Gama mengusap air mata Ara dengan ibu jarinya, lalu menangkup pipinya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak pernah melihat Ara menangis sesedih ini. Tidak pernah sama sekali dan ini kali pertamanya. “Sena udah ada di tempat yang lebih baik. Lo enggak boleh sedih, karena dia juga akan ikut sedih.” Ara mengangguk. Ia terdiam sebentar. Kedua tangan Gama masih menangkup kedua pipinya, kemudian gadis itu berdeham pelan. Ia menarik tubuhnya, lalu mundur beberapa senti agar tidak terlalu dekat dengan Gama. Menurutnya, jarak mereka sudah melewati jarak wajar. “Nanti … gue akan kasih tahu Marcela,” kata Ara dengan suara pelan. Gama tersenyum. “Jangan sedih lagi. Kalo lo sedih gini, gue bisa dibogem Arden,” kekehnya. Ara ikut terkekeh. “Mungkin lebih dari itu.” “Ya udah, karena udah malam juga,

