Telapak tangan ini langsung menutup mulut agar senyum yang mengembang tidak tampak nyata. Apa sesuatu seperti ini nyata? Aldar mengenakan celemek berwarna putih yang diikatkan di pinggang. Tangannya dengan lincah menggoyangkan penggorengan dan daging yang ada di atasnya terlempar ke atas, lalu dengan mulus potongan daging yang berwarna coklat mengkilat karena minyak itu mendarat kembali di wajan anti lengket itu. Entah dari mana datangnya perasaan ini, pagi ini merasa memiliki suami jenis siap antar jaga yang sedang mengambil alih tugas menyiapkan sarapan. “Agh!” jeritku kecil setelah mencubit diri sendiri. “Eh! Jangan larut dalam drama!” seru bagian diriku yang lain memperingatkan. Bibir ini mengakhiri senyum yang tadi sempat mengembang. “Aldar!” ulangku, apa panggilan itu dari tadi t

