Terluka

898 Kata
Pernikahan adalah hal yang sakral bagi Alin, diumurnya yang ke dua puluh lima ia merasa beruntung memiliki tunangan seperti Gibran. Semenjak mengenal Gibran masa lalunya karena patah hati terobati dan ia akhirnya menyetujui lamaran Gibran setelah menjalin kasih beberapa tahun bersama Gibran. Gibran adalah seorang dokter UGD di Rumah Sakit Candrama dan wajah yang yang tampan membuat banyak perempuan yang mengidolakan Gibran. Alin tersenyum mengingat bagaimana Gibran lima bulan yang lalu berlutut di kakinya dan memintanya menjadi istrinya sambil menujukkan kotak kecil bludur yang berisi cincin didepan teman-temannya saat itu. Bahagia? Tentu saja Alin sangat bahagia, ya...hanya dalam hitungan hari ia akan menjadi istri Dokter Gibran dan ia akan segera keluar dari Kediaman Hutama Kamandaka mengikuti suaminya. Keluarga besarnya memang tidak menyetujui pernikahaannya tapi Alin yakin suatu saat kakak sulungnya Jayaprana akan mengerti dengan keputusannya menikah dengan Gibran. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi dan ia tahu jika saat ini tunangannya itu kemungkinan masih terlelap. Kejutan di pagi hari dengan membawa sarapan yang ia buat khusus dari pagi pasti akan membuat tunangannya itu bahagia. Ia bahkan beberapa kali mencicipi masakannya dan meminta keponakannnya Janisa untuk menilai rasa nasi goreng buatannya ini. Selama ini Alin memang manja karena ia menjadi adik satu-satunya Jayaprana Hutama Kamandaka salah satu pengusaha sukses yang sangat terkenal. Apalagi kedua keponakan laki-lakinya selama ini sangat melindunginya. Jantaka dan Jagadta keduanya sangat menyayanginya dan keduanya bukan hanya keponakan bagi Alin tapi juga kakaknya yang selalu melindunginya. Alin membaca rencana perjalanan bulan madunya sambil tersenyum "ke Eropa beberapa hari menghabiskan bulan madu ke beberapa negara. Mas Gibran pasti setuju kalau aku masuk mempelajari Zumba dan pole dance disana. Rencananya sih nanti minta Mas Jaya buat bantu bangun studio mini buat aku," ucap Alin membuat supirnya tersenyum mendengar ucapan nona mudanya yang terdengar sangat bersemangat. Beberapa menit kemudian mobil berhenti di kawasan parkir Apartemen Gibran, Alin melangkahkan kakinya dengan riang masuk kedalam lobi Apartemen dan ia segara menaiki lift menuju Apartemen Gibran. Alin bersenandung ring dan ia tidak sabar melihat ekspresi Gibran melihat kedatangannya pagi ini. Dulu Gibra selalu merasa jika Alin tidak mencintainya karena sikap cuek Alin padanya dan Gibran yang selalu perhatian kepada Alin disela-sela kesibukannya. Ali berhenti didepan pintu Apartemen dan ia segera menekan pasword kunci pintu apartemen yang merupakan hari ulang tahunya. Gibran memegang sosok yang sangat romantis dan ia sangat bersyukur dicintai oleh Gibran. Pintu terbuka dan Alin segera masuk kedalam apartemen, ia melihat sepatu wanita dan jantungnya berdetak dengan kencang karena mengenal sepatu itu. Sepatu yang ia berikan kepada salah satu sahabatnya yang berulang tahun sebulan yang lalu. Wajah Alin memerah karena ia takut apa yang ia pikirkan saat ini benar. Alin membuka pintu kamar dengan pelan dan ia meneteskan air matanya saat melihat Gibran memeluk wanita yang sedang terlelap tanpa busana dan hanya selimut yang menutupi keduanya. Alin terduduk lemas dan ia menahan isakannya agar tidak terdengar oleh keduanya. Alin mencoba berdiri dengan kakinya yang gemetaran dan ia memundurkan langkahnya sambil menatap kamar yang akan menjadi kamarnya bersama Gibran. Mimpi tentang rumah tangga yang bahagia bersama Gibran, hancur seketika dengan penghianatan yang dilakukan Gibran dan sahabatnya. Alin keluar dari aparatemen meninggalkan paperbag bersisi sarapan penuh cinta yang ia buat. Alin menangis kencang dan ia merasa hancur, ia berjalan tanpa arah meninggalkan apartemen itu dan ia memilih duduk ditanam yang sepi sambil menangisi kisah pilu percintaannya. Ia tidak ingin menikah dengan Gibran dan harus segera membatalkannya meskipun keluarganya akan menanggung malu. "Kenapa kau tega Mas, pernikahan kota hanya hitungan hari dan kau telah menyakitiku seperti ini, hiks...hiks..." tangis Alin pecah dan ia mengingat kenangan indahnya bersama Gibran. Gibran sangat memperhatian padanya dan selalu mendukung apa yang ia inginkan. Dulu Alin tidak memiliki perasaan apapun pada Gibran dan hanya menganggapnya sebagai seorang Kakak karena Alin masih sangat mencintai cinta pertamanya. Namun seiringnya berjalan waktu Alin yang menerima limpahan perhatian dari Gibran akhirnya membuka hatinya. Alin mulai mencintai Gibran dan menata mimpi-mimpinya membentuk keluarga bahagia impiannya. "Kau berselingkuh dengan sahabat baikku, hiks...hiks..." tangisan Alin terdengar begitu memilukan. Bagaimana tidak beberapa hari yang lalu Gisel sahabatnya masih menemaninya ke spa dan juga WO untuk persiapan pernikahannya. Gisel selama ini adalah orang yang sangat ia percaya dan ternyata ia telah dibohongi. Senyuman tulus Gisel ternyata palsu. Alin mendengar nada pesan yang masuk di dalam ponselnya dan ia membaca pesan dari sahabatnya yang telah tega mengkhianatinya. Gisel : Aku hamil Alin, aku harap kamu mengerti dan memaafkan apa yang aku lakukan bersama Gibran. Cintaku untuk Gibran lebih besar dari cintamu. Gisel memang menyadari kedatangan Alin tadi dan ia segera bangun ketika mendengar pintu apartemen kembali tertutup. Ia menggulung selimutnya dan segera membuang makanan yang dibawa Alin kedalam tong sampah. Gisel mandi dan setelah mandi ia sengaja mengirimkan pesan itu agar Alin mengerti dan segera membatalkan pernikahaannya bersama Gibran. Alin tidak menyangka sahabatnya tega melakukan ini semua padanya dan ia tak Gisel tak perlu memintanya untuk membatalkan pernikahannya bersama Gibran. Pengkhianat seperti Gibran tidak patut menjadi bagian dalam hidupnya. Alin sadar jika Gibran bukanlah imam yang ia cocok mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Alin menghubungi WO yang menangani acara pernikahaannya dan ia segera membatalkan rencana pernikahaannya itu. Alin bahkan bersedia kehilangan sejumlah uang yang telah ia keluarkan untuk persiapan pernikahaannya. Alin merasa sangat malu dan terluka, ia akhirnya memutuskan untuk pergi jauh menyembuhkan luka dan memilih untuk menggapai impiannya seorang diri. Ia tidak ingin membebankan keluarga besarnya, termasuk kakak sulungnya Jayaprana Hutama Kamandakan yang selama ini menjaga dan membesarkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN