"Selamat pagi, Nona."
Vony tersenyum tipis saat seorang perawat masuk ke kamarnya, mengecek infus dan melakukan pemeriksaan rutin.
"Anda sangat beruntung karena bisa tiba di rumah sakit tepat waktu. Andai telat sepuluh menit saja, mungkin sampai saat ini Anda belum bangun," ucap perawat itu.
"Apakah keadaan saya separah itu?" tanya Vony.
Perawat itu mengangguk. "Tubuh Anda sempat menggigil selama lebih dari dua jam. Anda hipotermia. Dan hampir saja itu merusak sistem syaraf Anda."
"Tapi untungnya Tuan Harrison berhasil menyelamatkan Anda. Beliau juga mengalami hipotermia. Dan lengannya tergores cukup dalam."
"Tuan Harrison?" ulang Vony. Ia merasa asing dengan nama itu.
"Ya. Orang yang telah menyelamatkan Anda dan membawa Anda ke rumah sakit ini," jawab perawat itu.
"Ah... Tuan Liam? Dia memperkenalkan dirinya pada saya dengan nama William."
"Ya. Dia adalah Tuan Harrison, Nona. Beliau sangat khawatir saat melihat tubuh Anda menggigil. Beliau sampai hampir telat mendapat penanganan demi untuk menunggu keadaan Anda membaik. Saya rasa... beliau sangat mencintai Anda."
Vony terperangah sekejap. Sepertinya perawat itu telah salah sangka mengenai hubungannya dengan Liam.
"Tidak. Bukan seperti it-"
"Tuan Harrison adalah pasangan dan calon ayah yang sangat sempurna. Anda sangat rugi bila melewatkannya," potong perawat itu dengan binar di matanya.
"Sebenarnya saya bukan-"
"Nona, Anda harus lebih semangat dalam menjalani hidup! Tidak banyak orang yang memiliki keberuntungan seperti Anda. Saya yakin, Anda akan memiliki kehidupan yang bahagia, karena Anda memiliki sosok pelindung seperti Tuan Harrison."
Vony hanya bisa menghela napas panjang. Andai saja perawat itu tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Namun, Vony sadar. Ia tak bisa menceritakan hal itu pada sembarangan orang.
Keberadaan anak yang ada di rahimnya kini harus ia sembunyikan. Jangan sampai orang-orang tahu kalau dia sedang hamil. Khususnya Gabriel.
Suara pintu terbuka membuat Vony dan perawat yang bersamanya menoleh.
Perawat itu tersenyum. "Karena Tuan Harrison sudah datang, maka saya pamit permisi."
Liam mengangguk. Setelah itu berjalan santai ke arah Vony, sambil membawa sebuah paperbag.
"Tuan Liam? Anda datang lagi?"
Setelah meletakkan paperbag-nya di atas nakas, Liam membalas tatapan Vony. "Aku sudah bilang, kan. Aku akan menjagamu dan tak akan membiarkanmu merasa sendiri lagi."
Vony merasa sungkan. Biar bagaimana pun juga hubungannya dengan Liam tidak sedekat itu. Tak nyaman rasanya jika harus terus merepotkan lelaki dewasa tersebut.
"Tapi..."
"Bagaimana dengan keluargamu? Kamu... tak ingin memberi tahu mereka soal keadaanmu sekarang? Setidaknya mereka harus tahu kalau kamu sedang sakit." Ucapan Vony terintrupsi oleh perkataan Liam.
Vony menggeleng cepat. Ia masih tak sanggup membayangkan akan seperti apa reaksi mami dan kakaknya jika mereka tahu apa yang telah terjadi padanya.
"Saya sudah terlalu banyak mengecewakan mereka. Saya belum siap untuk berhadapan dengan mereka lagi."
Liam terdiam sejenak. Ia berusaha menyelami pemikiran Vony, agar perkataannya tak menyakiti hati wanita yang sedang berada di titik paling rapuh itu.
"Tapi suatu hari, mereka tetap pasti akan tahu, kan? Kecuali jika kamu memutuskan untuk menyerah pada bayimu," ucap Liam.
Vony menggeleng kecil. Ia menyentuh perut datarnya dengan lembut. "Akan saya pikirkan nanti. Tapi soal anak ini... saya akan lakukan apapun untuk mempertahankannya. Saya... saya menginginkannya. Hanya dia sumber kekuatan saya dalam menjalani hidup saat ini."
Liam tersenyum penuh arti. "Itu keputusan yang terbaik. Aku akan mendukungmu. Jika kamu membutuhkan bantuanku, katakan saja! Aku pasti akan selalu mendukungmu."
"Terima kasih, Tuan Liam." Vony masih tak mengerti kenapa Liam begitu baik padanya. Mereka tak pernah saling mengenal. Dan tidak mungkin juga orang seperti Liam akan begitu mudah jatuh hati pada seorang wanita.
Apalagi, wanita kotor seperti Vony, yang kini bahkan sedang mengandung anak dari seorang pria yang entah berada di mana keberadaannya.
"Oh iya, Vony. Aku sudah bicara pada dokrer. Dan kondisimu sudah stabil. Mungkin dua atau tiga hari lagi kamu akan diizinkan pulang. Tapi, apa ada seseorang yang bisa merawat dan menjagamu di rumah?"
"Benarkah? Saya sudah boleh pulang? Syukurlah..." balas Vony. "Saya tinggal sendiri di negeri ini. Tapi, Anda tidak perlu khawatir. Saya bisa menjaga dan mengurus diri saya sendiri. Kejadian kemarin, saya pastikan tidak akan terulang lagi."
"Kamu yakin? Jujur saja, aku tidak tega-"
"Saya yakin, Tuan Liam. Selama ini saya bisa mengurus diri saya sendiri. Yang kemarin itu, saya akui saya hanya sedang khilaf, termakan emosi sesaat. Lagi pula saya punya banyak kesibukan di luar rumah. Pikiran saya pasti akan lebih cepat teralihkan," terang Vony.
Liam menghela napas panjang, kemudian mengangguk. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa memaksa. Kemarikan ponselmu! Aku akan memasukkan nomorku ke kontak daruratmu."
"Tuan..."
"Kamu tidak punya siapa-siapa di negeri ini. Bahkan keluargamu juga tidak boleh tahu soal keadaanmu. Lalu, jika terjadi apa-apa padamu, siapa yang bisa kamu hubungi?"
Vony terdiam sejenak. Ia sendiri tidak tahu. Keyakinannya tak sebesar apa yang ia katakan pada Liam sebelumnya. Ia hanya tak ingin semakin membebani pria itu.
Dengan jasa Liam selama ini saja, Vony tidak yakin dirinya dapat membalasnya. Apalagi jika ia membiarkan Liam terus terlibat dalam kehidupannya di masa mendatang.
"Vony..."
"Apa tidak apa-apa?" tanya Vony ragu.
Liam terkekeh sebentar. Ia meraih ponsel Vony yang ada di atas nakas, lalu memasukkan kontaknya sendiri di sana.
"Mulai sekarang, kamu bisa mengandalkanku. Aku akan menjagamu dan bayimu, sampai suatu hari aku bisa memastikan kalian memiliki kehidupan yang lebih baik."
Vony diam terperangah. Jantungnya berdebar hebat. Setelah rasa takut yang terus melingkupi hatinya sejak kedatangan tiba-tiba Gabriel malam itu, malam di mana ia kehilangan kesuciannya di tangan sahabatnya, ini adalah kali pertama Vony bisa merasakan perasaan aman.
Hanya dengan ucapannya, Liam bisa membuat hati Vony menghangat dan dilingkupi rasa aman.
"Benarkah? Apa kali ini aku benar-benar memiliki seseorang yang bisa melindungiku?" batin Vony penuh harap.