"Chill man." Kata Rio menenangkan Darren, yang sudah emosi. "f*****g asshole. Patah leher kau, kalau berani buka." "Hahaha. Intip dikit, biar nggak penasaran." Darren langsung berdiri, dan memelintir leher Rio. Membuat lelaki itu, terbatuk-batuk. "Bangke si Darren. Beneran awak dibunuh." Darren duduk kembali ke tempatnya. Dengan napas yang memburu. Padangannya berubah tajam. Dunia akhirat, ia tak ikhlas, tubuh kekasihnya dinikmati orang lain. "Salinlah bro. Mayan, buat coli." Darren sudah bangkit lagi. "Aku lagi nggak main-main." Darren langsung menutup laptopnya dengan kasar. Rio menjadi tak enak hati, baru kali ini ia melihat Darren semarah itu. Darren menarik napas, ia harus mengontrol emosinya. Demi Tuhan, ia tak rela siapapun melihat tubuh kekasihnya. Darren memilih pu

