Aku masuk dan duduk di samping kursi kemudi, air mata ini langsung meleleh begitu punggung ini menyentuh sandaran kursi jok berwarna gading. Sedangkan, Aldar menyusul masuk ke mobil dan duduk di belakang setir. “Sedih boleh, tapi sabuk harus tetap dipasang,” ucapnya sambil memasangkan sabuk pengaman, aku mengabaikan ucapannya dan tetap menangis tanpa suara, laki-laki itu meraih sabuk pengaman dan berikutnya suara klik terdengar. Tangan Aldar menyentuh kepala ini dan dengan kesal langsung kutepis. Laki-laki itu mengembuskan napas pelan, lalu menghidupkan mesin mobil. Mobil melaju kencang dan tak ada satu suara pun dari mulut kami yang terucap. Mata ini terus mengalirkan air mata dan tak mempedulikan ke mana arah laju mobil. Beberapa saat kemudian mobil masuk ke dalam gerbang yang terbuka

