“Bis, tunggu sebentar. Tolong antarkan buket bunga ini ke rumah bu Ajeng,” suruh Laila tiba-tiba pada Bisma.
Bisma baru saja sampai di Toko bunga milik Laila yang baru untuk mengantar ibunya. Sejak pembukaan kemarin, ada beberapa pesanan yang masuk sehingga di saat akhir pekan begini Laila harus membantu pegawainya merangkai bunga sekalian ia membuat sampel untuk dikirimkan ke calon - calon customernya.
“Kenapa gak suruh pak Yunus aja sih ma, pake mobil box,” keluh Bisma karena pagi ini sebenarnya ada janji untuk olahraga padel bersama beberapa temannya.
“Pak Yunus lagi ambil stock bunga, lagi pula mobil kamu besar jadi bunga-bunga ini gak akan rusak. Ayo, tolong mama,” pinta Laila lagi.
Bisma pun mengangguk lalu memberikan kunci mobilnya pada salah satu pegawai agar bisa memasukan bunga -bunga itu di bagasi.
“Ini, satu lagi, berikan pada cucunya bu Ajeng,” ucap Laila sambil memberikan buket bunga baby breath baby pink pada Bisma.
“Untuk Fitri? Kemarin bukannya mama sudah kasih sama dia? Mama suka ya sama Fitri sampe mau ngasih bunga dua kali,” tanya Bisma senang melihat respon ibunya pada Fitri.
“Ck! Bukan buat Fitri tapi buat Lara.”
“Lara?”
“Kemarin dia berdiri didepan kumpulan bunga baby breath ini cukup lama, sepertinya dia suka bunga ini. Mama belum berikan apapun padanya padahal dia udah bawain bingkisan untuk mama.”
“Gak usah ma.”
“Ck! Kamu tuh kenapa sih?”
“Aku kurang suka aja sama dia.”
“Bukannya kalian baru kenal? Kalau kamu baru kenal gak boleh berasumsi seperti itu. Tumben, kamu judging, biasanya kamu adalah orang yang paling menggunakan logika dan tak sembarang menuduh.”
Bisma terdiam, ucapan sang ibu memang benar. Hanya karena sikap dan asumsinya ia memang langsung memberikan jarak dan nilai untuk Lara. Tentu saja hal itu terpengaruh karena ia menyukai Fitri dan tak suka jika ada seseorang yang mencoba menyakiti hati gadis itu.
Bisma segera mengambil buket bunga itu dan berpamitan pada sang ibu. Ia sengaja menghubungi Fitri saat sudah mendekati rumah Ajeng agar gadis itu menunggunya.
Benar saja saat sampai, Fitri sudah menunggu di pintu utama. Gadis itu tampak berdandan cantik dan mengenakan kebaya sederhana seolah hendak pergi ke sebuah acara.
“Bapak,” sapa Fitri sumringah ketika melihat Bisma turun dari mobil.
Bisma tersenyum lalu membukakan pintu bagasinya dan dua orang asisten rumah tangga keluarga Ajeng segera mengambil karangan bunga untuk dibawa ke dalam.
“Kamu cantik sekali, mau kemana?” puji Bisma pada Fitri dan membuat wajah Fitri tampak tersipu malu.
“Ada temannya mas Reno menikah, jadi kami akan hadir untuk melihat akad nikah mereka. Ayo masuk pak, ada eyang dan mama Frida yang sedang sarapan,” ajak Fitri.
Bisma pun mengangguk lalu segera mengambil buket bunga milik Lara dan berjalan dibelakang Fitri.
Saat masuk ke dalam rumah, semua orang di ruang makan itu menyambutnya dengan ramah dan mengajak Bisma sarapan bersama.
“Buket bunga cantik itu buat siapa Bis?” tanya Ajeng saat Bisma tanpa sadar masih menggenggam buket bunga milik Lara.
“Oh, ini untuk Lara dari mama. Dia menitipkan ini untuk Lara, kemarin karena pulang duluan Lara tidak membawa apapun,” ucap Bisma segera menjelaskan sambil mengangkat buket bunga itu lebih tinggi.
Bisma tak menyadari ada raut kecewa dari wajah Fitri saat mendengar Laila sengaja memberikan buket bunga untuk Lara, walaupun kemarin ia mendapatkan buket bunga yang lain. “Itu orangnya datang,” ucap Ajeng saat melihat Lara memasuki ruang makan.
Bisma segera menoleh dan melihat Lara berjalan ringan ke arah mereka. Rambutnya yang panjang terurai indah, gadis itu hanya mengenakan t shirt tanggung, celana jeans dan tengah asik mengangkat rambutnya untuk dia gulung asal sehingga memperlihatkan kembali lehernya yang jenjang dibalik rambut-rambut yang sedikit berjatuhan. Anting bundar dan make up smokey eyes tipis membuat wajahnya terlihat sangat cantik. Harus diakui gadis ini memiliki s*x appeal yang besar.
“Eyang aku pergi dulu ya,” ucap Lara tak menyadari kehadiran Bisma.
“Mau kemana pagi-pagi begini? Ini Bisma datang untuk mengantarkan bunga dari Laila untuk kamu,” ucap Ajeng sambil menghela nafas panjang karena beberapa waktu ini Lara tampak berubah dan tak senang berada dirumah.
Lara segera menyadari kehadiran Bisma dan menatap pria itu sesaat sebelum ia kembali memalingkan wajah. Bisma segera menghampiri Lara dan memberikan buket bunga itu segera. Tercium semilir aroma parfum Lara yang lembut begitu menenangkan dan menggoda penciuman Bisma.
Lara terdiam saat melihat buket cantik itu, ia benar-benar tak menyangka Laila memberikan buket bunga cantik kesukaannya. Ia jadi teringat perbincangan mereka kemarin walau sesaat.
“Kamu suka bunga itu?” tanya Laila ketika melihat Lara berdiri termenung menatap kumpulan baby breath berwarna putih.
Perlahan Lara mengangguk dan tersenyum seraya berkata lirih,
“Walau kecil dan tampak seperti bunga liar, tetapi buatku bunga ini cantik sekali.”
Kini ditangannya ada sekumpulan baby breath berwarna baby pink yang dibungkus kain kertas dan diikat pita. Sederhana tapi indah.
Tak sadar Lara tersenyum kecil dan senyum tulus itu terlihat oleh Bisma.
Belum sempat mengatakan apa-apa salah satu asisten rumah tangga keluarga itu kembali mengantarkan seseorang ke dalam ruang makan, sehingga ruang makan yang besar itu terasa ramai.
“Mbak Fitri, mas Reno nya sudah datang,” ucap Asih memberitahu Fitri.
Semua orang segera melihat ke arah Reno dan segera menyapa pria itu. Bisma yang berdiri di sisi Lara bisa melihat bahwa ada pandangan terkesima dari Reno saat melihat Lara. Sebagai laki-laki Bisma tahu arti pandangan Reno pada Lara.
“Ayo, aku antar,” ucap Bisma sambil menarik siku Lara perlahan.
Ia sengaja melakukan itu agar Reno tak terlalu lama memperhatikan Lara, bagaimanapun Reno kini adalah kekasih Fitri. Ada perasaan yang harus dijaga.
“Gak usah, aku berangkat sendiri saja. Aku pamit ya. Bye semua,” ucap Lara cepat sambil berjalan membawa buket bunga pemberian Bisma.
“Saya juga pamit, karena ada urusan lain. Tak usah diantar, biar saya berangkat bersama Lara,” ucap Bisma ikut berpamitan dan menatap Fitri agar tak mengantarnya kedepan.
“Titip salam buat mamamu ya, sampaikan terimakasih dari eyang,” ucap Ajeng.
Bisma pun mengangguk sambil tersenyum lalu segera berjalan cepat mengejar Lara.
“Ayo aku antar. Kamu mau kemana?” tanya Bisma saat berhasil mengejar Lara.
Lara terdiam dan menatap Bisma dalam.
“Aku hanya akan bertemu teman di mall, oke deh. Aku ikut sampai depan,” ucap Lara setuju.
Ia pun segera mengikut langkah Bisma menuju mobil pria itu dan tak lama mobil itu telah bergerak meninggalkan kediaman Ajeng.
“Tumben baik?” tanya Lara sambil menatap buket bunga yang masih berada ditangannya.
“Harus. Supaya tak ada yang menggoda seseorang,” gumam Bisma lirih, tapi ternyata terdengar oleh Lara.
“Apa? Menggoda siapa?” tanya Lara bingung sambil menolehkan wajahnya ke arah Bisma.
“Kamu. Dengan dandanan seperti ini, dan aroma ini … Reno saja sampai melirik,” ucap Bisma pelan tapi terdengar nyinyir di telinga Lara.
Lara menghempaskan kepalanya, entah mengapa tiba-tiba saja ia kembali merasa kesal pada Bisma karena ucapannya. Pria ini benar-benar melihatnya buruk, entah apa yang Fitri katakan tentang dirinya.
“Terus salah aku, kalau Reno melirik?!” tanya Lara gusar.
“Gak salah, hanya saja seharusnya kamu lebih menjaga sikap dan menghargai hubungan Fitri dan Reno.”
Jawaban Bisma yang terdengar santai tapi benar-benar membuat Lara muntab.
“Aku turun disini aja!” ucap Lara kesal dan mencoba membuka pintu mobil yang masih berjalan, untung saja Bisma segera mengunci mobil jika tidak bisa berbahaya.
“Apa-apaan sih kamu?!” ucap Bisma kesal karena sikap Lara yang bisa membahayakan mereka.
“Turunkan aku di depan!”ucap Lara keras menatap Bisma marah.
Bisma segera meminggirkan mobilnya ke pinggir tapi tak membuka kunci sehingga Lara tetap tak bisa membuka pintu.
“Buka pintunya!”
“Tidak! Pintu ini akan aku buka jika kamu janji satu hal!”
“Gak! Buka pintunya!”
“Janji dulu kalau kamu tidak akan mengganggu hubungan Fitri dan Reno.”
Mendengar ucapan Bisma, Lara terdiam sesaat dan menatap Bisma geram.
“Kita itu baru kenal loh, mas! Tapi kamu sudah begitu berpikiran buruk sama aku! Aku gak tahu Fitri cerita apa sama kamu, tapi kenapa mesti aku yang salah?! Dia bisa saja cerita bahwa Reno menyukainya. Dirumah itu kami selalu berdua, dia teman ceritaku! Aku menceritakan segalanya seperti dia menceritakan rahasianya padaku!” pekik Lara penuh kemarahan. “Aku memang marah sama Fitri dan mencoba merayu mas Bisma! Mau tahu kenapa?! Karena dia juga suka sama mas Bisma! Puas?!”
Gadis itu mencoba untuk membuka kunci dari pintu Bisma tapi Bisma segera menghalangi dan menahan tangannya.
“Lara! Tenang dulu!” ucap Bisma menahan tubuh dan tangan Lara yang berusaha keras untuk membuka kunci.
Tiba-tiba Lara memegan wajah Bisma dengan kedua tangannya sebelum ia melumat bibir pria itu dengan cepat dan menggigit bibir bawah Bisma keras. Bisma berteriak kesakitan dan kesempatan itu Lara gunakan untuk membuka kunci lalu keluar dari mobil.
“Lara!” panggil Bisma berteriak merasa kesal dan kesakitan, ia bisa merasakan bibir bawahnya terasa bengkak dan sedikit berdarah.
Tetapi Lara sudah berlari dan segera menaiki taksi biru dan tak terlihat lagi.
Bersambung.