Kembali

1519 Kata
"Da...Dad..." Liam tersenyum begitu dia sampai di bandara Ngurah Rai Bali, sudah ada Juna yang di gendongan ibu nya datang menjemput, pria kecil itu terlihat bahagia dengan senyuman ketika melihat ayah nya. "Anak dad...." Kata Liam mengambil sang putra dari gendongan sang mamih dan membawa kedalam gendongannya, beberapa hari berada di Jakarta dan meninggalkan putra nya membuat Liam merindukan pangeran kecil nya ini. "Dad..." Lirih Juna lagi, anak usia 3 tahun itu sebenarnya sudah lancar dan bisa berbicara layak nya anak seuisia nya tanpa aksen cadel. Dan hal itu membuat Liam sangat bersyukur untuk kemampuan yang dimiliki Juna itu. "Dia mengantuk" kata nyonya Kemal saat melihat Juna menempatkan nyaman kepalanya di pundak Liam. Hal yang selalu dilakukan anak itu ketika merasa mengantuk. "Apa Juna sakit mam?" Tanya Liam khawatir sambil memeriksa suhu tubuh sang putra yang ternyata tidak lah panas. Juna biasanya tidak akan bersikap manja begini kecuali sakit, hari juga belum sampai siang bolong tapi putra nya sudah tertidur lagi entah karena apa. Dan jika Juna sakit maka anak kecil itu akan susah tidur di malam hari, lalu saat siang justru akan banyak tertidur karena merasa lelah. "Tidak, Juna hanya kelelahan karena tadi dibawa Kei ke kantor dan bermain dengan sekretaris mu" kata nyonya Kemal dan Liam hanya mengangguk mengerti, artinya juna tertidur karena kelelahan. Benar, mungkin Juna kelelahan karena tidak ada tanda tanda jika anak kesayangan nya itu sakit. Lalu keduanya pun menuju parkiran dimana mobil sudah siap membawa mereka kembali ke kediaman mewah Pramudya. Liam memasuki mobil dan duduk di bagian belakang bersama dengan mamih nya sedangkan Juna sendiri masih tetap tenang berada di dalam gendonganya. *** "Dimana papih mah?" Tanya Liam begitu memasuki rumah tapi atensi nya sama sekali tidak melihat adanya sang papih karena pria tu aitu seharunya sekarang hanya di rumah saja karena urusan kantor sudah pasti akan di urus oleh anak anak nya. "Dikantor nemenin adikmu" kata sang mamih, dia juga heran dengan apa yang dilakukan suaminya yang beberapa hari belakangan ini suka sekali menemani putra bungsu mereka bekerja di kantor, padahal impian nya sejak awal membiarkan kantor di ambil alih putra mereka agar Kemal bisa istirahat dirumah. "Loh kenapa emang?" Tanya Liam mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu setelah menidurkan sang anak di kamar nya agar merasa nyaman dan tidak tertanggu saat istirahat. "Huft" sebelum berbicara nyonya Kemal menghela nafas nya kasar "Kamu pasti sudah tahu kalau Kei mau membatalkan pertunangan nya dengan Dhea, dan papah mu tau kalau alasan Kei adalah Sekretaris baru mu makanya papah selalu nemenin adik mu buat mastiin kalo emang adik mu yang berulah dan bukan sekretaris nya, kalo sampe sekretarisnya yang ngegoda Kei duluan papah bakalan langsung pecat orang itu" kata nyonya Kemal, tidak habis pikir dengan jalan pikiran suami nya yang melakukan hal tidak berguna seperti itu. Tuan Kemal sendiri dikenal sangat tegas dalam memilih pekerja, dan dia sama sekali tidak suka jika ada yang main main dalam hal pekerjaan apa lagi sampai goda menggoda, sangat ingin tuan Kemal hindari. Karena menurut Kemal sendiri perusahaan adalah tempat bekerja dan bukan untuk melakukan hal yang tidak pantas. "Jadi Kei beneran batalin pertunangan itu? Dia sama Dhea? Terus Dhea sendiri gimana?" Tanya Liam tidak menyangka jika sang adik benar benar melakukan seperti apa yang dia katakan. Apa lagi hanya demi mengejar wanita yang belum tentu bisa membalas perasaan yang dimiliki pria itu. "Ya gimana lagi, dia juga setuju. Lagian Dhea sendiri juga nggak mau memaksakan kehendak nya buat bersama Kei kalau kenyataan nya Kei sendiri nggak bisa cinta sama dia" kata mamih nya mengingat perkataan Dhea saat ditemui nya tepat setelah Kei membatalkan pertunangan itu. "Dhea udah balik ke Jakarta lagi mam?" "Dhea ke Bali sebenarnya mau pamit doang, dia nggak jadi ngelanjutin S2 di Jakarta dia milih di Jerman buat memperdalam ilmu kedokteran nya dan besok dia berangkat ke Jerman" Liam mengangguk anggukan kepala nya mendengar perkataan mam nya, dia harus bertemu dengan Dhea ada hal yang ingin dia katakan dan sangat lah penting. Sebenarnya Liam sangat mendukung hubungan Dhea dan juga Kei, karena Dhea sendiri sudah dia anggaap seperti adik nya dan wanita itu juga tau perihal prahara hatinya yang menyukai Clara. *** "Om... Ante?" Pertanyaan itu keluar dari Juna saat melihat Kei yang datang sepulang dari kantor. Dan sia langsung menhampiri Juna yang berada di ruang tamu rumah kelaurga nya. "Ante Cla pulang kerumah nya sayang" kata Kei sambil mendudukan dirinya di samping Liam dengan Juna yang berada di gendongan pria itu sekarang. Kei mencium pipi gembul Juna sampai pria kecil itu merasa risih dengan perlakuan om nya. Sedangkan Kei sendiri tertawa melihat tingkah keponakan nya itu yang mengusap pipi nya yang memereah akibat ciuman yang dia lakukan bertubi tubi.. "Kei cukup, nanti Juna susah tidurnya" tegur Liam saat sang anak mulai menikmati kejahilan om nya dan rasa risih tadi hilang digantikan alunan tawa yang menggelegar tawa yang mampu mengundang tawa untuk orang yang mendengar nya juga. "Kei mandi sana, abis itu turun ada yang mau gw omongin sama lo" mendengar hal itu langsung saja Kei menatap ke arah Abang nya itu dengan tatapan bertanya. "Apa?" "Ini.... Tentang Lo sama Dhea" baiklah Kei mengerti, mungkin Abang nya sudah dengan keputusan bulat nya untuk mengakhiri hubungan dengan Dhea dan abang nya ini pasti sudah mendengar tentang apa yang sudah dia lakukan dengan hubungan nya dan Dhea *** 'tok tok tok' "Masuk" sahut Liam dari dalam ruang kerja nya, setelah makan malam tadi Liam langsung masuk ke dalam ruang kerja nya saat nyonya Kemal menidurkan Juna. Dan dia masuk kedalam ruang kerja nya sambil menunggu kedatangan dari Keiland. Dan bisa Liam lihat jika Kei lah yang memasuki ruangan kerja nya itu. Dan langsung menempatkan dirinya duduk di hadapan Liam dan menunggu abangnya ini untuk berbicara karena dia sendiri bingung harus meulai percakapan dari mana. "Gw tau Lo udah ngerti apa yang mau gw bicarain. Gw juga cuma mau negasin lagi tentang keputusan Lo itu" kata Liam terdiam sebentar sebelum melanjutkan "Lo yakin mau akhirnya semua nya sama Dhea? Maksud gw, sadar atau nggak lo mutusin pisah sama Dhea karna orang baru, emang orang itu udah pasti bakalan Nerima Lo?" Tanya Liam mengutarakan apa yang ada di pikiran nya saat tau Keiland ingin mengambil keputusan ini. "Gw nggak tau bang dia bakalan Nerima atau nggak, tapi gw bakalan berusaha buat dapetin hatinya dia" Jawab Kei dengan tegas, karena dia tau agak sulit untuk mendapatkan hati Clara "Gimana caranya? Besok gw yang udah balik ke perusahaan dan Lo harus ke Paris buat siapin acara pameran lukisan disana" ingatkan Liam kepada sang adik kalau kesempatannya untuk mendapatkan wanita incaran nya itu akan semakin sulit ketika pria itu kembali ke Paris. Kei diam tidak menjawab, sebenarnya ini pertanyaan Liam untuk kesekian kali nya. Jika berapa waktu yang lalu dia yakin bisa meluluhkan hati Clara, tapi sekarang dia mulai Ragu. Ya dia ragu karena mulai besok dia tidak akan bertemu lagi dengan Clara dan juga tidak terlihat akan mendapatkan balasan dari Clara karena gadis itu seperti bersikap biasa saja padanya. Dan menurut Kei Clara adalah wanita yang berbeda dari wanita lainnya, hati wanita itu terlalu silit untuk di tembus. Kei sudah mencoba menarik perhatian Clara, tapi sangat sulit karena wanita itu selalu membatasi diri di kantor dan menganggap keduanya hanya memiliki hubungan sebatas atasan dan bawahan, meskipun kenyataan nya begitu tapi Kei tidak suka. "Kenapa diam? Jangan bilang kalo Lo sendiri belum ada titik terang buat deketin orang itu? Dan Lo udah akhirnya hubungan sama Dhea kayak nya Lo gila deh" "Bisa atau nggak dapetin hatinya itu urusan belakangan deh, lagian gw juga nggak mau nyiksa Dhea dalam hubungan yang dimana nggak ada cinta didalam nya" kata Kei akhirnya karena memang itu keputusan yang terbaik. Ya, dia baru tahu jika Clara tidak lah sama dengan wanita pada umumnya yang sangat mudah tergoda dengan tampang dan juga harta. Dan menurut kei sendiri Clara seperti tidak memiliki gairah dalam mencinta. "Besok pagi Lo bawa dulu Juna kekantor, siang gw baru nyusul gw mau ketemu sama Dhea dulu sebelum dia berangkat ke Jerman" kata Liam dan membuat Kei menatap dengan dengan tatapan bertanya. "Ada urusan sebentar dan ada yang mau gua omongin" kata Liam lagi saat sadar akan tatapan Kei yang ingin tau tentang urusan nya dengan Dhea. "Jangan bilang kalo Lo selama ini suka sama Dhea bang?" "Sembarangan Lo!!" Semprot Liam yang tidak terima "Dhea itu sahabat dia" lanjut Liam lagi. Baiklah Kei mengerti kemana arah pembicaraan Abang nya itu, Kei satu satunya orang selain Dhea yang tahu kalau Liam menyukai mantan murid nya sendiri. Hal yang pernah membuat Kei mengolok olok abanya dengan sebutan p*****l sampai akhirnya dia tau kalau abangnya memang tulus menyukai wanita itu. "Di Jakarta Lo emang nggak dapet perkembangan apapun bang?" "Nggak, sama sekali nggak ada. Bokap nya dia udah gw tanya dan ternyata dia juga udah lama nggak ketemu sama keluarga nya. Atau dalam artian dia udah nggak dianggap lagi sama keluarga nya" kata Liam. Kei hanya tau jika gadis yang di sukai Liam adalah anak dari keluarga Wijaya siapa nama lengkap nya Kei tidak pernah diberi tahu oleh Liam, sedangkan Kei tidak pernah tahu kalau Dhea adalah sahabat dari gadis yang di maksud Liam. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN