I Love You, Abiyan?

1005 Kata
Berliana duduk di balkon kamar, menatap ke luar dengan wajah penuh kecemasan. Hatinya jauh dari kata tenang, pikirannya terus memutar ucapan Sania bagaikan kaset rusak. ‘Jangan Denial’ Berliana selalu menjadikan ‘denial’ sebagai tameng untuk menghadapi setiap permasalahan antara dia dan Abiyan. Ada hal-hal yang tak ingin Berliana ketahui, adapun hal yang tidak ingin Berliana pikirkan. Tapi semesta selalu bersaha menyadarkan lewat semua kejadian yang terjadi belakangan ini. Mungkin bukan hanya belakangan ini saja, banyak hal yang seharusnya membuat Berliana sadar jika pernikahannya tidaklah sesehat pernikahan pada umumnya. Tapi rasa cinta, rasa cinta yang dia rasakan lebih dari itu. Cinta itu menjadi obsesi, obsesi untuk terus memiliki Abiyan, menjadikan Abiyan hanya miliknya. Meskipun banyak luka yang terkadang Abiyan torehkan tanpa pria itu sadari. Mungkin mulut bisa berkata tidak, tapi hati Berliana masih berat jika memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mengarah pada perpisahan mereka Berliana tidak mengharapkan akhir dari ini adalah perpisahan. Sepuluh tahun lamanya pernikahan, meskipun selalu dipenuhi perdebatan dan pertengkaran, rasanya akan sia-sia jika berakhir dengan berpisah. Berliana tidak ingin sepuluh tahunya menjadi sia-sia, sama saja membuang-buang waktu untuk sesuatu yang akhirnya juga akan ditutup sebagai kenangan yang manyakitkan. Meskipun hari ini ia dan Abiyan sudah menyelesaikan masalah mereka, tetap ada rasa tidak tenang di hati Berliana. Ada perasaan yang tidak bisa Berliana ungkapkan hanya dengan kata-kata. Yang jelas ada ketakutan. Saat sibuk dengan pikirannya, Berliana tak menyadari jikalau suaminya sudah masuk kamar dan berdiri di belakangnya. Pria itu berjalan mendekati Berliana dan memegang merangkulnya dari arah belakang. "Lin, aku minta maaf atas semua masalah yang terjadi di antara kita." ungkap Abiyan. Pria itu membalikkan tubuh sang istri, di peluknya dengan erat. Berliana menatap Abiyan dengan wajah bingung, apa yang sedang dibicarakan pria itu? Bukankah pembicaraan mereka sudah selesai sejak tadi? Ya meskipun banyak pertanyaan Berliana yang tidak mendapatkan jawaban. Tapi setidaknya masalah rumah tangga mereka yang cukup lama dibiarkan berlarut-larut, akhirnya selesai juga. Abiyan memberikan penjelasan, meminta maaf dan—ya ujungnya tetap sama. “Maafkan aku yang selalu membuat kita berada dalam kesalahpahaman. Dan maaf juga kalau akhir-akhir ini aku terlalu menjaga jarak. Enggak seharusnya aku begitu.” "Mas, setelah ini kita harus berjanji untuk tidak lagi mengalami kesalahpahaman seperti ini di masa depan.” tambah Berliana. Dia rasa masalahnya dengan Abiyan sudah selesai dan tak membutuhkan penjelasan lagi. Perihal tentang transaksi itu, dan dana perusahaan yang dipakai pribadi oleh Abiyan, Berliana akan mencari jawabannya sendiri. Karena Abiyan pun tidak memberikan jawaban apapun untuk 700 juta yang sempat Berliana pertanyakan. Dan Berliana juga tidak berniat membahas masalah itu lebih jauh lagi, yang malah akan menambah masalah untuk rumah tangga mereka. Berliana tersenyum dan merangkul Abiyan erat-erat. Meskipun ada perasan tidak tenang, ada yang mengganjal hatinya, Berliana seolah membuangnya jauh-jauh. Setidaknya hari ini dia harus bahagia karena masalahnya dengan Abiyan sudah selesai. *** Sejak Abiyan dan Berliana akhirnya menyelesaikan masalah mereka, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dan terasa damai. Bukan karena tak ada suara, melainkan karena keputusan yang diam-diam telah Abiyan ambil hari ini tanpa banyak bicara. Sore itu, Abiyan berdiri di depan jendela, menatap langit yang mulai menguning. Berliana yang baru masuk kedalam kamar setelah kembali dari luar, memperhatikannya dari kejauhan, merasa ada sesuatu yang berbeda dari sorot mata suaminya—lebih tenang, tapi juga seperti menyimpan sesuatu. “Aku sudah bicara sama Ibu,” ucap Abiyan akhirnya, memecah keheningan. Dia menyadari jika Berliana memperhatikannya dari belakang “Aku minta ibu dan adik-adikku untuk kembali ke Bandung. Ke rumah lama kita.” Berliana terdiam sejenak. Rumah lama di Bandung? Kediaman Abiyan dulu sebelum menikah dengan Berliana. “Maksudnya mas?” “Aku minta ibu dan adik-adikku pindah ke Bandung hari ini.” jelas Abiyan, membuat Berliana kebingungan. “Kamu usir mereka?” “Enggak, aku cuma minta mereka buat pindah. Lagipula gak seharusnya juga kita hidup bersama mereka disini. Rumah tangga kita gak seharusnya dimasuki oleh ibu dan adik-adikku.” Abiyan tersenyum, dia menatap sang istri dengan sangat intens. Pantas saja, saat masuk rumah, rumah terasa sunyi dan sepi. Padahal tadi pagi sebelum Berliana pergi, mertua dan iparnya masih ada disini dan sempat membuat keributan kecil. Tapi, sekarang mereka sudah tidak ada dan—yaa rumah ini jauh lebih tenang. Namun ada satu hal yang membuat Berliana heran. Kenapa suaminya baru menyadari jika ibu dan adik-adiknya hanya pengacau rumah tangga mereka? Maksud Berliana, kenapa Abiyan baru menyadari jika rumah tangga tak seharusnya dimasuki ibu dan adik-adiknya. Lagipula Berliana tak ambil pusing tentang ibu dan iparnya. Dia merasa senang jika mereka pergi dari sini, setidaknya sudah tidak ada yang merecoki rumah tangga mereka. Lagipula rumah di Bandung juga sudah sangat layak untuk ditempati. Rumah yang awalnya berukuran 3x4 dan tidak layak huni itu, sudah berubah menjadi rumah megah yang jelas Berliana biayai untuk proses renovasi dan pembelian lahan tambahan di sekitar sana. Tidak perlu menjelaskan berapa banyak pengeluaran untuk pembangunannya, yang jelas tidak ada campur tangan dari Abiyan ataupun lainnya. “Kenapa?” tanya Berliana pelan, meski sebenarnya ia sudah bisa menebaknya. Dia hanya ingin tahu langsung dari suaminya. “Aku capek sama pertengkaran yang nggak pernah selesai, antara kalian. Dan berujung kita yang berdebat dan bertengkar.” jawab Abiyan jujur. “Aku nggak mau lagi kalau kamu sama mereka saling terluka. Aku gak mau ibu merasa terluka karena aku membela kamu, dan aku juga gak mau kamu terluka karena aku yang gak bisa membela kamu didepan ibuku. Lagian rumah di Bandung itu jadi tempat mereka, dan rumah ini—biar hanya kita yang menempati.” Berliana mengangguk kecil. Ada perasaan lega, meski juga terselip sedih. Ia tahu, keputusan itu bukan hal mudah bagi Abiyan. Karena selama inipun Abiyan begitu patuh pada ibunya, hampir tak pernah Abiyan menolak keinginan ibunya. Jadi meskipun Berliana senang, dia juga sedikit sedih. Karena tentunya Abiyan pasti kepikiran tentang hal ini. Belum lagi jika Tari mempermasalahkan ini, lebih tepatnya pasti akan terus mengungkit hal ini. Berliana sudah hafal sekali dengan watak ibu mertuanya. Namun, ia tak tahu—atau lebih tepatnya tak pernah diberi tahu—bahwa alasan Abiyan jauh lebih rumit dari sekadar menghindari masalah antara mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN