Rubi dan Tamara bertatapan . Makanan yang sudah mereka masukkan ke dalam mulut mereka kini hanya mendekam di sana . Tidak ada proses pelembutan atau bahkan penelanan .
“Jangan kaget .” Ayahnya Rubi terkekeh .
Ayahnya Rubi ini mengatakan hal yang tidak seharusnya . Mereka berdua sudah kaget sebelum ayahnya mengatakan itu .
Tamara mengerjap lalu melakukan proses mengunyah . Dengan cepat menelan makanannya . Hal yang sama juga terjadi pada Rubi . Kelakuan Rubi dan Tamara membuat ibu dan ayah Rubi tertawa . Mereka benar – benar seperti sudah lama mengenal .
“Kunyah baik – baik .” Kata ibu Rubi membuat Tamara dan Rubi lagi – lagi melakukan hal yang sama .
Menganggukkan kepalanya .
Lagi – lagi ibu dan ayah Rubi terkekeh . Kemudian menyerahkan air minum untuk masing – masing mereka berdua . Ayah Rubi menyerahkan air minum pada Rubi dan ibu Rubi menyerahkan air putih kepada Tamara yang lebih dekat dengannya .
“Minum dulu .”
Ayahnya Rubi memang bisa selembut ini jika tidak sibuk . Tapi jika sibuk dan serius , ayahnya Rubi itu tidak bisa diganggu gugat .
“Ada apa dengan cerita adopsi itu , ibu ?” Tanya Rubi yang kemudian diangguki dengan tanda persetujuan dari Tamara .
“Ibu merasa prihatin terhadap Tamara waktu itu . Tamara punya luka cukup dalam di pelipisnya .” Ibunya Rubi memeriksa luka yang dijahitnya dulu , “bahkan sampai sekarang masih ada bekasnya .”
“Jadi waktu itu ibu jadi dokter uks di sekolah Tamara ?”
Ibunya Rubi mengangguk menjawab pertanyaan putri bungsunya itu .
“Sebenarnya , ibu juga sudah memperhatikan Tamara .” Ibunya Rubi menatap Tamara .
“Kenapa tante ?”
“Setiap kali ada luka , kamu selalu menyembunyikanya . Lengan Panjang atau jaket yang menutupi lengan atasmu .”
Ah , Tamara jadi ingat waktu itu . Dimana dia menutupi luka di lengannya .
Saat itu , luka Tamara di rasa sudah ada di lengan atasnya . Tidak bisa di tutupi dengan seragam lengan pendeknya . Jadi Tamara mengakalinya dengan memakai jaket atau seragam lengan panjang .
“Untung saja , lukanya tidak membekas lama .”
Ibunya Rubi kembali memeriksa lengannya Tamara dengan sepenuh hati . Dan dia cukup senang , tidak ada yang membekas di sana .
“Ibumu ini memang sangat memperhatikan anak remaja itu . Dan selalu membanding – bandingkan dengan kamu yang tidak mau belajar bahkan jika di paksa .” Ayahnya Rubi kini yang berbicara . Cara berbicaranya sangatlah lembut . Sangat mencerminkan kewibawaan seorang ayah . “Ibumu hanya tidak suka kamu bersikap malas – malasan . Dari sana ayah dan ibu berusaha membuatmu mandiri tanpa ayah dan ibu .”
Jadi itulah alasan kenapa ibu dan ayahnya Rubi tak menghiraukan Rubi .
“Rubi dikenal dengan anak pemalas . Paling malas diantara semua kakak – kakaknya .”
Rubi mendecak setelah ibunya selesai dengan kalimatnya , “membanding – bandingkan .” Katanya pelan tapi masih terdengar dengan baik oleh ibunya . Begitu juga telinga ayahnya yang masih baik dalam mendengar .
Ibunya terkekeh , “dalam hidup harus ada perbandingan agar kita bisa menjadi lebih baik . Jika tidak ada perbandingan , kamu tidak akan pernah tau , mana baik dan buruk .”
Ayah Rubi mengangguk pelan menyetujui apa yang ibunya Rubi katakan . Tamara jug dalam hati menyetujui itu . Perbandingan sangat penting dalam kehidupan . Jika tidak ada perbandingan , hidup akan datar dan tidak ada kata seberapa bahagia atau seberapa kesulitan dunia ini .
“Okay . Balik lagi ke topik pembicaraan .” Ucap Rubi yang tidak mau melanjutkan bahasan terhadap perbandingan hidupnya , “kenapa ibu mau mengadopsi Tamara ?”
“Ibu sudah lama memperhatikan Tamara , jadi ibu penasaran , kenapa Tamara selalu terluka . Dan luka di pelipisnya itu adalah yang terparah yang ibu lihat .” Ibunya Rubi sedikit tersenyum sedih , “dan ternyata itu adalah urusan keluarga Tamara . Yang sampai saat ini , ibu tidak tau kenapa ibu dan ayah Tamara menyiksa Tamara sampai melukai Tamara .”
Kini semua mata yang ada di meja itu menatap Tamara seakan meminta penjelasan dan jawaban dari pertanyaan yang belum sempat terjawab dari ibunya Rubi .
Tamara terkekeh , “itu masa lalu . Tidak usah di bahas hari ini . Intinya , ibu dan ayah tidak menyukai kehidupanku .” Tamara benar – benar sedang tidak mau membahasnya .
Rubi mengangguk , “terus kenapa ibu ga jadi adopsi Tamara ?”
“Ibu keburu dipanggil ke rumah sakit sebelum menyelesaikan pembicaraan itu .” Ayah Rubi yang membalasnya .
Tamara mengangguk , “pantas saja hari setelah itu , saya tidak melihat tante lagi .”
Ibunya Rubi terkekeh mendengar kalimat baku itu , “jangan terlalu formal , Mara .”
Tamara tertawa kecil , “belum terbiasa , tante .”
“Jadi , ibu dan ayah tidak bermaksud mencampakan aku ?” tanya Rubi sedikit penekanan di kalimatnya .
Ayah dan ibunya Rubi saling bertatapan lalu tertawa . “Kami memang menginginkan kau berfikir seperti itu sejak dulu . Dan membuktikan pada kami kalau kamu bisa sukses tanpa kami .” Ucap ayahnya kemudian .
Rubi mengegeleng – gelengkan kepalanya , “sangat jahat sekali kelakuan kalian .”
Tamara menyenggol lengan Rubi .
“Apaan sih , mereka memang sangat jahat .”
Ibu dan ayahnya Rubi tertawa melihat anak bungsunya yang sudah besar . Tanpa pengaruh dari ayah dan ibunya . Sudah menjadi seorang dokter . Dan itu benar – benar membanggakan .
“Kami bersikap seperti itu untuk memberikan sedikit cambukkan agar kamu bisa berfikir jika hidup ini tidak semudah itu .” Ibunya kini yang angkat berbicara , “tanya pada kakak – kakakmu . Kami juga memberlakukan itu juga pada mereka .”
“Beneran ?”
Anggukan dari ayah dan ibunya Rubi membuat Tamara tertawa . Dia membayangkan bagaimana jadinya jika Tamara benar – benar di adopsi oleh keluarga ini . Pasti sangat menyenangkan . Ditemani kakak – kakak yang sekarang sukses dan sudah berkeluarga . Ditemani oleh ayah dan ibu dengan ajaran kerasnya , dan tentu saja ditemani teman yang hampir seumuran dengan Tamara .
“Jadi secara tidak langsung aku menemukan kakakku yang tidak menjadi kakakku ?” Tanya Rubi .
Semua di meja itu tertawa .
Tidak ada kecanggungan lagi . Dan tentu saja , makan malam itu menyenangkan . Sangat menyenangkan . Seperti keluarga yang sebenarnya .
Tamara sendiri sudah lama tidak merasakan hal seperti ini . Tentu saja Tamara menikmati ini . Kapan lagi Tamara merasakan apa yang dinamakan keluarga .
“Jadi bu ?” Ucapan Rubi membuat ibu dan ayahnya berhenti mengunyah , termasuk Tamara .
“Kenapa Rubi ?” tanya ayahnya .
“Kenapa Mara ga di adopsi saja sekarang ?”