Empat Puluh Satu

1567 Kata
"Sam, lapar." Sengaja aku menganggunya karena bosan. Hari telah sangat malam dan sinyal lumayan bagus. Aku ingin mengirim Ian pesan, tapi takut malah membuat dia terbangun dari tidurnya. Ya sudah, Sam saja sebagai tumbalnya. "Belum makan?" "Belum." "Jangan bercanda, Seria." Suaranya mengiris tajam. Sesaat memang menciutkan keberanianku. Sialannya malah rasa penasaran lebih mengudara. Ingin tahu sejauh mana Sam peduli padaku. "Aku tidak bercanda. Makanannya mie lagi. Itu tidak enak. Mau memakan lauk yang dibawa, tapi nasinya tidak ada." "Bukannya kamu membawa roti?" "Tiba-tiba saja aku tidak mood memakannya." "Seria, aku sangat jauh. Tidak bisa mengirim kamu makanan. Makanlah roti itu dulu atau bangunkan Zion untuk merebus mie." "Ini sudah pukul satu. Dia pasti tertidur nyenyak." Untuk meyakinkan kubawa nada rendah nan memelas bersama. Penasaran saja apa itu dapat membuat Sam terpancing. "Paksa bangun!" "Sudahlah aku tidur saja. Ngomong-ngomong terimakasih. Sinyal ponselku masih lumayan berkatmu." Ada kata yang hampir masuk ke telinga, namun segera aku mematikannya. Bisa bahaya jika dilanjutkan. Parahnya lagi Sam mungkin akan marah jika menyadari aku hanya tengah bercanda. "Gila lo," sembur Aliya. Seperti aku, dia juga masih belum dapat tidur. Di saat yang sama berusaha mengirim pesan pada kekasihnya dengan sinyal apa adanya. "Sesekali," kataku setengah terkekeh. "Biar dia panik." Kira-kira bagaimana ya ekspresinya sekarang? Dari gelagatnya selama ini. Dia terlihat lumayan peduli padaku. Jika begitu, maka kalimatku tadi mungkin berhasil memicu kegelisahannya. "Perasaan kamu sepertinya mulai berubah." Kumiringkan kepala ke arah Aliya. "Maksudnya?" "Kamu tidak menolak penuh Sam. Harusnya dengan begitu kamu sadar bahwa sisa kecil dari ketidak penuhan tersebut akan menghasilkan sebuah efek." Aku masih tidak mengerti kalimat Aliya, tapi aku tidak menyela. Hanya mengerutkan dahi agar dia menjelaskan lanjut. "Interaksi-interaksi kalian. Itu kan yang membuat kamu sekarang merubah pandangan akan Sam. Aku memang tidak tahu pasti pandangan itu sekarang ke arah mana, tapi bukti perubahannya terlihat jelas sejak awal. Kamu tidak menolak Sam sekuat kalimat yang kamu udarakan. Jadi tidak aneh melihat hasil yang kini ada." "Benarkah? Tapi menurutku kami masih tetap sama." Bibirku berkata demikian. Sayangnya hati mulai goyah. Apa benar kami masih sama? Sam semakin posesif. Terang-terangan juga menunjukkan perasaannya. Dia telah berubah. Lalu aku? Dulu dan kini sama-sama menolak Sam menjadi bagian lingkaranku. Namun sebaliknya, aku tidak pernah menolak Sam secara penuh. Mungkinkah sejak awal memang telah ada yang berubah? Tapi apa? "Sepertinya ada kemungkinan kalian bersatu." "Aliya! Aku hanya mencintai Ian." "For now," ujarnya ringan sembari menarik mata kembali pada ponsel. "Dua atau tiga minggu lagi siapa yang tahu. Interaksi semakin berubah. Hati kamu juga begitu." "Tidak akan," kataku memiringkan tubuh ke arah Devi yang telah tertidur nyenyak. Decihan pelan Aliya membawa kekesalan tersendiri. Perlahan bibirku menipis. Kenapa dia yakin sekali hatiku akan berubah untuk Sam? Memangnya dia Tuhan? Ataukah ia meremehkan keteguhanku pada Ian? Apa aku terdengar sebercanda itu? Hati memang terus berubah, tapi ada yang namanya d******i. Meski dua atau tiga minggu lain hati ini berubah untuk Sam, itu tidak masalah selagi Ian masih mendominasi. Sialan! Sepertinya aku terlena. Harusnya tidak usah mengambil langkah lagi kepada Sam. Dia jadi berpikir aneh-aneh dan aku kini ikut terkena sebagian imbasnya. "Tapi bagus. Kamu akan merasakan kebahagiaan penuh. Dia sangat mencintaimu. Berbeda dari semua perempuan yang pernah masuk ke hatinya." Kumiringkan tubuh kembali ke arah Aliya yang sibuk mengetik di layar ponsel. "Semua perempuan?" "Iya. Dari cara dia memperlakukan, apalagi memberi kepedulian sangat jauh berbeda. Pacar-pacarnya yang sebelum ini hanya dihargai sedangkal mangkuk. Sementara kepada kamu, dia sedalam lautan. Terbukti bukan? Daripada perasaannya dia lebih memilih melihat kamu bahagia bersama Ian." "Itu yang kamu bilang sedalam lautan?" Kepalanya sedikit mengangguk. "Cinta adalah pengorbanan. Bukan hanya mengutamakan perasaan meluap-luap di hatinya, tapi juga keteguhan untuk membahagiakan objek yang ia cintai. Terdengar mudah, tapi sulit." "Lihat saja pasangan-pasangan di sekeliling kita. Kebanyakan mengklaim hubungan mereka berlandaskan cinta, tapi ketika diminta berkorban sesimpel memasang batasan kepada lawan jenis mengeluarkan banyak alasan. Itu namanya hanya suka, perasaan simpati akan penampilan atau sikap semata. "Haruskah ada pengorbanan?" "Tepat sekali. Itu yang membuktikan kedalaman perasaan seseorang." Apa Ian juga hanya sekedar suka? Tidak, dia mengatakan... Ya memang. Dia masih belum melakukan pengorbanan, tapi ini hanya masalah waktu. Suatu saat dia pasti akan menunjukkannya. "Kamu sendiri. Jika berdiri sebagai Sam, apa mampu berbuat sama?" Tidak! Aku tidak akan rela melepaskan Ian kepada perempuan lain sekalipun agar dia bahagia. Perasaan adalah hal yang penting. Begitu kata Ian. Aku tidak mau menyesal dikemudian hari. "Yang dia lakukan barangkali karena memang tidak menyukai aku. Kalau cinta benar-benar ada di hatinya, pastilah dia tidak akan melepaskan aku kepada Ian." "Bukankah jelas? Dia ingin kamu bahagia." "Kenapa tidak dia saja yang membuat aku bahagia? Katanya mencinta sedalam lautan." "Kamu tidak mengerti ternyata. Cinta itu tidak boleh egois, Seria. Tidak boleh menuntut juga di saat yang sama. Jika kamu berpikir demikian, maka justru cinta kamu yang sangat dangkal." Aliya mematikan ponselnya dan menarik earphone menuju telinga. "Ini sudah larut, ayo tidur." Malah memutus topik. Belum juga selesai. Ah tapi baguslah. Semakin lama rasanya kepalaku semakin berat. Cinta dan cinta. Ini lebih sulit dicerna daripada matematika. *** "Ser, dipanggil tuh." Suara kasar Devi menusuk-nusuk telinga. Merusak suasana dan menimbulkan ketidaknyamanan. "Apasih, Dev. Baru juga tertidur." Kugulingakan tubuh ke kiri untuk memunggunginya. Berharap dengan begitu suaranya tidak menganggu lagi. Sialan, dia malah berganti mengguncang-guncang tubuhku. "Seria, dipanggil Bu Jesi tuh." Bu Jesi? Kenapa dia memanggil? Ini jam berapa sih? Berkat banyaknya tanda tanya tersebut aku perlahan membuka kelopak mata. "Bu Jesi?" "Ho'o, dia ada di depan tenda kita." Dalam rangka apa nih? Perasaan aku tidak membuat masalah. Ah sudahlah, lihat saja dulu. Kueratkan selimut pada tubuh sementara Devi membuka tenda. Bu Jesi benar-benar berdiri di depan tendaku bersama seorang pria paruh baya tampan dan setegap tentara. "Seria, ini paman kamu ingin mengantar makanan sekaligus mengecek keadaan." "Paman?" Tidak ada satu pun pamanku memiliki wajah seperti dia. Meski tampak ramah dan tampan, namun ada aura prajurit yang tidak dapat dimiliki sembarang orang. "Berbicaralah sebentar. Saya tunggu di sana." Bu Jesi meninggalkan kami. Apa yang harus aku katakan? Jelas-jelas pria ini bukan pamanku. Mungkinkah salah satu orang suruhan papa? Ah tidak mungkin. Jika papa mengirim orang suruhan, dia pasti akan memilih yang telah aku kenal. "Saya Janson, tangan kanan Tuan Ryn Dagantara—paman tunangan anda." Oh astaga ternyata anak buah pamannya Sam. Wait-wait, kenapa dia datang? "Tuan Sam meminta saya mengantarkan makanan untuk anda. Ini nasi beserta lauk yang baru dimasak oleh koki terbaik kami. Silahkan dinikmati, nona." Dia mengulurkan paperbag besar. Begitu masuk dekapan, aku dapat merasakan ketidakraatannya yang mungkin disebabkan oleh aneka wadah-wadah. Ini dari Sam? Ya Tuhan, aku baru ingat. Aku mengusiknya dengan mengatakan lapar. "Kalau begitu saya pamit, Nona. Besok pagi saya akan mengirimkan makanan lagi. Jika anda ingin makanan tertentu, anda bisa mengatakannya sekarang. Apapun, kami akan berusaha membuatnya." Tidak-tidak. Aku telah merepotkan. Kalau langsung pada Sam sih tidak masalah, ini pamannya. Nanti aku malah dilabeli perempuan meribetkan pula. "Tidak perlu, paman. Saya masih memiliki makanan untuk besok." "Baiklah jika itu yang nona inginkan." Dia merendahkan sedikit kepalanya. "Selamat malam." Dia masih menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Bu Jesi. Setelah usai barulah mulai melangkah menjauhi tempat kami berada. "Seria, lain kali katakan pada saya jika kamu tidak dapat makan dengan baik. Bukan hanya tidak enak merepotkan orang lain seperti tadi, tapi saya khawatir akan terjadi apa-apa dengan kamu." Bu Jesi memberikan aku ceramah sebelum pergi. Aku pun hanya dapat tertunduk. Tidak menyangka sama sekali jika Sam akan berbuat senekat ini. "Maaf, Bu." "Makanlah." Bu Jesi menghilang dari pandangan. Nafasku yang tadi terasa tersendat kembali lancar. Untung tidak dimarahi habis-habisan. Lagian itu paman nekat benar jam segini datang. Apa tidak takut bertemu hantu di jalan? Tidak mungkin juga sih. Toh tubuhnya penuh aura keberanian. "Anak buah paman Sam?" tanya Devi. "Iya." "Kenapa datang?" "Seria merengek pada Sam kalau dia kelaparan." Celetukan dari Aliya menjadikan mata Devi seperti ikan asin. "Kamu gila!" ledaknya kemudian. "Ah tidak. Sam yang gila! Hanya karena rengekan senekat ini memerintah orang. Asih, aku jadi iri." Devi yang tampak pura-pura menghapus air mata halusinasinya membuat aku memutar mata. Lebay! "Aduh nyai, subuh-subuh begini kok makan." Zion mendekat dengan gontai, mengusak-usak mata dengan selimut yang melingkupi tubuhnya. "Loh kenapa kamu datang?" "Mau apalagi, nyai? Mau menyalakan api dong." Ia berjongkok di bekas bara api unggun. Dalam beberapa menit api menyala, memberi penerangan bagi kami untuk saling melihat jelas satu sama lain. "Sudah, cepat makan." Zion menggelar karpet di depan api unggun. Ingin kutolak, tapi rasanya tidak enak. Dia sudah rela bangun dan mempersiapkan tempat. "Dev, ayo makan," ajaku. "Ayo." Dia menguncgang-guncang tubuh Mila dan Aliya. "Woi, mau makan tidak?" Keduanya kompak menggeleng. Ya siapa sih yang mau makan di pukul dua dini hari begini. Suasana sejuk, jelas enaknya bergelung di selimut. Dalam keheningan aku mengunyah nasi bersama aneka lauk pauk. Rasa keduanya masih hangat. Begitu masuk ke mulut menjadi bertambah lezat jadinya karena fakta tersebut. Ini benar-benar baru dimasak. Sup daging dab baksonya sehangat baru diangkat dari kompor. Sekali seruput, kedinginan tertepis segera. "Nyai, lain kali kalau butuh apa-apa bilang dong. Begini aku jadi terkesan tidak berguna." Kalimat Zion membuat kepala bercabang karena disertai ekspresi kesal. Kenapa begitu? Apa dia marah karena diminta bangun? "Kalau kamu mengantuk kembali saja," suruh Devi. "Bukan begitu, medusa." Zion menarik sendok di tanganku dan mencuri beberapa suapan nasi hingga pipinya menggembung seperti marmut. Pelajaran yang dapat aku petik dari kejadian ini, jangan sekali-kali merengek pada Sam. Dia benar-benar akan menganggap serius. Aish, padahal aku hanya bercanda. Kini malah jadi dipenuhi rasa bersalah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN