Episode 23
Zein melangkahkan kaki menuju kamar yang telah disiapkan oleh penguasa kerajaan Lintang Timur, sekalipun racun dalam tubuhnya telah hilang, tapi ia tetap butuh istirahat. Mahesa mengikut putra mahkota Bintang Tenggara tersebut, dalam perjalanan mereka bertemu dengan Yuda dan Arya, mereka berdua terlihat baik-baik saja dan tidak kurang satu apapun. Hanya saja ekspresi mereka terlihat seperti sedang perang dinging.
“Yuda, Arya. Aku senang melihat kalian baik-baik saja,” tegur Zein ketika berada di dekat kedua sahabatnya tersebut.
Yuda tersenyum cerita sedang Arya tersenyum lega, mereka berdua merasa bahagia karena sahabat mereka telah kembali dalam keadaan baik-baik saja,”pangeran Zein, aku sangat senang ketika mendengar kau telah kembali. Aku sangat emosi ketika mentri cacat otak tersebut meragukanmu,” katanya sambil merengut mengingat apa yang dikatakan oleh Angga.
“Cacat otak?” beo Zein tidak mengerti, kenapa sahabatnya tersebut menyebutkan istilah aneh untuk seorang perdana mentri.
“Itu Arya yang bilang, katanya perdana mentri Angga itu punya penyakit cacat otak,” kata Yuda menyadari kalau sahabatnya tersebut bingung dengan istrilah yang dibuat oleh salah seorang sahabatnya.
“Aku hanya sangat jengkel mendengarnya terus menjelek-jelekkanmu, bahkan dia terlihat sangat meragukan kemampuanmu. Mungkin saja dia jatuh cinta pada ratu bengis tersebut,” jelas Arya agar tidak timbul sebuah pertanyaan.
Zein mengalihkan perhatiannya terhadap sahabatnya tersebut, kenapa dirinya tidak tahu kalau di istana Lintang Timur ada seorang pejabat pria? Bukankah semua pejabat itu terdiri dari wanita?.
“Kenapa aku tidak pernah melihat ada pejabat pria? Aku pikir kalau dalam istana ada seorang pria itu hanyalah selir, karena melihat bagaimana cara ratu Arisandi memperlakukan kaum pria, bukankah rasanya sangat aneh kalau ada seorang pria menjadi pejabat?”
“Aku juga tidak tahu, sudahlah kau tidak perlu memikirkan hal itu. Ratu Arisandi telah memilihmu menjadi calon suaminya, jadi aku rasa tidak ada yang perlu kau khawatirkan,” jawab Yuda sambil menepuk pelan bahu sang sahabat.
Zein menatap pangeran Kayumas itu tidak suka, dirinya bukan cemburu karena hingga kini juga tidak sedikit pun ada rasa untuk ratu cantik nan bengis itu.
“Jangan kamu pikir aku menyukainya, aku menerima pernikahan ini hanya untuk melindungi rakyat saja. Aku tidak akan tinggal diam kalau sampai dia melakukan kezaliman lagi pada seorang pria.”
“Baiklah, aku tidak akan berpikir begitu. Sudah sekarang kau istirahat dulu, kau pasti lelah setelah mengambil pedang naga langit itu,” kata Yuda mengalah, ia tidak ingin berdebat dengan sahabatnya tersebut.
“Benar, kau sebaiknya istirahat saja pangeran Zein. Jangan sampai kau kelelahan dan tumbang. Besok kau harus menghadapi satria berkuda putih, jadi tubuhmu harus fit,” timpal Arya.
“Baiklah, aku akan istirahat,” balas Zein, ia pun membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah. Tapi belum sempat dirinya melangkahkan kaki, matanya dikejutkan oleh beberapa orang pria berpakaian seperti wanita, para pria itu berjalan menghampirinya.
“Zulfikar, ratu memerintahkan kami untuk menjemputmu. Kau akan berdandan seperti kamu dan menghadiri perjamuan kerajaan untuk menyambut kembalinya dirimu,” kata salah seorang dari mereka.
“Aku akan pergi keperjamuan itu, tapi aku tidak akan pergi bersama kalian. Aku ini seorang pria, kalian juga seorang pria. Aku memiliki harga diri dan Tuhan telah melarang seorang pria menyerupai wanita begitu pun sebaliknya,” tolak Zein tegas.
“Zulfikar, aku tahu kalau ratu telah membuat kesepakatan dengamu untuk menikah dengannya. Tapi bukan berarti kamu bisa melawan perintah ratu, kamu harus ikut kami atau kami akan memaksamu,” sahut salah seorang selir lagi.
Zein tersenyum remeh mendengar ucapan para selir tersebut,”memaksaku? Apakah kalian yakin mampu memaksaku? Kalian saja dikendalikan oleh seorang wanita. Bagaimana cara kalian memaksaku?” balasnya remeh.
Para selir saling berpandangan, lalu selir utama memberikan isyarat agar para selir tersebut menyerang pangeran Bintang tenggara tersebut. Zein sedikit mundur untuk memberikan ruang bagi para selir, tapi dengan sekali hempas, para selir sudah tersungkur di atas lantai.
“Lihat! Kalian sebagai seorang pria terlalu lemah, bagaimana mungkin kalian seorang yang seharusnya menjadi pemimpin bagi kau wanita bisa dikendalikan dan dipimpin oleh kaum wanita?” kata Zein sambil memandang mereka nyalang, dia tidak suka dengan apa yang dilakukan pawa pria tersebut.
“Apa yang terjadi di sini?” perdana mentri Angga kebetulan lewat, dia melihat sebuah keributan di istana hingga memutuskan untuk pergi melihat keributan macam apa itu. Tidak disangka ternyata calon raja dan para selir mulai ribut, kemungkinan mereka merebutkan menjadi suami tercinta dari seorang ratu Lintang Timur.
“Perdana mentri, aku ditugaskan oleh ratu untuk membawa Zulfikar berdandan seperti kami. Tapi dia menolak bahkan bersikap tidak baik pada kami, apakah yang harus kami lakukan?” tanya salah seorang selir mencari perlindungan.
Angga memandang tidak suka pada Zein, tidak disangka calon raja kerajaan Lintang Timur itu berani membantah bahkan menyakiti para selir, sepertinya memang harus diberi pelajaran.
“Zulfikar, kau akan menjadi suami dari ratu Arisandi. Kau harus menghormati beliau, kau harus tunduk padanya dan kau juga harus melakukan semua adat tradisi kerajaan Lintang timur,” tegurnya.
“Adat apa? Apakah dengan berdandan sebagai seorang wanita? Maaf sekali, aku tidak bisa. Aku adalah seorang pria, aku adalah calon pemimpin bukan calon pengikut. Kalau ratumu ingin menikah denganku, maka dia harus ikut dengan adat dan tradisi yang ku buat. Bukan aku yang harus ikut tradisinya. Kalian tidak perlu khawatir, aku akan datang di acara perjamuan, tapi seperti yang telah ku katakan sebelumnya, aku tidak akan pernah memakai baju wanita apa lagi berias seperti seorang wanita,” balas Zein tanpa sedikit pun ada rasa takut. Setelah mengatakan kalimat tersebut, ia langsung berjalan melewati perdana mentri tanpa ada rasa takut sama sekali.
Angga merasa sangat kesal, ia mengepalkan jarinya rapat hingga kuku jarinya terlihat memutih. Setelah kedua temannya yang bersikap tidak hormat terhadap dirinya, sekarang malah sahabatnya juga melakukan demikian. Apakah dipikir ia adalah seorang pria yang lemah?
“Berhenti!” teriaknya.
Zein menghentikan langkah kakinya, sepertinya perdana mentri Lintang Timur itu memang tidak puas dengan jawabannya,”perdana mentri, sebaiknya kau jangan mencari gara-gara denganku. Aku bukan orang yang berbaik hati akan diam saja ketika ingin menggunakan kekerasa untuk melawanku. Kau tidak memiliki kemampuan itu,” katanya sambil melirik kebelakang.
Perdana mentri Angga membalikkan tubuhnya, ia tidak terima dengan apapun yang dikatakan oleh Zein Zulkarnain, harga dirinya sebegai seorang peedana mentri telah direndahkan, dia akan membuat pria asing itu membayar dengan perbuatan yang setimpal dan bertekut lutut di bawah kakinya.
“Kenapa kau terlalu banyak bicara, Zulfikar? Bagaimana kalau kau cabut saja pedang barumu itu? Kita bisa melihat, siapa yang pecundang di sini,” katanya sambil mengeluarkan pedangnya.
Zein menyeringai tipis, sepertinya memang dirinya harus menjawab tantangan perdana mentri tersebut. Lagi pula pedang miliknya sebeluknya juga entah ada di mana, tidak ada pedang lain selain pedang naga langit miliknya.
Pangeran Bintang tenggara tersebut membalikkan tubuhnya, ia menatap perdana mentri tersebut dengan senyum remeh,”baiklah, aku terima tantanganmu. Aku memiliki satu syarat untukmu, jika kau kalah maka kau harus membuat ratumu mengubah tradisi dimana seorang pria tidak boleh berdandan sebagai seorang wanita.”
Angga terdiam, sarat yang diajukan sangat berat. Dia tidak mungkin bisa melawan perintah ratu bengis itu, jangankan berani berbicara, sedikit menentang perintah saja ratu itu akan mengebiri dirinya.
“Tidak berani? Kalau begitu kau jangan pernah menantangku, pria yang hanya tunduk pada perintah seorang wanita, tidak pantas untuk menantangku bertarung,” kata Zein lagi.
Harga diri Angga merasa ternodai, dia tidak percaya kalau dirinya tidak bisa menantang pria asing itu untuk bertarung. Sarat yang diajukan meliputi ratu junjungan mereka, sebagai seorang bawahan ia merasa tidak pantas untuk mengajukan permintaan seperti itu.
Para selir tidak percaya kalau ternyata perdana mentri yang terkenal kuat tidak mampu untuk menantang calon suami pilihan istri mereka sendiri. Arya tersenyum remeh, ia berjalan mendekati perdana mentri tersebut lalu berbisik di telinganya,”kasihan sekali, perdana mentri cacat otak,” katanya sambil tersenyum remeh. Setelah itu dia berjalan melewati sang perdana mentri lalu menghampiri Zein begitu juga Yuda dan Mahesa, mereka bertiga berdiri di belakang seorang Zein zulkarnain.
“Aku sangat lelah setelah mengambil pedang baruku, jadi aku akan istirahat. Kalau kau ada masalah denganku, tentu saja kau boleh mencariku. Aku tidak keberatan,” kata Zein sambil kembali membalikkan tubuhnya, ia melangkahkan kaki dengan hati penuh kepuasan. Bagaimana tidak, dirinya berhasil membuat perdana metri Lintang tenggara tidak berani berbuat macam-macam hanya dengan sebuah ucapan.
Para selir satu persatu pun meninggalkan tempat tersebut, mereka sudah tidak ada urusan untuk terus berada di sana. Karena mereka harus segera melapor pada ratu Arisandi.
Zein berjalan sempoyongan, ia bahkan harus berpegangan pada dinding. Racun dalam tubuhnya harusnya sudah hilang, tapi kenapa dia merasa sangat lemas?.
“Pangeran Zein, apakah anda baik-baik saja? Anda terlihat kurang sehat?” tanya Mahesa khawatir.
“Aku tidak tahu. Aku hanya merasa tubuhku sangat lemah, aku mungkin hanya kelelahan dan perlu istirahat. Jadi kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja,” jawab Zein sambil terus berjalan.
Mahesa tidak ingin membantah sekali pun dia merasa kalau pangeran Bintang tenggara tersebut terlalu memaksakan diri.
**
Ratu Arisandi tdak terkejut sama sekali dengan laporan para selir, ia justru tersenyum membuat para selir heran,”istriku, kenapa kau malah tersenyum?” tanya selir utama.
“Seetelah aku menikah dengan Zulfikar, kalian tidak perlu lagi memanggilku sebagai istri. Karena dia tidak mau kalau aku memiliki suami selain dia. Aku menyetujui apapun yang dia inginkan asal dia mau menikah denganku, aku mencintainya. Zulfikar adalah pria tangguh, dia tidak membutuhkan pria lain untuk berada disisiku,” jawab ratu Arisandi dengan senyum penuh bahagia.
Para selir merasa tidak suka, mereka masuk di istana karena dipaksa. Sekarang malah akan diusir dari istana hanya karena seorang pria,”ratuku, kamu telah berjanji untuk tidak akan pernah membuang kami. Kamu tidak boleh melakukan itu pada kami,” pinta selir utama.
“Itu terserah rajaku saja, kalau kalian tidak ingin keluar dari istana ini. Bersikaplah baik dengannya, apapun yang dia ingin penuhi saja. Kalau dia tidak suka kalian berdandan seperti seorang wanita, kalian nurut saja. Apapun perintahnya, sama saja dengan perintahku,” kata ratu Arsandi, ia mengambil sebuah cangkir lalu memainkan cangkir itu.
“Baik, ratu,” patuh para selir.
**
Acara perjamuan pun telah dimulai, seluruh pejabat telah hadir. Ratu Arsandi juga telah duduk di atas singgah sananya, tapi calon suaminya belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Tak lama kemuadian, pintu terbuka. Terlihat seorang pria memakai jubah kuning keemasan, mahkota bulan bintang serta huruf alif bertengger di kepalanya. Dia sama sekali tidak seperti seorang pria biasa tapi lebih terlihat seperti raja sungguhan.
Para kaum hawa tersepona melihatnya, bahkan ratu Arisandi pun tak mampu berkediap dibuatnya, terlalu rupawan dan cahayanya sangat luar biasa.
Zein zulkarnain melangkahkan kaki lalu duduk di tempat yang telah disediakan, matanya terlihat sangat tenang tak sedikit pun ada rasa takut di dalamnya.
“Apakah diantara kalian tidak pernah melihat seorang pria berdandan seperti seorang raja?” sindirnya. Arya, Yuda dan Mahesa menahan tawa melihat air liur para wanita itu hampir menetes sedang para selir terlihat sangat iri.
“Pria tetaplah pria, sekalipun berdandan seperti wanita, tetap tidak akan bisa memiliki pesona asli seorang pria,” kata Zein sambil memandang para selir.
Ratu Arisandi tersenyum, ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Zein lalu mengajaknya untuk duduk bersamanya di atas singgah sana. Putra mahkota Bintang tenggara tersebut tidak menolak, dia ingin melihat, apa yang ingin dilakukan oleh ratu bengis tersebut.
“Pangeran Zein, sebentar lagi kau akan menjadi raja diistana ini. Singgah sana ini untukmu, jadi aku harap kau tidak berdandan semenawan ini untuk yang lain. Aku tidak ingin kalau ada perempuan lain yang berani menaruh peresaan terhadapmu,” kata ratu Arisandi sambil mendudukkan Zein di atas singgah sana miliknya.
“Mudah, kau hanya tingga menyuruh para pria itu berdandan sewajarnya. Bukan seperti seorang wanita, bukankah itu sangat tidak masalah? Dengan begitu, tidak akan ada kaum hawa yang melirikku,” jawab Zein. Ratu tersebut mengangguk setuju, benar juga apa yang dikatakan calon suaminya tersebut, kalau seorang pria didandani seperti wanita, bisa jadi para kaum hawa akan tertarik pada satu-satunya pria bukan pejabat istana tapi berdandan seperti seorang pria. Bahkan bebas melakukan apapun dalam istana.
“Baik, aku setuju. Apapun yang kau inginkan, aku pasti akan menyetujuinya.”
Setelah itu ratu Arisandi memerintahkan untuk para selir berdandan seperyi wanita dan memerintahkan untuk para warga juga melakukan hal yang sama.
Hari pertempuan dengan satria berkuda pun tiba, Zein berdiri di atas tempat yang telah disedikan. Matanya menatap musuhnya datar tanpa sedikit pun ada emosi di dalamnya. Di depannya seorang pria berjubah putih dengan topeng menutupi matanya, di tangan pria tersebut terdapat sebuah pedang panjang dengan ukiran naga hijau bersirip merah, iris matanya menatap pangeran Bintang Tenggara tenang, bibir tipisnya tersenyum seakan telah mengetahui siapa lawan tandingnya hari ini.
“Ternyata lawanku hari ini adalah seorang Ratu, maksudku seorang raja. Arsy ratu sejagad, sekalipun tubuhmu hanya dari kalangan rakyat biasa, tapi kau memiliki jiwa seorang penguasa besar. Salam hormat ku pada Yang Mulia Ratu.” Satria berjubah putih tersebut memberikan salam penghormatan terhadap Zein.
“Namaku Zein zulkarnain, salam hormat tuan. Senang bisa beradu ilmu dengan tuan,” balas Zein ramah.
“Kedua pendekar telah berkumpul di arena pertandingan, Zulkfikar perwakilah dari ratu Arisandi dan satria berkuda putih bertarung atas nama ke adilan. Siapapun yang memenangkan pertandingan ini harus menerima kekalahan tanpa adanya dendam.” Pemandu jalannya pertandingan memberikan arahan, kedua kesatria tersebut mengangguk. Mereka menyetujii syarat dalam pertandingan tersebut, tidak sedikit pun ada niat untuk menolak atau tidak menyetujui.
Ratu Arisandi dengan mahkota barunya duduk di atas singgah sananya dengan penuh harapan bahwa calon suaminya itu akan memenangkan pertandingan tersebut, terlebih pedang yang digenggamnya adalah pedang naga langit, pastinya padang itu juga memiliki kekuatan tersendiri.
Mahesa, Yuda dan Arya duduk dengan tenang di atas kursi penonton. Mereka yakin tanpa sedikit pun ada keraguan kalau Zein Zulkarnain akan memenangkan pertempuran ini, bagaimana pun juga dia berada di tingkat 8 dan dalam tahap mengikuti ujian lulus tingkat 9.
“Jurus andalan satria berkuda putih itu adalah cahaya sinar bulan, cahaya itu akan membuat orang berada dalam ilusi. Seakan mereka mengalami kejadian paling mengerikan, aku sangat tidak berharap pangeran Zein terkena ilusi itu. Aku khawatir kalau sampai pangeran terkena ilusi tersebut, ia akan dikembalikan disaat p*********n keluarganya, dia tidak akan sanggup,” komentar Mahesa sambil memeriksa buku catatannya.
Arya dan Yuda mengalihkan perhatiannya pada buku yang digenggam mantan bupati Permis tersebut, banyak sekali catatan ilmu dan kelemahan serta kelebihan pbanyak pendekar, sebenarnya apa yang dilakukan oleh pria ini selama ini?
“Paman, banyak sekali catatanmu. Aku sampai pusing membacanya,” komentar Yuda.
“Ini bukan bacaan untuk orang sepertimu. Pangeran Zein sangat banyak orang yang berniat untuk membunuhnya, jadi kalau aku tidak mengumpulkan banyak data, aku khawatir ketika pangeran dalam bahaya aku tidak akan bisa untuk menemukan cara untuk membantu pangeran Zein menghadapi musuhnya,” balas Mahesa sinis.
Arya menahan diri untuk tidak tersenyum mendengar hinaan dari mantan bupati Permins tersebut, sedang Yuda merengut sebal. Kenapa juga harus menyindir seperti iru, tidak bisakah bicara biasa saja?
“Paman, aku ini juga seorang pangeran. Paman tidak bisa mengatakan untuk orang sepertiku, aku ini juga banyak pengawal kalau aku mau, tapi aku merasa bisa melindungi diri sendiri, jadi tidak perlu pengawalan,” sewotnya.
“Seorang pangeran yang melakukan kecurangan dalam pertempuran, apakah itu benar seorang pangeran?” sindir Mahesa tanpa memandang pangeran Kayumas tersebut.
“Aku bukannya ingin melakukan kecurangan, tapi aku tidak sengaja. Siapa suruh Satria tunggal itu sangat mengerikan, aku pikir aku akan mati. Sungguh manusia yang sangat mengerikan,” kilah Yuda.
“Tidak usah berkilah, semua orang juga tahu seperti apa kemampuanmu. Tidak ada seorang pria yang akan berlaku curang meski apapun yang terjadi, sekalipun dalam keadaan terdesak. Orang seperti itu hanya orang-orang licik saja,” balas Mehesa tenang, seakan ucapannya itu tidak akan pernah menyinggung seseorang, tentu saja sebenarnya sangat menyinggung. Manusia mana yang tidak akan tersinggung dengan ucapan seperti itu.
“Alangkah lebih baik kalau kalian tidak ribut, sebentar lagi pengaran Zein Zulkarnain akan bertarung, mereka sudah siap dengan kuda-kuda masing.” Putri Purnama sari sedari tadi duduk di belakang mereka heran mendengar perdebatan tidak masuk akal kedua manusia tersebut, tapi dia tidak menyangtka kalau orang-orang yang ada dalam perjalanan seorang Zein zulkarnain semuanya juga merupakan orang penting dalam kerajaan. Bukan hanya lorang biasa saja, sukurlah ratu Arisandi tidak membuat keributan dengan pangeran tersebut, atau kerajaannya akan diserang tiga kerajaan sekaligus, anggap saja Bintang Tenggara tidak diperhitungkan karena masih berada dalam kekuasaan raja Ku Bangan.
**
Kedua kesatria telah bersiap di arena pertandingan, Zein dan satria berkuda telah mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya masing-masing, hanya saja pangeran Bintang tenggara tersebut tidak menggunakan pedang naga langitnya. Sengaja dia menyimpannya terlebih dulu untuk melihat kemampuan lawannya. Keduanya saling menyerang menggunakan senjata masing-masing.
Trang…
Benturan kedua pedang tak dapat dihindari, satria berkuda menahan serangan dari putra mahkota Bintang Tenggara, dari serangannya ia dapat melihat bahwa sang pangeran belum mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya, pedang yang digunakan juga pedang biasa.
“Pangeran, kemanakah pedang asli milikmu?” tanyanya penasaran.
“Apakah menurut tuan kesatria, pedang ini adalah hasil pinjaman?” balas Zein tenang. Ia pun merasakan kalau kekuatan pedang naga sembilan lawannya tersebut belum maksimal, kenyataannya dia masih bisa menahan serangan tersebut, itu artinya dirinya tidak perlu menggunakan pedang naga langit.
Kesatria berkuda tersenyum tipis, ternyata pangeran Bintang Tenggara tersebut cukup mampu membuat orang kesal dengan mulutnya,”apakah, pangeran yakin dengan pedang murahanmu itu mampu mengalahkan kekuatanku?” balasnya sinis.
“Aku tidak mengatakan hal itu, tapi aku juga tidak bilang kalau pedangmu mampu bertahan dari seranganku,” jawab Zein tidak kalah sinis.
Trang…
Kedua pedang tersebut kembali saling berbenturan saling memberikan dorongan dan tarikan.
Zras…
Pedang naga sembilan tersebut akhirnya berhasil menggores lengan Zein hingga mengeluarkan darah. Mahesa terkejut melihatnya, ia bahkan reflek berdiri dan hendak pergi ke medan tempur tapi ditahan oleh Yuda dan Arya,”paman, sebaiknya paman tidak ikut campur. Percayalah, Zulfikar mampu menghadapi kesatria berkuda tersebut, lagi pula dia belum mengeluarkan pedang naga langitnya,” bujuk Arya.
“Benar, paman. Jangan sampai kau masuk dalam arena pertandingan dan merebut gelar Bupati tukang curang,” timpal Yuda membuat Mahesa mendelik galak. Tapi benar juga apa yang dikatakan oleh kedua pangeran tersebut, dia tidak bisa begitu saja masuk dalam arena pertandingan, dirinya harus percaya sepenuhnya terhadap putra mahkota Bintang tenggara tersebut, bagaimana pun juga seorang Zein Zulkarnain pasti memiliki cara tersendiri untuk mengatasi situasi sulit ini, ia hanya harus percaya tanpa sedikit pun ada keraguan, dia adalah seorang calon raja dan seorang raja tidak boleh lemah.
“Pangeran Zein, tolong jaga diri anda baik-baik,” gumam Mahesa.
Zein menatap luka di lengannya, darah mengalir dari luka tersebut, rasa perih dan seperti terbakar juga menghampiri luka itu. Meski begitu tidak sedikit pun merasa takut untuk terus bertarung.
Perlahan ia mulai mengeluarkan pedang naga langit dari sarungnya, cahaya jingga mulai mendominasi di sekitar pedang tersebut. Aura kuat seorang kesatria juga begitu sangat kental, satri berkuda putih tidak mengerti, pedang apa yang sebenarnya dikeluarkan oleh pria tersebut?>