BAB 1 PENGKHIATAN YANG TERBONGKAR

1378 Kata
‘Kejadian itu sungguh diluar dugaanku. Aku memang bodoh, dengan mudahnya aku kena bujuk rayu Mas Bobby, yang jelas-jelas dia pacar Mbak Sastri. Sekarang aku harus bagaimana? Apa yang akan aku katakan pada Mbak Sastri nanti? Iya kalau benih itu tidak tumbuh di rahimku. Bila ternyata aku hamil anak Mas Bobby, gimana coba, sudah menyakiti Mbak Sastri masih melempar kotoran pula di wajah kedua orang tuaku. Bukannya apa-apa si, aku memang suka sama Mas Bobby, mencintainya, sampai-sampai cintaku buta. Aku akan menuntut tanggung jawabnya, hamil atau tidak, aku akan tetap menikah dengannya. Peduli apa dengan Mbak Sastri, bodo amat lah, aku butuh cinta...!’ Sastri membaca sepenggal cerita di buku harian Rita adiknya. Amarah menguasai hati dan pikirannya. Tak menyangka pacarnya berbuat diluar batas terhadap adik kandungnya. Dengan amarah yang berapi-api, Sastri mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya. Hati Sastri amat pedih. Betapa tidak, pacar yang diharapkan akan membahagiakannya ternyata berkhianat. Parahnya yang menjadi orang ketiga adalah adik kandungnya. Lebih celaka lagi, Bobby sang pacar juga sudah menodai Sastri. Dan pengkhianatan itu tak sengaja terbongkar ketika Sastri tanpa sengaja membuka buku harian Rita. Sastri masih menangis, masa depan dia dan adiknya hancur ditangan orang yang sama. Lebih menyakitkan lagi setelah tahu isi hati Rita yang dengan jelas mengatakan di buku harian itu, dia suka sama Bobby. Entah apa yang ada dipikiran mereka semua. Belum juga reda tangisan Sastri, Rita muncul di ambang pintu dan mendekati kakaknya. “Kenapa Mbak?” tanya Rita. Sastri tidak menjawab, justru tangannya yang terayun dan mendarat sempurna dipipi sang adik. Plak!! Rita berusaha menghindar, tapi tangan Sastri kembali terayun dan mendarat dipipi adiknya kembali. Plak!! Tampak cairan merah berbau anyir mengalir dari sudut bibir tipisnya Rita. Perlahan Rita mengusap cairan itu dengan punggung tangannya. “Apa-apaan si Mbak, main tampar-tampar aku begitu? Sakit tahu!” tangan Rita mendorong tubuh sang kakak hingga terhuyung dan hampir menghantam tembok. Sastri mencari keseimbangan, lalu katanya, “kamu benar-benar kurang aj** ya, apa maksudnya ini?” Sastri melempar buku harian adiknya, tepat mengenai jidat Rita. Rita mengaduh, diraihnya buku yang seharusnya bersifat rahasia itu, tapi karena keteledorannya atau entah karena kesengajaannya, buku itu terbaca kakaknya sebagian isinya. “Oh ini, jadi Mbak Sastri sudah tahu, apa salahku Mbak, aku juga menyukainya memang, dari awal bertemu malah, dan cintaku bersemi ketika Mbak Sastri ada di kampung. Mas Bobby kesepian.” Rita bercerita panjang lebar, seperti tanpa dosa. Kembali Sastri menghakimi adiknya. Plak! Plak! Dua tamparan manis mendarat lagi di kedua pipi Rita. Mata Rita memanas, dengan napas memburu kembali Rita akan membalas kakaknya, tapi dengan sigap Sastri menangkis pukulan adiknya itu. Rita menangis. Sastri meraih dagu adiknya dan memaksa untuk menatap matanya. “Hei, bukankah kamu punya mulut, harusnya kamu bilang dari awal, kalau memang suka padanya, dan dia juga suka padamu, aku akan melepasnya. Tapi sekarang apa, kesucianmu sudah kamu serahkan, Bobby juga sudah menggag**iku, hancur sudah semua...” Sastri memekik, menangis, kesal, marah, benci. Rita mengusap air mata, lalu katanya “gak usah sok suci Mbak, jangan nyalahin Mas Bobby yang berbuat begitu, Mbak kan sudah pernah berbuat juga kan sama...” “Cukup, itu masa lalu, dan ternyata kamu lebih rendah dariku, mata kamu b*ta, hatimu seperti batu, sengaja membuatku lebih hancur lagi, pergi kamu...” Rita mengeloyor pergi tanpa pamit. Entah apa yang ada di pikirannya itu, Sastri tidak tahu. *** ‘Ya Allah, kenapa semua jadi begini’ gumam Sastri. Sastri pergi ke tempat Bobby, bermaksud menanyakan perihal kejadian yang menimpa diri dan adik kandungnya itu. Amarah masih menguasai hati Sastri. Merasa sakit hati dan jijik membayangkan perlakuan kedua orang yang tak bermoral itu. Sastri mengetuk pintu kamar kost Bobby yang kebetulan bersebrangan dengan rumah kost yang ditempatinya. Tok, tok, tok! Tak berapa lama muncul wajah dibalik pintu. Wajah yang tak asing baginya. Bobby keluar hendak memeluk Sastri. Tapi belum sempat itu terjadi, tangan Sastri sudah terayun dan mendarat sempurna di pipi kiri Bobby. Plak! Plak! Bobby tak mengelaknya karena terkejut. Sedang Sastri yang masih dikuasai amarah, menggeretakkan gigi, dan memaki dengan napas tersengal disertai derai air mata. “Baj**gan kamu Mas, kenapa kamu lakukan hal yang sama terhadap Rita? Kamu merusak masa depan kami berdua” Sastri mengutuki Bobby dengan derai air mata di pipinya. Bobby menarik tangan Sastri dan mengajaknya masuk dan duduk di dalam kamar kostnya. Sastri menurut namun masih dengan amarah yang berapi-api. Rindu dendam bersemayam di hatinya kepada orang yang ada di hadapannya itu. Bagaimanapun, Bobby pernah memberinya warna dalam hidupnya. Sastri pernah sangat mencintainya. Dan kepadanya Sastri pernah memasrahkan jiwa dan raganya. Meski awalnya karena bujuk rayu Bobby, tapi akhirnya mereka melakukan karena suka sama suka. Cinta yang tumbuh bersemi, kini terkikis amarah. Tergerus kemurkaan Sastri. Cinta berubah menjadi benci. “Jawab Mas, kenapa kamu lakukan hal itu kepada adikku juga kepadaku?” Sastri berkata dengan mata menatap tajam ke arah Bobby. “Aku akan bertanggung jawab Sas, aku akan menikahimu” Bobby berkata dengan mudahnya seperti tanpa beban. “Kamu pikir itu menyelesaikan masalah Mas? Kamu gak mikirin Rita. Ughhh, kamu memang brengs**, baj**an, cara kalian seperti hewan.” Sastri terus memaki Bobby dan memukul-mukul dadanya. “Menikahlah dengan adikku, tapi sebelum itu terjadi bunuh dulu aku” Sastri melanjutkan kalimatnya. Bobby tergagap, tak menyangka kalimat itu meluncur dari mulut Sastri. “Maksud kamu apa Sas? Aku sama Rita itu tidak saling cinta, aku khilaf waktu itu, karena adikmu menggodaku, percaya kan kamu sama aku?” Bobby coba membela diri. Sastri dibuat bingung dengan pengakuan keduanya. Yang satu bilang jujur mencintai Bobby, tapi Bobby bilang digoda Rita. Sastri ragu menggeleng. Tak bisa dipungkiri kalo sesungguhnya Sastri sangat mencintai Bobby. Perlahan tangan Bobby terulur dan merengkuh Sastri dalam pelukan. Namun Sastri menolaknya. “Cukup Mas, jangan sentuh aku lagi, aku benci kamu, aku benci, ... “ Sastri memekik, air matanya kembali berderai. Perlahan Sastri bangkit dan berjalan menuju pintu hendak keluar. Bobby berdiri dan menahan langkah Sastri, diajaknya lagi Sastri masuk. Sastri menurut. Entah pesona apa yang ada pada diri Bobby, sampai-sampai Sastri bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya bila bersama Bobby. Entah setan apa pula yang merasuki mereka, hingga perbuatan terkutuk itu terjadi lagi. Dengan penuh rindu dendam, Sastri mendaki mahligai dosa bersama Bobby. *** Sastri seorang perempuan muda berusia sekitar 24 tahun, sudah bekerja di sebuah perusahaan bagian produksi sejak beberapa tahun lalu. Mengenal seorang laki-laki yang usianya terpaut 5 tahun dengannya. Dia Bobby. Mereka berpacaran sejak setahun lalu. Sebelum Bobby mengenal Rita, hubungan mereka baik-baik saja. Prahara datang setelah 6 bulan Rita menyusul sang kakak ke Jakarta juga. Pada awalnya Sastri tak pernah berpikir bahwa hal buruk itu akan menimpanya. Dari awal, Sastri melihat Rita akrab sama Bobby layaknya adik kepada kakaknya. Hingga suatu ketika Sastri jatuh sakit dan dia harus pulang untuk penyembuhannya. Kejadian nista itu terjadi ketika Sastri masih di kampung. Dan sekembalinya Sastri ke Jakarta, hubungan pun masih baik-baik saja. Bahkan Bobby menemui Sastri dengan wajah yang sangat merindu. Dengan alasan rindu yang teramat dalam, Bobby merayu Sastri, hingga luluhlah hati Sastri sampai mau menuruti kemauan Bobby, mendaki mahligai dosa dan berlayar di samodera yang akhirnya meninggalkan noda hitam dalam hidupnya. Naas, setelah kejadian itu, barulah terbongkar penghianatan Rita sang adik dan Bobby sang pacar, dengan ditemukan dan dibacanya buku harian Rita. Rita sendiri adik kandung Sastri. Usianya hanya terpaut 2,5 tahun. Mereka 2 bersaudara. Yang membedakan mereka yaitu dari wajah dan kulit mereka. Bila Sastri berkulit putih, bersih, wajah lonjong dengan dagu menggantung, supel, pandai bergaul, sedang Rita berkulit agak gelap sawo matang. Dari kecil mereka memang terlihat beda dari segi kemampuan bergaul. Rita cenderung diam. Sedang Sastri cenderung cerewet, mudah dikenal siapapun. Dari mereka kecil tak ada pembeda yang cukup berarti. Apa yang dibeli buat Sastri, Rita pasti dibelikan juga. Tapi setelah sama-sama remaja, di sekolah mereka suka kepada teman laki-laki yang sama. Sayangnya Rita bertepuk sebelah tangan, dan teman laki-laki itu lebih memilih Sastri. Hubungan mereka tak berjalan lama, putus, karena Sastri disukai orang lain dan lebih milih yang baru. Rita yang bertepuk sebelah tangan, merasa kecewa dan mendendam terhadap sang kakak. Dari situlah muncul rasa iri di hati Rita, dan ketika ada kesempatan, Rita membalaskan dendam dengan merebut Bobby dan melangkah terlalu jauh, hingga kehormatannya pun diserahkan untuk Bobby. *** Bersambung... Tinggalkan jejak ya gaes Komentar serta like nya, ratingnya juga Maaf kalau berantakan, masih pemula Semoga menghibur ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN