Sheya tersentak begitu saja dari tidur lelapnya saat merasakan sebuah tangan memeluknya lebih erat diikuti kaki yang membelit tubuhnya cukup kuat. Sheya mengerang lirih sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, pelaku yang tiba-tiba saja memeluk dan membelit kakinya ternyataa adalah putrinya sendiri, seketika bibir Sheya menyungging senyum geli. Tangannya terulur untuk mengusap lembut puncak kepala sang putri lalu mengecupnya. “Sayang …” Bisik Sheya tanpa suara dan mencoba untuk melepaskan dekapan Sera. Dengan perlahan, Sheya menyingkirkan Sera dan memberikan guling untuk dipeluk oleh anak itu sebagai gantinya. Masnya sudah tidak ada di ranjang, entah subuh di mushola rumah atau justru pergi ke mushola yang tidak jauh dari rumah mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, dan She

