman semuanya pemalas. "Gimana nih?" "Sebentar." Devi berjalan menuju meja Nayala. Dia adalah ranking satu di kelas kami. Bermata empat, namun punya wajah yang cantik. Hal tidak menyenangkannya dia itu introvert. Susah sekali diajak bergaul dan parahnya punya sifat sinis. "Semalam kamu jalan kemana?" Sembari menunggu, aku mengintrogasi Aliya. "Gak kemana-mana, nemenin Ken di markas sama teman-temannya." Ken adalah pacar Aliya. Keduanya baru mulai pacaran di awal kelas sebelas ini. Ya kira-kira dua bulan lalu lah. Ken juga salah satu siswa Neptuna yang terkenal nakal. Jika Sam nakal namun terkenal membawa piala untuk sekolah atas nama RedMan, maka Ken sama sekali tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Dia resmi hanya siswa nakal. "Gila lo," umpat Mila. "Teman-temannya kan dominan cowok." "Tapi semalam enggak. Dan lagi hampir semua dari mereka memang pada bawa pasangan." "Kirain," sambung Mila. "Tapi kan, Al. Rugi banget kamu jadi pacar Ken. Ganteng ya lumayan lah, tapi dia kan matre." "I dont care." Sultan mah bebas. Kalau aku sih ogah. Meskipun banyak uang tetap saja tidak pantas jika perempuan mentraktir cowok. Sekali dua kali ya wajar lah. Tapi kalau hampir setiap hari itu mah sudah gak wajar lagi. Yang ada materialistik namanya. "Dont care, nanti udah jatuh miskin baru nangis lo." Aku menyetujui ucapan Mila. "Lagipula, Al. Kamu itu cantik," tambahku. "Pasti ada cowok lebih baik dari Ken yang mau sama kamu." Decakan kesal terdengar keluar dari bibir pink Aliya. "Sudahlah, bahas yang lain saja." Aku dan Mila saling pandang. Niat kami bagus loh. Tidak mau Aliya menjadi atm berjalan untuk Ken. Beneran setia mending, kalau ternyata Ken selingkuh bagiamana? Aliya juga yang akan patah hati. Ketukan bernada terdengar memasuki pendengaran. Siapapun secara otomatis menatap ke daun pintu. "Cieee pada ngelihatin." Jason—si tindik anak RedMan. Over pede dan suka usil. Ya, itulah dia. Di belakangnya ada Geri, juga si ikal yang baru aku tahu bernama Deni dan Sam sekaligus. Ketiganya pastilah yang paling dekat dengan Sam. Semua mata kini mengarah pada aku seiring langkah Sam yang kian dekat. Tiga temannya memilih membuat keributan di meja guru. Ia memutar kursi di depanku dan duduk diatasnya tanpa ekspresi. Sungguh Sammy si manusia es. Dia tidak peduli sama sekali dengan sekitar yang memberinya berbagai tatapan. Dari aneh, jijik hingga tidak suka. Aku melipat tangan di depan d**a dan bersandar. "Ngapain kamu disini?" "Kebetulan lewat." Dia meletakkan dua tangannya di meja. Come on, Sam! Matamu jangan padaku terus. Masih ada perempuan cantik di kelas ini selain aku loh. Lagian apa tidak bosan hanya bertemu manik coklatku terus. Satu hingga tiga menit aku tidak terganggu, namun menjadi risih ketika memasuki menit ke empat dan kelima. "Kamu ngelihatin apaan sih?" omelku. Manik coklat gelapnya berkedip beberapa kali. "Tidak ada," katanya seraya menjatuhkan pandangan pada buku pr matematikaku. Tidak ada? Hey, Sam. Aku tidak buta. Aku melihat jelas tatapan dalam kamu itu. Meskipun tidak berharap, aku tahu kamu menyimpan rasa di dalamnya. Aku menghentikan tatapan kesal saat menyadari tangan Sam menarik buku pr mililku. Ia terlihat membacanya, lalu entah sok pintar atau bagaimana dia mengambil pena yang terbaring di meja dan mulai menulis. Tanganku terlipat di depan d**a. "Kamu bisa mengerjakannya?" tanyaku sinis. Ya kali brandal model Sam bisa ngerjain soal matematika. Meskipun tidak mustahil tetap saja rasanya sulit dipercaya. "Tidak." Itu memang yang dikatakan oleh bibirnya, tapi tangannya tetap menari-nari lincah di atas kertas. Aku tidak mau ambil pusing. Sebagai pengalihan aku berbincang-bincang dengan sahabatku. Ketiganya menjaga suara mereka. Seperti aku. Meskipun tidak menyukai Sam namun disaat bersamaan tidak berani menyuarakannya. Ada ketakutan otomatis yang menyelubungi hati ketika melihat cowok itu. Auranya itu loh. Mengintimidasi dan seakan bisa membuat kita mati dengan sekali hentakan. Dan lagi, dia berandal. Jago berkelahi dan enggan diusik entah dengan kata maupun perbuatan nyata. Rekor memukuli orang sudah banyak ia dapatkan. Mengerikan. Dia pria buruk rupa dan kasar. Bel berbunyi sepuluh menit setelahnya. Aku tidak perlu khawatir dengan tugasku karena Sam telah mengerjakannya. Tidak berharap benar, namun yang terpenting telah membuat. "Woi Sam, hayuk. Udah bel nih." Jason berseru keras. Dia sudah di daun pintu dengan kedua temannya. "Elah malah mojok," kata Deni malas. "Gue tinggal ya." Sam menarik pena. Terlihat dia sudah sampai di nomor sepuluh. Wow, amazing. "Aku tunggu di kantin," ujarnya sebelum berbalik pergi. "Lihat-lihat." Devi, Aliya dan Mila langsung melihat buku pr mililku. Penuh rasa penasaran yang sangat dalam. "Bener gak nih?" tanya Devi. Aku mengedikkan bahu. Ya mana aku tahu. Aku saja tidak bisa mengerjakannya. Bagaimana aku tahu bahwa jawaban Sam benar. Iya kan? "Gila tuh cowok. Demi sok pintar rela mengerjakan asal nih soal." Kalimat Mila membangkitkan tawaku. Benar juga. Sebegitu ingin terlihat pintarnya dia sampai-sampai rela mengerjakan pr milikku. Sam-Sam, kamu lucu. *** "Apa-apaan ini?" Aku menatap tak percaya buku pr miliku. Jawaban Sam semuanya benar.  Ibu Reta memberikan nilai seratus plus di pojok terakhir soal nomor sepuluh dengan tinta merah. "What?" Devi merebut buku itu. Segera membuat perbandingan dengan jawaban dari buku Nayala yang bahkan hanya mendapat nilai 90. "Gila cowok kamu." Devi mengembalikan bukuku. "Bisa-bisanya dia ngerjain matematika. Yakin tuh beneran Sam Dagantara?" "Aku malah curiga kalau itu adalah roh lain," ungkap Mila. "Benar," setuju Aliya. "Dia itu kan bego. Rankingnya saja tahun lalu 29 dari 32 siswa. Kebayangkan seberapa begonya dia?" Aku melotot. "Serius ranking 29?" "Ya iyalah." Aliya membenarkannya. Sedikitpun tidak tampak sedang berbohong. Oh god, aku stress sekarang. Bagaimana bisa murid dengan rank seburuk itu bisa mengerjakan soal matematika dengan tepat. Bu Reta sampai menambah plus lagi. Membuktikan bahwa jawaban Sam sangat-sangat benar. "Apa dia diam-diam minum air debu bakaran buku matematika ya?" "Udah nanti lagi pikirkan itu. Ayo ke kantin." Devi menarik aku untuk bangkit. Kebiasaan banget deh. Padahal aku kan punya tenaga sendiri. "Jangan-jangan Sam cicitnya Einstein lagi," kata Mila disela langkah kami menuju kantin. "Bisa jadi," sambung Devi. "Kelihatan bego awal-awalnya eh ternyata jenius." Aneka praduga pokoknya kami keluarkan. Namun satupun tidak bisa dipercaya sebagai alasan kenapa Sam bisa mengerjakan soal dengan sangat benar. *** Aku hampir duduk di samping Sam ketika sebuah suara mengirisku. "Itu tempatku." Setelah menoleh ternyata itu adalah Adelin Setiaha. Dia salah satu kakak kelas yang cukup populer di kalangan kaum adam. Aku mungkin lebih cantik darinya. Tapi kata orang-orang kepribadian galak perempuan itu membuat dia lebih menantang untuk didapatkan daripada aku. "Ah maaf." Aku terpaksa duduk di kursi sebelahnya. Ia tanpa senyum duduk di kursinya. Ouh, wajah cantiknya itu sangat-sangat galak. Aku saja yang sesama perempuan merasa ngeri melihatnya. "Tumben kamu tidak mau?" Aku melihat Sam mengangkat pandangannya ke arah lunch box Adelin. Ia menusuk garpu ke ayam goreng tepung milik Adelin dan langsung menggigitnya. Kelihatannya mereka sangat akrab. Adelin bahkan dengan berani mengambil sayur di lunch box Sam sebagai gantinya. Gila-gila. Setelah Aisha yang aduhai ternyata Adelin juga ikutan. Apa iya Sam semenarik itu? Devi menyikut lenganku. Aku terperanjat dan meninggalkan dua insan tersebut. Bibir dan mata perempuan itu sudah seperti ingin mencibir, tapi terpaksa hanya kode karena takut Sam maupun Adelin tersinggung. Aku sih tidak ingin mencibir, sebaliknya ingin bertanya kenapa perempuan secantik Adelin mau berdekatan dengan Sam. Apa dia tidak takut reputasinya hancur? "Seri, kok kamu tidak makan?" Aku menyumpah serapah kalimat Geri. Dua insan yang sibuk berdua itu jadi melihat padaku "In..ini juga mau makan." Astaga, Seria. Kenapa kamu jadi grogi seperti maling habis nyuri galon? Hadeh. Sendok besi hampir mencapai mulutku saat suara berat Sam terdengar. "Seria, sini." Ia menepuk meja disebelahnya, meja dimana Jason berada. "Pindah nih, bos?" Ia mengangguk, segera saja Jason bangkit dan menuju kepadaku. "Gih sana. Pacar kamu kangen tuh." "Apaaan sih." Aku melanjutkan makan. "Ser, buruan gih. Kakiku pegel nih." "Siapa suruh pindah," dengusku. Meskipun demikian aku tetap bangkit. Apa maksudnya si Sam coba menyuruhku duduk disebelahnya? Tenang saja, dude. Aku tidak akan cemburu. Tidak akan. Malah akan sangat bagus jika dia menyukai Adelin. Dia pasti akhirnya akan memutuskan pertunangan dan akupun bebas. Yahuu. "Eh." Aku melotot seiring rahangku yang dirangkum ke arahnya. Tanpa izin dia memasukkan sesendok nasi lengkap dengan sayur ke mulutku. Ingin rasanya protes tapi makanan sudah terlanjur masuk ke mulut. "Makan yang banyak." Begitu katanya sebelum melanjutkan suapan ketiga hingga entah keberapa. Nasi lunchbox-nya tandas ke perutku, sementara saladku tetap utuh. Sam! Kamu ini berdosa banget ya. Nih salad jadi mubazir. Mana dia tidak mau mencicipinya sama sekali lagi. Cih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN