Duabelas

1755 Kata
"Kamu mau kemana?" seru Mila karena aku bejalan ke arah yang berlawanan darinya. "Lapangan," balasku sedikit berteriak. Dia tidak bertanya lagi, membiarkan aku terus berjalan. Riuh rendah di lapangan sepak bola terdengar semakin keras. Tribun lumayan ramai. Di d******i oleh perempuan. Pastilah supporter pacar mereka yang tengah latihan. Ada juga beberapa pemain cadangan di sana. Aku sengaja mengambil duduk yang jauh dari mereka. Sam di lapangan tengah berlari mengejar bola. Peluh keringat sudah membasahi pakaiannya. Dahi bahkan leher juga sudah banjir keringat, namun dia masih bersemangat. Aku mengeluarkan ponsel. Semalam Ian mengajakku berbincang-bincang. Hal tidak penting saja sebenarnya, tapi aku rasa kami satu frekuensi. Yes, dia mengirim pesan lagi. Sudah pulang? Itu yang dia tanyakan. Sudah, kamu sendiri? Ternyata dia baru juga selesai dengan kelasnya dan kini tengah berjalan menuju asramanya. Iseng-iseng aku meminta fotonya. Eh dia benar-benar mengirimkannya. Aku tidak pernah masuk secara langsung ke Andromeda, tapi aku pernah melihat fotonya di media sosial. Sekolah itu cukup terkenal untuk sekolah bisnis. Mudah ditemukan keberadaannya di dunia maya. Dan mengejutkannya lebih cantik yang difoto oleh Ian. Pasti sudah mengalami renovasi lagi. "Belum pulang?" Sudut mataku terdorong ke kiri. Sejak kapan perempuan itu ada di sini? "Belum." Jawaban ketus saja. Aku malas sekali melihat tingkahnya yang selalu sok berkuasa itu. Mentang-mentang punya aura membunuh dia jadi sesukanya mengintimidasi. Cih! "Menunggu Sam?" "Hmm." Bagus sekali. Aku membalas pesan Ian lagi, juga mengatakan tidak sabar untuk melihat langsung Andromeda.  Aku juga menunggumu. Ian, jaga kalimatmu! Bibirku tanpa diminta tersenyum. Jika dibaca ulang kalimat itu memang punya efek yang berbahaya bagi hatiku. Hangat dan terus menghangat hingga aku merasakan pipiku memerah. Aih. "Kamu menyukainya?" Nih perempuan mau apa sih? Kepo sekali dengan urusan orang lain. "Tidak." "Baguslah." Dia bersandar pada punggung kursi. Saat aku melirik, matanya membidik Sam secara intens. Aku mengangguk. "Aku harap dia juga menyukaimu." Kembali pada ponsel. Bodo amat kalau dia marah. Toh Sam memang tidak menunjukkan tanda-tanda suka padanya. Lagipula siapa sih yang mau perempuan mengintimidasi seperti dia? Selalu ingin mendorong orang lain dalam ketakutan untuk mengangkat namanya. Cih! *** "Ayo." Satu jam akhirnya selesai. Sam menjulang di depanku, mengulurkan tangan. Ia telah berganti pakaian. Atasan berupa hoodie hitam dan bawahan, celana training. Bau keringat sudah tidak ada. Sebagai gantinya aroma vanilla kuat menguar dari tubuhnya. Apa ini parfumnya? Entahlah. Biasanya dia kan tidak memakai parfum sama sekali, hanya aroma nikotin saja yang kerap tersedot hidungku. Aku menyambut tangannya. "Lama sekali." Dia mengusak kepalaku. "Maaf." Tidak ada gunanya maafmu itu. Aku memutar kaki dan mendahului. Samar-samar terdengar suara Adelin menghentikan Sam. "Sam, boleh aku menumpang?" Sepertinya benar. Perempuan itu memang menyukainya. Bagus sih bagus, tapi masih ada yang lebih bagus untuk Sam daripadanya. Dia yang tahunnya mengintimidasi pasti akan membuat Sam menjadi pihak yang bersalah. Sebagai pria, Sam tentu tidak akan mau demikian. Ya, aku rasa itu yang akan membuat mereka menjadi pasangan pincang. Tring Ian lagi. Dia mengirimkan foto kamar asramanya. Sebuah ruangan dengan dua ranjang. Yang disisi kanan sangat berantakan, jelas bukan punya Ian. Yang disisi kiri pula sangat rapi. Seprainya berwarna putih, ada poster-poster planet, universitas, peta negara, mind map bisnis, pemandangan alam dan beberapa quotes penyemangat. Itu pasti punya Ian. Di antara ranjang ada dua meja belajar yang dibatasi oleh tanaman monstera besar.  Jendela besar yang berada di belakangnya pula menampilkan pemandangan pepohonan. Aku bisa merasakan kenyamanannya jika duduk di sana. Pasti akan sangat fokus untuk belajar berjam-jam. "Seria, tidak mengapa kan Adelin menumpang bersama kita?" Tanpa berhenti aku langsung berkata, "tidak." Sesampainya di mobil, aku membanting tubuh ke kursi. Mengirim pujian akan kondisi kamar Ian yang rapi tersebut. Sayang sepertinya dia memiliki room mate pemalas. Itu mencemarinya sedikit. "Pakai seatbeltmu." "Sebentar." Dia malah menolak pujianku. Rendah hati sekali sih. Sementara aku terus mengetik, Sam memiringkan tubuh. Wajahnya menjadi sangat dekat ke wajahku. Ia menarik seatbeltku dan menguncinya. "Terimakasih," ujarku. Ia berdehem pelan, lanjut menyalakan mesin mobil. Menggiringnya dengan kecepatan sedang keluar dari halaman sekolah. "Sam, mampir ke warung biasa yuk?" ajak Adelin riang. Aku melihat wajahnya sesaat lewat spion atas. Kenapa dia menekan kata biasa itu? Mau pamer bahwa dia sudah lama bersama Sam hingga memiliki tempat istimewa heh? Apa dia pikir aku peduli? Tidak akan! Tapi boleh juga. Aku akan membuatnya merasa bangga. "Warung apa, Sam?" Dia menoleh cepat. Barangkali terkejut karena keantusiasanku yang bisa diterjemahkannya sebagai cemburu tersebut. "Warung biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Menunya jajajan yang biasa kamu temui di depan SD atau SMP." "Seperti?" "Cilor, batagor,seblak, ya sejenis itu lah." Sekali lagi aku melirik Adelin lewat spion. "Kalian sering ke sana ya?" Terdengar tawa Adelin, tawa anggun sekali. Bagaimana dia bisa seperti itu? Biasanya juga tidak pernah tertawa. "Wajahmu lucu sekali." "Lucu?" Bagian wajahku mana yang lucu? Dia aneh sekali. "Wajah kamu muram, terlihat seperti cemburu. Lucu sekali." Tawanya semakin menjadi. Apa yang dia katakan? Sembarang sekali. Aku tidak cemburu. Main menyimpulkan sendiri. i***t! Sam dan aku akhirnya sama-sama diam.  Adelin pun akhirnya begitu. Barangkali sadar bahwa tawanya menganggu semua orang. "Bagaimana dengan tawaranku tadi, Sam?" Tidak tahu malu. Itu label baru yang aku berikan padanya dengan sangat hormat. "Seri, kamu mau?" Ah, baiknya kamu Sam. Aku kira tidak peduli lagi akan pendapatku. "Boleh." Penasaran juga aku dengan 'warung biasa' yang dibanggakan oleh Si Adelin. Walaupun Sam bilang tidak ada istimewanya, aku tetap penasaran. Ya hitung-hitung membuat dua pasangan ini mendatangi tempat istimewah mereka. *** Pintu hampir kudorong saat tangan Sam mencegat. Dia menarik laci dashboard, mengambil sebuah kemeja flanel hitam dari sana. Tanpa diminta ia kemudian mendorong tubuhnya padaku dan mengikatkan kemeja tersebut ke pinggang. "Rokmu pendek sekali," bisiknya. Ketika aku melihat ke arah pahaku ternyata benar. Rok  hitam yang aku kenakan sudah di atas lutut. Padahal bulan lalu masih selutut loh. Kapan aku bertambah tinggi? Lagi, tanpa diminta dia mendorong pintu mobil di sampingku. Damn! Wajahnya jadi tepat di depan hidung. Salah bergerak aku pasti bisa mencium pipi tegasnya tersebut. "Ayo keluar." Aku meloncat turun, disusul oleh Adelin yang membawa wajah tidak senang. Daguku terangkat. Meskipun dia galak aku tidak mau kalah. Bukan menang demi Sam, tapi menang demi harga diriku. Menjadi perempuan cantik dan sering dikejar telah membuatnya besar kepala. Dia bahkan lupa bahwa aku yang berada di atasnya. "Maaf, Seria. Mungkin kamu akan sedikit tidak nyaman," katanya lalu memimpin langkah. "Bukan masalah besar," balasku seraya mengikutinya. Dindingnya hanya terbuat dari papan. Meskipun demikian ukuran ruangannya lumayan lebar. Meja dan kursi juga dari kayu, berjarak setidaknya dua meter dari yang lain. Tapi spasi yang kecil membuat pengunjung kurang nyaman. Aku mendekati meja di tengah, menekan telunjuk ke sana. Lumayan, debunya begitu tipis. Tapi aroma pengarum ruangannya tidak enak sama sekali. Ia menggeser kursi. "Sini duduk." Tentu saja aku menerima perlakuannya yang membuat aku merasa menjadi ratu tersebut. "Jadi, kamu mau apa?" Adelin menyusul di hadapanku. Sungguh tindakan yang disengaja karena disebelahnya lah kursi terakhir. Dengan demikian Sam pasti akan duduk di sampingnya. Tiba-tiba aku mulai berpikir bahwa meja bundar bukanlah ide yang bagus. "Aku akan memesan sendiri." Ia menepuk puncak kepalaku pelan. "Kamu mau apa?" "Terserah kamu saja." Ponsel.  Benar. Itu yang aku mainkan selanjutnya. Ian sudah tidak aktif. Ah, kenapa harus begitu? Jangan egois dong, Seria! Dia kan juga mau istirahat. Mungkin mengisi perut malah. Tring Elah malah Si Zion. "Kanjeng, aing di depan gerbang. Nih ada pisang goreng." Sudah tahu aku tidak suka pisang goreng masih saja selalu nawarin. Dasar Zion! "Ayo coba." Aku terjengkit akan tepukannya. Satu piring makanan yang aku ketahui adalah bakso dan sosis goreng tersaji. Tapi, tunggu. "Ini bumbunya apa?" "Bumbu sate. Enak loh." Adelin menarik satu dan membawa ke mulutnya. Seenaknya banget sih nih perempuan.  Di depan anak-anak selalu memasang tampang membunuh, tapi saat hanya bersama Sam sikap ganjennya menguar. Dua muka! Sam menarik kursinya kepadaku. Ups, Adelin. Dia sepertinya tidak ada perasaan kepada kamu. Gosh, aku ingin tertawa. Lucu sekali, wajahmu yang masam terlihat seperti cemburu. Ingin aku mengatakannya, sungguh. "Atau kamu coba punyaku?" Punyaku yang dia maksud adalah hah? Aku melotot.  Di depan Sam bukan hanya satu atau dua jenis makanan. Satu, dua, tiga, empat, lima....sepuluh. Gila! Sam rakus sekali. "Coba ini." Ia merangkum lembut daguku. Iya lembut, tapi kuncinya kuat sekali hingga aku kesulitan menggeleng. "Aaaa," katanya saat tangannya mulai menyodorkan satu sendok batagor.  Aku menerima setengah saja, tapi dia mendorong lagi sendok tersebut dan membiarkannya sesaat. Of course aku terpaksa mengunyahnya. "Enak kan?" Kenyal, bumbu kacang yang manis, rasa ikan, eumm boleh lah untuk harga yang aku yakin sangat murah. Kepalaku pun mengangguk akhirnya. "Mau lagi?" "No, thanks." Aku mengambil satu tusuk bakso goreng dari piringnya. Kenapa tusukannya kotor begini? Higenis gak sih? Kuambil yang lain, memandangi lagi. Sama, lidi penusuknya kotor. Nih penjual pakai yang bekas ya? Kalau pun mau memakainya cuci lagi dong dengan bersih. Membuat tidak mood makan saja. Sam menggeser kursi, dia berdiri dan pergi lagi ke stand. "Kenapa dengan makanannya?" Aku menjauhkannya. "Kelihatannya tidak higenis." "Benarkah?" Adelin mengambilnya dan mengunyah dengan santai. Ia lalu mengarahkan tusuk bakso tersebut padaku. "Kamu harus terbiasa. Sam memang hidup dengan cara seperti ini." Aku melipat tangan. "Oh ya?" Dia mengangguk. "Nama dan kantongnya saja yang Dagantara, tapi cara hidupnya sama sekali bukan Dagantara. Sangat jauh sekali dari tipe idealmu. " Ia mengedikan bahu. "I guess." "Sejujurnya pendapatmu yang terakhir itu sangat benar. Tapi kan, sikapnya yang selalu repot setiap berhubungan denganku itu sangat manis. Kamu setuju kan?" Kunyahannya memelan seiring keluarnya api dari maniknya. "Ya, itu sangat manis." Matanya tidak setuju dengan itu. Sama sekali tidak setuju dengan kalimatnya, tapi dia tersenyum paksa. Aku bahkan melihat ekspresinya yang terbebani. "Entah kenapa aku suka berpikir bahwa kamu tidak menyukaiku. Ck, mungkin aku yang terlalu berpikir asal." Dia menarik satu bakso lagi dari tusukannya. "Apa hebatnya Seria-Seria itu? Hanya wajah dan tubuh yang dia pamerkan kemana-mana. Seperti jalang saja. Apa Tuan Manhataga tidak pernah mengajarinya ya?" Kalimat itu aku dengar secara tidak sengaja ketika melewati lorong kelas Sam. Adelin di sana, mengatakan kalimat itu dengan angkuh juga jijik kepada teman-temannya. Andai aku tidak mendengar. Mungkin kebencianku tidak akan sebanyak ini. Berani-beraninya dia mengkritik cara papa mendidik seolah dia adalah Tuhan yang paling tahu. Menjijikkan! Aku mengangguk. "Ya, aku rasa kamu terlalu berpikir asal." Tak Satu cup mie instan korea tersaji. Aroma pedasnya mengudara, membuat cacing di perutku berteriak. Aku menarik sendok dan garpu yang Sam pegang dan langsung mulai memakannya. "Seria." Kepalaku terangkat pada Adelin. "Kamu harusnya mengucapkan terima kasih lebih dulu pada Sam." Leherku beputar ke samping. Ya seperti biasa. Tatapannya datar saja. Benar-benar seperti orang yang tidak memiliki hasrat untuk hidup. "Gracias, Sammy." Ia mengangguk kecil, menarik pandangan cepat dan memakan batagornya dalam ketenangan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN