Dua Puluh Sembilan

1869 Kata
Aku menatap malas sekeliling. Semakin malas akan fakta bahwa ini adalah acara milik Sam. "Senyum dikit dong," goda Devi menyenggol lenganku. "Malas banget." Aku membawa tepi gelas ke bibir dan menyesap isinya. Dingin dari minuman melesak ke tenggorokan, membawa sedikit ketenangan untuk dadaku. Aku terlonjak akan cubitan Mila. "Itu Sam." Kuikuti arah matanya. Benar, itu Sam. Dia menuruni anak tangga tanpa ekspresi. Tubuh tegapnya dalam balutan jas hitam yang pas. Lalu rambutnya ditata rapi ke atas dengan gel, memperjelas jerawat-jerawat memerah di wajahnya yang malah kalah oleh manik indah dan hidung mancungnya. Sosoknya seperti bongkah es dingin. Tidak ada tatapan ramah apalagi senyum. Meski demikian ia malah jadi seribu persen lebih menarik daripada tamu pria lain yang hadir malam ini. Sebagai pemilik pesta, keantusiasan bahkan tidak ada di wajahnya. Menarik benar, bukan? Anak-anak RedMan yang hiperaktif langsung mengerumuninya, menepuk-nepuk bahu dan melontarkan ledekan. Di detik itulah ekspresinya baru sedikit melonggar. "Wow, ratu datang." Ketidaksukaan bersarang di mata Devi saat dia mengatakannya. Aku sendiri mencoba biasa saja melihat sosok Adelin dalam balutan gaun indah menghampiri Sam. Ia memberikan kado dan mengingatkan aku bahwa seharusnya juga melakukan yang sama. Aliya menyenggol. "Dimana kadomu?" "Tidak ada." Mila melotot kepadaku. "Tidak ada? Bagaimana bisa kamu tidak membawanya? Aku saja meskipun setengah tidak suka pada Sam tetap memaksa diri untuk membeli." Aku menarik alis. "Oh ya, dimana kado itu?" "Sudah aku berikan pada pelayan Sam tadi. Devi dan Aliya juga sudah." Kini aku meringis menyadari bahwa aku satu-satunya yang begitu jahat. Semakin meringis karena Aisha bergabung di sana, memberikan kado cukup besar bersampul hitam. Sepertinya memang hanya aku yang tidak niat datang ke pesta ini. Anak-anak RedMan yang dikenal tidak toleran bahkan memberikan kado gabungan yang besar. Tingginya mencapai badan Sam dan memiliki lebar yang sama. Tamu-tamu bersorak menyuruh Sam membukanya dan dia menuruti. Pita ditarik olehnya, melepas kado yang membungkus hadiah. "Ninja kawasaki," seru Devi semangat. "Mereka baik sekali kepada Sam." Ya tentu saja. Sam sahabat mereka. Salah satu pilar penting RedMan dan juga beberapa dari mereka sangat kaya. Hanya untuk patungan membeli Ninja tentu bukan masalah. Bibir Sam tertarik ke atas saat dia menyentuh motor tersebut. Adelin mendekat. Beberapa patah kata dan membuat senyum Sam semakin tampak manis. Arkan menuruni anak tangga, mengambil perhatian semua tamu menjadi miliknya. Dia hanya mengenakan atasan turtleneck hitam dan celana panjang. Penampilan simpel yang malah mengagungkan ketampanan dirinya. Dia membawa kado berukuran sedang di tangan. Tanpa basa basi memberikannya kepada Sam begitu sampai. Tidak ada definisi persaudaraan di dalam interaksi mereka. Mungkin itu wajar karena memang sifat Sam dan Arkan bertolak belakang. "Hayo, bagaimana?" Aku benci wajah Devi yang meledek. "Semua orang memberi kado loh. Sam pasti marah kepada kamu." "Bodo amat," kataku acuh mencoba menenangkan diri. Meski demikian bayangan manik tajam Sam yang menghunus membuat tengkukku terasa merinding. Aduh, bagimana ini? "Sudah santai. Sam tidak akan mengekspos kamu." Aliya merangkul aku ke buffet. Mila dan Devi mengikuti. Benar juga. Sam telah berjanji. Tidak mungkin dia mengekspos aku malam ini. Paling-paling hanya cukup menatap dari jauh. Baguslah jika memang begitu. Aku jadi tidak perlu memikirkan hadiah lagi. MC mengajak tamu menyanyikan lagu sementara Sam sudah di depan kue besar dengan lilin yang telah menyala. Anak-anak RedMan yang terdengar paling bersemangat. Bisa dibilang acara ini menjadi milik mereka. Acara suap kue menyusul setelahnya. Arkan mengambil kesempatan lebih dulu, baru disusul oleh anak-anak RedMan. Adelin tentu saja turut ikut. Ia merangkum lembut dagu Sam dan menyuapkan potongan kue. Sorak-sorai menggoda meledak dibuat anak-anak RedMan. Wajah putih Adelin berakhir dengan merona merah. Sam malah menganggapnya bagai angin lalu. Manik coklatnya memburu ke arahku kemudian. Tiba-tiba saja aku merasa sesuatu yang dingin melingkupi erat. Tanganku yang hendak mengangkat gelas sampai takut dibuatnya. Sialan! Dia seolah ingin membunuhku dengan tatapannya. Gila! Aku bahkan tidak berbuat apa-apa. Bersyukur MC mengatakan acara selanjutnya, jadi fokus Sam terpecah. Segera saja aku bergeser, menyembunyikan diri dari dirinya. "Kamu kenapa sih?" heran Mila. "Sam tuh," gerutuku. "Tatapannya seperti hantu saja." Devi mengibaskan tangan. "Ah itu sudah biasa." Iya juga sih, tapi kan efeknya tetap mengerikan. Aku meletakkan gelas kembali ke buffet. "Temani aku ke toilet yuk?" Mila angkat tangan. "Ini kediaman Dagantara. Aku takut saat berkeliling malah ditodong oleh pistol." "Aku juga," susul Aliya. Maka tidak ada pilihan, aku menyenter Devi penuh permohonan. "Tidak mau." Devi ikut angkat tangan. "Sudah kamu sendiri saja," suruh Mila. "Kamu kan sudah masuk bagian Dagantara. Jadi tidak mungkin mereka memperlakukan kamu seperti orang asing." Akhirnya aku menyetujui kalimat Mila. Pergi meninggalkan kerumunan ke luar. "Nona Seria." Aku menarik tangan ke d**a secepat kalimat itu masuk menyapa. Pelakunya adalah seorang maid cantik. "Apakah anda ingin ke toilet?" "Iya, saya ingin ke toilet." "Mari saya antar." Dia mendahuluiku menuju pintu di salah satu sebrang buffet. Pintu yang kemudian dilanjutkan oleh lorong dengan lukisan-lukisan di dinding. Itu kemudian berakhir ke toilet. "Silahkan." Aku sedikit merendahkan kepala dan mengucapkan terimakasih, lalu masuk ke dalam ruangan perempuan. Pertama-tama aku membasuh tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam salah satu toilet. Setelah selesai aku keluar dan betapa terkejutnya karena Sam di sana. Bersandar pada meja wastafel. "Apa yang kamu lakukan disini?" Mataku bergerak ke pintu. Takut-takut ada perempuan lain yang masuk. Ia menegakkan tubuh. Menjadikan jantung di dalam sana berdegup kencang terlebih pikiran semakin menduga-duga hal aneh. Mataku melebar saat tangan besar Sam menarik tengkukku dan menurunkan wajahnya. Kulit terasa menegang berikutnya saat merasakan tarikan dari bibir Sam. Aku mendorong tubuhnya kuat. Spontan memegangi leherku. Listrik tegangan tinggi menyetrum begitu aku melihat bercak kemerahan di leher jenjangku melalui cermin di belakang tubuh Sam. "Gila kamu Sam! Ini sedang pesta, semua orang akan melihat ini." Ali tebalnya terangkat. Menjadi tampak menyebalkan karena ekspresinya seolah tidak peduli. "Lalu?" Aku menggertakkan gigi hingga berharap bisa membunuh Sam dengan itu. Jelas tidak mungkin, jadi aku menghentak kesal untuk segera keluar. "Ruangan kiri lorong lantai dua. Ada gaun untukmu di sana." Tetap aku membanting pintu akan kekesalan, mengabaikan bahwa dia menyiapkan aku sebuah gaun. *** "Kenapa belum berganti? Apa kau ingin memamerkan cupangan miliku itu kepada semua orang?" "Hell no!" Aku menarik gaun dari ranjang dan membawanya ke dalam walk in closet Sam. Isinya tertata rapi meski koleksinya tampak tidak menarik. Warna hitam saja yang mendominasi, sedikit merah dan juga putih. Sam benar-benar tidak punya style yang bagus. Ketika aku keluar Sam masih di sana, bersandar di kepala ranjang dengan ponsel di tangan. Matanya naik cepat kepadaku. "Cantik," pujinya. Aku memutar tubuh, melihat pantulan yang tampil di cermin. Gaun seath lengan panjang dan kerah tinggi. Kuno benar. Untung jenis kain dan warnanya bagus. Jadi tampilanku memilki nilai plus. Cupangan tadi. Sialan! Aku mengingatnya lagi. Ingin tangan ini mencakar wajah Sam sampai tak berbentuk, namun keburu takut ia berubah menjadi serigala. Akhirnya aku cuma bisa merutuk dalam hati, mengirimkan dia beberapa belati yang sayang malah tidak ia pedulikan sama sekali. "Aku ulang tahun," katanya. "Dimana kadoku?" Dari semua pertanyaan, kenapa ini yang keluar? Ya Tuhan, matilah aku. Iya, aku bisa berbohong. Tapi, bagaimana jika Sam tidak percaya? Ah sudahlah, coba saja dulu. "I-tu.." Mataku bergerak-gerak menjauhi tatapan mendesaknya. "Tertinggal di rumah. Tadi aku terburu-buru." "Oh tertinggal." Suaranya datar saja. Sudut mataku melirik, dia hanya manggut-manggut mencoba mengerti. Syukurlah. Ketukan di pintu beberapa kali membuyarkan pikiran kami. Sam beranjak membuka pintu, ternyata seorang maid yang membawa kue tar ukuran sedang. Sam mengambil alih setelah mengucapkan terimakasih, kemudian menutup rapat pintu. "Sini," ajaknya seraya bergerak ke sofa. Aku mengikuti. Skenario selanjutnya sudah dapat ditebak, dia pasti ingin merayakan ulang tahunnya bersamaku. Manis sekali. Di antara keramaian pesta dia masih mengingat aku. Andai dia orang yang aku suka, tentulah aku akan segera memberi hadiah. Ia menyalakan lilin, lalu menyimpan pemantik api ke samping. Manik coklatnya naik. "Nyanyi." "Hah?" Ia menegakkan punggung. "Nyanyi," ulangannya. I know. Aku tidak budek, tapi aku? Yang benar saja? Suaraku tidak berbakat. Mungkin akan terdengar sumbang sekali di telinganya. "Suaraku jelek." "Jadi, aku menyanyi sendiri?" Aneh sih. Kan dia yang mau tiup lilin, masa dia juga yang menyanyi sendiri? "Oke, aku akan menyanyi." Demi segera selesai. Baiklah, Seria. Ayo nyanyi! Pelan-pelan aku membuka mulut, mengalunkan lagu selamat ulang tahun antara malas dan tertekan. Sam dengan intens menonton. Aih, itu mata mau dicolok ya? Selesai menyanyi ia memotong kue menjadi beberapa bagian. Aku mengambil alih kemudian, memindahkan potongan kecil ke piring sebelum akhirnya menyuapkan kepada Sam. Masih dalam kondisi mengunyah, ia mengambil sendok dan memberikan aku sepotong yang sama. Tentu saja aku menerimanya. "Lagi." Ia mendorong wajahnya ke depan saat selesai mengunyah. Aku memberikan lagi satu potong cukup besar. Mengunyah santai tanpa ekspresi. Memang tidak ada yang bisa dinikmati dari pesta malam ini, termasuk ekspresi tuan pemilik pestanya. "Kamu sudah makan malam?" Topik yang melenceng jauh. Untung pelakunya Sam, jadi aku tidak bisa mengumpat langsung. "Belum." "Mau makan apa?" Kenapa bertanya? Dia mau memasak kah? Tidak mungkin. Pesta belum selesai. "Sa.." Tangannya naik ke udara menginterupsi. "Jangan salad." Begitu katanya. Hih, kalau begitu harusnya tidak usah pakai kata tanya. Toh suaraku tidak didengar juga. "Chicken katsu dan kari." Itu perpaduan yang enak dan mengenyangkan untuk makan malam. "Bagaimana kalau ramyeon saja?" Aku menghentak tatapan kesal padanya. "Kalau begitu kenapa tadi kamu bertanya?" Sudut bibirnya terpecah menjadi tawa kecil. "Ingin saja," katanya lalu beranjak. Ingin? Cih! "Tidak mau ikut?" Dia begerak ke sisi kiri. Ada pantry kecil di sana. Yah sepertinya aku tertarik melihat dia memasak. "Tidak perlu. Kamu habiskan saja kuenya. Aku akan memasak ramyeon sendiri." Apa dia gila? Mana mungkin aku menghabiskan kue ini sendirian. Belum lagi membayangkan krim dan manisnya yang memuakkan. Ugh. "Tidak mau." Aku mendekatinya. Menyandarkan pinggul pada pantry. Arah berlawanan yang membuat aku bisa menikmati ekspresi Sam saat mencari-cari cup ramyeon di lemari atas. "Kenapa tidak ada?" Dia mengeluh, menutup kembali lemari dan berkacak pinggang. "Sepertinya kemarin masih banyak. Apa maid membawanya keluar?" Ia bergeser ke lemari sebelah dan menghela. "Hanya ada mie goreng. Sepertinya tidak apa-apa. Ini juga enak." Menarik tiga bungkus. Ia menyalakan kompor dan menaikkan teflon. Karena tidak ada tugas, aku membantunya membuka kemasan mie. Tanpa percakapan. Kami saling membantu. Ketika ia memotong-motong sosis dan tomat aku memantau rebusan mie secara sukarela. Kemudian ia menumis dan aku menuangkan sprite ke dalam gelas. "Selesai." Ia menyajikan satu piring besar mie goreng ke meja. Loh kenapa satu piring? Seakaan mengerti, ia segera menjawab saat aku melirik. "Hemat piring." Bulshit! Ini pasti kesengajaan yang direncanakan olehnya. Tapi sudahlah. Satu piring pun kan berbeda sumpit. "Soal Zion." Otomatis aku mengirimnya tatapan tanda tanya. Ia mengunyah lebih dahulu makanan yang ada di mulutnya sebelum melanjutkan datar. "Aku tidak benar-benar ingin menghajarnya. Kamu memang tidak menyukaiku, ya harusnya aku sadar diri sendiri. Tapi entahlah." Ia mengedikkan bahu. "Aku merasa terlalu kesal," lanjutnya sebelum berakhir menyantap lagi mie. "Ah kalau soal Robee." Ia membidik tepat maniku. Tanpa ekspresi tentu saja jantungku malah salah mengartikan. Berpikir sebuah kemarahan yang pada nyatanya aku sendiri tidak yakin akan kebenarannya. "Tatapannya memang kurang ajar, apalagi mulutnya. Dia pantas mendapatkan pelajaran." "Aku tidak merasa ada yang salah akan tatapannya." Senyumnya tertarik miring. Mengerikan benar untuk dinikmati. "Tatapannya ke arah dadamu? Apa itu tidak salah?" "Benarkah?" Aku tidak tahu bahwa Robee sekurang ajar itu. Lebih tidak tahu bahwa Sam sampai memperhatikan detailnya. "Sudahlah jangan bicarakan dia. Aku malah ingin menghajarnya lagi." Ia mengangkat sumpit, mengarahkan ke mulutku. Seperti biasa, mulutku tidak menolak. Atau mungkin tepatnya takut membantah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN