Empat Belas

1669 Kata
"Kata pelayan Ran, papa dan mama malam ini tidak pulang. Kenapa tiba-tiba pulang?" Saat ini kami duduk berhadapan di meja makan. Mama dengan papa dan aku bersama Sam. Seakan double date jadinya. Ih, apaan sih. Pikiranmu aneh, Seria. "Ya papa pikir kita perlu menghabiskan waktu bersama sebelum papa pergi ke luar negri." "Luar negeri?" Padahal papa baru saja pulang beberapa hari lalu. "Urusan bisnis lagi?" Papa mengangguk, membenarkan. "Jadi kamu harus menurut kepada Sam. Dia akan menjaga dan memantau kamu. Jangan pergi tanpa izinnya. Mengerti?" Aku mengangguk meskipun enggan setuju. Ya, apapun yang penting papa senang. "Sam, kamu juga jangan melewati batas. Meskipun saya memberikan kamu kekuasaan yang luas, saya tetap tidak akan mentolerir jika kamu membuat putri saya terluka." "Saya mengerti, Om." Sam menggeser mangkuk sup kepiting. Ia menuangkan kuahnya ke piringku dan kepiting ke piring kosong lainnya. "Jadi bagaimana dengan sekolahmu, Sam?" Papa bertanya saat aku dan mama sudah mulai makan. Biarlah, ini kesempatan papa untuk memberikan Sam ceramah. "Membosankan." Sam-Sam, kamu jujur sekali. "Begitulah sekolah." Eh papa malah setuju. "Saat saya masih muda saya juga sangat membenci sekolah, tepatnya pelajaran di sekolah. Hanya sedikit yang benar-benar digunakan di dunia kerja, tapi berusahalah untuk nilai terbaik di akhir. Itu akan digunakan untuk pergi ke jenjang berikutnya." Mata papa kemudian berpindah padaku. "Kamu juga Seria. Jangan terbiasa remedial lagi." "Iya, Pa." "Apa rencana kamu setelah lulus ini, Sam?" Aku memiringkan leher, penasaran juga apa cowok seberandal dia punya rencana masa depan. Jangan-jangan belum terpikir lagi olehnya. "Saya suka dunia bisnis dan traveling. Jadi saya pikir saya akan masuk ke manajemen hotel dan nantinya mendirikan beberapa hotel sendiri. Sebenarnya itu tidak terlalu menyerempet ke dunia traveling. Mungkin kalau yg lebih ke arah itu saya ingin mendirikan akomodasi di pantai ya semacam di Maldives. Tapi memulai itu akan lebih lama, mungkin akan bagus jika saya awali dari hotel." "Kenapa kamu tidak masuk Andromeda saja sedari awal?" tanyaku. Kalau sedari awal dia di sana itu pasti akan sejalan dengan apa yang akan dia kerjakan setelah ini. "Menemukan apa yang benar-benar kamu inginkan itu tidak mudah, Seria. Aku baru menyadarinya baru-baru ini. Padahal sedari awal aku tahu aku suka traveling apalagi merencanakan, mengembangkan dan mengelola seperti yang ada dunia manajemen. Aku bahkan pernah berpikir bahwa aku akan menyelam di dalamnya. Tapi aku pikir itu hanya sebatas suka, bukan sesuatu yang memang aku inginkan. Ketika aku sadar, semuanya sudah terlambat. But I feel gratefull. At least now I know which path should I take. Soon my journey will be in right way." "Apa orang tuamu tidak menentang?" Apa yang aku katakan? Aku tidak berani melihat ke arah papa begitu sadar. Papa pasti mengira aku menyindirnya karena papa sedari awal tidak menerima apa yang aku inginkan. "Tidak." Sam menoleh dan melempar senyum lembut. "Kamu sendiri. Apa yang kamu inginkan setelah ini?" "Aku..." Mataku berlarian saat bertemu manik papa. Tapi tidak ada salahnya kan aku mengatakannya, toh juga hanya mengatakan. Bukan memohon untuk menjalaninya. "Aku suka segala yang berhubungan dengan fashion dan lifestyle." "Jadi, kamu mau mengambil business fashion and lifestyle?" Aku tertegun. "Memang ada jurusan seperti itu?" "Memangnya apa yang ada di kepalamu?" "Fashion design, itu dari fakultas teknik kan?" Nada yang tidak meyakinkan dari aku membuat Sam tertawa. "Seria-Seria, jurusan yang berhubungan dengan fashion itu bukan cuma fashion design saja. Ada juga fashion business, kria teksil dan masih banyak lagi." Aku melempar pandangan pada papa. "Benar begitu, Pa?" Papa mengangguk. "Kalau kamu memang menyukai fashion, ambil saja fashion business." Papa setuju. Yes, akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan di suatu bidang yang aku sukai. Tapi bisnis yang melekat di belakangnya itu membuat aku resah. Aku kurang menyukainya. Namun diizinkan papa saja begini sudah sangat menyenangkan. Aku hanya perlu mengatasi sisanya. "Universitas mana yang akan kamu ambil, Sam? Siapa tahu ada jurusan untuk Seria juga di sana. Saya akan merasa aman sekalipun Seria jauh dari rumah jika dia bersama kamu." "Saya belum menentukan, Om. Masih bingung antara di dalam atau luar negeri." "Pikirkan saja pelan-pelan, Sam. Kalian kan masih di awal semester pertama. Ayo, makan. Jangan hanya memberi Seria makan saja." Aku tercengir lebar akan perkataan mama. Sedari tadi memang Sam yang mengupaskan daging kepiting dan seafood lainya. Aku hanya tinggal menyuap ke mulut hehe. *** "Seria, aing masuk ya?" Zion lagi. Selalu saja tepat waktu. "Assalamualaikum." Aku tersenyum miring. "Bukankah sebelumnya kamu tidak pernah mengucap salam? Kenapa sekarang jadi sok sopan?" "Tuan dan nyonya besar kan ada. Aing harus cari muka dong." Cih! Ia mendaratkan satu kresek di meja. "Pisang goreng lagi?" "Sok tahu!" Ia menarik keluar dua kotak dari dalam kresek. "Aing lihat di depan ada mobil Si Sam. Dia disini?" "Iya." "Ngapain?" "Lagi mandi di atas." "Emang di rumahnya enggak ada air?" Aku mengedikkan bahu. "Nih." Zion menyodorkan kotak martabak. Aku mengambil satu potong yang rasa keju dan menggigitnya. "Tumben kamu beli martabak. Biasanya kan gorengan." "Lagi pengen." Dia menyandarkan kepala di sofa sisi kaki kiriku. Kebiasaan memang, selalu saja duduk di bawah. Aroma nikotin tercium oleh hidungku. "Kamu habis merokok ya?" "Yoi." Dia mengigit martabaknya sendiri. Sangat lahap. Tidak perlu heran. Nafsu makannya selalu bagus. "Insaf lah, Zi. Kamu bisa mati muda kalau terus merokok. Efek instannya deh, kamu bisa sesak nafas." "Si Sam juga merokok tuh. Kenapa kamu tidak suruh berhenti juga? Masa aing doang. Maneh enggak adil pisan ih." "Aku menasehati kamu karena peduli. Kamu bersyukur dong." "Terus, kamu gak peduli sama si beleguk Sam? Dia kan tunangan kamu?" "Ngapain juga aku peduliin dia. Gak penting." Zion melempar senyum usil. "Jadi kalau aku penting nih buat kamu?" Aku berdehem pelan. Memang kenyataan. Aku dan Zion tumbuh bersama. Jadi aku merasa selalu ingin dia baik-baik saja seperti aku. Senyumnya makin menjadi. "Masa sih?" "Iya, Zion. Kamu itu penting bagi aku." Senyumku meluas kemudian. "Penting untuk jadi bahan hujatan!" lanjutku sarkas. Dia memanyunkan bibir. Karena geram aku pun menamparnya pelan. "Seria! Maneh kejam pisan sih." Aku tertawa. Lucu sekali melihat bibirnya mencebik seperti anak kecil yang merajuk. "Anyway, kamu serius tidak menganggap Si Sam penting? Terus, kenapa kamu tunangan sama dia?" "Zi, kita bukan baru kenal kemarin loh. Aku rasa kamu pasti tahu apa alasannya." Aku menarik tisu, mengelap ujung jari yang terkena keju martabak. Di dalam mulutku manis terasa semakin pekat. "Ih manis banget sih, aku mau ambil air. Kamu mau gak?" "Sprite dan air mineral dingin." "Banyak bener." "Itu cuma dua ya, Nyai." Iya juga. Aku beranjak setelahnya. Astaga. "Sam! Ngapain sih kamu menjulang di sini?" Dia berdiri di pintu ruang tamu, mengusak-usak dahinya. "Dahiku sakit," katanya seraya menurunkan tangan. Merah tercetak lumayan besar di sana. "Ya iyalah merah begitu. Kena apa?" "Terpeleset di kamar mandi tadi. Terus terbentur wastafel." "Kompres sana sama es batu." "Kamu mau ke dapur kan?" Aku mengangguk. "Nitip ya?" "Oke." Kok bisa terpeleset? Dia mandinya bagaimana sih? Sambil joget-joget? Anyway, sejak kapan dia di sana? Apa dia mendengar pembicaraan kami? Terserahlah. Kan dia juga tahu aku memang tidak menyukainya. *** "Nih." Aku memberikan satu mangkuk es batu padanya. "Terimakasih." Ia mengambil satu balok dan langsung menempelkan ke dahinya. "Nih, Zi." Aku meletakkan satu botol sprite dan botol mineral ke meja. "Gelasnya mana, nyai?" "Aelah biasanya juga minum dari botol." "Aing kan lagi pangen nyusahin maneh." Kudorong kuat kepalanya sebelum mendudukkan diri di samping Sam. Zion mah jangan ditanya, masih dan akan terus duduk di bawah. "Acaranya enggak enak. Ganti dong." Kuraih remot tv dan segera mengganti channelnya. "Jangan yang bahasa inggris atuh. Aing gak ngerti." "Berisik." Aku menyimpan remot di dalam genggaman dan mulai menikmati talkshow yang tampil. "Dia ngomong apa, Ser?" Kudorong pelan kepala Zion. "Makanya telen tuh kamus bahasa inggris, jangan makan pisang goreng melulu." "Maneh jangan mengejek. Pisang goreng itu sehat dan membuat cerdas, Seri." "Buktinya kamu enggak cerdas tuh." "Berarti kurang makan pisang goreng." "Gak jelas." Aku mengeluarkan ponsel dari saku baju tidurku. Kenapa Ian belum membalas? Apa dia sibuk ya? Sibuk apa? Belajar atau jangan-jangan lagi makan malam? Ya sudahlah. Aku menyimpannya lagi. Enggak enak banget kalau bukan siapa-siapa ya. Mau marah tapi tidak punya hak. Aih. Tring Yas. Aku mengeluarkan ponsel cepat. Gosh, beneran Ian. Apa aku bilang, dia baru selesai makan malam. OMG, dia bertanya apa aku sudah makan atau belum? Eum, romantis sekali. "Sudah," tulisku. Hanya dalam hitungan detik dia sudah membalas. Bukankah kami terlihat saling tertarik? Ah, mungkin aku salah mengartikan. Bisa saja dia tengah bosan, jadilah membalas cepat agar ada teman berikirim pesan terus. "Oh iya, apa itu?" Bahkan hanya lewat ketikan aku bisa membayangkan senyum manisnya. Aih, bibirku jadi ingin ikut tersenyum. "Sup kepiting, capcay dan seafood saus padang." Aku mengigit jari. Ini mungkin akan terdengar membosankan baginya. Lagian kenapa sih dia tidak membahas topik lain? "Kedengarannya enak. Aku sudah lama tidak makan seafood. Bagaimana kalau minggu nanti aku keluar kita makan seafood?" Makan seafood berdua? Anti mainstream ajakannya. Aku suka. Tidak seperti kebanyakan cowok yang memilih untuk mengajak jalan ke taman, bioskop atau duduk di cafe berjam-jam. "Boleh." Dia kemudian mengirimkan sebuah foto. Itu dia, tengah menatap ke kamera. Background-nya adalah kaca besar yang menampakkan laut sedang di meja ada begitu banyak makanan laut. Aku berhenti dan fokus pada wajahnya. Manis sekali. "Bagaimana?" Iseng-iseng aku mengatakan, "ganteng kok." Emot cemberut langsung aku terima. Gelak tawa pun tak bisa aku tahan karena terbayang bagaimana wajah manisnya berubah cemberut. Pasti sangat lucu. "Maksudku tempatnya, Seria. Bagaimana?" I know what you mean, Ian. Aku cuma sengaja mengerjai hehe. "Sangat bagus, aku suka background lautnya." "Nyai, kamu ketawa karena apa?" Zion mendongakkan wajahnya. Kudorong pelan agar kembali ke tv. "Anak kecil gak boleh tahu." "Pelit amat dah. Anyway, aing pulang ya. Mau bobo syantik." Zion berdiri, mencubit pelan pipiku. "Bye-bye." "Sakit loh," keluhku. Dia malah menjulurkan lidah. Ngeselin banget. "Kalian dekat ya?" Sam meletakkan mangkuk es ke meja. Hanya tinggal beberapa saja di dalamnya. "Tidak juga." Tunggu, jangan bilang kalau dia cemburu dengan Zion. Ya bodoh amat sih. Palingan hatinya sendiri yang bakalan sakit. Ia manggut-manggut saja. Lah kirain mau marah. Rasanya label brandal kurang cocok deh di diri Sam. Buktinya dia tidak mudah naik darah seperti kebanyakan cowok yang memiliki label itu. Iya kan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN