Dear Senior, 2002

546 Kata
Aku tengah bersenda gurau dengan sahabat baruku di kantin sekolah, kala seorang senior kelas XII datang menghampiri. Dia yang tiba-tiba saja meminta nomor teleponku dengan sedikit memaksa. Senior yang tidak begitu tampan sebenarnya, hanya saja, dia amat sangat kharismatik. Wajah dingin dan tegasnya kala Masa Orientasi membuat semua murid baru menjerit melihatnya.  Tentu, termasuk aku yang sempat kelepasan ikut berteriak, melihatmu melewati kelasku dengan senyum riang bersama teman-temannya. Siapa gerangan? Itu kamu, Mas Adipta Prastiyo. Rasanya tadi malam aku tidak bermimpi jatuh di antara bintang-bintang, tetapi mengapa siang harinya seperti terbang menjelajah alam? "Kartika, kan?" tanyamu tanpa senyum segarispun.  Aku mengangguk.  "Boleh aku minta nomor teleponmu?"  Debarku tidak lagi seperti biasanya, tidak ada yang santai, tidak ada yang berjalan sesuai prosedurnya. Kehadiranmu saja membuatku layu tidak berdaya, apalagi kalimatmu yang membuatku sungguh sangat naif untuk menolaknya.  "Tika, Kartika," Dewi menyenggol bahuku berulang kali untuk membangunkanku dari lamunan.  "Em..." Aku terbangun dengan salah tingkahku. "Untuk apa, Kak?"  "Pembina OSIS yang minta, untuk menghubungimu nanti. Sepertinya persiapan LCC PKN," jelasmu dan itu menjatuhkanku dari atas pesawat tanpa parasut dan pengaman apapun.  Sungguh dengan naifnya aku masih tetap memikirkanmu meskipun aku tahu, memilikimu adalah halusinasi paling berbahaya yang tetap saja aku lakukan. Bahkan hingga malam ketika aku menulis ini, aku tidak berniat untuk berhenti memikirkanmu.  Aku masih sangat muda untuk jatuh cinta dengan dewasa, aku tahu pasti aku masih terlalu buta tetapi entahlah, sepertinya aku tidak sedang bermain-main dengan perasaanku. Semoga saja aku tidak salah dengan harapanku. Kumulai menuliskan angka demi angka di selembar kertas pemberianmu. Lucunya aku masih berharap ini untuk keperluan pribadimu, bukan alasan LCC atau karena pembina OSIS memintamu. Ah, aku terlalu banyak berharap perihal sesuatu yang seharusnya tidak diharapkan.  "Makasih, ya? Nanti pasti ditelepon sama Bapak." Mengangguk.  "Tenang saja, nanti LCC-nya aku yang mendampingi." Sekali lagi hanya mengangguk sembari menatap punggungmu menghilang dari pandanganku. "Aku kira dia suka sama kamu, ternyata untuk keperluan lain," bisik Dewi, sahabatku.  Menghela napas.  "Tapi gunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk bisa jadi pacarnya, Tik. Aku dengar dia juara LCC PKN di Kabupaten Boyolali, sampai ke Provinsi pula. Tapi untuk bidang lain dia sedikit lemah, pokoknya masalah PKN jagonya. Aku mendengar dari senior sih waktu Masa Orientasi, pengisi acara bela negara hampir tidak datang, dan dia yang mau menggantikan tetapi ternyata bisa datang." Siang tadi aku berpikir kamu pasti orang yang paling kaku di dunia. Pelajaran PKN itu terlalu kaku, menciptakan orang-orang yang kaku, sulit untuk bercengkarama dengan orang kaku. Aku mungkin juga akan menjadi kaku karena terlalu banyak belajar PKN. Sejujurnya aku tidak suka pelajaran PKN, hanya karena guru PKNnya tak lain adalah tanteku, maka mau tidak mau aku harus belajar lebih giat. Malu jika beliau mengadu pada orang tuaku.  Tetap saja, sampai malam ini aku masih jatuh hati denganmu, tetap berkeinginan seperti yang lain untuk memilikimu. Sungguh laki-laki yang menarik meski bukan Ketua OSIS, tidak begitu tampan, dan tidak keren laiknya badboy pada umumnya. Dan meskipun aku tahu, orang-orang sepertimu adalah orang-orang yang kaku, tetapi sisi itu justru membuatku penasaran denganmu.  Dear Adipta Prastiyo, Senior Kelas XII IPS 1 SMA N 1 Boyolali, Halusinasi berlebihan adalah sebuah gangguan mental yang berbahaya, dan kamulah yang menciptakan gangguan mental itu padaku. Aku berharap suatu saat halusinasiku tidak lagi berbahaya sebab menjadi nyata.  Boyolali, 5 September 2002 Pengagummu,  Kartika Rahma Sakia, 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN