Aryan berbenah menyelesaikan pekerjaannya karena ingin menemani Mauren check up.
Ketika akan keluar ruangannya ponsel Aryan berdering dan ia pun langsung mengangkatnya.
"Ya tante ada apa?" tanya Aryan mengangkat telponnya.
"Tante minta tolong boleh ya Ar" ucap Lina diujung telponnya.
"Boleh tante" sahut Aryan.
"Gini Ar Shilla dia kan mau pulang dari rumah sakit dan dokter menyarankan untuk check keseluruhan dulu tapi dia gak mau kalau gak ditemani kamu" ucap Leni.
"Oh gitu kapan pemerikasaannya tante" ucap Aryan.
"Sekarang Ar tante tunggu ya" ucap Leni.
"Iya tante" ucap Aryan, ia melupakan Mauren yang tengah menunggunya di rumah.
Aryan membawa mobilnya menuju rumah sakit tempat Shilla dirawat, ia menemani Shilla melakukan general check up.
---
Lama menunggu Aryan yang tak kunjung datang akhirnya Mauren memutuskan untuk berangkat sendiri ke rumah sakit. Ia memasuki rumah sakit dan langsung menuju ruangan dokter Ayu.
Setelah selesai check up Mauren langsung keluar dari ruangan dokter Ayu, betapa terkejutnya ia ketika melihat sang suami yang tengah mendorong kursi roda Shilla dan Aryan pun tak kalah kagetnya ia baru ingat akan janjinya yang akan menemani Mauren check up.
"Ren...." ucap Aryan ia melihat kekecewaan di mata istrinya tersebut.
Mauren hanya diam ia berjalan dengan cepat keluar dari rumah sakit dan langsung pulang.
"Tega kamu Ar kamu benar-benar tega" ucap batin Mauren, ia menahan sesak yang menghimpit rongga dadanya.
Mauren memasuki rumahnya dan masuk ke kamarnya mengeluarkan tangisnya yang sedari tadi di tahannya.
---
"Siapa Ar" tanya Shilla.
"Mauren istriku" ucap Aryan yang dengan cepat mendorong kursi roda Shilla menuju kamar perawatannya.
"Ooh jadi dia yang menggantikan aku" ucap Shilla sinis.
"Ya sudah Shill aku tinggal ya" ucap Aryan setelah mengantarkan Shilla ke kamar perawatannya dan ia mencoba menghubungi Mauren namun tak kunjung di angkat,
Dengan cepat Aryan berjalan ke parkiran. Ia memacu mobilnya agar bisa sampai rumah dengan cepat. Aryan bergegas masuk ke kamarnya dan ia merasa sangat bersalah melihat Mauren yang menangis.
"Sayang aku bisa jelaskan semuanya" ucap Aryan ia mendekati Mauren yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Gak perlu semuanya sudah sangat jelas kamu lebih memilih dia dari pada aku, aku memang gak pantas buat kamu aku hanya pengganti sementara dan sekarang dia sudah kembali silahkan kalau kamu mau bersamanya" ucap Mauren dengan derai air matanya.
"Sayang jangan seperti ini, tadi mamanya Shilla memintaku menemani Shilla untuk check up dan aku lupa kalau kamu juga ada check up hari ini, aku sudah gak ada perasaan apapun lagi sama Shilla" ucap Aryan menjelaskan.
"Dengan sebuah telpon dari mamanya Shilla kamu bisa dengan mudahnya melupakanku dan anakmu, kalau memang gak ada perasaan lagi lalu kenapa kamu mau menemaninya?? pulang telat, kamu mengabaikanku dan lebih memilih bersama Shilla, itu yang kamu bilang gak ada perasaan lagi, kamu kira aku gak tau ke mana kamu perginya beberapa minggu ini, aku diam bukan berarti aku gak tau apa-apa Ar" ucap Mauren, ia mengeluarkan semua yang dirasakannya selama ini.
"Aku hanya menemaninya gak lebih, aku kasian sama dia Vico gak mau bertanggung jawab dengan bayi yang dikandung Shilla" ucap Aryan.
"Lalu apa sekarang kamu juga mau bertanggung jawab atas bayinya Shilla, silahkan kalau itu yang kamu inginkan" ucap Mauren marah.
"Ren... apa yang ada dipikiran kamu, aku gak pernah sedikitpun berniat seperti itu" teriak Aryan marah, ia tidak suka dengan ucapan Mauren.
"Kenapa marah, kamu gak berhak buat marah disini aku yang tersakiti, mama terang-terangan menentang kamu untuk menjenguk Shilla untuk menjaga hatiku tapi kamu?? lihat apa yang kamu lakukan menyakiti hatiku" teriak Mauren marah dengan air matanya yang sudah tak terbendung lagi.
Pertengkaran keduanya terdengar sampai keluar kamar.
"Hei ada apa ini apa yang kalian ributkan" ucap Nancy dan keduanya hanya diam.
"Mauren kenapa sayang, ada apa" tanya Nancy lagi.
"Mama tanya Aryan aja dia yang lebih tau" ucap Mauren yang masih terisak.
"Ar...." ucap Nancy.
"Sudahlah Aryam cape" ucap Aryan, ia berlalu keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerjanya.
"Mama ngerti apa yang kamu rasakan, lebih baik sekarang kamu istirahat" ucap Nancy, ia mengecup kening menantunya itu sebelum keluar dari kamar.
---
Matahari belum juga menampakkan dirinya, Mauren melangkahkan kakinya keluar rumah ia memanggil taksi dan segera menjauh dari kediaman suaminya itu hanya membawa pakaian di badannya saja.
Aryan yang tertidur di ruang kerjanya segera bangun dan masuk ke kamarnya ia untuk mandi bersiap ke kantor.
"Sayang...." ia mencari Mauren namun tak menemukannya pikirnya Mauren sudah berada di dapur,
Aryan segera mengenakan pakaiannya yang sebelumnya telah Mauren siapkan dan segera turun dari kamarnya.
"Pagi mah... Mauren mana" tanya Aryan.
"Loh bukannya masih di kamar" ucap Chandra menyahut.
"Gak ada" ucap Aryan.
"Masa sih mama dari tadi belum lihat dia, coba cari dulu" ucap Nancy.
Aryan pun mencari istrinya diseluruh ruangan yang ada di rumahnya namun tak menemukan perempuan cantik tersebut.
"Gak ada dia mah..." ucap Aryan.
"Coba lihat cctv" ucap Chandra.
"Oh iya" Aryan segera menuju ruang kerjanya melihat video cctv yang terpasang di rumahnya.
Dan betapa terkejutnya ia melihat Mauren masuk ke dalam sebuah taksi pada pukul empat pagi.
"Ke mana kamu Ren" ucap batin Aryan, ia mengusap wajahnya kasar.
"Gimana Ar" tanya Nancy.
"Mauren pergi mah... dia pergi dari rumah" ucap Aryan frustasi.
"Mama sudah mengingatkan kamu Ar dan lihat hasilnya sekarang kamu benar-benar menyakitinya, sebenarnya apa yang kamu cari dari Shilla sampai-sampai kamu mengabaikan istrimu akhir-akhir ini" ucap Nancy.
"Aryan cuma menjenguknya mah, kasian dia hamil tanpa adanya suami" ucap Aryan.
"Lalu kamu kira Mauren akan menerima alasan kamu itu, dia juga hamil Ar dia butuh kamu dan lagi yang kamu temani adalah Shilla orang yang pernah istimewa di hati kamu itu pasti sangat membuat Mauren sakit hati" ucap Nancy.
"Mah Aryan cuma menemani Shilla gak lebih dari itu" ucap Aryan.
"Cari Mauren mama gak mau tau" ucap Nancy.
Aryan mengambil iphonenya dan mencoba menghubungi Mauren namun nomornya sudah tak aktif lagi, ia dengan cepat mengambil kunci mobilnya dan menuju kediaman Michelle namun istrinya tersebut tak ada di sana, ia juga ke rumah Ule dan hasilnya pun sama.
"Ke mana lagi aku mencari kamu yank" ucap Aryan, ia mencari Mauren mengelilingi kota jakarta hingga sore hari namun tak kunjung menemukan Mauren.
Aryan memasuki rumahnya dengan langkah gontai dan pakaian yang sudah tak beraturan.
"Mama sudah mengingatkan kamu sebelumnya Ar, Mauren sedang hamil perasaannya sangat sensitif kamu tau itu kan dan kamu malah bermain-main dengan Shilla kamu kira dia gak sakit hati" ucap Nancy.
"Sudahlah mah Aryan pusing" ucap Aryan, ia berjalan masuk ke kamarnya.
"Ke mana kamu sayang, maaf kan aku..." ucap batin Aryan.
♥♥♥