Hidup Itu Pilihan

1017 Kata

“Huu ...,” tangisnya kencang. “Hei!” tegurku sambil menariknya ke dalam, melongok ke kiri dan ke kanan lorong apartemen, lalu menutup pintu. “Hei pelankan sedikit tangisanmu! Jangan sampai semua penghuni lantai ini ke sini semua,” ucapku sambil menepuk-nepuk pundaknya. “Kesh ...,” isaknya sambil mengikuti langkahku. “Julian ... Kesh ...,” isaknya mengadu apa yang sudah kutebak. Tangan ini mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. “Duduk dulu! Menangislah sampai puas!” saranku sambil menuntunnya ke sebuah meja pendek dengan bantal sebagai alas duduk di atas karpet. “Dah puas-puasin dulu nangisnya. Maaf aku lanjutkan apa yang belum selesai tadi,” ucapku sambil beranjak dan kembali ke bagian dapur setelah menemaninya sejenak. Tangan ini tetap melakukan aktivitas food preparatio

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN