episode 25

3566 Kata
Episode 25 Mahesa heran melihat tatapan ketika pangeran tersebut, bukankah memang benar kalau dirinya sangat bersemangat untuk bertempur menghadapi musuh. “Kenapa para pangeran menatapku begitu? Adakah yang salah dengan ucapanku?” tanyanya heran. “Ayah, sebaiknya gunakan kata yang lebih anak di dengar selain kata hasrat membara untuk pergi kemedan tempur, misalnya seperti kau sangat bersemangat,” kata Zein sambil melangkahkan kaki meninggalkan pria 40 tahun tersebut. Yuda dan Arya mengangguk membenarkan ucapan pangeran Bintang tenggar tersebut, harap gunakan bahasa yang tidak membuat orang berpikir terlalu jauh. “Baiklah, aku rasa kalian hanya masih muda saja. Jadi mungkin berpikir kearah yang aneh,” balas Mehesa membuat ketiga pangeran tersebut hampir saja menjitak kepala tua tersebut. Suana huta terasa sangat sunyi, tidak ada hewan apa lagi manusia yang berkeliaran hanya saja suasana tersebut berubah menjadi sangat ramai karena sebuah panah tiba-tiba meluncur mengarah pada Zein Zulkarnain. “Pangeran Zein awas!!!” teriak Mahesa melihat panah tersebut, tidak disangka baru juga baru di tepi hutan sudah ada sambutan hangat. Zein menghindari panah tersebut, ia mengangkat sebelah tangannya lalu menjepit anak panah tersebut dengan jari telunjuk dan jari tengah. Matanya menatap waspada daerah sekitar sekaligus mengamati dari arah mana panah ini berasal. “Keluarlah!” serunya. Iris matanya mencari arah kemungkinan para prajurid suruhan ratu Arisandi datang menyerang, hingga beberapa saat tidak ada lagi serangan sususal, tapi ia yakin kalau para prajurid itu masih bersembunyi diantara semak-semak dan pepohonan liar. “Baiklah, kalau kalian memang tidak ingin keluar dengan sendirinya. Aku akan membuat kalian semua tidak bisa lagi bersembunyi,” kata Zein sambil menarik pedang naga langit yang terselip di pinggangnya. Seketika suasana langsung berubah menjadi panas di tengah udara dingin. Para prajurid itu tersentak merasakan aura kuat dari pedang tersebut, ini adalah kedua kalinya mereka merasakan kekuatan pedang tersebut setelah di arena pertempuran waktu itu. “Jendral, sepertinya pangeran Zein akan menggunakan pedang naga langit miliknya. Apakah tidak sebaiknya kita keluar?” tanya seorang prajurid merasa takut dengan aura pedang tersebut. “Tidak, aku akan menyuruh pasukan panah untuk menyerang mereka,” jawab jendral perang tersebut. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk memberi isyarat pada para pasukan yang berada di atas dahan untuk segera memberikan serengan dengan puluhan anak panah pada kelompok Zein. Mengerti arti isyarat pimpinannya, mereka pun langsung bersiap dan secara bersamaan melepaskan anak panah tersebut. Mahesa, Arya dan Yuda langsung membentuk pertahanan untuk melindungi putra mahkota Bintang tenggara tersebut dari serangan anak panah tersebut. Mereka tidak akan pernah membiarkan siapapun melukainya. “Pangeran Zein, pangeran tidak perlu khawatir. Kami akan membereskan para manusia tidak berguna ini untuk pangeran, pangeran simpan saja kekuatan pedang pangeran,” pinta Mahesa sambil terus menangis serangan panah tersebut. Zein diam, ia memberi kesempatan untuk pengawalnya tersebut membuktikan ucapannya tersebut hingga dia melihat sebuah anak panah dengan ujung ada api. Pria itu segera memutar tubuhnya lalu menarik tangan Mahesa dan panah api tersebut justru menancap di sebuh dahan pohon membuat pohon tersebut terbakar. “Arrg…” Teriakan kesakitan berasal dari pohon tersebut menandakan kalau di atas pohon tersebut ada seorang pengintai. Zein tersenyum, itulah senjata makan tuan. Mahesa syock, ia tidak menyengka akan ada serangan panah api,”waspadalah, ayah. Sepertinya musuh kita adalah pasukan terlatih, bukan pasukan sembarangan,” katanya. “Baik, pangeran. Terimakasih pangeran telah menolongku,” jawab Mahesa. Puluhan anak panah berubah menjadi ratusan panah api, Zein tidak bisa hanya berdiam diri dan menyaksikan teman-temannya berjuang sendirian menghadapi para musuh yang semakin banyak. Ia pun memusatkan energinya pada jari telunjuk dan jari tengahnya lalu menempelkan kedua jari tersebut pada pedang naga langit miliknya dan menarik ke atas. Warna pedang naga langit berubah  menjadi jingga tapi penuh kilatan petir, detelah itu Zein mengangkat pedangnya tinggi-tinggi lalu menebaskan pedang tersebut arah vertikal dan horizontal. Seketika ratusan panah api tersebut lenyap terbakar, kekuatan gabungan pedang naga langit dan raiton sora belum berhenti sampi di situ, warna jingga berkilat petir itu menebas pepohonan hingga membuat pepohonan tersebut roboh. “Arrg…” Matanya berkilat tajam, telinganya sengaja ditulikan untuk mendengarkan lolongan kesakita dari para pasukan ratu Arisandi tersebut, ia yakin kalau sekarang para pasukan yang berada di atas pohon berjatuhan seperti buah rontok akibat sambaran petir. “Aku sudah memberikan kesempatan kalian untuk keluar dengan suka rela, tapi sepertinya otak kalian tidak dipakai untuk berpikir,” katanya tenang. Tidak ada lagi tempat persembunyian bagi para prajurid tersebut, karena pepohonan yang mereka gunakan untuk bersembunyi habis terbakar, untung saja mereka langsung menjauh dari pohon tersebut. “Jendral, kita harus bagaimana lagi? Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi,” tanya salah seorang prajurid bingung. “Mau tidak mau kita harus menyerang secara langsung,” jawab jendral tersebut. Prajurid tersebut mengangguk, mereka pun serempak menyerang Zein bersama rekan-rekannya. “Akhirnya muncul juga,” komentar Zein, sambil memandang para prajurid yang menyamar menjadi perampok tersebut. “Menyerahlah, pangeran Zein. Tidak ada gunanya kalau kau melawan, lihatlah jumlah kami jauh lebih banyak,” kata jendral wanita dengan separuh wajah di tutup denga kain. “Aku rasa kau juga tahu sendiri, aku hanya kalah jumlah. Tapi kalian kalah kekuatan,” balas Zein dengan seringai dingin membuat jendral dan para prajurid bawahannya itu menggeram penuh amarah. “Sialan! Kau berani meremehkan kami,” geram jendral tersebut. “Aku tidak meremehkan kalian, tapi kalianlah yang terlalu tinggi hati. Ingatlah, dalam pertarungan jangan sampai kau meremehkan musuhmu, karena harimau ketika tidur memang terlihat bisa dibantai dengan mudah, tapi dia tetaplah raja hutan,” balas Zein memperingatkan para prajurid tersebut untuk tetap waspada meski seperti apapun lawan yang dihadapinya. Jangan hanya karena terlihat sedikit jumlahnya makan bisa merehkan, karena merehkan lawan sama saja dengan membuka peluang untuk dikalahkan. “b******k! Serang!” jendral tersebut memberi aba-aba untuk maju menyerang pangeran Bintang tenggara bersama ketika rekannya. Zein bersama ketika rekannya sudah siap untuk bertarung, mereka dengan mudah menghindari serengan para wanita itu dan melukainya. Jendral wanita tersebut bertarung melawan Zein, ia berusaha kuat untuk menyudutkan pangeran Bintang tenggara tersebut. Tapi tidak disangka ternyata selain kuat, pangeran tersebut juga sangat rupawan kalau dilihat dari dekat, hingga sejenak dia sempat terpesona. “Sebaiknya jangan menggunakan perasaan terhadap lawanmu, jendral,” kata Zein sambil menghempaskan sang jendral hingga tersungkur di atas tanah. Ia tidak ingin pertempuran ini terus berlanjut, para prajurid wanita itu telah banyak yang terluka parah. Dia bahkan tidak menyangka kalau Mahesa ternyata cukup sadis hingga memotong tangan seorang wanita, merobek bajunya dengan pedang. Kalau seperti ini, akan sangat mengerikan lebih baik melumpuhkan pimpinan pasukan untuk menghentikan pertempuran. “Maaf, aku tidak ingin pasukanmu lebih banyak terluka lagi. Karena itu aku harus melumpuhkanmu,” kata Zein sambil memusatkan kekuatan pada telapak tangannya lalu menghantam jendral wanita tersebut dengan kekuatan raiton sora, hanya ia mengurangi kekuatan pada jurus tersebut agar jendral tersebut tidak sampai kehilangan nyawa. Seperti roti bakar penampilan jendral wanita tersebut, tubuh melepuh dan terluka parah,”kau sialan!” umpatnya lemah. “Kau yang memaksaku untuk berbuat seperti itu, bukankah tadi aku sudah bilang, kau tidak boleh meremehkan lawanmu,” balas Zein, ia segera menarik jendral wanita tersebut dan memaksanya untuk berdiri lalu membawanya ke tengah pertarungan. “Hentikan pertarungan ini!” serunya. Seketika pertarungan tersebut berhenti, para prajurid syok dan terkejut melihat kondisi pimpinannya begitu sangat mengenaskan. Tubuhnya sudah seperti roti bkar yang gosong,”aku tahu kalau kalian adalah utusan dari ratu Arisandi, sekarang kembalilah ke ratu kalian! Katakan padanya, aku akan kembali tapi bukan untuk menikahinya, melainkan untuk meminta pertanggung jawaban darinya atas pertbuatan laknat yang dilakukannya.” Zein mendorong jendral wanita tersebut ke tengah para prajuridnya agar dibawa untuk memberikan laporan, sementar dirinya akan menyiapkan rencana apa yang digunakan untuk mengalahkan ratu zaliam tersebut. Mahesa, Arya dan Yuda berjalan menghampiri Zein,”pangeran Zein, apakah kita benar akan kembali kesana?” tanya Yuda. “Iya, aku harus membuat perhitungan dengan ratu sialan itu. Dia tidak bisa bersikap seenaknya dan meremahkanku,” jawab Zein jengkel. “Baik, kita semua akan ikut bersama dengan pangeran Zein. Apapun masalah yang ada di sana, kita akan menghadapinya bersama,” balas Yuda dan diangguki oleh Mahesa dan Arya. ** Ratu Arisandi terkejut melihat seluruh pasukannya babak belur, bahkan jendral andalannya terluka parah. Dia tidak tahu siapa yang sudah melakukan ini pada pasukan elitnya,”apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa babak belur begini? Apakah ada orang lain yang membantu pangeran Zein?” tanyanya syock. “Tidak yang Mulia ratu, Pangeran Zein zulkarnain sangat hebat. Dia dengan sekali tebas bisa menghanguskan dan membakar seluruh hutan. Saya terluka juga karena sambaran petir darinya, saya mohon ampun ratu,” kata Jendral menyesal karena tidak bisa menyelasaikan tugas yang diberikan oleh penguasa Lintang Timur tersebut. “Sudahlah, kalian sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Obati luka-lukamu itu, aku sendiri yang akan menghadapi pangeran Zein, ternyata dia memang sangat tangguh,” kata ratu Arisandi jengkel. “Ampun Ratu, pangeran Zein bersama ketiga rekannya telah tiba di depan istana. Mereka menunggu ratu. Pangeran Zein bilang, ratu harus memberikan penjelasan atas p*********n yang terjadi padanya,” kata seorang dayang memberi laporan. Ratu Arisandi tidak menyangka kalau ternyata calon suaminya itu bahkan mengetahui kalau dirinyalah yang telah mengirim pasukan untuk menghentikan perjalanan mereka,”baik, aku akan temui dia,” jawabnya. Zein Zulkarnain menatap ratu Arisandi datar, tidak ada lagi kelembutan dalam tatapan mata tersebut, ia memang kembali ke Lintang Timur, tapi bukan untuk melangsungkan acara pernikahan yang telah dijanjikannya, melainkan untuk memintak pertanggung jawaban ratu tersebut atas p*********n yang telah terjadi pada dirinya. “Aku berharap kau akan menjelaskannya dengan sebaik mungkin, sebagai seorang penguasa, ucapanmu seperti sebuah sabda yang harus dilaksanakan. Tapi kau sendiri melanggar janjimu, di depan seluruh warga Lintang Tenggara, jelaskanlah semua ini,ratu Arisandi!” Ratu cantik wajah tapi secantik hatinya tersebut membalas ucapan calon suaminya dengan tatapan tak merasa bersalah sedikit pun, ia justru bersikap congkat seakan dunia ini adalah miliknya, dia melupakan bahwa ada Tuhan yang menciptkan bumi beserta isinya, dan Tuhan alam semesta itu tidak suka pada sebuah kedzaliman dan kemunafikan. “Aku tidak harus menjelaskan apapun terhadapmu! Aku sudah berbaik hati, menurunkan harga diriku untuk seorang manusia rendahan sepertimu. Kau bahkan tidak memiliki rasa terimakasih dan ingin aku menjelaskan di depan seluruh rakyat Lintang Timur. Kau sungguh seorang pria tidak tahu malu,” balasnya angkuh. Zein Zulkarnain tersenyum remeh,”benar, kau hanya tinggi kedudukan di matamu saja. Kau lihat seluruh rakyatmu, adakah mereka yang merasa bangga memiliki seorang penguasa sepertimu? Mereka hanya merasa takut pada kedzalimanmu. Aku bahkan merasa yakin kalau mereka semua mengutukmu dalam hatinya, seharusnya seorang pemimpin itu lebih mementingkan kepentingan dan kesejahteraan  rakyat bukan justru mendzalimi rakyat sendiri.” Ratu Arisandi bangkit dari singgah sananya, ia menatap pangeran Bintang tenggara itu murka, bibirnya bergetar menahan amarah, matanya memerah karena darah mengalir di kepalanya,”kau sudah sangat lancang! Aku harus memusnakanmu.” Mahesa, Arya dan Yuda segera menghampiri Zein Zulkarnain dan berdiri di samping pria tersebut dengan posisi siap siaga dan penuh waspada. “Jangan pernah berpikir kalau ratu akan melukai pangeran Zein, aku dan kerajaan pemis akan selalu melindungi pangeran Zein.” Mehesa membalas ucapan ratu tersebut. “Seluruh pasukan kerajaan Kayumas juga akan berperang untuk melihat raden Zulfikar,” sahut Yuda. “Begitu juga kerajaan Anggara, kau sudah melanggar perjanjian. Kau menyiapkan p*********n di hutan untuk menyerang para pangeran, kau akan mendapat hukuman dan surat ancaman perang dari negara kami,” timpal Arya. Ratu Arisandi terkejut, ia tidak menyangka kalau para pangeran tersebut bersedia mengirimkan perintah pada pasukan di kerajaan masing-masing untuk berperang melawannya, sepertinya memang sangat tidak mudah untuk menahan pangeran Bintang Tenggara tersebut. “Semua keputusan ada di tanganmu, ratu Arisandi. Kau akan menjelaskan semua dan memintak maaf atau tetap ingin membunuhku, kau tidak perlu khawatir. Aku Arsy Ratu sejagad, tidak akan melibatkan siapapun dalam pertarunganku melawan kedzaliman dunia ini. Ketiga rekanku tidak akan ikut campur, aku tidak akan pernah mengingkari ucapanku, karena aku bukan sepertimu. Kau seorang penguasa yang dzalim dan kejam bahkan bisa mengingkari ucapanmu sendiri.” Zein menantang sang ratu tanpa niat untuk melibatkan seluruh kerajaan teman-temannya. Mahesa, Arya dan Yuda terkejut, ia tidak menyangka kalau putra mahkota Bintang Tenggara akan berbuat seperti itu. Bagaimana mungkin dirinya akan menantang seorang ratu besar seperti ratu kerajaan Lintang Tenggara tersebut. Ratu Arisandi tersenyum kagum, ternyata pria tercintanya itu memang layak