Aku kehabisan suara juga napas untuk melawan manager Im yang kini mengecupi leherku. Aku sungguh jijik melihat wajahnya dari jarak dekat seperti ini. Sekuat tenaga aku meronta dan hal itu membuatnya tak segan menekan pahaku ke sofa lebih kuat lagi. Hingga kudengar suara pintu depan terbuka dan ada obrolan dua orang yang sedang berbincang. Tapi dengan cepat manager Im menutup mulutku agar tidak berteriak. “Hyung? Mengapa kau tidak mengatakan ingin waktu privasi? Whooaaa, baiklah kami tidak akan mengganggumu. Harusnya ia pulang ke apartementnya saja. Ayo kita pergi.” Suara itu terdengar dari luar, aku berusaha menendang kaki manager Im agar mulutku terbuka dan berteriak sekuat tenaga. “Tolooongggg!”Jeritku seketika, suara pintu yang terbuka terdengar namun sepertinya pintu itu belum menu

