Dia adalah....

834 Kata
Mobil mewah meluncur dengan tenang di jalanan yang sepi, membawa Nora dan Brandon menjauh dari keramaian bar yang sebentar tadi menggelorakan hiruk-pikuk pelelangan. Nora duduk di kursi penumpang, wajahnya dipenuhi dengan rasa penasaran yang tak tersembunyi. “Anda mau membawaku ke mana, Tuan?” tanya Nora dengan suara lembut, mencoba untuk mencari tahu tujuan Brandon membawanya pergi. “Ke apartemen, tentu saja. Sebaiknya kamu diam saja, Nona,” jawab Brandon tanpa menoleh, konsentrasi terfokus pada kemudi mobilnya yang bergerak dengan lancar. Nora mengerutkan keningnya, merasa sedikit heran dengan sikap dingin Brandon. “Kenapa kamu membeliku dengan harga yang sangat tinggi? Sayang sekali, uang sebanyak itu hanya untuk seorang wanita malam sepertiku,” ucapnya, suaranya dipenuhi dengan kebingungan dan sedikit rasa putus asa. “Meskipun kamu seorang wanita malam, tapi kamu masih gadis, bukan?” timpal Brandon, dengan nada yang sedikit merendahkan, membuat Nora terdiam sejenak. Ia terpaksa mengakui kebenaran kata-kata Brandon, meski hatinya tersayat oleh pengingkaran diri. Nora hanya bisa terdiam, merenung dalam-dalam. Keheningan mereka terputus ketika Nora memutuskan berbicara. “Sebenarnya aku pernah menikah. Hanya saja, berakhir karena kesalahpahaman. Dia memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami,” ungkap Nora dengan nada yang datar, namun terdengar ada getaran emosi yang terselip di baliknya. Brandon menaikkan alisnya, rasa penasaran memenuhi pikirannya. ‘Mengapa kisahnya begitu familiar?’ ucapnya dalam hati, berusaha meraba-raba memori masa lalu. Ingatan akan insiden beberapa minggu lalu datang tiba-tiba, mengingatkan Brandon akan alasan di balik kemarahan bosnya yang tak terkendali pada saat itu. “Lantas, mengapa kamu masih perawan? Apakah suamimu tidak pernah menyentuhmu?” tanya Brandon dengan tajam, mencari jawaban atas keheranan yang memenuhi pikirannya. Nora menggeleng pelan, matanya menyimpan kesedihan yang dalam. “Entahlah. Mungkin dia jijik padaku. Atau mungkin hanya untuk mendapat status saja. Aku tidak tahu. Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Aku sedang malas menceritakan tentang orang itu!” ucapnya dengan nada yang tegas, melipat tangan di dadanya dengan sikap yang menutup diri. Saat lift bergerak ke atas, Brandon, dengan senyumnya yang menggoda, menyaksikan Nora dengan penuh perhatian. 'Pantas saja Tuan Steve menginginkan wanita ini. Ternyata lucu juga,' gumamnya dalam hati, merasakan kegembiraan yang menggelora di dalam dirinya. Setelah beberapa menit perjalanan, lift akhirnya berhenti di lantai tiga puluh. Brandon menarik tangan Nora dengan lembut, membawanya keluar dari lift menuju pintu apartemen yang terletak di ujung koridor. Nora menghela napas panjang saat mereka berjalan. Dia memperhatikan Brandon dengan pandangan tajam, mungkin mencoba menembus misteri di balik perilaku pria itu. “Ekhem! Tuan. Maaf jika aku terlalu lancang. Aku harap … aku harap kamu mengenakan pengaman,” ujar Nora dengan suara yang sedikit gemetar, berusaha mencairkan kekakuan di antara mereka. Brandon menahan senyumnya, tetapi ekspresinya tetap ramah. “Baiklah. Aku akan mengenakan pengaman,” jawabnya, sambil menuruti permintaan Nora. Segera setelah itu, mereka tiba di depan pintu apartemen. Nora memandang Brandon dengan kebingungan yang jelas terpancar di matanya. “Tuan. Mengapa kamu menekan belnya? Bukankah ini kamar apartemenmu?” tanya Nora, kebingungan memenuhi suaranya. Brandon menghela napas, lalu menatap Nora dengan penuh pertimbangan. “Sebenarnya bukan aku yang membelimu, Nona Nora. Melainkan bosku,” jelasnya, mencoba menjelaskan situasi kepada Nora. Nora mengangkat alisnya, ekspresinya memperlihatkan keheranan yang jelas. “Bosmu? Lantas, mengapa harus kamu yang datang, bukan dia langsung?” tanyanya, ingin memahami alasan di balik keputusan tersebut. Brandon mengangkat bahunya dengan santai. “Mungkin gengsi? Tunggu sebentar, bosku menghubungiku,” jawabnya sambil menyalakan ponselnya. Tidak lama kemudian, telepon masuk. Brandon menjawab dengan cermat. “Halo, Tuan. Saya dan Nora telah sampai di depan unit apartemenmu,” ucapnya dengan suara yang tenang. “Bawa dia masuk. Kau pulang saja,” jawab suara dari seberang telepon. “Baik, Tuan,” jawab Brandon singkat, sebelum menutup panggilan tersebut. Dengan sigap, Brandon membuka pintu apartemen tersebut. “Silakan masuk, Nona. Tugasku hanya sampai di sini saja,” ucapnya, memberi isyarat agar Nora masuk ke dalam apartemen. “Tunggu, sebentar!” Nora menahan tangan Brandon yang hendak meninggalkan dirinya. “Ya?” ucap Brandon menatap Nora. Nora menghela napasnya. “Maaf, jika pertanyaanku agak kurang ajar. Apakah … bosmu masih muda?” tanyanya dengan hati-hati. Brandon yang mendengarnya lantas tertawa. “Sebaiknya kamu lihat saja secara langsung. Aku harus pergi sekarang, karena tak ingin membuat bosku marah. Sampai jumpa, Nona Nora!” Dengan hati yang berdebar-debar, Nora menarik napas dalam-dalam sebelum menginjakkan kakinya ke dalam apartemen tersebut. Langkahnya terhenti secara tiba-tiba ketika ia melihat lelaki yang telah membelinya tengah berdiri di depan jendela, memandangi pemandangan kota yang terhampar di bawah cahaya gemerlap malam. Hening menyelimuti mereka berdua, seolah waktu berhenti sejenak dalam ruang yang terang benderang itu. Dalam keheningan itu, Nora mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara. “Selamat malam. Aku Nora. Yang telah asisten Anda beli di pelelangan—” ucapnya perlahan, suaranya terputus oleh kehadiran lelaki di depannya. “Mengapa kau mengorbankan diri seperti itu hanya untuk uang?” potong Steve tajam, suaranya penuh dengan penekanan. Pandangannya masih melihat pemandangan kota dari dalam apartemen miliknya. Nora terdiam, ia terkejut dengan pertemuan yang sama sekali tidak ia duga. Netranya menatap Steve yang tengah memunggunginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN