"Luka karena cinta. Lagi-lagi kisah romansa yang mengharuskan diiringi berjuang, harus bertahan sampai mendapat apa yang diharapkan."
"Rei?"
Reina berbalik, melihat kedatangan Acha dan Bram. Dari belakang sesungging senyum lebar masih menghiasi bibir berlipstik tipis Sinta. Kedatangan anak satu-satunya membuat Sinta benar-benar bersyukur, tanpa paksaan datang mengobati kerinduan. Tidak terlihat gurat sesuatu yang mencurigakan, Acha bagi Sinta masih sama di matanya. Anak kecil membanggakan dengan ratusan sertifikat prestasi, piagam penghargaan juga piala yang menghiasi kamar mininya.
Mungkin, Acha akan datang menemukan semua masa lalunya itu? Sayang, kediaman Acha di masa kecil juga beberapa kenangan bersama Devid tak bisa ditemukan lagi. mengingat rumah yang didiami Sinta bukan lagi rumah bersama dulu dengan Chandra. Namun, kehidupan lain bersama lelaki barunya. Lelaki yang menyakiti hati ibu Reina.
Setelah berbasa-basi terlebih dahulu, tepat pukul tujuh malam Sinta memberikan wejangan alias makan malam spesial. Mahendra juga terpaksa tidak menghadiri acara pentingnya di kantor, demi menyambut kedatangan Acha anak tirinya. Membiarkan suasana yang pernah kaku pada masanya.
Di mana Acha mengetahui perasaan Reina soal menyukai Devid. Bukan hanya itu saja, Reina pernah terang-terangan menggoda Devid di depan Acha agar membalas rasa sukanya. Padahal Acha dan Devid sudah menikah. Sungguh, kedatangan Acha membuat Reina salah tingkah. Ia begitu bodoh dan sangat konyol.
"Bram, kamu juga mau nginep?" tanya Sinta, wanita itu sudah tahu gerak-gerik juga semua perhatian yang ia berikan kepada Acha. Menandakan bahwa ia ingin menjadi sebagian hidup Acha, mengggantikan Devid selamanya.
"Iya, Tan. Tenang gak sekamar sama Acha, kok," ucap Bram bergurau.
Sinta dan Mahendra terbahak, Reina hanya cengengesan saja. Ia sangat jengkel hidup bersama dengan Sinta saja, apalagi sekarang ditambah Acha dan Bram ada di depan mata. Rasanya bumi seakan sempit, andai Reina memiliki banyak uang mungkin ia bisa menghabiskan waktu sekarnag di hotel bersama teman-temannya atau mungkin ketiduran di kelab malan?
Ya, kehidupan Reina sedikit mulai tak bisa dikendalikan. Namun, ia masih sadar akan apa yang ia lakukan. Sangat membuang waktu! Apalagi kehidupannya soal percintaan, lagi-lagi ingin lebih dari bayangan Devid yang disukainya seperti saudara tirinya itu. Lebih tepatnya, ia menyukai suami dari saudara tirinya. Melupakan, bahwa Devid sudah meninggalkan benih cinta yaitu Devit.
"Kamu ini bercandanya ada-ada aja!" Mahendra masih menyisakan tawa, sampai ia bertanya, "Devit, kamu tinggal sendirian? Kenapa gak diajak?"
"Katanya gak mau ikut, biasalah ... anak menginjak remaja kebanyakan fokus dengan tujuan yang masih terngiang di kepala," jelas Acha, diakhiri menegak habis air minumnya.
"Padahal, mama kangen banget sama dia! Kamu pasti gak cuma sehari 'kan di sini?" Sinta menyayangkan jika jawaban Acha adalah akan lama berada di rumahnya, tanpa sang buah hati.
Acha mengangguk lemah. "Cuma dua hari, kok."
Selesai makan malam, Acha mengajak Bram pergi keluar. Tanpa menyebutkan ke mana tujuannya, Bram hanya menurut saja mengikuti arahan yang Acha tunjukan. Menyaksikan beberapa warung di pinggir jalan yang masih buka, beberapa anak lelaki tanggung dengan santai menyesap kopi, menggepulkan asap rokoknya lalu bersenandung ramai-ramai.
Ada juga yang nongkrong di kafe, bercengkerama saling melempar tawa. Ini bukan malam minggu, memberikan kesempatan banyak bagi Acha menatap leluasa lapangan besar penuh sejarah yang tak mungkin dilupakan begitu saja dengan gampang. Walaupun malam. Lihatlah, pohon saksi bisu Devid tertabrak oleh truk sudah mati tertinggal batang hitam penuh debu jalanan. Lapang yang hanya dihiasi rumput hijau, tanpa mainan anak menghiasi keramaian.
Sepi. Acha meminta Bram menghentikan laju mobilnya. Membiarkan langkah Acha terus berjalan, menyeberangi jalan dengan minim lalu lalang kendaraan. Dari belakang Bram enggan menjadi pengganggu, tetap menguntit pelan tanpa suara. Di bibir pintu masuk lapangan langkah Acha terhenti, bayangan masa lalu menari-nari.
"Dulu, gua berangkat bareng Richard, ya?" lirih Acha, tangannya menggapai rumput tinggi. "Wajah lo kayak marah, Dev, terus gua baru sadar lo lagi cemburu, ya?"
Bram tersenyum tipis. "Lo, sengaja biarin dia cemburu?"
Tanpa berbalik, Acha segera menjawab, "Enggak, dulu gua b**o banget. Reina juga, main hasut buat deketin Richard gitu aja!"
"Tapi lo tetep suka, kan?"
Acha terbahak, menatap titik tempat di mana ramalan sialan itu terbongkar. Menghancurkan hubungan Acha dengan Devid. Begitu juga Richard dan Reina, sampai kenyataan pahit lain bahwa Richard saudara tiri Devid. Oh, Tuhan skenariomu ini begitu mengejutkan! Membiarkan empat manusia itu bertengkar hebat, mundur cepat-cepat seolah tidak pernah saling mengenal.
Di dalam sana, tangan kanan Acha menggenggam tangan kiri Richard, sedangkan tangan kirinya digenggam erat oleh Devid. Mengapa begitu rumit? Sekarang juga rumit! Seolah Tuhan memberitahukan, ramalan sialan itu tidak benar! Jadi, bersabarlah sewaktu-waktu Tuhan akan menjauhkan Acha dari Devid.
Duar!
Ah, mengapa guntur datang di waktu yang tidak tepat? Cahaya terang dari lampu lapangan semakin redup karena awan yang sudah hitam, kini bertambah gelap siap menurunkan air langitnya. Bram mengajak Acha pergi. "Gua ... mau main hujan dulu, ya?"
Bola mata Bram terbelalak kaget. "Lo bukan anak kecil lagi, Cha!" ketusnya.
"Dan lo gak berhak ngatur gua," balas Acha setenang mungkin.
"Ini demi elo, jangan b**o kayak gini, dong! Please.'" Bram berjalan cepat menarik tangan Acha. "Kita pulang!" tegasnya.
Acha menoleh, tatapannya tajam tidak terima. "Udah tahu gua b**o, ngapain masih berharap, sih, Bram."
Apa? Mengapa Acha malah bertanya di luar topik? Mengapa harus membalas soal perjuangan Bram untuk bisa mendekatinya! Ada apa? Bram terdiam dan itu pertanda, bahwa Acha menang bisa main hujan tanpa Bram ikuti.
"Jadi, lo balik lagi aja. Masuk, duduk manis di dalem mobil. Enak lagi, tidur juga boleh!" saran Acha sambil berlalu.
Berlari menjauhi Bram, merentangkan kedua tangannya sampai berada di tengah lapangan yang kosong. Acha menengadahkan wajahnya, tepat tetesan air langit turun. Hujan di Bandung! Bram masih diam menatap Acha yang mulai menari-nari sambil memejamkan kedua matanya, menghayati setiap tetesan dalam hujan yang turun malam itu.
"Gua gak bakal ninggalin lo, Cha, sebelum Devid yang lo harepin datang dengan nyata!" batin Bram, berjanji kepada dirinya sendiri.
Dengan semangat, Bram berlari mendekati Acha yang mulai membuka mulutnya, berteriak, "GUA! BAKAL NUNGGU, DEV ...!"
Bram menghentikan langkah kakinya. Bajunya sudah basah kuyup seperti Acha, tak bisa dipercaya Acha menangkap sosok Bram yang berdiri di seberangnya kaku. "Bram! Coba, teriak siapa orang yang mau lo pertahanin!" pinta Acha.
"Dia tetep gak bakal denger apa yang gua teriakin!" balas Bram, mencoba mengalahkan suara derasnya hujan.
Tangan Acha menyingkirkan helai rambut yang mengganggu pandangan. "Gua wakilin, deh, jadi cewek yang lo maksud itu."
Bram memicingkan matanya, lalu mulai ancang-ancang sia berteriak. Sebelumnya, ia melirik lekat Acha yang menunggu. Bram mengepalkan kedua tangannya kuat.
"GUA JUGA, BAKAL NUNGGU LO, CHA ...!"
Acha terdiam membisu, mengapa harus dirinya lagi? Bisakah Bram menyerah, setelah jutaan kali mendengar bahwa Acha masih mengharapkan Devid datang?