episode 30

1186 Kata
Glodak… Glodak… Roda dokar menggelinding melewati jalan berbatu menimbulkan suara mengangetkan orang tidur, Mahesa terus mencemaskan kondisi pangeran Bintang tenggara tersebut. Wajahnya membiru karena racun semakin menyebar, ia berharap kalau tidak akan terjadi sesuatu dengan sang pangeran. Suasana mendung dan cuaca mendung seperti akan turun hujan, membuat pria 40 tahunan tersebut semakin cemas. Jrass… Wuss… Guyuran hujan bersamaan dengan hembusan angin membuat udara semakin dingin, tubuh Zein menggigil karena kedinginan. “Paman, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan. Aku merasa akan ada badai sebentar lagi, kita harus mencari tempat untuk berteduh,”saran Arya sambil melihat cuaca di luar. “Tapi desa masih sangat jauh, kemana kita harus mencari tempat untuk berteduh?” balas Mahesa panik. “Tuan, tidak jauh dari tempat ini ada sebuah goa. Dulu aku dan teman-temanku sering berteduh dalam goa tersebut, kalau tuan-tuan bersedia. Saya akan mengantarkan kesana, saya juga tidak berani untuk menerjang badai,” sela kusir dokar. “Aku rasa itu masuk akal, kita juga akan sangat berbahaya jika menerjang badai. Pangeran Zein juga sangat kedinginan,” timpal Yuda. “Baiklah, kita akan beristirahat di goa itu. Tapi, bagaimana dengan luka pangeran Zein? Apakah tidak akan semakin parah?” tanya Mahesa. “Paman, kau adalah orang yang sangat hebat, aku rasa paman bisa memberikan hawa murni terlebih dulu, kalau aku lihat dari darah yang keluar. Itu seperti racun langka,” sahut Arya. Mehasa mengalihkan perhatiannya pada pangeran Anggara tersebut, sepertinya sang pangeran sedikit banyak mengerti tentang sebuah pengobatan, nyatanya tahu tentang jenis racun. “Pangeran, apakah kau pernah belajar ilmu pengobatan? Darimana pangeran tahu kalau ini adalah jenis racun langka?” tanyanya penasaran. “Bukankah tadi aku bilang, itu terlihat dari warna darah yang dikeluarkan. Aku memang pernah diajari ilmu pengobatan oleh kak Merik, pangeran Zein juga diajari. Tapi mungkin pangeran Zein lebih fokus pada ilmu bela diri,” jelas Arya. “Iya, paman. Aku juga diajari, semua murid perguruan rajawali diajari ilmu bela diri, ilmu kenegaraan dan ilmu pengobatan. Karena mereka semua adalah seorang anak pejabat, awalnya ku pikir pangeran Zein hanya anak bupati Pemis tapi tak kusangka, dia juga seorang pangeran,” sahut Yuda. “Baiklah, kita akan beristirahat di goa itu. Aku juga pernah mendengar kalau desa Kurang Asem ada sebuah goa, kita kesana sekarang,” balas Mahesa setuju. “Desa Kurang Asem? Aku baru tahu kalau ada desa bernama Kurang Asem, apakah dulu desa ini memiliki sebuah sejarah banyak pohon asem lalu banyak ditebang hingga kekuarangan asem,” tanya Yuda. “Kamu jangan sembarangan, tidak ada sejarah semacam itu. Kamu itu sembarangan saja,” tegur Arya. Yuda langsung kicep, tapi penasaran juga kenapa ada nama desa kok seperti sedang menghina orang. Dokar tersebut berhenti di depan mulut goa, Mahesa membantu Zein untuk turun, karena pangeran mahkota Bintang tenggara tersebut sedang pingsan, hingga tidak mungkin untuk berjalan sendiri. Arya dan Yuda mengikuti mereka dari belakang sedang kusir dokar tersebut langsung pergi bersama dokarnya membuat mereka semua merasa heran karena tidak ikut berteduh. “Kenapa dia tidak ikut berteduh?” tanya Yuda heran. “Tidak tahu, sudahlah yang terpenting sekarang kita harus membawa pangeran Zein untuk istirahat agar segera mendapatkan pertolongan pertama,” balas Arya. “Benar,” jawab Mahesa. Ia pun segera membawa Zein masuk ke dalam goda tersebut lalu membaringkannya di atas sebuah batu pipih dalam goa tersebut. Mahesa memusatkan eneergi di telapak tangannya lalu meletakkan telapak tangan tersebut di atas d**a sang pangeran dan mengalirkan energi murni dari tubuhnya ke tubuh pangeran tersebut. Perlahan luka di bahu Zein tertutup hanya menyisakan sedikit tapi racunnya belum bisa dikeluarkan, Mehasa menghentikan pengobatannya setelah dirasa cukup. Harusnya dia memikirkan ini, karena dirinya juga memiliki kemampuan medis. “Paman, bagaimana? Apakah pangeran Zein baik-baik saja?” tanya Yuda khawatir. “Lukanya sudah tertutup, tapi racun dalam tubuhnya tidak bisa dihilangkan hanya dengan energi murni. Racun yang dulu belum bisa dikeluarkan sepenuhnya sekarang ditambah lagi, aku khawatir kalau pangeran Zein tidak mampu bertahan dengan racun itu,” balas Mahesa khawatir. “Aku pernah dengar kalau di puncak gunung raung ada sebuah bunga bernama bunga seribu tahun, bunga itu sangat harum dan hanya tumbuh sekali dalam setahun. Aku harap bunga itu mekar untuk saat ini, karena aku rasa pangeran Zein sangat membutuhkan bunga itu,” kata Arya memikirkan bunga tersebut. “Baik, besok aku akan pergi ke puncak raung. Kalian jaga pangeran Zein, aku khawatir seseorang akan menyerangnya lagi,” balas Mahesa. “Baik, paman,” jawab Arya dan Yuda bersamaan. Mereka tidak sadar kalau Zein mendengarkan semua ucapan mereka, hanya saja pria itu masih sangat lemah dan belum bisa membuka matanya dengan sempurna.   “Baiklah, sekarang kita istirahat dulu.” Mahesa membalikkan tubuhnya, ia memilik mendudukkan dirinya di samping tempat tidur putra mahkota Bintang tenggara tersebut sambil berjaga kalau ada sesautu yang mengancam sang pangeran. Arya dan Yuda pun mengangguk, mereka juga butuh istirahat. Pangeran Bintang tenggara tersebut membuka matanya, ia memperhatikan semua rekan-rekannya, mereka telah tertidur lelap. Dia merasa tidak tega jika harus membangunkan mereka. Perlahan Zein turun dari tempat tidurnya lalu menghampiri Mahesa, ia merendahkan tubuhnya di hadapan pria itu lalu meletakkan pedang naga langit di sampingnya,”Mahesa, kau adalah pengawal terbaikku. Kau juga sudah menjagaku dan berperan menjadi ayah untukku, aku tidak ingin kau terluka lagi. Ini adalah tugasku sebagai putra mahkota Bintang tenggara untuk melindungimu. Aku akan pergi sendiri ke puncak gunung itu, aku dengar di sana juga letak pedang pelangi. Ayah, tolong jaga diri baik-baik, terimakasih sudah menjagaku.” Zein bangkit lalu berjalan perlana meninggalkan ketiga rekannya tersebut, sepertinya badai juga mulai reda, itu artinya perjalanan sudah bisa diteruskan. “Pangeran Zein.” Langkah kaki terhenti di depan mulut goa ketika panggilam pengawal pribadinya tersebut mengelun indah di telinganya. Mahesa bangkit dari posisi duduknya lalu menghampiri sang pangeran. “Pangeran Zein mau kemana? Apakah pangeran Zein berencana untuk pergi sendiri ke puncak raung? Pangeran Zein, seharusnya anda sadar bahwa kondisi tubuh anda sangat tidak baik. Lukanya juga belum menutup sempurna, biarkan aku yang pergi. Pangeran tunggu saja disini bersama mereka.” Zein membalikkan tubuhnya, ia menatap Mehasa tidak suka,”Mahesa. Aku ini putra mahkota Bintang tenggara, sekali pun kerajaanku sudah dirampas orang, tapi aku tidak bisa membiarkan orang lain mengambil alih tugasku. Kau sudah banyak membantuku, aku tidak ingin hanya berpangku tangan saja Mahesa. Tolong kau jangan melarangku pergi. Kalau aku tidak boleh pergi sendiri, maka biarkan aku ikut bersamamu. Dengan begitu, kau juga bisa menjagaku.” Setelah menimbang dan memikirkan apa yang dikatakan pria itu, Mahesa mengangguk setuju. Setidaknya sang pangeran tidak akan pergi sendirian,” baik, kalau begitu aku akan membangunkan Arya dan Yuda dulu. Setelah itu kita berangkat bersama.” “Kami sudah bangun, dan siapa berangkat. Tapi, apakah pangeran Zein benar-benar sudah baik-baik saja?” tanya Yuda sambil berjalan menghampiri pangeran Bintang tenggara di sampingnya ada Arya, pria itu juga sudah siap. “Iya, aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir, terimakasih sudah bersamaku,” balas Zein. Arya dan yuda mengangguk, mana mungkin mereka akan membiarkan rekannya sendirian menghadapi bahaya, apapun yang terjadi mereka akan selalu bersama. Terimakasih sudah membaca…  Jangan lupa follow serta berikan love dan komentar. Baca juga novel saya yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN