Bella menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan nama Nancy terpampang jelas di sana. Sebagian dari dirinya merasa tak sanggup untuk berbicara dengan siapa pun malam ini. Tapi suara dalam benaknya mengatakan bahwa ia butuh seseorang, seseorang yang bisa mendengarkannya.
Dengan enggan, Bella menjawab panggilan tersebut dan menempelkan ponselnya ke telinga.
“Halo...” suaranya nyaris berbisik.
“Bella! Astaga, akhirnya kau angkat juga,” sahut suara ceria di seberang. “Aku kira kau sudah tidur.”
Bella terdiam sejenak, mencoba menata emosi sebelum menjawab, “Belum. Aku belum bisa tidur sama sekali.”
“Hmm? Jangan bilang, jika ini ada hubungannya dengan Julian lagi?”
Ucapan Nancy terdengar lembut, namun cukup tajam. Seolah ia tahu dengan pasti apa yang tengah dialami oleh Bella. Dan memang benar, Nancy tahu segalanya. Mulai dari penolakan, ketegangan, sampai keluhan terdalam Bella soal Julian, semuanya pernah Bella ceritakan.
“Iya,” jawab Bella pelan. “Masih tentang itu.”
“Ya ampun, Bel...” suara Nancy menurun, terdengar empatik. “Aku benar-benar ikut kesal mendengarnya. Kau tahu, kan? Setiap kali kau cerita, aku rasanya ingin menyeret pria itu dan memaksanya melihat betapa cantik dan berharganya istrinya sendiri.”
Bella hanya tersenyum hambar.
“Kau sudah mencoba segalanya, kan?” lanjut Nancy.
“Sudah, Nance. Aku bahkan memakai lingerie merah maroon malam ini. Warna dan gaun yang paling dia suka. Tapi tetap saja dia menolakku. Bahkan berkata kasar.” Suara Bella bergetar. Ia menggigit bibirnya untuk menahan air mata. “Aku merasa seperti pengemis cinta di rumahku sendiri.”
Suara Nancy kembali terdengar setelah beberapa detik hening. “Aku tidak tahan mendengarnya. Jujur saja, Bel, aku ingin langsung datang sekarang dan memelukmu.”
“Jangan sekarang. Ini sudah larut,” jawab Bella.
“Kalau begitu, izinkan aku ke rumahmu besok pagi. Aku baru pulang dari luar kota siang tadi, dan aku benar-benar merindukanmu. Sudah seminggu kita tidak bertemu,” ujar Nancy dengan nada ceria yang dibuat senatural mungkin. “Kau juga pasti butuh teman bicara langsung, bukan?”
Bella mengangguk kecil meski tahu Nancy tak bisa melihat. “Iya. Akan menyenangkan jika kau datang.”
“Aku akan bawakan kopi favoritmu. Dan mungkin beberapa camilan manis untuk memperbaiki suasana hatimu.”
“Terima kasih, Nance. Kau benar-benar satu-satunya tempatku bercerita.”
Nancy tersenyum di ujung sana. Senyum kecil yang tidak bisa dilihat Bella. Senyum yang menyimpan banyak rahasia.
“Jam sepuluh, ya?” tanya Nancy lagi, seolah memastikan.
“Baiklah, aku akan menunggumu.”
“Baiklah, sayang. Istirahatlah dulu. Kau harus tetap kuat. Ingat, kalau dia tidak menghargaimu, bukan berarti kau kehilangan nilai. Justru dia yang kehilangan seseorang yang bersedia mencintainya tanpa syarat,” ujar Nancy lembut.
“Terima kasih, Nancy. Kau benar-benar tahu cara menenangkanku.”
“Karena aku sahabatmu,” jawab Nancy cepat. “Selamanya.”
Telepon terputus. Bella memandang layar ponselnya yang kini kembali gelap, lalu mendesah pelan. Dalam hati ia bersyukur memiliki Nancy—sahabat yang selalu ada, yang mengerti isi hatinya, yang tidak menghakimi meski keluhannya terdengar berulang.
Namun yang tidak Bella ketahui adalah, di balik empati itu, Nancy menyimpan sebuah rahasia besar. Rahasia yang baru-baru ini terjadi di kota asing, saat Nancy dan Julian secara tidak sengaja bertemu dalam acara gala di hotel bintang lima. Sebuah pertemuan yang awalnya tidak direncanakan.
Nancy tidak pernah berniat tidur dengan suami sahabatnya sendiri. Namun malam itu, dibalut alkohol, rasa penasaran, dan niat iseng semata, Nancy tergoda untuk membuktikan sendiri klaim Bella bahwa Julian telah kehilangan gairah terhadap wanita.
Dan anehnya tanpa butuh waktu lama, Julian menyambut semua sentuhannya.
Nancy meneguk napas panjang, duduk di tepi ranjang apartemennya. Di tangannya, ponsel yang tadi ia pakai untuk menelepon Bella masih menyala. Ia membuka galeri, kemudian menghapus satu per satu foto hotel tempat mereka menginap, tiket, dan bahkan satu swafoto kabur yang hanya menampilkan siluet tubuh pria dan wanita di balik kaca berembun.
Tidak boleh ada jejak dan tidak boleh ada yang tahu.
Nancy tahu dirinya bersalah. Tapi justru karena rasa bersalah itulah ia harus memastikan bahwa Bella tidak akan pernah tahu apa pun. Dan karena itulah, ia harus kembali menemui mereka. Menemui Bella, untuk menutupi rasa curiga. Dan menemui Julian untuk memastikan apakah pria itu benar-benar hanya terbakar sesaat, atau memang mulai tertarik padanya.
Dan jika itu benar...
Maka segalanya akan menjadi jauh lebih rumit.
+++
Pukul sepuluh tepat, bel rumah Bella kembali berbunyi.
Wanita itu baru saja selesai menuangkan kopi ke dalam cangkir ketika suara denting itu terdengar. Ia buru-buru meletakkan teko di atas meja, lalu berjalan ke arah pintu. Langkahnya begitu pelan, meski wajahnya masih menyimpan bayang-bayang kelelahan emosional dari malam sebelumnya.
Begitu pintu dibuka, senyum cerah langsung menyambutnya.
“Selamat pagi, Sayangku!” sapa Nancy sambil membuka kedua tangannya.
“Nancy…” Bella membalas pelukannya. “Akhirnya kita bisa bertemu lagi.”
“Kau bahkan masih wangi, meski katanya tidak tidur,” goda Nancy ringan, mencium udara di sekitar leher Bella sekilas. “Kau selalu memelihara pesonamu, itu sebabnya aku makin kesal dengan Julian.”
Bella tersenyum lemah, membiarkan Nancy masuk ke dalam rumahnya. Mereka berjalan menuju ruang tamu, di mana meja bundar sudah diisi beberapa potong roti dan dua cangkir kopi hangat.
Nancy langsung duduk dan meletakkan paperbag berisi croissant serta kopi cadangan di meja. “Tadi aku sempat mampir ke tempat favorit kita. Aku tahu betul kau butuh yang namanya penawar untuk hari ini.”
“Terima kasih,” ucap Bella tulus. “Kau memang selalu tahu caranya membuatku sedikit lebih waras.”
Nancy tersenyum lembut, lalu menyesap kopi miliknya. Ia berpura-pura menikmati aroma dan rasa, padahal pikirannya tengah mencari cara untuk menggali lebih jauh tentang Julian tanpa memunculkan kecurigaan sedikit pun.
“Julian tidak ada?” tanya Nancy, santai, seolah hanya basa-basi.
“Sudah berangkat ke kantor. Tadi pagi dia keluar lebih awal.”
Nancy hanya mengangguk, mencoba menahan rasa lega yang menyelinap tanpa bisa dicegah. Ia belum siap menghadapi pria itu secara langsung, terlebih di rumah sang istri. Tidak dengan sisa bayang-bayang dari malam yang sempat mereka lewati di luar kota.
“Kau tahu,” Bella membuka suara, suaranya pelan dan sedikit parau, “semalam... aku kembali ditolak.”
Nancy menatap Bella dengan penuh perhatian. “Masih dengan alasan yang sama?”
“Lelah. Selalu lelah alasannya. Bahkan saat aku sudah mengenakan lingerie yang ia sukai, berdandan cantik, dan berusaha tampil semenarik mungkin,” jawab Bella sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Nancy menarik napas pelan, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap bersimpati. “Astaga, Bella. Aku sampai kehabisan kata. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapinya. Itu tidak adil bagimu.”
“Aku hanya ingin dicintai,” bisik Bella nyaris tak terdengar. “Aku ingin merasa seperti wanita yang diinginkan oleh suaminya. Aku bukan orang yang sempurna, Nancy, tapi aku istri yang setia. Aku tidak pernah mempermalukannya, aku mendukung pekerjaannya, aku menjaga rumah ini dan merelakan pekerjaanku. Tapi setiap kali aku menyentuhnya, dia menepis tanganku.”
Nancy berpura-pura mengepalkan tangan. “Aku sungguh ingin berteriak! Apa dia buta? Kau ini luar biasa, Bel. Aku bahkan harus mengaku... kalau aku iri padamu. Kau ini sangat cantik, elegan, dan lemah lembut. Pria macam apa yang bisa bersikap dingin pada wanita sepertimu?”
Bella tertawa getir. “Mungkin karena aku terlalu lembut. Atau terlalu sabar. Dia pikir aku tidak akan pernah bisa marah.”
Nancy berpaling sejenak, menatap ke arah rak buku, mencoba menyembunyikan sekilas kilatan rasa bersalah yang hampir melesak keluar dari sorot matanya.
Dalam hati, ia tahu apa yang terjadi malam itu bukan sekadar kesalahan sesaat. Julian bukan pria yang mudah terbakar emosi, apalagi kehilangan kendali. Tapi malam itu, dalam kamar hotel yang jauh dari rumah, jauh dari Bella, pria itu menyerah pada godaan.
Dan kini, Nancy kembali duduk di sofa rumah wanita yang ia sebut sahabat, berpura-pura menjadi tempat sandaran, sambil dalam hatinya bertanya-tanya, apakah malam itu berarti sesuatu bagi Julian, atau hanya sebuah pelampiasan tanpa makna?
“Aku tidak ingin mencampuri urusan rumah tanggamu terlalu dalam, Bel…” Nancy berkata pelan, seolah berhati-hati. “Tapi apa kau pernah berpikir… mungkinkah dia sedang menyembunyikan sesuatu?”
Bella menoleh dengan alis mengernyit. “Maksudmu... dia berselingkuh?”
Nancy segera menggeleng cepat. “Bukan, bukan. Jangan berpikir sejauh itu. Maksudku... tekanan pekerjaan, stres, atau hal-hal yang membuatnya kehilangan minat sementara waktu. Kau tahu kan, pria juga bisa mengalami penurunan libido karena beban pikiran.”
Bella memejamkan mata sejenak. “Ya. Tapi bukankah itu seharusnya bisa dibicarakan? Aku bukan wanita yang tidak bisa diajak berdiskusi. Tapi dia tidak pernah menjelaskan apa-apa. Hanya menolak, dan terus menolak.”
Nancy menggigit bibirnya pelan. “Mungkin dia takut kau akan kecewa jika tahu alasannya.”
“Atau mungkin,” gumam Bella pelan, “dia memang sudah tidak mencintaiku lagi.”
Nancy tercekat, namun cepat menutupi keterkejutannya dengan mengalihkan topik. “Bel, bagaimana jika kau merencanakan liburan bersama dengannya? Sekedar staycation atau liburan pendek. Kau butuh menyegarkan pikiran. Dan siapa tahu, suasana baru bisa membantumu, atau bahkan membantumu dan Julian untuk memperbaiki hubungan kalian.”
Bella menatap Nancy. “Tapi, bagaimana jika dia menolak?”
“Tidak mungkin dia akan menolak. Pasti dia mau juga. Setelah dipikir-pikir, memang sepertinya kalian butuh waktu lebih banyak untuk berduaan dan solusinya adalah pergi berlibur bersama."
Bella mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sepertinya memang benar." Bella tersenyum ke arah Nancy. “Terimakasih, Nancy. Kau benar-benar baik sekali. Itu ide yang bagus."
“Tentu saja.” jawab Nancy mantap. “Dengar, Bel, aku ini sahabatmu, dan aku tidak akan membiarkanmu terpuruk sendirian.”
Mereka tersenyum satu sama lain, namun dengan makna yang sangat berbeda.
Bella tersenyum karena merasa sedikit lebih tenang. Nancy tersenyum karena ia berhasil menyembunyikan satu fakta besar yang bisa menghancurkan semua rasa percaya itu.