Dua

2126 Kata
“Dimana kau sembunyikan otakmu itu, Seria? Dimana? Aduh...kau itu perempuan! Jangan berbuat hal yang memalukan seperti itu!” Ini sudah kesekian kalinya Devi bertanya dan memaki. Aku hanya bisa mencebik bibir. Bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang baru saja aku lakukan beberapa menit yang lalu. “Astaga, aku tidak mengenalmu. Sungguh.” Devi makin frustrasi. Sama dengan diriku sendiri. “Jangan-jangan kau suka dengan Sam,” celetuk Aliya tiba-tiba. “Of course not!” teriakku. “Lantas?” seru Devi. “Kenapa kau menciumnya?” “Ingin saja,” balasku ketus. “Lagipula dia tunanganku.” Meskipun frustasi, aku tidak mau disalahkan. Bisa dibilang saat ini Sam milikku, jadi aku bebas melakukan apa padanya. Benar kan? “Ohoo.” Devi mendekati meja kami. “Sepertinya kau menerima pertunangan ini dengan lapang dada.” “Aku tidak menerima, Dev,” kilahku. “Tapi memang ini yang harus terjadi.” “Sudah, diam lah.” Aku menyesap pelan air dari botolku. “Ini jadi pulang gak sih?” ujarku kemudian melempar tatapan pada ketiganya. “Ayo.” Aliya menggeser kursi, Devi pula sibuk mengemasi bukunya. “Ke CR saja. Kudengar dari gosip ada diskon hari ini,” kata Mila. Aku berbinar mendengarnya. “Really?” “Hmm.” “Yass.” Sudah lama aku ingin membeli pakaian baru. Namun takut menyesal karena pakaian mahal itu jarang aku gunakan. Lain halnya jika ada diskon, aku tidak akan menyesal jika akhirnya tidak terpakai. Toh harganya tidak mahal. Niatnya kami akan pergi menggunakan satu mobil, yakni milik Devi. Yah hanya perempuan itu juga sih yang membawa mobil hari ini. Ketika kami sampai di parkiran anak-anak Redman berkumpul di depan mobil mereka. Sam menyesap cola ketika aku menatapnya. Astaga. Manik coklat pekatnya kenapa sedatar itu. Bukannya membuat aku biasa saja, justru malah merasa jantungan. Aku berlari kecil ke belakang tubuh tinggi Devi. Aman. “Tidak ingin menciumnya lagi eh?” goda Aliya. Wajahku memanas dibuatnya. s**t! “Apaan sih.” Aku memanyunkan bibir. Aliya pun tertawa senang. “Sok malu-malu. Tadi aja langsung nyosor.” “Dev!” Aku menarik kesal pintu mobil. Membuat tiga curut itu tertawa senang. Aish. Ting Ketika mobil sudah keluar gerbang, aku mendapat pesan. Itu dari Sam. Jangan-jangan dia mau membahas ciuman tadi. Oh god! Bagiamana ini? “Langsung pulang.” Itu yang ditulisnya. Cih pengatur! “Aku mau shopping dulu. Setelah itu aku akan ke pesta sepupunya Devi,” jelasku. “Oh.” Aku bisa merasakan nada datar itu keluar dari mulut Sam. Cih! Sudah jelek, sok jadi cold boy pula. *** Kami sudah berada di mall saat ini. Segera saja kami menuju bagian pakaian di lantai 3. Aku memilih beberapa atasan dan bawahan yang senada warnanya. Tidak lupa beberapa gaun untuk pesta. “Al, bagaimana?” tanyaku seraya memutar tubuh. Aku baru saja mencoba dress lengan pendek berwarna biru yang berkilau. “Bagus,” pujinya. “Akan semakin bagus jika kamu menyanggul rambut. Leher jenjangmu akan menambah keindahan gaun ini.” Ah, dia memang selalu bisa diandalkan untuk hal seperti ini. “Oh iya, jangan pakai kalungmu,” tambahnya. “Itu akan mengacaukan penampilan.” “Nanti akan aku lepas.” Aku menoleh kepada Devi yang baru keluar dari ruang sebelah dengan gaun hitam. Tatapan Devi segera tertuju pada gaunku. “Itu cantik,” pujinya. “Sayang, dress code malam ini hitam.” “Eh?” Kenapa dia tidak memberitahunya tadi. “Aku sudah memilihkan dress untukmu tadi.” Devi kembali ke dalam, lalu keluar dengan satu buah dress di lengannya. Aku menerimanya dengan sedikit kebingungan. Sejak kapan dia begitu perhatian seperti ini? Aku pasti melewatkan sesuatu. “Bagiamana?” Aku mengangkat dress di tanganku. Jelas bukan styleku. Dress hitam sependek lutut dengan lengan pendek yang lebar. Jika dipakai mungkin akan menutupi hingga ke siku. Lehernya model v neck dan pinggangnya kecil. Kesan yang elegan, tidak seperti kesukaanku yang keren dan hot. “Cantik,” kataku. “Tapi...” Devi mendorongku ke dalam. “Cepat ganti! Kita tidak ada waktu lagi.” “Sudahlah, Ser. Kau cantik dengan apapun yang kau kenakan,” kata Aliya sedikit kencang. Aku pun tidak menolak. Lagipula aku penasaran bagaimana aku terlihat dalam balutan pakaian elegan. *** Kami sampai di kediaman sepupu Devi beberapa jam kemudian. Saat kami keluar, parkiran sudah ramai. Banyak remaja muda bergerak masuk ke dalam. Sepertinya pesta baru akan dimulai. Great, kami datang disaat yang tepat. “Aku mau bertemu pamanku dulu. Kalian langsung ke ruang utama saja.” Devi berjalan ke arah belakang. Kami bertiga yang tersisa pula berjalan maju ke depan. “Woa, seperti istana,” kata Mila kagum. Meskipun rumahku lebih indah dari ini, tapi tetap aku akui bahwa kediaman sepupu Devi ini luar biasa. Karpet merah yang membentang di tangga atas hingga ke bawah terlihat seperti di kastil kerajaan. “Jangan-jangan itu sepupu Devi.” Aliya menyenggol pelan. Aku pun mengikuti arah pandangannya ke sudut ruangan. Dia tinggi, tegap dan berahang kencang. Rambut hitamnya ditata rapi dengan model layered undercut. Ditambah balutan jas hitam dia semakin terlihat berkharisma dan tampan seperti seorang CEO muda. “Darimana kau tahu itu sepupu Devi?” tanyaku. “Aku pernah melihat fotonya di ponsel Aliya.” “Jangan-jangan kekasihnya malah.” Perkataan Mila masuk akal juga. “Ayo ke sana.” Aliya menarik tanganku dan Mila sebelum kami sempat memberontak. Sekumpulan laki-laki yang tadinya tengah berbincang berhenti mendengar ketukan heels kami, mereka kemudian sama-sama memutar tubuh. “Sepupu Devi kan?” Tentu saja Aliya yang bertanya. Dia terlihat mengerenyitkan dahi. Barangkali dia pernah melihat Aliya sebelumnya, namun tidak mengingatnya. “A..aliya kan?” “Yup.” Aliya tersenyum senang. “Pantas saja aku merasa pernah bertemu sebelumnya.” Dia tertawa kecil. Ya ampun, cara bibir itu menarik tawa sangat lembut. Hasilnya jelas tawa manis yang indah. Ini pertama kalinya aku melihat tawa cowok yang begitu manis. “Dimana Devi?” tanyanya kemudian. “Dia ke belakang. Katanya mau bertemu ayahmu.” Lagi, Aliya yang menjelaskan. Aku dan Mila hanya menonton saja. “Oh iya ini teman-temanku.” Aliya menepuk bahuku. “Seria Manhataga, tidak perlu dijelaskan. Kalian pasti mengenalnya kan?” Mereka semua kecuali Ian mengangguk. Aliya kemudian menepuk bahu Mila. “Dan ini Mila Carpurina. Dia masih single loh.” Mila mendesis kesal. “Kau ini..” “Aku, Ian Hirataga.” Dia memperkenalkan diri. “Oh iya, silahkan nikmati pestanya. Aku ke atas dulu.” Ian menepuk bahu temannya dan melangkah pergi. Aku berbalik memandangi punggungnya menjauh. Pria itu tampan sekali. Bahkan punggungnya saja sempurna. Dan dua kakinya yang jenjang itu langsing. Secara penuh fisiknya seperti model pria. Ugh, tipe idaman sekali. “Kau mau kemana?” Ian masih di anak tangga kedua ketika Devi turun. “Ayo.” Tanpa menunggu jawaban Devi mengapit lengan Ian dan membawanya kembali pada kami. Kalian tahu seperti apa wajah Ian? Seperti langit mendung yang akan menimbulkan guntur. Tapi dia tetap tersenyum ketika kami bertemu mata. Hanya senyum formal saja tidak semanis tadi. “Kalian sudah berkenalan?” Aku mengangguki pertanyaan Devi. “Bagus sekali.” Devi memendarkan mata ke buffet. “Sebentar, aku ambilkan minum untuk kalian.” Kalian yang dimaksud adalah aku, Mila dan Aliya saja. Teman-teman Ian sudah memiliki minuman mereka sendiri. Hanya Ian yang tidak. Pasti karena sibuk menjamu tamu. “Hei Ian, kau sekolah dimana?” Aliya tanpa canggung bertanya. “Di Andromeda.” “Andromeda?” Itu kan sekolah yang disarankan papa dulu. “Sekolah bisnis di jantung kota,” jelasnya. “Eh itu punya asrama bukan?” Kali ini Mila mulai bergabung. Ian mengangguk. “Semua murid akan tinggal di asrama selama sekolah berlangsung.” “Pasti tidak seru,” kata Aliya. Ian tidak berkomentar. Dari pandanganku, sepertinya dia nyaman-nyaman saja tinggal di asrama. Ya, dia kan laki-laki. Jauh dari orang tua bukanlah masalah. Dia pandai menjaga diri. “Kau kelas berapa?” Rasa penasaran Aliya kelihatanya makin menjadi. Biarlah, aku juga penasaran Ian kelas berapa. “Aku kelas 12.” Ya, memang sepadan dengan fisik dan caranya bertingkah. “Apa kau sudah punya pacar?” Astaga, Aliya bertanya dengan sengaja merapikan rambutnya. Cih persis seperti cabe-cabean di sekolah yang sok anggun itu. “Aku pacarnya.” Kami memutar leher. Perempuan berbalut gaun hitam panjang dengan belahan tinggi di paha mendekat. Wajahnya tidak bersahabat. Oh iya dia bilang dia pacarnya Ian. Pantas saja wajahnya sudah seperti malaikat pencabut nyawa. Begitu berdiri di dekat Ian, dia langsung mengapit lengan Ian secara posesif. “Darimana datangnya 3 perempuan tidak tahu malu ini?” Dia bilang aku apa? Perempuan tidak tahu malu. Hei, nyonya medusa! Hanya Aliya yang yang bertanya tadi. Kenapa aku jadi ikut. “Mereka sahabatku.” Selamat, dewi penyelamat kami datang. Pelayan yang mengikutinya langsung menyodorkan kami minuman. “Terimakasih,” kataku. “Ian, aku tidak percaya kau masih mau memiliki tunangan seperti dia.” Ohoo, kelihatannya ada konflik antara Devi dan si medusa. Ayo tunjukkan, kami akan menonton dengan seksama. Ian menurunkan tangan si medusa. “Ian!” seru perempuan itu marah. “Apa kau akan menuruti sepupumu ini lagi hah?” “Aku memang tidak menyukaimu.” Ya ampun Ian, kamu terlalu jujur. Kasihan wajah si medusa yang memerah. “Kau harus bertunangan hari ini, Ian. Dan tidak ada perempuan yang mau dengan laki-laki sepertimu, kecuali aku. Kau tidak punya pilihan!” “Tidak ada?” Devi tersenyum miring. Ia menarik tanganku. “Ini perempuan yang akan bertunangan dengan Ian.” “Kau...” Mata perempuan itu langsung menghunus tajam padaku. “Tidak mungkin!” teriaknya. “Ian itu Infertilitas. Dia tidak bisa mempunyai keturunan. Tidak mungkin perempuan cantik sepertimu mau memiliki pasangan seperti dia.” Dia keterlaluan, sungguh. Ian pula hanya terdiam mendengar sekitarnya mulai berbisik-bisik. Aku menggeser Devi, mengelus punggung Ian lembut. Matanya tersentak dan langsung menoleh padaku. “Kenapa aku tidak menginginkan dia? Bahkan jika dia memiliki penyakit seperti itu, masih ada dokter yang bisa menyembuhkan. Satu-satunya yang tidak bisa dimengerti di sini adalah bagaimana mungkin perempuan cantik sepertimu bisa berkata kasar seperti seorang gadis yang tidak pernah mendapatkan pendidikan.” “Kasar? Itu memang faktanya.” Perempuan itu berteriak tanpa malu. Astaga, sayang sekali tidak sesuai dengan penampilan cantiknya. “Bahkan jika itu fakta, tetap saja kau mengatakannya di depan semua orang tanpa berpikir perasaannya. Ini adalah hal kasar.” “Ian, apa kau lebih memilih perempuan ini?” Kebiasaan orang yang kalah, mengalihkan topik. Ya begitulah. “Tidak ada alasan aku bertunangan dengan perempuan bermulut kasar sepertimu.” Dia mengepalkan tangan. Begitu mendengar sekeliling mengumpati perbuatannya, dia berbalik dengan wajah kesal. “Ian..” Pria paruh baya berjas hitam bersama pasangannya menuruni anak tangga. Ian melepas tanganku dan pergi menghampirinya. Devi pun menarik kami ikut bersamanya ke sana. “Maaf, Pa. Aku membuat kacau semuanya.” Ian ini bukan salahmu. Kau tidak harus meminta maaf atas perempuan gila tadi. Pria tua yang aku yakini ayahnya Ian tersebut meletakan tangan di bahunya. “Ini bukan salahmu.” “Ayo, kita nikmati pestanya. Anggap saja ini pesta penyambutan kepulanganmu,” tambah ibunya. Keluarganya benar-benar baik. Aku pikir mereka akan mempermasalahkan pertunangan yang merupakan inti dari pesta hari ini. Ternyata tidak. Keduanya malah menunjukkan sikap pengertian yang membuat aku iri. “Tante, kenalkan ini sahabatku.” Devi menunjuk aku, Aliya dan Mila berurutan. “Seria, Aliya dan Mila.” “Seria? Ah, aku sering melihat postinganmu. Ternyata lebih cantik daripada di foto ya.” Nyonya Hirataga tertawa kecil. Anggun sekali, sepadan dengan penampilannya. “Ayo, nikmati pestanya.” “Kalian pergi saja. Aku akan menyusul.” Kami bertiga pun meninggalkan Devi dan Ian. “Perempuan tadi benar-benar tidak berpendidikan,” gerutu Aliya. “Benar,” sambung Mila. “Apa kalian tidak lihat seberapa muramnya wajah Ian karena itu? Ah, dia pasti malu sampai beberapa hari ke depan karena perempuan itu.” “Siapa sih namanya?” Aku penasaran sekali. Aliya mengedikan bahu. Ia menarik satu cupcake dari buffet dan berkata,”Nanti kita coba tanya Devi.” Ya, aku setuju dengan ide Aliya. Drett Ponsel yang sedari tadi aku pegang tiba-tiba berbunyi. Aku meletakkan gelas ke buffet, lalu menggeser layarnya. Sam? Kenapa dia menelpon? “Halo?” Aku menyapa begitu panggilan tersambung. Aliya yang masih mengunyah cupcake mendekatkan telinga padaku. Kepo sekali. “30 menit.” “30 menit? Apanya?” tanyaku bingung. “Pulang.” Aku mengintip jam di ponsel. “Itu bahkan baru pukul sembilan lewat, Sam.” “Aku tunggu di depan.” “Di depan? Depan mana?” Tuttt Damn! Dia langsung mematikan panggilan. “Pengatur,” umpat Aliya. “Mau bagaimana lagi. Itu wewenang yang ia dapat dari papa,” kataku pasrah. Ngomong-ngomong, dia akan menunggu di depan. Depan rumah Ian ini? Yang benar saja. Memangnya dia tahu. Dia kan tidak diundang. Ah aku tidak peduli. Aku mau makan cupcake seperti punya Aliya saja, kelihatannya itu enak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN