17.Apa benar menyukainya ?

1442 Kata
Happy reading.. semoga kalian suka dengan ceritaku ini.. salam kenal semuanyaa..?? ** Sampai di atas yaya membuka mukenanya terlebih dahulu dan memakai cardigan dan tidak lupa dengan kerudungnya, memakainya asal, karena sebelumnya hanya memakai kaos berlengan pendek serta sarung khusus wanita seperti biasanya. lalu yaya menghampiri alika dan via yang sedang mengobrol tentang kenangannya dulu sebelum masuk ke pondok pesantren. mereka mengobrol dengan pelan karena takut mengganggu yang lain, yang sedang istirahat. "Al, via.." panggil yaya, pada mereka dengan berbicara pelan juga. setelah berada di dekat mereka dan sedikit membungkuk. Alika dan via langsung melihat pada yaya, "Apa ya,?" tanya alika. "Aku laper. bikin mie yukk ??" ajak yaya, sembari memegang perutnya dengan wajah memelas. alasannya. Via langsung terduduk dari tidurnya, "Boleh tuh! aku juga laper, hehhee.." ujarnya semangat. Yaya tersenyum senang karena berhasil mengajak via, lalu mengalihkan pandangannya pada alika, "Kamu al ?" tanyanya. "Kalian aja deh, berdua. aku masih kenyang." ucap alika, sedikit tidak enak menolaknya, tetapi perutnya masih terasa kenyang. "Yahh.." yaya sedikit kecewa, tetapi tidak bisa memaksa. "Gak papa deh. tapi temenin kita yahh ??" pintanya. Alika menghembuskan nafasnya dan tersenyum, "Yaudah, aku temenin kalian." ucapnya. Yaya diam-diam tersenyum, karena berhasil mengajak alika ke bawah, walaupun sedikit membohonginya. tetapi tidak berbohong kalau dirinya memang merasa lapar. Via dan alika berjalan terlebih dahulu ke dapur, sementara yaya mengikuti di belakangnya. sebelum kedapur, yaya membuka penutup jendela dengan pelan supaya tidak terdengar oleh alika dan memberi tahu rizal. Yaya mengisyaratkan rizal untuk mendekat ke jendela yang di dekat pintu pada hamdan dan zidni yang sedang duduk di bangku luar, yang menghadap ke arah jendela. zidni dan hamdanpun melakukannya. "Nanti kamu tinggal ketuk aja pintunya, tapi jangan langsung sekarang. tunggu beberapa menit dulu, pura-pura aku nggak tahu, oke!" bisiknya pada rizal. rizal mengangguk mengerti. Zidni yang penasaran langsung bertanya pada yaya, "Ada siapa aja ya, ?" tanyanya. tetapi yaya langsung mengisyaratkan pada mereka untuk diam dengan tangannya dan menyuruh zidni dan hamdan menjauh dari jendela karena takut ketahuan oleh alika dan segera menutupnya. Di dapur, alika dan via sedang menyiapkan pancinya dan akan menyalakan apinya, untuk memasak. karena disana memang masih memakai tungku untuk memasak. hanya di pondok saja sih lebih tepatnya. "Abis ngapain dulu ya ?" tanya alika, ketika yaya berjalan ke arah mereka. karena setahunya tadi, yaya berjalan persis di belakangnya. "Okhh!, aku tadi balik lagi ke atas, ada yang ketinggalan soalnya." jawab yaya, terkekeh dengan canggung. "Okhh.." ucap alika santai, sembari mengangguk. "Ya, aku nyerah deh kalau nyala'in apinya. aku nggak bisa. kamu aja yahh." ujar via menyerah. padahal belum melakukannya. "Apalagi aku." kata alika ikut menimpali. Yaya menggeleng pelan, "Di coba juga belom." katanya. "Yaudah biar aku aja." lanjutnya. lalu yaya mulai menyalakan apinya karena air dan pancinya sudah siap di tungku. Itu salah satu alika suka pada yaya dan berteman dekat dengannya. karena dia pintar memasak dan alika bisa belajar sedikit-sedikit darinya. meskipun yaya orangnya dari cara jalan dan pakainnya sedikit tomboy, juga sedikit bar-bar orangnya, tetapi dia sangat baik. selama alika mengenalnya. alika hanya melihat mereka saja tanpa membantu. mungkin hari ini alika sedang dalam mode batu, karena sedang malas melakukan apapun. Setelah beberapa saat, apinya sudah menyala. via sampai berdecak dan menggelengkan kepalanya kagum, melihat kelihaian yaya dalam urusan dapur. "Wahh.. emang bener, kamu hebat banget ya." kata via memuji, "Kalo aku nih ya, yang nyala'in apinya, mungkin belum nyala juga sekarang." lanjutnya. "Kalau sering juga nanti bisa sendiri." kata yaya merendah. karena menurutnya itu hal yang biasa dan itu memang pekerjaan seorang wanita pada umumnya. bukan berarti tidak bisa, tetapi belum terbiasa sendiri. karena memang kalau memasak mereka saling membantu sama lain. Sementara di luar, ketiga para cowok itu sedang menguping di depan pintu. berjajar. rizal berjongkok paling bawah, zidni di tengah dan hamdan berada di atasnya. "Udah pas waktunya kali yah..? gue ketok." batinnya rizal. Tok,tok,tok... Sontak, alika, via dan yaya langsung melihat ke arah pintu yang terhalang oleh lemari besar yang ada disana dan saling berpandangan satu sama lain. "Siapa yah ??" tanya via pelan, pada mereka berdua. alika mengangkat bahunya tidak tahu dan tidak mau tahu. "Coba kamu cek deh." ujar yaya pada via. "Ikhh! kok aku ?" kata via. "Ya aku mau bikin mie." kata yaya. "Ya aku juga mau bikin mie dong!" protesnya via. "Udah, bikin mie nyaa biar aku aja." usul yaya. Lalu via melihat pada alika, "Kamu aja teh sana! kamu kan nggak bikin mie." ujarnya. Alika membulatkan matanya, "Ikhh! kok malah aku?, nggak nggak!" protesnya, menggeleng keras menolaknya, "kalian aja sana ikhh!" alika tidak perduli. Mereka berdebat dengan pelan. "Iya al, kamu aja sana gih!" yaya ikut menyuruh alika, pura-pura tidak tahu. Alika menempelkan telunjuknya pada bibirnya, "Syutt! syutt!!. aku nggak mau tahu. kalian aja, sana sana!" alika mengibaskan tangannya menyuruh mereka saja yang pergi ke dekat pintu. Rizal yang merasa tidak ada tanda-tanda orang di balik pintu itupun kembali mengetuk lagi. Tok,tok,tok... "Udah kamu aja vi." ujar yaya. "Udah deh, daripada kalian ribut nggak jelas, mending kalian berdua aja sana." kata alika menengahi, ketika melihat via akan membalas ucapan yaya. via mendengus kesal melihatnya. "Biar aku yang jagain ini." tunjuk alika pada tungku, "nanti kalau airnya udah mateng, aku panggil kalian." lanjut alika lagi. Yaya langsung saja menarik tangan via, untuk mendekat kearah pintu. daripada semakin lama nantinya, karena mereka yang sibuk berdebat, pikirnya. "Kamu langsung tanya aja vi." ujar yaya berbisik di dekat telinga via, sembari memegang lengannya. via mengangguk. "Siapa ?" tanya via langsung berbisik, setelah berjongkok di depan pintu dan menempelkan telinganya. "Ada alika nggak ?" tanyanya langsung, tanpa menjawab pertanyaannya. Via langsung melihat pada yaya dan yaya segera menempelkan telunjuknya pada bibirnya, menyuruh via untuk diam. "Kenapa emangnya ?" tanya via lagi, berbisik. "Bisa minta tolong suruh alika kesini nggak ?" bisiknya. "Oke!, kalo alika nyaa mau." kata via berbisik. Karena penasaran, via beranjak berdiri dan berjalan mengendap-ngendap agar tidak ketahuan oleh orang yang di luar. berniat mengintip siapa yang ada di luar itu dari jendela. karena memang pintu dari luar masuk ke dapur dan dari dapur kedalam persis bersebelahan, serta tangga, akses menuju ke atas yang berada di depan jendela dekat pintu. yaya mengikutinya di belakang. Setelah melihat siapa saja yang berada di luar itu. via berbalik dan ber Oh tanpa mengeluarkan suaranya. "Sstt.." yaya langsung mengisyaratkan via untuk diam. Via melebarkan matanya sedikit dan langsung menunjuk yaya dengan tangannya, seperti bertanya, "Jadi kamu tahu ?" yaya langsung mengangguk, mengerti isyarat via dan menyuruhnya untuk diam saja, pura-pura tidak tahu. Lalu mereka berdua kembali lagi kedapur, pada alika yang berada disana. "Teh. disuruh kesana tuh." kata via, setelah berada di samping alika. Alika mengerutkan dahinya, "Mau ngapain ??" tanyanya melihat pada via. via mengangkat bahunya tidak tahu, yaya menggeleng, kala alika melihat padanya. "Nggak akhh! mau ngapain juga." kata alika, tampak tidak perduli. "Ya coba aja dulu kesana. siapa tahu penting." bujuk via. Yaya dan via terus membujuk alika dan memaksanya untuk pergi ke depan pintu, karena ada yang mau berbicara dengannya. terus-terusan hingga membuat alika pusing sendiri mendengar ocehan mereka berdua, yang melebihi ibu-ibu di pasar sepertinya. Dengan kesal, alika berjalan ke arah pintu. "Siapa ?" bisik alika sedikit ketus. di samping pintu setelah berjongkok. "Ini gue, rizal." bisiknya "Okhh. mau apa ?" tanya alika. nadanya melunak, setelah tahu siapa dia. "Gue mau ngomong sama lo, sebentar. bolehkan??" bisik rizal. sebelumnya rizal telah menyuruh hamdan dan zidni menjauh terlebih dahulu, darinya. karena rizal tidak ingin mereka menggangunya. Tiba-tiba alika teringat tentang omongan hamdan tadi, sebelum mengaji. bahwa rizal mengajak alika ngeutrek. ternyata rizal benar-benar datang kesini, pikirnya. "Mau ngomong apa ?" tanya alika. "Gue suka sama lo." kata rizal. alika hanya terdiam tidak merespon. rizalpun kembali melanjutkan, "Gue beneran suka sama lo, dan itu bukan cuma omongan mereka doang, tentang perasaan gue ke lo. lo mau nggak, jadi pacar gue ??" lanjutnya. rizal harap cemas menunggu jawaban alika akan seperti apa. Alika bingung harus menjawab seperti apa, "Tapi kita kan kenal belum lama, masa kamu udah suka aja sama aku ?" tanya alika, heran. "jangan suka bercanda deh." kata alika. "Gue nggak bercanda. gue beneran suka sama lo, gue serius." ucap rizal meyakinkannya. Alika terdiam menunduk, memikirkannya. apa rizal benar-benar menyukainya ?, tapi dari kapan ?. kenapa menyukainya, kenapa tidak yang lain saja ?, pikirnya. padahal banyak yang lain, yang lebih cantik dan lebih pintar darinya. kenapa rizal malah menyukainya, yang hanya gadis biasa-biasa saja ?. alika tidak tahu harus menjawab seperti apa, hatinya bimbang. "Maaf-" "Oke! oke! gue ngerti." ucap rizal memotong perkataan alika. "Lo gak harus jawab sekarang. gue bakal tunggu jawaban dari lo, sampai lo bener-bener siap. gue bener-bener serius tentang perasaan gue ke lo dan gue nggak bercanda sama sekali." ucap rizal terdengar serius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN