RUBI GERALDI NATUSION

1012 Kata
Tamara baru saja keluar dari ruang operasi . Ikut menyertai Dokter Sony dalam menyampaikan hasil operasi dan meminta Tamara untuk mengantar keluarga ke ruangan tunggu untuk menunggu pasien yang setelah di operasi dipindahkan ke ruangan yang bisa ditemui keluarganya . Dengan langkahnya yang ringan , Tamara sudah menolong orang dengan tangannya . Senyum Tamara tidak bisa lepas dari wajahnya . Itu yang membuat Rubi menyindirnya di ruangan kerja mereka . Tadi , setelah mengantar keluarga pasien , Tamara langsung masuk ke kantor atau tempat berkumpulnya orang – orang yang masih tidak memiliki ruangan sendiri di rumah sakit ini . Biasanya disebut ruang gabungan. Ada beberapa dokter di sini . Ada dokter yang masih belum di berikan satu ruangan khusus karena dirinya masih belum bisa menjalani operasi atau melakukan perekrutan asisten operasi . Rubi dan Tamara salah satu dari mereka . “Wah waaaah , yang udah operasi besar senyumnya sampe bibir mau robek gitu .” Tamara mendengus ketika mendengar celetukan Rubi yang mana teman sejawatnya . Walaupun tidak pernah sedekat itu , Rubi dan Tamara sering bersama . Apalagi bidang mereka sama . Bagian organ dalam dan bedah umum . Jadi , mereka lebih leluasa untuk mengobrol tentang pekerjaan . “Iri bilang , bos .” Kemudian Rubi tersenyum kecil memberikan satu kertas yang membuat Tamara kaget berdiri seketika setelah dia duduk di kursinya beberapa menit yang lalu . “Wah . Seriusan ? Dokter Hani ?” Rubi mengangguk lalu menepuk dadanya sendiri sambil berkata , “gila kan gue ?” Tamara berangsur duduk kembali di kursinya sambil masih membaca isi surat di sana . Pasalnya , dokter Hani yang barusan disebutkan oleh Tamara adalah dokter senior yang luar biasa di dalam segala bidang . Sepertinya , jika Tamara menanyakan tentang jantung , dokter Hani ini bisa menjawab . Jika ditanya tentang paru – paru dan saraf manusia apalagi . Dokter Hani atau sekarang bisa di panggil professor Hani akan masuk ke rumah sakit dimana tempat Tamara bekerja . “Lo ko bisa dapet kabar begini ? Dari mana ?” Tanya Tamara lalu menatap Rubi . “Lo pasti bakal kaget denger berita dari gue .” “Rubin ?” Kata Tamara lagi . Rubi sebenarnya tidak mengerti kenapa Tamara sangat mengagumi Professor Hani . Lagi pula , Tamara sudah tidak peduli tentang siapapun termasuk dirinya sendiri selain pacarnya itu . Ah bukan pacarnya . Bahkan Rubi bingung memanggil Derian apa . Status di antara mereka tidak jelas . Rubi tertawa saat melihat Tamara nampaknya tidak sabar . “Gue anaknya Professor Hani .” Tamara yang tadinya mau memarahi Rubi karena lama hanya untuk mengungkap satu hal dari mana Rubi mendapatkan surat itu mendadak diam menatap Rubi. . “Bercanda lo keterlaluan .” Tamara hampir saja mengumpat karena mengira Rubi mengerjainya . Sebenarnya , Tamara benar – benar mengangumi dokter yang sekarang bisa jadi dipanggil professor oleh semua orang itu . Ada satu masa dimana Tamara di tolong oleh Dokter Hani . Dan Tamara belum bisa membalasnya . “Lo kira gue boongin lo , Ra ?” Tamar mengangguk . Rubi segera mengeluarkan ponselnya lalu mengotak – atiknya sedikit kemudian menggeserkan ponselnya itu kepada Tamara . Tamara mendengus lalu melihat apa yang ingin Rubi tunjukkan padanya . Dengan cepat Tamara menatap Rubi setelah menatap ponsel yang tadi Rubi berikan kepada Tamara . “Lo serius ?” Rubi mengangguk , “lo ga tanya nama tengah gue ?” Tamara diam . Yang Tamara tau , nama Rubi hanyalah Rubi Nasution . Nama tengah Rubu jarang di ketahui orang banyak . Termasuk Tamara . Terkadang , Rubi merasa aneh jika nama tengah itu ada di tanda pengenal yang mengantung di lehernya itu . Bukan aneh . Namun tidak nyaman . “Rubi Geraldi Nasution .” Tamara lagi – lagi tidak bisa berkata apa – apa . “Dan lo pasti udah tau nama lengkap Professor Hani .” Sekarang Tamar mengangguk , “Hanifa Geraldi Himawan .” Rubi juga mengangguk lantas terkekeh , “Lo ga ngeuh karena ga ada nama belakang bokap gue di nama nyokap gue ‘kan ?” Lagi . Tamara mengangguk tanpa berkata apa – apa . Tamara jadi ingat di masa sekolahnya . Ada dokter uks di sekolahnya yang mengobati luka Tamara . "Ya ampun . Kenapa luka kayak gini ga di jahit ?" Tamara tersenyum kecil, "kemarin udah saya obtain , Dok . Cuman tadi ga sengaja ke senggol . Jadi darahnya keluar lagi ." Tamara sedang di UKS kali ini. Tentu saja Derian yang mengatarnya. Sekarang entahlah , Derian pergi kemana . Karena tadi setelah memanggilkan dokter sekolah , Derian langsung keluar lagi tanpa memberitahukan akan pergi kemana . "Di jahit dulu ya ?" Tamara meremas tangannya sendiri. Sebenarnya, bukan ini yang Tamara mau . Tamara hanya tidak mau lukanya meninggalkan bekas . Dan setahu Tamara , luka bekas jahitan mungkin meninggalkan bekas setidaknya sekecil mungkin . Bukan karena Tamara terlalu menampilkan fisiknya . Tapi karena Tamara tidak mau mengingat kenapa luka itu bisa ada di sana . Seragam Derian sedang Tamara pengang diatas pahanya . Tamara akan mencucinya dan mengembalikan lagi nanti jika seragamnya sudah bersih . Tamara juga meminta kekuatan Derian memalui seragamnya agar bisa menahan sakit dari jahitan di lukanya . Entahlah . tapi itu ampuh untuk Tamara saat itu . Selain itu ada beberapa kasus kejadian yang harus Tamara hadapi dengan bantuan dari dokter sekolah itu . Dimana dokter sekolah itu adalah dokter Hani yang masih muda . “Ra ? Lo habis ini mau kemana ?” Rubi bertanya pada Tamara yang diam sedari tadi . “Ga kemana – mana . Kenapa ?” “Lo bilang hari ini Derian udah berangkat ke Surabaya ?” Tamara mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya mendekati tempat pembuat kopi di ruangan itu . Rasanya , Tamara lelah dan butuh sedikit kafein . “Jalan sama gue mau ga ?” Tamara yang masih menunggu mesin kopi mengeluarkan kopinya berbalik menatap Rubi . Rubi jelas seorang perempuan dengan temperamental yang baik . Sikapnya sangat sopan dan juga jarang mau bergaul dengan yang lainnya selain teman sekamarnya . Tamara termasuk yang paling dekat dengan Rubi . Dan jika Tamara menolak keinginan Rubi , rasanya akan sangat jahat sekali . Rubi tidak punya teman dekat lagi . “Kemana ?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN