Part 06. SYAFARA The Queen Of Mr.CEO

1333 Kata
"Syafara..." Panggil Zahra saat melihat Syafara duduk di kursi sendirian di dalam ruang kelas. Belum ada seorang pun yang datang. Lalu Zahra melangkah masuk dan duduk di depan sahabatnya itu. "Kamu berangkat jam berapa? Tumben sudah sampai duluan," tanya Zahra seraya melepaskan tas yang ada di pundaknya. Menaruhnya di atas meja. Lalu memutar tubuhnya ke samping agar berhadapan dengan sahabatnya. "Aku berangkat pagi. Hari ini aku tidak mampir ke makam Abah," jawab Syafara dengan nada datar. Seperti orang yang sedang banyak pikiran. "Apa yang sudah terjadi denganmu, apa kamu sakit?" tanya Zahra khawatir dengan sahabatnya itu. "Tidak ada apa-apa, kok." Syafara tidak mau Zahra ikut khawatir dengan masalahnya. "Jangan bohong, dari matamu sepertinya kamu sedang sedih, katakan padaku, Syafara. Siapa tahu aku bisa membantumu." Zahra tidak tega melihat sahabatnya bersedih seperti itu. Syafara gadis kuat, Zahra tahu itu, namun sepertinya sekarang ia terlihat begitu sedih tidak seperti biasanya. "Aku tidak bohong, Zahra. Hanya saja aku sedang kangen sama Abah. Semalam aku bermimpi ketemu Abah, seperti bukan mimpi, aku merasakan sentuhan dingin dari tangannya." Mendengar jawaban Syafara, Zahra semakin mengkhawatirkan sahabatnya itu. "Nanti malam, kamu menginap di rumahku saja, ya. Aku khawatir sama kamu, Fara." Zahra mengusap tangan Syafara. Menenangkan sahabatnya. "Aku tidak apa-apa kok, kamu tidak usah khawatir." Zahra sangat tahu siapa sahabatnya itu. Syafara tidak mau merepotkan orang lain. Berkali-kali Zahra menawarkan bantuannya namun selalu saja di tolak sahabatnya itu. "Insya Allah, aku baik-baik saja, Zahra." sekali lagi Syafara meyakinkan sahabatnya agar tidak khawatir dengannya. °°°°°°°°°°°°°°° Di kantor. Althaf sedang duduk di ruang kerjanya. Melihat isi map yang baru saja di berikan Rico. Althaf menggaruk keningnya beberapa kali saat melihat isi map itu. "Kamu yakin, Paman tidak terlibat dengan orang-orang ini?" tanya Althaf pada Rico yang sedang duduk di depannya. Rico menggeleng pelan. "Sepertinya tidak. Mungkin mereka memang rival perusahaan ini. Makanya Bos yang di suruh mengajukan kerja sama dengan mereka. Karena Pak Henry ingin mengujimu mungkin." Althaf menatap Rico seraya berpikir. 'Mungkin ucapan Rico ada benarnya juga. Aku harus lebih waspada dengan Paman. Terutama tugas yang dia berikan.' "Waktu untuk mengajukan banding ke pengadilan sebentar lagi. Aku ingin segera menikah dan memenangkan sidang itu. Aku mau semua milik Papa kembali ke tanganku. Bukan tangan Paman Henry." laki-laki muda itu mengepal tangannya dengan kuat. Althaf tidak mau hidup keluarganya susah kalau perusahaan masih di tangan Pamannya, khawatir kalau suatu saat Tuan Hanry yang serakah itu mengambil semuanya termasuk rumah yang keluarganya tempati saat ini. Althaf takut Ibunya menderita karena ulah Pamannya. Adik Ayahnya lebih tepatnya. "Apa Bos yakin akan menikah dengan gadis anak Pak Ahmad itu?" tanya Rico penasaran dengan Bosnya. "Mau bagaimana lagi. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa membantuku mendapatkan perusahaan Papa. Aku harus segera menikah sebelum sidang itu di mulai lagi. Aku tidak mau kehilangan kesempatan itu." "Bagaimana dengan Monica?" Rico tahu kalau Monica kekasih Althaf. Tapi kenapa Althaf malah mau menikah dengan Syafara? Aneh bukan? "Dia menolak lamaranku mentah-mentah." jawab Althaf jujur. Rico tertawa keras saat mendengar jawaban dari Bos sekaligus sahabatnya itu. Rico tidak mengerti kenapa bisa Monica menolak lamaran itu. Padahal mereka sudah tiga tahun ini menjalin hubungan. "Mungkin kamu kurang romantis saat melamarnya. Hahaha..." "Sialan." Althaf melempar map yang ada di depannya ke muka Rico hingga isi kertas itu berserakan di lantai. "Oke-oke. Aku serius sekarang. Bagaimana bisa Monica menolak lamaran itu? Bukankah dia yang selalu mengejar kamu, dia juga sangat mencintaimu kalau aku lihat." Althaf mengembuskan napas kasar. "Dia baru saja dapat kontrak sebagai model. Jadi tidak mau menikah denganku secepatnya." Rico menganggukkan kepalanya pelan saat mendengar Althaf mengatakan itu. "Lalu bagaimana dengan gadis itu? Dia masih polos, masih kuliah. Apa kamu tidak merasa telah merampas masa depannya?" Althaf terdiam. Tak mampu bicara lagi. Laki-laki muda itu seperti mendapat tamparan keras saat mendengar Rico mengatakan itu. Mungkin Rico benar, tapi waktu Althaf tidak banyak untuk mencari seseorang yang mau menikah dengannya. Untuk saat ini Syafara gadis yang tepat. Apalagi amanat Pak Ahmad sebelum meninggal ingin Althaf menikahi putrinya. Sebagai tanggung jawab dari amanat yang di berikan Ayah Syafara. "Aku tidak memikirkan hal itu." ujar Althaf seraya berpikir tentang ucapan Rico tadi. "Jangan sampai Almarhum Pak Ahmad tahu, beliau pasti sedih kalau tahu anaknya di permainkan oleh seseorang." ujar Rico dengan santai. Membuat Althaf seketika menatapnya. "Tutup mulutmu itu, atau kamu mau aku pecat." ancam Althaf dengan ekspresi wajah yang menakutkan. Rico seketika diam. Karena melihat wajah Althaf yang benar-benar marah. °°°°°°°°°°°°° Jam menunjukkan pukul dua siang. Matahari bersinar dengan panasnya. Syafara, Zahra dan Arif sedang berada di perpustakaan yang tak jauh dari tempat mereka kuliah. "Buku ini sepertinya bagus. Mungkin kamu akan menyukainya." Arif memberikan buku pada Syafara. "Terima kasih banyak, mas Arif. Fara lihat dulu, ya." Arif tersenyum melihat Syafara seakan tak ada bosan. "Ekhem, duh, kalian berdua bikin iri aja deh." goda Zahra. Sedangkan Syafara menundukkan wajahnya karena malu. Kalau Arif menatap ke arah lain seraya tersenyum malu karena ketahuan sedang menatap Syafara. "Aku jadi pinjam buku ini deh. Seperti bagus." Arif senang karena Syafara mau membaca buku yang di pilihkan dirinya. "Sudah jam dua lebih. Kita pulang yuk." ajak Syafara. Arif dan Zahra setuju. °°°°°°°°°° Setelah berpisah dengan Zahra. Syafara kini berjalan menuju rumahnya seraya tersenyum mengingat kejadian saat di perpustakaan tadi bersama dengan arif dan Zahra. Buku yang di pilihkan Arif kini berada di tangannya. Syafara enggan untuk menaruhnya di dalam tas. Karena gadis itu sangat menyukai pemberian dari Arif. Langkah kaki Syafara terhenti saat melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya. Gadis itu sangat mengenali mobil itu. Setelah mendekat, Rico dan Althaf melihatnya. Mereka berdua yang semula duduk kini berdiri saat melihat Syafara datang. "Aku sudah lama menunggumu hingga bos..." Althaf hampir saja memarahi Syafara. Karena sudah tiga jam laki-laki muda itu berada di rumah ini. Sejak selesai makan siang Althaf langsung meminta Rico mengantarkannya ke rumah Syafara. Berharap gadis itu akan memberikan jawaban yang Althaf minta. "Eh. Maksudnya Bos Althaf, dia menunggumu sedari tadi siang Nona, Syafara. Tapi Nona malah tidak ada di rumah." Rico menjelaskan semuanya pada Syafara, berharap gadis itu mengerti. "Maaf membuat kalian menunggu. Tadi aku mampir ke perpustakaan mencari buku untuk bahan skripsi." ucap Syafara pelan seraya menundukkan wajahnya. Althaf menatap gadis itu. "Aku membutuhkan jawaban darimu secepatnya, Nona Syafara. Bagaimana dengan lamaran yang aku ajukan kemarin, apa sudah ada jawabannya?" Althaf sekarang mencoba lebih akrab lagi dengan Syafara walau terdengar agak kaku, tapi Althaf sekarang menyebut aku, kamu. Bukan kata saya lagi. Syafara masih diam menunduk. Jujur saja gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. "Baiklah. Kalau kamu diam saja itu artinya setuju. Dan kita akan menikah tiga hari lagi." "Apa?!" seketika gadis itu mendongakkan wajahnya. Menatap laki-laki yang ada di depannya. Padahal Syafara belum memberikan jawabannya tapi laki laki-laki itu malah berpikir kalau Syafara menyetujuinya. "Aku anggap kamu sudah setuju dengan pernikahan ini. Karena kamu tak menjawab. Hanya diam menunduk saja sedari tadi, Nona Syafara." Althaf masih berusaha bicara dengan tenang. Walau aslinya laki-laki itu ingin sekali marah dan mengumpat Syafara karena tak kunjung juga memberikan jawaban dari lamarannya. Althaf tipe orang yang tidak suka membuang waktu apalagi menunggu. Laki-laki itu sudah tidak sabar lagi untuk mendengar jawaban dari gadis itu secepatnya. Agar bisa memenangkan sidang dan bisa kembali merebut perusahaan Ayahnya yang kini sudah di tangan Pamannya. 'Bismillahirrahmanirrahim ya Allah. Bantu hamba untuk mengambil keputusan ini. Kalau dia memang jodoh hamba tolong dekatkan ya Allah, kalau tidak tolong jauhkan dia dariku, aku tidak mau dekat dengan laki-laki yang bukan siapa-siapaku, ya Allah.' batin Syafara dalam hati. Gadis itu berdoa sebelum ia mengambil keputusan atas jawaban yang akan ia berikan nanti pada Althaf. Laki-laki muda yang meminta jawaban atas lamarannya tempo hari. Syafara sejenak menatap Althaf. Kemudian ia mengembuskan napas dalam-dalam sebelum mulai memberanikan diri untuk berbicara pada laki-laki muda itu. "Bagaimana kalau saya menolak lamaran ini?" °°°°°°°°°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN