Bab 8

1066 Kata
Ketika malam mulai tiba dan langit berubah warna menjadi jingga kemerahan yang perlahan bergeser ke warna ungu gelap, Julian akhirnya meninggalkan meja kerjanya. Dokumen-dokumen yang tadinya membuatnya terpaku kini terasa berat dan tidak menarik lagi. Dia mengambil jasnya dari sandaran kursi dan melangkah keluar dari ruangan kantor. Karen sudah tidak ada di mejanya lagi, karena sudah waktunya dia pulang juga. Julian kemudian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum bergerak ke arah parkiran. Mobilnya melaju dengan cepat di jalan-jalan kota yang mulai ramai dengan aktivitas malam. Namun bukan rumah yang menjadi tujuannya. Dia pergi menuju ke sebuah klub malam bergengsi yang terletak di kawasan pusat kota, jauh dari perhatian mata umum yang mungkin akan mengenalnya. Ketika sampai di lokasi, Julian langsung masuk ke dalam dan menuju sebuah meja yang berada di sudut ruangan. Seorang wanita—Nancy, sudah ada di sana, mengenakan gaun hitam yang ketat dan membuatnya terlihat lebih cantik dari biasanya. Rambutnya yang panjang diikat dengan gaya sederhana namun elegan, dan aroma parfumnya yang khas segera memenuhi indra penciuman Julian ketika dia duduk di hadapannya. “Aku tidak menyangka kau akan datang tepat waktu,” ucap Nancy dengan senyum yang manis, namun ada sesuatu di dalam mata wanita itu yang membuat Julian merasa sedikit tidak nyaman. Dia segera menepis perasaan itu dan mengangguk. “Kebetulan saja semua pekerjaan di kantor sudah aku bereskan,” jawab Julian dengan suara yang datar. Dia menyuruh pelayan untuk membawa minuman, namun tidak berani memesan yang terlalu kuat—dia ingin tetap tenang dan bisa berpikir jernih. Nancy hanya tersenyum lagi, mengocok gelas jus buah yang ada di depannya. “Malam ini, kita punya banyak waktu untuk bicara kan?” Julian mengangguk. “Julian,” panggil Nancy dengan lembut. “Kita perlu berbicara tentang apa yang terjadi waktu itu kan ?” “Ya, tentu saja,” jawab Julian dengan cepat. “Kita sudah sepakat kan bahwa itu hanya kejadian tidak terduga? Yang tidak akan pernah terulang lagi dan tidak akan pernah kita ceritakan kepada siapapun, terutama Bella.” Nancy mengangguk perlahan, matanya tetap menatap Julian dengan intens. “Betul sekali. Itu hanya kejadian semalam saja, Julian. Kita sama-sama menginginkannya saat itu, bukan? Hanya partner one night stand yang tidak akan pernah kita ingat lagi.” Di dalam hati, Nancy sedang merencanakan sesuatu yang jauh berbeda. Dia terus berpikir tentang curhatan Bella yang selalu mengatakan bahwa Julian susah untuk diajak berhubungan intim dan kurang b*******h. Hal itu membuatnya penasaran dan bahkan merasa tertantang. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin pria yang sama sekali berbeda dengan apa yang dialami Bella bisa muncul di malam itu? Dia ingin tahu apakah itu hanya kebetulan, ataukah ada sisi lain dari Julian yang belum pernah diketahui oleh sahabatnya itu. “Kita harus menjaga rahasia ini dengan baik, Nance,” tegas Julian lagi, menekankan setiap katanya. “Bella tidak boleh sampai tahu sedikit pun. Dia akan sangat terluka dan aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia mengetahui hal ini.” Nancy mengangguk dengan ekspresi yang tampak memahami. Padahal, ia ingin tertawa saat ini mendengar ucapan Julian yang sok-sokan peduli dan takut jika Bella sampai terluka. Ia tahu semua tentang bagaimana sikap Julian terhadap Bella. Ia tidak yakin, Julian benar-benar takut jika Bella terluka. “Aku tahu, Julian. Kau tidak perlu khawatir. Aku juga tidak ingin Bella terluka. Kita sama-sama menyayanginya kan? Jadi, mari berjanji untuk tidak pernah membicarakan hal ini lagi.” Julian menghela napas lega mendengar kata-kata itu. Ia merasakan beban di pundaknya sedikit berkurang. Namun tak lama kemudian, Nancy mulai memesan minuman beralkohol satu demi satu. Dia tampak menikmati setiap tegukan dengan senang hati, dan tidak lama kemudian wajahnya mulai memerah dan gerak tubuhnya mulai sedikit goyah. “Nance, kau baik-baik saja? Kau sudah terlalu banyak minum ini.” Julian dengan khawatir. Dia melihat wanita itu yang mulai tampak tidak stabil duduk di kursinya. “Aku baik-baik saja,” jawab Nancy dengan suara yang sedikit melengking. “Hanya ingin bersenang-senang saja dengan semua minuman ini. Kau tau Julian, beban pikiranku bisa hilang karena minum ini!” Sebelum Julian bisa berkata apa-apa lagi, Nancy tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke atas meja dan tampak tidak sadarkan diri. Julian sontak panik melihatnya. Dia juga tidak bisa meninggalkan wanita itu di klub malam ini sendirian, terutama dengan kondisi yang seperti itu. Dia lantas cepat-cepat membayar tagihan dan kemudian membangunkan Nancy dengan lembut, memakaikan jas kerja miliknya di atas tubuh wanita itu sebelum membawanya keluar dari klub tersebut. Setelah keluar, Julian berpikir sejenak tentang kemana ia harus membawanya. Dia tidak bisa membawanya pulang ke rumah, sebab itu akan menjadi bencana jika Bella melihatnya membawa Nancy dalam kondisi mabuk seperti ini. Pilihan satu-satunya adalah membawanya ke hotel terdekat. Dengan hati yang berat dan dipenuhi dengan dilema, dia mengemudi menuju hotel bintang lima yang terletak beberapa blok dari klub malam itu. Sesampainya di hotel, Julian memesan kamar tunggal dan membawa Nancy ke dalam dengan hati-hati. Setelah meletakkan wanita itu di atas ranjang, dia hendak berdiri dan pergi, namun tiba-tiba saja tangan Nancy menyentuh lengannya dengan lembut. “Tunggu Julian… jangan pergi,” ucap Nancy dengan suara yang pelan, namun jelas terdengar. Matanya sudah terbuka, dan dalam pandangannya terlihat kilatan sesuatu yang membuat Julian merasa tertegun. “Kau benar-benar akan pergi begitu saja? Kau tega meninggalkan aku sendiri di sini?" Julian tak langsung menjawab. Pria itu menatap Nancy dengan tatapan penuh kebingungan. “Padahal kita tahu apa yang terjadi malam itu bisa terjadi lagi di sini. Dan aku merasa kau juga merindukannya seperti aku.” Julian masih terdiam. Ia melihat wajah Nancy yang tampak sangat dekat, dan tiba-tiba kenangan tentang malam itu kembali menghantui dirinya. Ada bagian dalam dirinya yang memang merasa tertarik dengan wanita di depannya. Nancy itu cantik, cerdas, dan tidak seperti Bella yang selalu penuh kekhawatiran dan perhatian yang terkadang membuatnya merasa bosan dan muak. Namun di sisi lain, dia masih mencintai Bella. “Aku tidak bisa, Nancy,” ucap Julian dengan suara yang lemah, mencoba menarik lengannya dari genggaman wanita itu. “Kita sudah sepakat kan bahwa itu hanya kejadian sekali saja. Kita tidak bisa melakukan hal yang sama lagi.” Nancy hanya tersenyum tipis, namun tidak melepaskan tangannya. Dia perlahan-lahan duduk dan mendekatkan wajahnya ke arah Julian. “Kenapa tidak? Bella tidak akan pernah tahu kan? Kita bisa memiliki momen indah dan menggairahkan itu lagi, hanya untuk malam ini. Dan setelah itu, kita bisa kembali seperti sedia kala. Yang saling menjaga rahasia. Bagaimana?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN