Bab 13. Yang Cemburu

1430 Kata
Bisma terdiam sesaat ketika ia melihat bayangan yang memperhatikan dirinya yang tengah menggendong Lara. Itu pasti Reno dan Fitri yang tengah memperhatikan mereka. Bisma segera mengeratkan gendongannya dan mengendus leher Lara sampai membuat Lara terbelalak. “Jangan kurang ajar ya!” ucap Lara menatap Bisma galak. “Ck! Kalau akting harus totalitas! Mereka sedang memperhatikan kita.” “Tapi gak usah m***m begitu dong!” “Baiklah, kalau gitu aku akan melepas gendonganku biar mereka berpikir kalau hanya kamu yang sibuk menggodaku!” “Awas kalau berani!” “Kalau gitu tahan dirimu! There’s no free lunch! Aku membantumu dan aku ingin kamu membayarnya dengan apapun yang aku mau!” Mendengar ucapan Bisma, Lara segera melorotkan tubuhnya dari gendongan Bisma. “Pulang sana!” usir Lara. “Ok,” jawab Bisma pendek dengan tatapan penuh kemenangan karena ia tahu Lara merasa takut padanya. Bisma pun segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh, tiba-tiba Lara juga membuka pintu mobil Bisma dan segera mengambil kotak handphone yang tadi ingin Bisma berikan untuk Lara. “Ck! Katanya gak mau?” sindir Bisma. “Kali ini aku harus mau! Karena benda ini bisa menyakiti hati!” ucap Lara cepat lalu segera membanting pintu mobil dan berlari kecil ke dalam rumah. Bisma hanya bisa mendengus kesal. Ia merasa kesal karena harus menyakiti hati Fitri dengan cara Lara. Tiba-tiba Bisma mencium aroma wangi lembut parfum Lara yang menempel di tubuhnya membuatnya menggila. *** Bisma mencuri pandang pada Fitri ketika mereka sedang meeting besar. Seharian itu Fitri bersikap dingin padanya, bahkan saat ia menyapa, gadis itu hanya diam dan tak melihatnya sama sekali. Bisma bertanya-tanya, apa yang terjadi setelah ia pergi dari rumah itu kemarin malam? Apa Fitri melihatnya menggendong Lara? Apa Lara berhasil mengucapkan sesuatu yang menyakiti Fitri? Tetapi melihat sikap Fitri yang tak menganggapnya ada, membuat Bisma merasa tak enak hati dan yakin sesuatu terjadi. “Bapak! Pak Bisma!” panggil Irvan menyadarkan Bisma dari lamunannya. “Ya?!” jawab Bisma terkejut. “Jadi gimana pak? Data ini masih belum bisa collect untuk presentasi malam nanti dengan perusahaan eropa?” tanya Irvan mencoba mengulang pertanyaannya pada atasannya yang sedari tadi tampak tidak konsen. “Sudah! Biar nanti yang collect datanya! Kita selesaikan meeting hari ini, kalian pulang saja. Ohya, Win, kamu sudah siapkan link meeting untuk saya nanti malam kan?” tanya Bisma kepada salah satu timnya Winda. “Sudah pak, sudah saya email juga. Nanti saya ikut online dari rumah boleh ya pak” pinta Winda. Bisma mengangguk cepat. “Sudah, biar saya saja yang online dan presentasi. Tolong kalian rapikan report sales bulan ini dan siapkan proyeksi selanjutnya,” suruh Bisma sambil merapikan duduknya sebelum ia menutup laptop dan berdiri meninggalkan ruangan meeting. Tanpa Bisma sadari, ada mata yang memperhatikannya dari belakang.Fitri. Tak lama ruangan kantor itu mulai sepi, hanya tinggal beberapa orang karyawan yang masih mengerjakan sisa pekerjaannya sambil menunggu kemacetan Jakarta saat malam mulai terurai. Begitu pula Bisma yang kembali asik dengan pekerjaannya sambil menunggu meeting pukul 9 malam nanti dengan salah satu perusahaan di Inggris. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk perlahan. “Masuk,” suruh Bisma sambil tetap asik bekerja. Perlahan seseorang masuk ke dalam dan Bisma melihat Fitri berjalan menghampiri sambil membawakan kotak bento. “Kamu masih disini?” tanya Bisma sedikit terkejut. “Saya menyiapkan data yang bapak butuhkan untuk meeting jam 9 malam nanti,” jawab Fitri pendek. Lalu meletakan kotak makanan di sisi meja kerja Bisma. “Makan dulu pak, terakhir makan saat siang bukan?” Bisma menghentikan pekerjaan perlahan dan menatap kearah Fitri yang masih berdiri tanpa senyum dan tak menatap wajahnya. “Terimakasih, duduklah… temani aku makan,” pinta Bisma lembut. Fitri mengangguk, dan tanpa disuruh ia segera membukakan kotak makanan untuk Bisma bahkan mengambilkan segelas air putih untuk atasannya itu. Bisma mengucapkan terimakasih dan segera menikmati makanannya. Bagaimana ia tak bisa jatuh hati pada perempuan muda di hadapannya ini, Fitri seolah tahu apa yang ia butuhkan dan memenuhi segalanya. Sedangkan Fitri tengah menatap wajah Bisma dalam. Wajah tampan yang rahang yang terlihat jelas, tubuh tinggi yang atletis, cerdas dan memiliki lesung pipit saat tersenyum membuat pesona Bisma begitu menggoda. Saat pertama kali bekerja, Fitri hanya fokus dengan pekerjaannya karena ingin menunjukan bakti atas jasa Bisma yang membuatnya mendapatkan beasiswa. Tetapi semakin lama ia semakin mempesona, apalagi sejak ulang tahun Ajeng beberapa bulan lalu, mereka semakin dekat satu sama lain. Fitri menundukan wajahnya dan meremas celana kerjanya perlahan. Kemarin malam ia mencoba untuk putus dengan Reno karena tak ingin terombang ambing perasaannya sendiri, apalagi setelah Bisma mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sebagai atasan dan bawahan saja, tidak lebih. Tidak! Fitri tidak percaya itu! Sikap mereka berdua yang begitu dekat dengan intens menunjukan bahwa Bisma memiliki perasaan yang sama dengannya. Tadi malam Reno masih mencoba mempertahankan hubungan mereka, walau Fitri sudah berterus terang bahwa ia menyukai pria lain. “Kamu bicara seperti itu agar aku marah dan terluka lalu kita bubar, kan?! Nggak Fit! Trik itu tak akan berhasil untukku!” ucap Reno sambil mengguncang kedua lengan Fitri perlahan. Baru saja ia hendak mengatakan semuanya, suara tawa dari luar membuat ia dan Reno menoleh ke arah jendela. Hatinya terasa sakit melihat Lara melompat ke dalam pelukan Bisma dan memeluk pria itu mesra. Perasaannya semakin tak menentu karena Bisma hanya bergeming, tak melepaskan gendongannya. Entah apa yang mereka bicarakan, melihat Lara seperti anak kecil dalam pelukan Bisma membuatnya terluka. “Kamu ingin putus dariku karena merasa bersalah pada Lara bukan? Tapi lihat, dia tidak secinta itu padaku, Fit. Dalam waktu singkat ia sudah berada dalam pelukan pria lain,” bisik Reno di balik tubuhnya. Fitri menggelengkan kepalanya sesaat, mencoba untuk tenang dan menatap Bisma dalam yang tengah makan dengan lahap. “Bapak–” “Ya?” “Kemarin malam bapak datang kerumah ya?” tanya Fitri pelan. Bisma menganggukan kepalanya kuat-kuat dan tetap asik makan seolah tak terjadi apa-apa sambil menunggu pertanyaan Fitri selanjutnya. “Bapak datang untuk bertemu Lara?” tanya Fitri lagi. Bisma kembali mengangguk, dan kali ini ia mengangkat kepalanya untuk membalas tatapan Fitri. “Iya, aku datang untuk minta maaf padanya dan memberikannya handphone pengganti.” Ada perasaan lega di hati Fitri. Tentu saja setelah melihat adegan itu, Fitri mengkonfrontasi Lara saat sepupunya itu masuk ke dalam rumah. “Dia cuma minta maaf dan memberikan aku handphone pengganti. Kenapa?” tanya Lara santai dengan tatapan mengejek. “Tapi apa perlu kamu semurah itu? Sampai melompat ke tubuh pak Bisma?” tanya Fitri tenang walau hatinya merasa marah dan cemburu. “Oh, aku melakukan hal itu karena merasa senang saja, bisa dapat handphone pengganti yang mahal. Namanya juga spontan … menurutku wajar kalau aku memeluknya sebagai ucapan terimakasih.” “Gak itu gak wajar!” “Akh, memang tak ada yang wajar antara aku dan mas Bisma, bertengkar aja kami sampai berciuman! Menurutku memeluknya kemarin adalah hal yang paling sopan yang bisa aku lakukan pada mas Bisma. Sudah ya, aku mau buka handphone baruuu.” Jawaban Bisma dan Lara yang selaras membuat Fitri merasa sangat lega. Sikap Lara yang berlebihan hanya menunjukan rasa senangnya saja sekaligus hanya ingin perasaannya terganggu. Dan Lara berhasil untuk itu. “Kenapa?” tanya Bisma. “Apa ada sesuatu yang terjadi setelah aku pulang?” pancing pria itu lagi, ingin tahu apa yang terjadi. Fitri hanya menggelengkan kepalanya cepat. “Ya sudah saya pamit dulu pak, sebentar lagi kita akan meeting biar saya siapkan dulu,” ucap Fitri sambil berdiri dan meninggalkan ruangan ketika mendapat anggukan dari Bisma. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam ketika Bisma dan Lara baru saja selesai meeting. Fitri tampak tengah membereskan mejanya saat Bisma keluar dari ruangan kantor. “Ayo aku antar pulang,” ucap Bisma berhenti di depan cubicle Fitri. Mendengar ucapan Bisma, Fitri kembali tersenyum dan mengangguk, dan itu senyum pertama hari ini untuk Bisma. “Tunggu aku di lobby,” suruh Bisma saat mereka berdua masuk ke dalam lift. Fitri hanya mengangguk dan segera turun menuju lobby. “Fitri.” Panggilan seseorang membuat Fitri menoleh kearah suara dan melihat Reno yang berdiri dari duduknya. Tampaknya ia menunggu Fitri cukup lama. “Mas–” “Aku sengaja datang menjemputmu,” ucap Reno dengan suara lembut sambil mengelus pipi Fitri. Fitri tersenyum kecut, ia terpaksa melangkah keluar lobby bersama Reno yang tengah memanggil supirnya. Tak lama mobil Reno pun berhenti di depan lobby, dan tak jauh dari sana mobil Bisma juga memasuki lobby. Dari dalam mobil Bisma bisa melihat Fitri yang berjalan sambil dirangkul Reno memasuki mobil dan Bisma segera menoleh ke arah handphonenya yang tadi masuk pesan dari Fitri bahwa ia tak jadi pulang bersama Bisma. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN