KEJUTAN MENYAKITKAN
Sudah 3 bulan lamanya penghianatan itu terjadi. Sastri sudah 2,5 bulan kurang lebihnya berada di kampung halamannya.
Hari-harinya berlalu dengan luka yang masih menganga. Mencoba menyusun kekuatan sendiri untuk menyembuhkannya.
Kegiatannya di rumah membantu pekerjaan bapak dan ibunya yang menjalankan usaha dagang. Sastri yang menunggu kios melayani pelanggan.
Seperti siang itu, ada pelanggan yang sedang dilayani keperluannya.
“Bapak membutuhkan apa ya?” tanya Sastri ramah.
“Nanti tolong dikirim semen yang biasa 10 sak, terus pasir 1 pick up, ditambah lagi asbesnya 20 lembar yang ukuran 3 meteran ya!” jawab seorang bapak pelanggan toko.
“Baik Pak. Saya catat dulu, nanti biar dikirim supir ya Pak! Ada lagi Pak yang dibutuhkan?”
“Sepertinya cukup Mbak. Oh ya, Mbak ini putrinya Pak Bardi pemilik toko ini kan?” lagi bapak itu bertanya.
Sastri tersenyum dan mengangguk, lalu katanya, “iya Pak!”
“Baru keliatan, ke mana selama ini?”
“Coba cari duit sendiri Pak, di ibu kota.” Jawab Sastri lagi.
“Oh ya, maaf ini atas nama bapak siapa ya Pak, takutnya nanti salah alamat?”
“Pak Bejo, gitu saja nanti sopirnya sudah paham, sering beli ko. Lha ini Mbak ko di rumah kenapa?”
“Pengin di kampung saja Pak, bantuin bapak sama ibu!” jawab Sastri.
“Lha iya lah, bapaknya di rumah punya usaha ya dibantuin, enakan di rumah kali Mbak!”
“Hmmm ya Pak, lebih asri!”
Cukup lama mereka ngobrol.
Dengan begitu, Sastri sedikit terhibur. Meski beban yang menghimpit belum terselesaikan, minimal, pikirannya sedikit rileks dengan kehidupan di kampung.
***
Siang itu, matahari bersinar sempurna. Langit biru terbentang, tak nampak sedikitpun gumpalan awan. Teriknya seolah membakar apa saja yang ada di bumi.
Sastri sedang duduk di serambi kiosnya, ketika ada seorang tukang pos datang mengantar surat.
“Selamat siang Mbak, ini ada surat buat Bapak Bardi!” ucap si tukang pos.
“Ya, mana suratnya Pak?”
“Ini Mbak, mohon tanda tangan di sini sebagai tanda surat sudah diterima.”
“Dan ini satu lagi buat Mbak Sastri. Bisa diterima sekalian Mbak?” lagi tukang pos itu memberikan sebuah amplop berisi surat.
Sastri menerima 2 buah amplop berisi surat dan membubuhkan tanda tangannya di tempat yang ditunjukkan oleh tukang pos tersebut.
Setelah tukang pos itu pamit, Sastri segera beranjak dan berjalan menuju rumahnya yang ada di belakang kios.
Sastri mencari bapaknya.
“Pak, ada surat buat Bapak!”
“Dari mana Sas?” tanya Pak Bardi sembari menerima amplop tersebut.
“Coba buka Pak, aku gak tahu!” jawab Sastri.
Pak Bardi membuka amplop dan membaca isi surat itu.
“Dari siapa Pak?”
“Dari adikmu!” jawab Pak Bardi singkat.
“Boleh aku ikut baca, Pak?” Sastri meminta dengan sopan.
Pak Bardi mengangguk dan menyodorkan lembar kertas tersebut.
Sastri meraih dan membawa surat itu ke kamarnya.
***
Di dalam kamarnya, Sastri mulai menelusuri huruf demi huruf yang terangkai menjadi kata, yang tersusun menjadi kalimat.
Sastri membaca dengan seksama surat yang dikirim Rita untuk orangtua mereka.
Jakarta, April 2004
Bapak dan ibu yang aku sayang,
Semoga setibanya surat ini di tangan kalian, Bapak, Ibu dan Mbak Sastri dalam keadaan sehat.
Aamiin.
Langsung pada intinya saja ya Pak!
Begini Pak, aku mohon bapak sama ibu datang ke Jakarta, aku mau dilamar. Tapi berhubung kerjaan yang tidak bisa ditinggal lama, maka aku meminta kesediaan kalian untuk ke sini.
Cukup itu saja Pak.
Aku mohon bapak datang di Minggu ini, karena rencana lamaran akan dilaksanakan hari Minggu siang.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya.
Salam
Rita
Deg.
Sastri meraba-raba, apakah Bobby kembali?
Lalu apa maksudnya semua ini bila sekarang Bobby kembali menemui Rita?
Mata Rita benar-benar telah dibutakan oleh cinta.
‘Kalau memang Bobby kembali, aku bisa apa? Biarlah, Bobby bertanggung jawab kepada salah satu dari kami’ Sastri menggumam.
Tegar.
Kuat.
Berusaha untuk menerima segala kemungkinan.
Tapi tetap saja rapuh.
Luka penghianatan itu masih lebar menganga, belum terobati.
‘Rita berhak memperjuangkan harga diri dan kehormatan yang telah terenggut, biarlah’ kembali Sastri menggumam.
Tanpa sadar, air mata menetes di pipinya. Meskipun dia juga berhak memperjuangkan seperti apa yang Rita lakukan, tapi apa daya, Sastri tak bisa memaksakan kehendak.
Dan dengan rasa penasaran, Sastri pun membuka surat dari adiknya. Surat yang tidak pantas disebut surat karena memang isinya semacam terror.
‘Mbak, mas Bobby kembali dan akan melamar lalu menikahiku. Seperti katamu waktu itu kan, tetap tutup mulut, jangan sampai bapak dan ibu tahu. Cukup lakukan itu saja Mbak, biar orangtua kita gak dapat malu!’
Sastri mencubit lengannya sendiri setelah membaca tulisan tangan adiknya, berharap itu hanya mimpi. Tapi ternyata masih sakit yang dirasakan pada bagian lengan yang dicubitnya sendiri, yang berarti bahwa itu nyata bukan mimpi.
Tanpa sadar, ada kristal benig pecah dan mengalir membasahi pipi.
Cinta buta itu sudah menyisakan luka menganga.
Sastri hanya bisa menangis dan tetap berpura-pura untuk bersikap biasa di hadapan orangtuanya.
***
Di ruang tengah. Pak Bardi dan sang istri sedang berbincang serius.
“Piye iki Bu, moso Rita mau melangkahi Sastri, kasihan Sastri Bu!”
“Lha gimana baiknya Pak, kita ke sana saja atau gimana?” sahut sang istri.
Pak Bardi menghela napas. Laki-laki 45tahunan itu, menatap istrinya.
“Ya sudah, besuk sore kita berangkat, tapi kita bicarakan baik-baik dulu sama Sastri!”
Sastri muncul dan menghambur di tengah-tengah mereka.
“Bapak sama ibu berangkat saja, aku gak apa-apa, mungkin jodoh Rita lebih dekat!” ucap Sastri datar.
Hanya itu yang diucapkan Sastri menanggapi masalah itu. Selanjutnya Sastri pamit ke kios lagi.
Daripada mikirin hal itu, mungkin lebih baik Sastri mengisi hari-harinya dengan hal positif.
Kalaupun memang laki-laki itu adalah Bobby, Sastri bisa apa.
Nyatanya apa yang ditulis Rita untuknya itu nyata, bukan mimpi.
***
Hari yang direncanakan Pak Bardi dan sang istri telah tiba. Sore itu juga mereka bertolak ke Jakarta.
Tinggal Sastri sendiri di rumah.
Seperti biasanya, membuka kios. Melayani para pelanggan.
Sekuat tenaga Sastri berusaha menepis pikiran yang mengganggunya. Berharap laki-laki yang akan meminang adiknya bukan Bobby. Walaupun pada kenyataannya, Rita sendiri yang mengatakan bahwa Bobby kembali dan sedang merencanakan lamaran dengan Rita.
Dan sisi hatinya berseru ‘kalau bukan Bobby siapa lagi? Apa iya Rita serendah itu menjalin hubungan dengan lebih dari satu laki-laki sekaligus dalam waktu yang sama? Ya Allah, semua yang terjadi adalah takdir-Mu, mampukan aku untuk menerima segalanya!’
Kios tak seramai biasanya. Sastri berpamitan kepada Parman supir bapaknya sekaligus orang terpercaya yang telah cukup lama bekerja di keluarga Pak Bardi.
“Kang Parman, tolong kios dijaga ya, saya mau pulang!” Sastri meminta tolong pada pegawai laki-laki yang usianya hanya terpaut 6 tahun dengannya.
“Ya Mbak, monggo!” sahut Parman. Sopan.
Sastri berlalu berjalan ke belakang kios menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Sastri masuk ke kamarnya, merebahkan diri di pembaringan. Pikirannya melayang, membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
***
“Bu, gimana nanti kita bicarakan sama Sastri ya, pihak Bobby mendesak waktu pernikahan. Apa iya Sastri benar-benar siap untuk dilangkahi?” tanya Pak Bardi, setibanya mereka pulang dari Jakarta.
“Insya Allah Sastri nerimo Pak. Lagi pula kan lebih cepat lebih baik, daripada terjadi hal-hal buruk, karena Rita jauh dari kita!” Bu Bardi menanggapi ucapan suaminya.
“Oh ya Bu, kemarin nomor telepon rumah calon kakak ipar Rita kamu simpan kan? Soalnya kalau Sastri sudah setuju dan bersedia dilangkahi, aku akan menelepon Bobby dan keluarganya untuk datang ke sini, kita adakan pernikahan mereka di kampung saja!”
Saat itu, Sastri muncul di depan pintu dan sempat mendengar nama Bobby disebutkan oleh bapak dan ibunya.
Air muka Sastri berubah, tapi dihadapan orangtuanya, Sastri pura-pura tidak apa-apa.
“Nah itu Sastri, sini Ndhuk, bapak sama ibu mau bicara!”
Sastri mendekat dan menjatuhkan p****t di kursi bersebrangan dengan bapak dan ibunya.
“Aku sudah dengar Pak, aku gak apa-apa!” ucap Sastri. Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
Lalu Sastri beranjak menuju kamarnya, mengenakan sweater dan keluar lagi.
“Kamu mau ke mana Sas?” tanya ibunya.
“Cari angin Bu, gerah di kamar terus!?” jawab Sastri sambil menyambar kunci motor di meja lalu pergi.
***
Di sebuah pematang sawah. Tampak Sastri duduk sendiri, sesekali tangannya melempar butiran tanah ke arah di depannya dan tak peduli apa yang di kenainya.
Merenungi nasib diri.
Sia-sia.
Karena kebodohannya yang dibutakan oleh cinta, kini dirinya seperti tak memiliki harga diri.
Mau marah pada siapa?
Mau membenci, benci siapa?
Bapak?
Ibu?
Mereka tidak tahu menahu kejadian yang menimpa dua anak gadisnya.
Dan sebentar lagi, Sastri akan menyaksikan dua orang yang telah menyakitinya bersanding di pelaminan.
‘Ya Allah, mampukah aku nanti menyaksikan mereka? Rasanya lebih baik aku mati saja, sakit ini sungguh teramat dalam. Aku juga mencintai Bobby, tapi aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku telah diperdaya olehnya. Ampuni aku Tuhan, aku putus asa!’
Tanpa dikomando, air mata Sastri luruh. Sakit. Dunia terlalu kejam.
Saat sedang kalut seperti itu, ingin rasanya mati saja. Mau bunuh diri tapi takut dosa. Tapi hidup pun seperti tak ada guna. Sudah berkalang noda, bermandi dosa pula.
Hanya air mata yang menemaninya. Menghujat pada siapa?
Bobby?
Indra?
Menyalahkan diri kenapa tak menerima Agung saja.
Tapi semua salah ada pada dirinya sendiri.
***
Sastri beranjak dari tempatnya duduk. Melangkah mendekati motornya. Menstarter, mengendarainya pulang.
Masuk ke kamar. Menguncinya dari dalam.
Terbaring menatap langit-langit kamar.
Ketika sedang melamun, tiba-tiba tubuhnya merasa meriang. Perutnya bergejolak. Mual. Pengin muntah.
“huek...”
“huek...”
“huek...”
Isi perut menuntut untuk dikeluarkan.
“Sas, kamu kenapa?” sang ibu panik mendengar Sastri muntah-muntah. Di ketuknya pintu kamar anak sulungnya itu.
Sastri membuka pintu dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya lemas.
“Sini ibu keroki. Kamu habis dari mana ko bisa masuk angin gini?” tanya sang ibu.
“Gak apa-apa Bu, nanti kalau sudah dikerok dan minum obat juga sembuh!”
Bu Bardi mengerok punggung putrinya.
“Kamu stress mungkin Sas, kalau kamu gak terima dilangkahi jujur saja, biar bapak sama ibu mengulang rembugan dengan keluarga Bobby...”
Mendengar nama Bobby, seketika perut Sastri mual kembali. Tapi tak ada yang dimuntahkan.
Kalau boleh jujur, malas Sastri mendengar nama penghianat itu disebut-sebut. Bahkan bila mungkin, sudah tak ingin lagi mendengar nama itu.
“Jangan Bu, rembug sudah jadi, tinggal itungan hari juga, jangan diulang apalagi sampai digagalkan, nanti keluarga mendapat malu?” Sastri menimpali ucapan ibunya.
Bu Bardi menghela napas.
Menatap mata sang putri dalam-dalam. Coba mencari kejujuran di sana.
“Tapi kamu jangan sakit hati yo Ndhuk, yang lapang, jangan stress!”
Sastri terdiam mendengar penuturan ibunya.
Sesungguhnya, Sastri tak dapat memungkiri bahwa di hatinya ada sakit yang teramat dalam, stress, tapi di hadapan orang tuanya, dia mencoba bersikap biasa. Menutupi kejadian sesungguhnya. Tak ingin membuat kecewa bapak dan ibunya.
“Sudah Bu, aku gak apa-apa, aku baik-baik saja!” Sastri coba meyakinkan ibunya.
Bu Bardi tersenyum dan bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari kamar Sastri.
Mendengar penuturan Sastri, ada rasa lega di hatinya.
***
Bersambung...
Jangan lupa like , komen dan ratingnya ya readers sayang ????????