Aku menepikan mobil di pinggir jalan tidak jauh dari restoran untuk menuntaskan airmata kekecewaan hasil pertemuan petamaku dengan orang yang seharusnya kupanggil ‘ayah’. Ingin kusalahkan harapan yang tidak bisa kukendalikan sesaat sebelum pertemuan tadi. Bukankah firasatku sudah berkata ada yang tidak beres? Tetap saja, ini adalah pertemuan yang paling kutunggu seumur hidup. Aku yang berpikir bahwa tidak mungkin dapat bertemu dengan ayahku, mulai mendapatkan harapan ketika Ryoichi menampakkan diri dan berkata bahwa selama ini ia mencariku. Kemudian kenyataan yang kutahu tidak seperti yang selama ini kupikirkan. Aku terharu. Tapi kini, hanya rasa muak yang memenuhi dadaku. Puas menangis, aku membeli sebotol anggur dan meminta Sarah menginap untuk menemani Juno. Menghindari anakku, aku