dijadikan seorang pemimpin, tapi sekarang dia tidak yakin kalau pria tersebut bersedia tetap melanjutkan pernikahan dengannya. Karena tidak mau menikah, maka harus menerima hukuman yaitu dikebiri. “Jangan pernah berpikir bahwa aku akan takut dan terkesan dengan ucapanmu, pengawal! Tangkat pria itu! Lalu kebiri di depan umum.” Ratu Arisandi memberikan perintah pada para pengawal untuk menangkap Zein lalu mengebirinya di depan umum. Zein tersenyum remeh, dia tidak akan mungkin bersedia dikebiri. Bagaimana pun juga dirinya masih normal dan ingin menikah, karena itu apapun yang terjadi dirinya akan mempertahankan diri dan membela diri. Prinsip, dalam perang kalau kita tidak membunuh maka akan dibunuh, kalau kita tidak melawan saat dizalimi, maka sama saja kita melakukan suatu tindak kebodohan. Beberapa pengawal langsung mengepung Zein, Mahesa sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya begitu pula dengan Yuda  dan Arya, mereka tidak akan pernah membiarkan sahabatnya itu menderita sendirian. “Tenang, kita tidak akan pernah membiarkanmu sendirian. Kami adalah sahabatmu, kami akan melindungimu dari siapa saja yang berani melukaimu, bagaimana pun juga kau ada di pihak yang benar, maka sudah sepatutnya kami membelamu,” kata Yuda dengan posis memunggungi sang sahabat dan siap menghadapi musuh di depannya. “Benar, aku setuju ucapan Yuda, jika kau tidak ingin kerajaan kami ikut campur, maka kami akan bertarung bersamamu sebagai seorang kesatria. Tidak seorang pun bisa menyentuhmu selama kami masih ada,” sahut Arya. Mahesa mengangguk, ia setuju, mereka akan melakukan apapun untuk melindungi sang pangeran, apapun yang terjadi. Ini juga demi derajat seorang laki-laki.   “Serang!” Ratu Arisandi memerintahkan pasukannya untuk menyerang ke empat orang tersebut, memenuhi perintah sang ratu, seluruh pengawal tersebut mulai menyerang. Zein, Mahesa, Yuda dan Arya memasang kuda-kuda. Zein mengeluarkan pedang naga langit, baru saja pedang tersebut ditarik dari sarungnya sebuah cahaya kuning kemerehan muncul dari pedang tersebut, uaranya sangat kuat bahkan menggetar hati setiap orang. “Majulah! Tapi jangan salahkan aku, jika pedangku ini akan membunuh kalian semua!” serunya. Seluruh prajurid suruhan ratu Arisandi pun menyerbu ke empat pria tersebut dan mereka pun melakukan seprlawanan dengan sekuat tenaga. Trang… Trang… Sret… Mehasa menangkis setiap serangan sekaligus menebas tubuh prajurid tersebut dengan pedangnya, ia melirik Zein zulkarnain, ada yang aneh dengan pengeran Bintang Tenggara tersebut. Seperti ada yang tidak beres, tapi dia tidak boleh gagal fokus atau mereka semua akan terluka. Zein terus menebas para prajurid tersebut, sekali tebas 10-20 orang tewas, tapi ia merasakan energi dalam tubuhnya seperti diserap oleh kekuatan pedang tersebut. Dia bahkan sampai berkeringat dan terengah-engah,”ada apa denganmu, Naga langit?” tanyanya heran. “Tuan, bukan ada apa denganku, tapi ada apa dengan tuan? Aliran cakra tuan sangat berantakan. Tubuh tuan semakin melemah, apakah tuan sakit?” tanya naga langit balik. Trang… Sret… Duagh… Zein kembali menangkis serangan lalu menebas tubuh lawannya dan mendangnya. Ratu Arisandi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, puluhan prajurid terpilih banyak yang terbunuh dan terluka, satu sabetan pedang naga langit mampu membakar puluhan nyawa, belum lagi ketiga pria yang selalu berusaha untuk melindunginya, mereka juga tidak kalah tangguh dan hebat. “Aku, aku baik-baik saja. Naga langit. Aku tidak merasa terluka, luka dari tusukan pedang Yuda dan racun dari jarum neraka itu juga sudah hilang, apa lagi yang terjadi padaku, naga langit?” balas Zein sambil terus melawan prajurid yang terus berdatangan, berapa banyak sebenarnya prajurid yang dimiliki ratu kejam dan licik itu?. “Tapi tubuhmu sangat lemah, keemungkinan ketika kau bertempur dengan pasukan ratu di tengah hutan itu, kau terkena sebuah serangan atau racun yang tak kau sadari,” balas naga lagit. Blar… Pangeran Bintang Tenggara tersebut mengeluarkan kekuatan pedang tersebut untuk menyelasaikan pertarungan, separuh pasukan ratu Arisandi terbakar dan lari ada yang mati di tempat ada juga yang lari kocar-kacir, setelah itu hampir saja tubuh sang pangeran hampir tumbang kalau saja Mahesa tidak dengan sigap menangkap tubuh tersebut. “Pangeran, kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir. “Aku baik-baik saja,” balas Zein, ia kembali menegakkan tubuhnya. Memang sedari tadi dia merasa mudah lelah bahkan saat mengeluarkan kekuatan rasanya seperti dipaksakan. “Pangeran, kita akan kembali ke perguruan rajawali terlebih dulu setelah ini. Siapa tahu saja , Merik mengetahui sesuatu dalam tubuh pangeran ada sesuatu yang bermasalah,” saran Mahesa. “Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya perlu membiasakan diri dengan pedang naga langit, aku akan berlatih dengannya setelah ini,” balas Zein, matanya menatap para prajurid penuh dengan waspada siapa tahu saja mereka ingin melakukan sesuatu yang lebih lagi. Ratu Arisani tercengeng, satu serangan pedang bisa menghabisi separuh prajuridnya, ini tidak bisa dibiarkan, atau seluruh prajurid akan hangus terbakar. Ia pun langsung mengambil pedangnya, tapi ketidak dia hendak turun, putri Purnama sari menghentikannya. “Adinda, tolong jangan gegabah. Bagaimana pun juga, kamulah yang sudah mengkhianati janji terlebih dulu, jadi kalau pangeran Zein marah itu sangat wajar,” tegurnya. Sang ratu menatap tajam kakaknya tersebut, ia tidak terima bila ada yang membela musuhnya di depan dirinya, baginya di dunia ini hanya dirinyalah yang benar. Semua salah, jika dia bilang benar, maka semuanya benar begitu juga sebaliknya. “Kamu jangan ikut campur! Kau hanya seorang putri, akulah ratunya. Di dunia ini tidak ada yang bisa menentang kekuasaanku,” sombongnya. Zein mengalihkan perhatiannya pada ratu Arisandi, wanita cantik itu sepertinya tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa di atas langit masih ada langit. Sekali pun melihat banyak prajurid yang terluka, bukannya insaf malah semakin semena-mena. “Adikku, kakak mohon, terlepas dari dirimu seorang ratu. Kau tetaplah seorang wanita, kau itu seorang hamba. Kau tidak boleh bersikap sombong seperti itu, aku khawatir murka Tuhan akan diturunkan padamu.” Putri Purnama sari terus berjuang keras untuk menghentikan kesombongan adiknya tersebut. Zein melapaskan pegangan Mahesa, ia tidak tahan lagi dengan sikap angkuh ratu dzalim tersebut. Pangeran Bintang tenggara tersebut melompat ke atas singgah sana sang ratu dengan ilmu meringankan tubuh tersebut. “Manusia itu diciptakan dari tanah, seharunya dia memiliki sifat rendah hati. Tapi kenapa kau bersikap angkuh seakan kau berasal dari langit? Ratu Arisandi, kau sudah melakukan banyak kejahatan, tapi kau masih saja tidak mau mengakui kejahatanmu dan malah berbuat dzalim bahkan membantah kenyataan yang ada. Bertaubatlah dan perbaiki diri, apakah kau tidak melihat? Berapa banyak negri di dunia ini yang telah dibinasakan oleh Tuhan karena pendudukkanya melakukan kedzaliman? Kau adalah seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang bisa memimpin bangsamu, jangan sampai bangsamu ini binasa karena kedzaliman. Tuhan melarang adanya poliandri, mengebiri seorang pria, tapi kenapa kau melakukannya?! apa yang ada dalam pikiranmu?” tegurnya keras. “Hahahaha….”Ratu Arisandi menertawakan ucapan pengaran Bintang Tenggara tersebut, ia menatap sang pengeran sengit, baru kali ini ada manusia yang berani berbicara tentang larangan Tuhan terhadapnya, baginya Tuhan itu tidak ada. Dirinyalah Tuhan itu. “Tuhan yang mana? Akulah Tuhan itu, aku bisa menghidupkan dan mematikan orang,” angkuhnya. “Ehehehe, kau sungguh sudah kelewat batas. Kau mengaku dirimu Tuhan? Kau sendiri manusia ciptaan. Kau mengaku dirimu mampu menghidupkan manusia, kau sendiri tak mampu menghidupkan diri sendiri ketika nanti mati. Baiklah, kalau begitu, coba kau hidupkan para parjuridmu itu? Jangan banyak omong kosong! Kau terlalu sombong,” tantang Zein tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ratu Arisandi menatap Zein dengan penuh kemurkaan, bagaimana mungkin dirinya menghidupkan orang yang sudah mati. Maksudnya itu adalah membiarkan orang untuk hidup dan mematikan itu adalah membunuh orang, bukan menghidupkan orang yang sudah mati, mana ada manusia yang bisa melakukan hal itu. “Kau tidak mampu? Tentu saja karena kau itu bukan Tuhan, sebaiknya kau jangan sembarangan mengaku Tuhan. Bertaubatlah sebelum azal menjemput, kalau tidak aku akan membinasakanmu dengan izin Tuhanku, Tuhan seluruh alam. Tuhan yang maha pengesih, yang menghidupkan dan mematikan, hanya kepadanya seluruh manusia kembali,” ucapa Zein tulus, ia berharap wanita cantik tersebut bersedia untuk bertaubat, bagaimana pun juga dirinya tidak tega jika melihat bangsa ini harus dibinasakan karena ratunya dzalim dan pendudukknya juga ikut demikian. “Kenapa aku harus bertaubat? Selama ini aku yang menguasai istana Lintang timur ini, kau tidak punya hak untuk mengaturku,” balas ratu Arisandi murka. “Baik, karena kau memang tidak ada niat untuk berbuat baik. Maka biarkan aku menyelesaikan segelanya dalam waktu sekejap,” kata Zein. Ratu cantik tersebut tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh putra mahkota Bintang tenggara tersebut, tapi tiba-tiba saja udara terasa dingin membeku, tapi tubuh terasa panas. “Di dunia ini aku hanya mengenal satu Tuhan, Dialah Tuhan yang maha esa dan maha perkasa. Tidak pantas bagi setiap mahluk untuk menyekutukannya, apa lagi mengaku Tuhan. Lebih baik, sekarang pertanggung jawabkanlah perbuatanmu itu.” Bersamaan dengan itu, Zein langsung menggunakan pedangnya untuk meledakkan istana Lintang timur dan membunuh ratu cantik tapi berhati iblis tersebut. Putri Permata sari terkejut, ia langsung keluar dari kamarnya ketika mendengar ledakan di luar istana. Hampir saja Zein menancapkan pedang naga langit itu ke jantung ratu Arisandi, tapi dihentikan oleh putri cantik tersebut,”hentikan!” teriaknya. Putra mahkota Bintang tenggara tersebut menahan tangannya untuk tidak menusuk ratu jahat tersebut. “Pangeran Zein, aku mohon. Kali ini saja, lepaskan adikku. Aku berjanji akan menyadarkannya, aku tidak akan membiarkan adikku bersikap sombong dan berlaku zalim lagi,” pintanya sambil berlutut.  “Baik, aku percaya padamu. Kalau begitu aku tidak akan membunuhnya, tapi kalau aku dengar lagi tentang kekejaman adikmu, aku akan kembali dan melululantakan istana ini,” balas Zein. Putri tersebut mengenggauk, setelah itu langsung membawa adiknya pergu untuk diobati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN