Alvian syok mendengar penuturan Stefannie barusan. Ia tidak menyangka selama ini atasannya itu menyimpan perasaan khusus padanya. Di sisi lain Stefannie tampak menanti jawaban Alvian atas ajakan kencannya. Stefannie sangat berharap Alvian menjawab ‘iya’. Alvian menghela napasnya, lalu menatap netra Stefannie. Ia mencari keseriusan Stefannie dalam ucapannya barusan lewat matanya. “Maaf Nona, saya tidak bisa menerima ajakan kencan Nona. Banyak sekali perbedaan di antara kita Nona. Selain karena perbedaan status derajat, budaya, dan bangsa, kita juga berbeda keyakinan. Saya tidak bisa berkomitmen dengan seorang wanita yang tidak seiman dengan saya. Agama saya melarang kaumnya memiliki hubungan dengan seorang non muslim.” Rasanya seperti ribuan jarum yang menusuk tepat di jantung Stefannie

