Kehidupan Kedua

1966 Kata
“Di mana?” Kalimat yang tercetak di layar ponselnya itu membuatnya menghela napas. Naraya Aruna, gadis yang sedang di dalam taksi yang akan mengantarkannya ke kantor sebuah Production House terkenal di Indonesia. Rambut hitam sedikit di bawah bahu terlihat lepek dengan bagian atas berminyak. Dia kini menggunakan kaos putih yang bagian belakangnya basah akan keringat setelah seharian ini berpindah lebih dari 4 lokasi syuting dari dua film berbeda yang sedang ditangani oleh PH tempatnya bekerja. Blazer senada dengan celana kain yang dia kenakan kini tergeletak di atas tas yang ada di sampingnya. Di tangannya ada sebuah Ipad yang sama sekali tak pernah dia lepaskan, mulai kembali mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan untuk proses syuting beberapa scene di lokasi berbeda yang harus dia lakukan besok. Dia menatap ke arah jalanan padat di depannya, menggigit kuku jari telunjuknya yang semakin hari semakin tipis karena kebiasaannya menggigit kuku jika dia sedang cemas seperti ini, “Pak, bisa lebih cepat dikit?” pintanya kepada supir taksi yang sedang dia tumpangi. Seharusnya jam-jam tanggung seperti ini, jalanan Jakarta lebih lenggang. Tapi entah mengapa saat dia terburu-buru seperti ini, malah terjadi kemacetan yang lumayan panjang. Ponselnya kembali berdering, dia melihat id pemanggil yang terpampang di sana, kembali menghela napas dalam menyadari gadis menyebalkan yang bernama Kirana Aulia itu sekaligus Excecutive Producer tempatnya bekerja sedang ditimpa masalah. Dia menarik napasnya dalam, sebelum akhirnya menjawab panggilan telepon itu, “Kamu di mana daritadi belum nyampe?!” pekiknya cepat sama sekali tanpa basa-basi. Nara meringis, nada panik yang dia keluarkan pertanda bahwa Kirana sedang benar-benar membutuhkan Nara berada di depannya sekarang “Di jalan menuju kantor. Bukannya mbak Rana tadi yang nyuruh aku keliling lokasi syuting.” Nada gusar yang Nara keluarkan membuat Kirana mendesah. Gadis itu memang satu-satunya orang yang bisa membalas ucapannya dengan nada seperti itu, mengenal gadis itu selama bertahun-tahun membuatnya tahu bahwa nada kesal yang Nara ucapkan juga sebagian besar karena dirinya yang selalu memberi pekerjaan di luar job yang seharusnya gadis itu lakukan. “ada masalah di kantor?” tanya Nara berusaha menenangkan dirinya. Dia mencoba untuk melakukan self menditation agar tidak ikutan panik seperti atasannya ini. “Lu cepetan balik deh ke kantor. Gue perlu lo sekarang!” ujar Kirana cepat sebelum menutup teleponnya setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Nara ikut menggeram, mencondongkan tubuhnya ke arah kursi depan untuk melihat lebih jelas kemacetan. Dia menggigit kuku jari telunjuk kanannya, kebiasaannya jika sedang gugup seperti ini. Nara berusaha keras untuk tetap tenang, mengambil Ipad yang awalnya dia singkirkan, melirik ke arah jadwal Kirana yang memang selalu dia minta dari sekretaris atasannya itu untuk tahu apa saja yang dikerjakannya. Melirik ke arah jam tangannya sebelum kemudian mendesah. Menyadari dia memang sedang sangat dibutuhkan sekarang untuk membantu Kirana menyelesaikan masalah pendanaan Film yang sedang masuk ke dalam proses syuting. Mbak Rana : Sponsor bakalan datang 20 menit lagi. Gue butuh lo sebelum itu. Pesan singkat dari Kirana membuat Nara kembali mendesah. Dia melirik jam tangannya, jarak kantornya sudah tidak terlalu jauh. Sekitar 5 sampai 10 menit lagi, tapi dalam keadaan macet seperti sekarang dia tak tahu apakah dia bisa datang tepat waktu. Dia mencoba menarik napasnya dalam, menenangkan dirinya sebelum kemudian mengambil cermin kecil yang selalu dia sediakan di dalam tasnya, mendesah saat melihat penampilannya sangat berantakan. Dia terlihat seperti wanita yang beberapa hari tak mandi begitu kucel dengan rambut berminyak dan lepek. Dengan cepat, dia mengambil Dry Shampoo. Menyemprotkan ke rambutnya hingga membuat penampilannya jauh lebih baik. Mengambil ikat rambut berbentuk gelang lalu mengikat rambutnya. Menatap pantulan wajahnya di cermin, bagian bawah matanya menghitam dan berkeringat seolah dia sudah tidak tidur berhari-hari, bibir ranum dan penuh miliknya terlihat pucat tanpa lipstik sedikit pun. Dia bergegas untuk merapikan riasan wajahnya dan menarik napas dalam saat melihat wajah kucelnya tadi berubah menjadi jauh lebih cantik. Lingkaran hitam di bawah matanya, dia tutupi dengan sempurna sehingga menampilkan mata bulatnya, wajahnya mungil dengan baby fat yang masih terlihat di beberapa bagian pipinya yang membuatnya terlihat seperti mahasiswi broadcasting yang sedang magang di kantornya, daripada seorang Koordinator Produksi Film yang berpengalaman. Menarik blazer dari atas tasnya sebelum kemudian menggunakannya untuk menutupi kaosnya yang kumal. Dalam 10 menit gadis kucel tadi berubah menjadi gadis kantoran yang siap menerima klien. Bekerja dengan Kirana selama bertahun-tahun membuatnya harus bisa mengubah diri dalam waktu singkat dan membantu atasannya itu menghandle banyak perkerjaan yang melelahkan. Dering ponselnya yang kembali terdengar bersamaan dengan taksi yang dia tumpangi berhenti di depan kantor membuatnya bisa menghela napas dalam. “Ini sudah ada di depan parkiran,” ujar Nara cepat setelah mengangkat telepon. Dia mematikan panggilan itu sebelum kemudian bergegas masuk ke dalam kantor setelah membayar taksi. Sepatu kets yang dia kenakan membuatnya bisa berlari lebih cepat menuju ruangannya. “Kok lama?” tanya Kirana yang mencercanya. Wajahnya terlihat panik, rambut panjangnya terlihat berantakan namun make upnya masih terlihat begitu sempurna. “Macet,” ujarnya singkat terus melaju menuju mejanya yang diikuti oleh Kirana. Nara membuka laci di bawah mejanya, mengeluarkan heels hitam yang selalu menyelamatkannya jika ada pertemuan formal mendadak seperti ini. “Klien sudah datang?” Tanya Nara melihat Kirana khawatir. Wajah Kirana yang awalnya tegang berubah menjadi tenang dan tersenyum, “Luckily, belum. Kayaknya kejebak macet kayak lo?” Mata Nara memicing kesal, namun Kirana malah memperlihatkan senyuman kakunya. “Sorry, gue beneran panik gila tadi,” lirihnya menaikkan alisnya. “Ini gue bawain Es Americano kesukaan lo. Double Shot with one pump simple syrup.” Wajah kesal Nara berubah dengan cepat melihat minuman favoritenya berada di depannya sekarang. Dengan cepat, dia duduk di kursinya sebelum kemudian menyeruput Es kopi kesukaannya membiarkan rasa pahit bercampur sedikit manis itu mengaliri kerongkongannya yang gersang. “I’m alive..” desahnya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kirana melihat Nara yang bisa lebih santai sejenak. Dia merasa bersalah dengan gadis di depannya ini, namun Nara adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya menyelesaikan masalah di saat genting seperti ini. Tak menyangka bahwa gadis yang dia selamatkan sepuluh tahun yang lalu ini benar-benar menepati janjinya membalas budi kepada Kirana yang telah menyelamatkannya dengan cara bekerja dengannya dengan sungguh-sungguh. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana pertemuan mereka. Nara yang saat itu masih mengenakan seragam SMA terlihat kedinginan dengan pakaian yang basah kuyup, menyusuri jalan ibu kota yang basah karena hujan dengan kaki yang terseok, berjalan terus tanpa arah. Wajahnya yang terlihat penuh dengan gurat kesedihan membuat Kirana mendekatinya dan akhirnya gadis itu tumbang dalam pelukannya. Selama tiga hari, Nara remaja hanya menangis sebelum akhirnya di hari ke empat. Gadis itu sudah mulai terbuka dan menceritakan apa yang terjadi. Rasa bingung dan tak percaya yang dia rasakan karena merasa dunianya runtuh seketika membuat Kirana akhirnya menolongnya, memberikannya tempat tinggal dan menyekolahkannya. Nara selalu tahu cara untuk membalas budi, hal itulah yang membuat Kirana menyukainya. Nara bukan tipe gadis yang memanfaatkan orang lain. Nara membalas budi dengan bekerja untuknya, melakukan berbagai hal yang mungkin bahkan tak pernah dipikirkan oleh anak-anak seumurnya. Alasan kenapa dia begitu tergantung dengan Nara adalah karena gadis itu bekerja di Production House yang dia bangun sejak awal masuk kuliah. Dia bekerja setelah pulang kuliah tanpa lelah hingga larut malam atau bahkan pagi untuk melakukan berbagai hal yang dibutuhkan di lokasi syuting. Dan setelah lulus kuliah pun, Nara bekerja di Production House miliknya sebagai Koordinator Produksi sekaligus asistennya yang membuatnya hampir tak punya waktu untuk menikmati masa mudanya. “Make up aku berantakan ya mbak?” tanya Nara membuyarkan lamunan Kirana. “Nggak kok,” elak Kirana cepat. “Lo kelihatan kecapekan banget,” Nara mencibir, “Siapa yang nyuruh aku keliling dua lokasi syuting yang satu di Jakarta utara yang satu Di Jakarta selatan. Kayak nggak sekalian nyuruh aku pergi bolak balik Puncak – Jakarta saja.” “Sorry.... tapi Cuma kamu yang PH ini punya untuk menyelesaikan masalah-masalah produksi cem itu,” Nara menghela napas melihat wanita cantik dan anggun di depannya ini dengan cibiran. Kirana adalah tipikal wanita yang lahir dengan sendok emas di depannya. Jika diibaratkan Indonesia adalah negara monarki, maka Kirana adalah anak bangsawan yang bukan hanya anggun melainkan juga pintar. Bukan tipikal gadis manja yang menghamburkan uang untuk gaya hidup sosialitanya, melainkan tipikal anak yang bisa membuat kekayaan keluarganya meningkat berkali-kali lipat dengan membangun bisnis baru. Dia memang mendapatkan sokongan Dana untuk membuka Production House ini, namun kerja kerasnya lah yang membuat PH ini menjadi salah satu PH terbaik di Indonesia yang bukan hanya menghasilkan Film-film terbaik melainkan juga Indonesian Drama yang bisa diekspor ke luar negeri. Pembuatan yang berkualitas dengan story line yang mumpuni membuatnya berbeda dengan sinetron-sinetron Indonesia yang lebih memikirkan rating daripada kualitas. “Stand up...” ujarnya tiba-tiba. Wajahnya yang awalnya terlihat santai kini berubah menjadi tegang. Nara menyeruput esnya sejenak, membiarkan rasa pahit itu menenangkan syarafnya yang tegang. “They are here?” Kirana mengagguk, mengambil Es kopi itu dari tangan Nara lalu menyeruputnya. “Kita harus berhasil mendapatkan sponsor ini. Ini akan menutupi 30% biaya produksi kita,” ujar Kirana dengan panik. “Ini iklan apa?” tanya Nara namun tak dijawab oleh Kirana, dia malah menarik tangan Nara menuju ruang meeting untuk bertemu dengan perwakilan perusahaan yang akan memberinya benefit yang harus mereka dapatkan. **** “Maaf.... ini tadi iklan apa?” kata Nara memecah kesunyian yang terjadi begitu perwakilan perusahaan itu menjelaskan apa yang harus mereka masukan. “Bakso Aci?” Ulangnya lagi tak percaya. Matanya melotot ke arah Kirana yang tersenyum kaku dan menangguk kecil. Dia menarik napasnya sebelum kemudian menatap ke arah salah satu manajer yang menjelaskan produk yang akan mereka komersialkan di Film yang mereka buat. Dia menatap ke arah penulis skenario yang ikut dalam rapat kali ini. “untuk film horror yang kita kerjakan kan?” tanya Nara lagi yang dijawab gelengan. “untuk Film CEO and Me.” “What?!” pekik Nara tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia menatap ke arah Kirana yang menatapnya dengan penuh permohonan, membuatnya yang sedari tadi tak fokus dengan alur rapat ini akhirnya menatap Kirana dengan mata membulat. “Kalian sanggupkan? Kali akan membayar dengan harga yang fantastis jika kalian bisa membuat pemeran utama memakan produk kami dengan nikmat,” ujar Pria bertumbuh tambun yang menatap mereka dengan tenang. “Kalian tenang saja, Bu Nara akan mengaturnya. Saya akan pastikan pemeran utama dari CEO and Me akan memakan produk-produk kalian dengan nikmat, Iyakan Nara?” ujar Kirana cepat membuat Nara semakin tak percaya namun dia hanya bisa tersenyum namun dengan mata memicing berusaha untuk menghancurkan setiap sendi tubuh Kirana tanpa memperdulikan bahwa dia adalah atasannya sekarang. “Bu Nara bisa mengaturnya?” tanya Bapak Bertubuh Tambun itu dengan penuh minat membuat Nara memaksakan senyumnya dan akhirnya mengangguk. “Saya usahakan bapak tak perlu khawatir untuk itu,” jawab Nara dengan nada bisnis yang akhirnya dia keluarkan. “Bapak tahu kan bahwa PH kamu akan membuat se smooth mungkin, namun hasilnya akan beribu kali lipat untuk perusahaan bapak.” Bapak itu tertawa dengan gelambir di perutnya bergerak, terlihat dari pakaian yang dia kenakan, tak seberapa lama dia menatap ke arah Kirana yang menatap senang. “Kalau begitu saya akan meminta bawahan saya membuatkan kontrak. Kita bertemu lusa?” Beliau mengulurkan tangannya ke arah Kirana yang langsung disambut senang oleh atasan menyebalkannya itu. Nara sendiri hanya mengangguk sebelum kemudian menatap penulis skenarionya yang ikut dalam meeting kali ini. “Kita bahasa setelah aku ngomong sama Bu Boss,” lirih Nara hampir saja menangis, yang dijawab anggukan lemah. Dia ikut berdiri, sebelum kemudian ikut menyambut uluran tangan bapak itu dan mengantarkan bapak itu untuk keluar dari ruang rapat hingga ke depan kantor. “We Need to talk,” ujar Nara begitu Bapak itu masuk ke dalam mobil. Dia mendelik kesal, menatap Nara yang bersembunyi di balik pintu dan ingin menjauh dari amarah Nara yang tak terbendung mendengar Hal tak masuk akal yang akan terjadi di Film berbudget mahal yang sedang dia kerjakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN