10. Lamaran kerja

1071 Kata
Suatu pagi Ian sampai di kantor ada hal yang membuatnya terkejut ketika melihat Mika membawa map lamaran kerja ke perusahaannya. Dalam hati Ian membatin bahwa Mika sangat berani. Entah kualifikasi apa yang dimilikinya, sehingga melamar pekerjaan di sini. Ian mendesah sambil menggelengkan kepalanya. Ia masuk ke dalam lift tanpa menyapa Mika. Ya, anggap saja Ian tidak kenal. Toh, Mika juga tidak menyapanya sama sekali. Ternyata gadis itu mendengarkan saran asal-asalan dari Ian. Sekarang ia merasa sedikit bersalah pada perusahaannya. Pada saat mereka keluar dari lift, tiba-tiba Mika mendekati Ian. “Apakah ada masalah selama aku tidak ke sini?” tanya gadis itu. Sebelum menjawab pertanyaan Mika, Ian melirik ke sekitar. “Masalah apa yang bisa terjadi? Hei, mengapa kau benar-benar melamar pekerjaan ke sini? Kau pikir, kau akan berhasil?” Nadanya sedikit meremehkan. “Aku pegang kakinya jika tidak diterima dan menangis di sana nanti,” sahut Mika yang segera melangkah menjauh dari Ian. Ian tidak tahu bagaimana harus menanggapi perihal Mika. “Sudahlah. Bukan urusanku. Semoga saja dia tidak membuat masalah.” Lantas Ian menuju ke departemennya. Melihat suasana kerja yang sama seperti biasa. Untungnya beberapa hari ini tidak ada hal aneh yang terjadi. Keadaan di sana aman-aman saja, sehingga Ian bisa menarik napas lega. “Kurasa banyak pelamar baru tahun ini,” celetuk salah satu rekan Ian. “Kuharap salah satu dari mereka tidak ada yang kerasukan,” kata yang lainnya. Kemudian mereka tertawa. Ian hanya bisa menghela napasnya. Bukankah awalnya mereka juga takut mendapati kejadian itu? Mengapa sekarang terdengar lucu bagi mereka? “Itu bukan hal yang bisa ditertawakan teman-teman,” ujar Ian yang seketika itu membuat seluruh ruangan menjadi hening. Mereka semua mengarahkan tatapan pada Ian. “Ian, kau terlalu polos. Mereka seperti itu karena beban pekerjaan yang tidak bisa mereka tanggung. Edwin di diagnosa sedang depresi, apa kau tahu itu?” Ian dibuat terkejut oleh rekannya itu. Edwin rupanya sedang mengalami masalah kejiwaan. Namun, apakah benar begitu? Ian rasanya masih belum percaya. “Apa? Kau tidak percaya? Itu sudah jelas sekali karena dokter yang mendiagnosanya.” “Sudah, hentikan. Ini masih pagi, tetapi kalian sudah berdebat. Lebih baik kerjakan pekerjaan kalian.” Kepala bagian menegur mereka, sehingga tidak ada lagi yang berani berbicara. Lelaki itu pun melirik pada Ian masih terlihat bingung, “Ian apakah kau masih takut akan kejadian waktu itu? Kau tidak boleh ikut tertekan seperti mereka, atau kau juga akan bernasib sama. Lebih baik tenangkan dirimu. Sekarang tidak akan ada lagi kejadian aneh seperti waktu itu.” Setelah memberikan petuah pada Ian, lelaki itu undur diri menuju ke ruangannya. Ian juga sedikit merasa terbebas dari tekanan tadi. Ya, mudah-mudahan saja mereka benar dan itu bukan semacam dirasuki makhluk halus. ** Mika Natt mencari Ian di kantin perusahaan siang itu. Wajah gadis itu terlihat tidak begitu senang dan ia pun cemberut. “Perusahaan kalian tidak menerimaku.” Ah, sudah Ian duga sebelumnya. Jadi, ia tjdak begitu kaget. Ia membawa nampan makan siangnya ke sebuah meja dan diikuti oleh Mika. Para pelamar diperbolehkan untuk makan siang di sana meski tidak diterima. “Sudah aku katakan padamu sebelumnya.” “Katakan apa?” “Kau ke sini bukan untuk bekerja, melainkan untuk memuaskan pradugamu itu,” ujar Ian. “Memangnya salah? Aku ke sini untuk mengatasi orang-orang bermasalah itu,” debat Mika. Ian tidak lagi memikirkan hal tersebut karena hanya akan berdampak pada kesehatan psikologisnya. “Lebih kau makan saja Nona Mika. Dan setelah itu pulang. Kau bisa mencari pekerjaan lain setelah ini. Jangan terpaku pada masalah itu terus-menerus. Aku tahu kau orang baik, tapi bukankah lebih baik menjalani hidup yang normal saja?” Ian tidak tahu bisa sebijak ini dalam bertutur. Ia sendiri cukup kaget tadi. Mika Natt mencondongkan badan ke depan, juga mendekatkan wajahnya pada Ian. “Mengapa tiba-tiba menjadi bijak? Apa kau juga kerasukan? Aku harus mempersiapkan diri.” Mika Natt mengambil ancang-ancang kalau-kalau Ian bertingkah aneh. Menganggap hal ini sebagai candaan saja, Ian meneruskan makan siangnya dan tidak memedulikan Mika. Gadis itu tertegun sejenak lalu mengambil sendok dan garpunya. Ia juga ikut makan bersama Ian di satu meja. “Meskipun begitu, aku akan sering-sering datang kemari. Akan aku tunjukkan padamu bahwa mereka mengalami gejala yang tidak biasa. Perusahaanmu hanya berusaha untuk menutupi—” Ian buru-buru membungkam mulut Mika dengan nasi. Kemudian melirik ke kanan dan kiri. Di sini terlalu banyak orang, tetapi Mika mengoceh tanpa henti dan tidak memerhatikan sekitar. Mata gadis itu melotot pada Ian. “Kau makan saja. Jangan berkata asal di sini. Atau kau tidak akan mendapatkan pekerjaan di mana pun karena rasa ingin tahumu dan pradugamu itu.” Ia sedang berusaha untuk memperingati Mika. Untung saja tidak ada yang melirik ke arah mereka, itu artinya tidak ada yang mendengar ucapan Mika tadi selain dirinya. Tiba-tiba ponsel Ian bergetar ketika ia bangkit dari kursinya. Ian merogoh ponsel dari saku celananya dan menjawab telepon tersebut tanpa melihat nama si penelepon. “Hai, Ian, mau minum bersama kami malam ini? Kudengar banyak yang mengalami stres berat di perusahaanmu. Aku dan teman-teman yang lain tidak ingin kau sampai mengalami hal itu, Ian. Ayo, ke bar bersama kami.” Jeffrey terdengar antusias jika mengajak Ian ke bar. Ian terlihat memikirkan ajakan Jeffrey dan entah mengapa menoleh pada Mika Natt. “Setuju.” “Baiklah, ketemu di tempat biasa.” Mika Natt tidak berkata-kata ketika Ian meninggalkan meja tersebut. Gadis itu sedikit menyeringai ketika melihat punggung Ian yang semakin menjauh. “Ian Kendrick, kau pikir masalah ini semudah yang kalian bicarakan? Huh, kau hanya belum melihat saja.” Gadis itu memakan makan siangnya sambil melirik ke sekitar, melihat beberapa orang makan sambil mengobrol. Namun, ada juga yang makan dengan terburu-buru. Sebenarnya, Mika tidak begitu ingin bekerja di perusahaan ini. Hanya mengikuti saran Ian agar dapat mengawasi para karyawan. Setelah Mika selesai menghabisi sarapannya. Ia membawa nampan tersebut dan berjalan beberapa langkah, pada saat itulah, Mika melihat seorang pria tampan berbusana rapi. Bulu kuduk Mika merinding perlahan. “Ketampanannya tidak begitu menggetarkan dunia, tetapi berhasil membuat aku merinding.” Pria itu adalah Bryan Dwight—sang CEO. Bryan dan Mika berpapasan kala itu. Namun, pria itu sungguh bersikap dingin. Sedangkan Mika tidak ambil pusing dan bergegas mengembalikan nampan makan siang. “Aura pria itu sungguh maskulin. Namun, aku merasa dia memiliki sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang. Tapi, apa, ya? Mengapa aku, malah memikirkannya sekarang?” Mika menoleh ke belakang dan melihat pria itu duduk di sebuah meja juga menjadi pusat perhatian para karyawan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN