aku juga bingung kenapa semakin banyak orang yang datang ke rumahku, Padahal aku bukan dukun asli. Mereka yang datang juga asal-asalan ku layani.Kadang ada juga yang tidak tuntas masalahnya tapi tetap saja orang- orang banyak yang datang untuk mengadukan masalahnya mencari solusi ke rumahku.
Bahkan aku pernah sengaja seminggu mengungsi tidur di rumah saudaraku agar tidak di ganggu mereka. Tapi setelah ada yang tahu aku menginap di rumah saudaraku, orang - orang berbondong- bondong datang ke rumah itu untuk menemuiku.
Manusia memang aneh, Mereka punya Tuhan tapi mereka malah mengadukan masalahnya kepadaku.
" Tok..tok.. nduk.. keluar nduk.. tuh sudah banyak orang yang antri.. " panggil ibu dari luar kamar.
" ya bu. katakan pada mereka aku lagi mens bu gak bisa menemui mereka. katakan pada mereka kesaktianku hilang kalau pada saat mens." jawabku pada ibu sekenanya karna hari ini aku malas sekali mendengar keluh kesah dari mereka yang menganggapku dukun tiban. Padahal sejatinya aku tidak punya kesaktian apa- apa.
" nduk.. tapi mereka udah nunggu dari pagi tadi lho nduk.. bahkan ada yang datang saat subuh tadi." jelas ibu pelan.
" Baik bu.. aku akan temui mereka. ibu suruh mereka antri." jawabku sambil membuka kamar dan menuju kamar mandi untuk cuci muka.
*****
" mbak.. tolong saya mbak.. saya mau di ceraikan istri saya.. " jelas lelaki yang agak ganteng di depanku.
" masalahnya apa mas?" jawabku enteng.
" Begini mbak... burungku tidak bisa berdiri mbak, jadi istriku minta cerai." jelas lelaki yang katanya datang jauh- jauh dari luar kota.
" Mas .. terus terang dari awal saya jelaskan kepada semua orang yang datang ke sini bahwa saya bukan dukun sakti atau orang pintar seperti yang orang- orang kira. saya ini wanita biasa mas, yang juga banyak masalah yang saya sendiri tidak bisa menyelesaikannya." jawabku menjelaskan
" ah mbak ini merendah terus. Pokoknya tolong saya mbak, saya gak mau cerai dari istri saya." pinta lelaki itu memelas.
" Mas sholat? " tanyaku mengagetkannya.
" ya mbak sholat walau kadang bolong- bolong." jawabnya gugup.
" Begini mas, adukan masalah mas sama Allah. minta solusinya, kalau bisa sholat lima waktu mas di tambah sholat malam. terus habis dari sini mas tolong kunjungi dokter spesialis kelamin. " jelasku pelan.
" oh itu aja mbak? gak da tambahan?
oke mbak siap laksanakan." sahutnya sambil sumringah . dia langsung berpamitan dan menyerahkan amplop putih yang tebal.
"Mas.. ! tolong di bawa lagi amplopnya buat biaya ke dokter nanti. kalau mas mau bersedekah, berikan kepada yang membutuhkan." Tolakku halus sambil mengembalikan amplopnya tadi.
satu- persatu ku layani tamuku dengan sabar, untuk yang ngeyel minta togel aku ceramahi, aku damprat habis. " He he he.. kapan lagi bisa ngamuk ke para penjudi kalau tidak momen begini, aji mumpung aja hehhehe." tawaku dalam hati puas mengerjai mereka yang minta aneh- aneh kepadaku untuk di bantu.
Setelah semua tamuku pergi, aku makan siang dan sholat, selesai sholat sebenarnya aku mau pergi ke pasar menyusul bapak dan ibuku yang menunggu kiosnya di pasar. Tapi baru melangkah ke arah pintu ku lihat ada tiga orang yang datang .
"Permisi..! apakah ini rumahnya mbak sri? " tanya salah satu dari mereka.
" ya betul pak. saya sri pak. silahkan masuk!" jawabku sambil mengajak mereka masuk rumah dan mempersilahkan duduk.
" Maaf, ada tujuan apa bapak - bapak sudi singgah ke gubug saya?" tanyaku penasaran.
" kenalkan, saya Dibyo, guru dari padepokan kedung banteng, jujur saya kesini untuk menantangmu adu kesaktian nduk." jawab seorang yang agak tua dengan tanpa basa-basi .
" Adu kesaktian? mbah..! sampean salah orang mbah. saya tidak sakti mbah. Saya hanya wanita biasa mbah, gak bisa apa- apa koq di ajak adu kesaktian?" kilahku apa adanya.
" kamu jangan sok merendah nduk. semua orang di daerah sini sudah telanjur mengatakan kamu lebih sakti dari pada aku. Dan aku kesini hanya ingin membuktikan apa benar kata-kata mereka." ucap mbah Dibyo dengan sangarnya sambil mengerutukkan giginya.
" Mbah.. sampean pulang saja, saya mengaku kalah saja mbah. karna memang saya tidak punya kesaktian untuk di adu." ucapku jujur menjelaskan.
" hehh!!! kamu gak usah mengelak lagi.!"
bentak mbah Dibyo. Sesaat kemudian dia komat kamit sambil mengepalkan tangannya.Aku semakin kaget dia mengarahkan pukulan ke arahku dan aku hanya pasrah sambil memejamkan mata.
" Duarrghhhhhh.." mbah bejo terpental jauh sampai keluar rumah. Aku heran kenapa bisa begitu. aku melirik ke belakang ternyata Grembo ujo jin penjagaku yang membuat mbah Dibyo terlempar jauh.Dua orang anak buah mbah bejo langsung menyusul keluar gurunya untuk menolongnya.
" pak. papah mbah bejo ke dalam. biar aku kasih minum dulu." ucapku kepada dua orang anak buah mbah bejo, sembari ke belakang mengambil air minum. Ini minumya pak, minumkan ke mbah bejo.Kulihat mbah bejo tak berdaya hanya bisa berbaring di sofa dengan nafas senin-kamis dan darah segar keluar dari mulut dan hidungnya.
" aku gak mau minum.." gumam mbah bejo pelan.
" Bunuh aku.." lanjutnya gemetar.
" Mbah .. siapa yang mau membunuh sampean mbah? saya tidak mau jadi pembunuh mbah. segera minum airnya mbah biar mbah tenang. " jawabku pelan.
sejenak kemudian mbah Dibyo meminum air itu sambil melirikku. lirikan yang sangat aneh.
Setelah minum air itu tiba- tiba mbah Dibyo berusaha bangkit dari sofa dan berusaha duduk.
" Nduk kenapa kau tidak membunuhkubsaja nduk?" tanya mbah Dibyo gusar
" Mbah, kita tidak ada masalah, kalaupun ada masalah aku juga tidak mau membunuh mbah Dibyo." jawabku meyakinkan.
" Nduk aku mengaku kalah. aku pasrah kamu mau bertindak apapun kepadaku." ucap mbah Dibyo dengan mata sendu.
" Mbah, aku tidak pernah merasa mengalahkan sampean mbah. Begini saja mbah, mbah mau kan jadi kakek angkatku?" jawabku ingin menyudahi semua ini.
" Nduk, apapun permintaanmu akan aku penuhi, itu janjiku nduk. Siapa tau nanti kamu butuh bantuanku tinggal bilang nduk." jawabnya terisak malu.
" mbah sudah jangan menangis. aku tidaknakan bilang ke siapapu. tetang kejadian ini. ini rahasia kita mbah." pintaku pelan untuk meredakan tangis mbah paijo. Aku berusaha mengert egonya.
Setelah aku mengatakan itu mba bejo pamit pulang. aku mengantarnya sampai depan pintu.
" Kapan- kapan main ke gubugku ya nduk. aku tunggu. " ucap mbah paijo sebelum pergi.
Aku hanya mengangguk pelan.
Usai mbah paijo pergi, aku bergegas masuk ke rumah lagi. Tapai alangkah terkejutnya mataku melihat grembo ujo dwngan wujud aslinya yang menyeramkan duduk di sofa dengan kakinya yang di atas meja . Menyeramkan sekali makhluk itu.
" ha ha ha ha ha... gimana dukun itu kapok? " tanyanya menyeramkan.
" hai jin kepo .. kenapa kamu datang lagi, jangan campuri urusanku." ucapku tegas sambil menatap mata jin itu yang bersinar merah.
" Hu ha ha ha ha ha..." tawanya menggelegar
" kamu tak tahu terimakasih sudah di bantu malah mengomel wahai nona. Tapi aku suka gayamu, apa adanya dan tidak terkesan sombong di depan dukun itu " lanjut Si grembo ujo.
" hai jin usil, sudah pergi sana jangan sering menampakkan batang hidungmu di depanku. kalau aku selalu kamu ajak berdebat nanti orang- orang menganggapku gila karna si anggap ngomel sendiri karna orang- orang tidak tahu wujudmu.
" wussshhg..!!!!!!" sekejap mata jin hilang.
walau sudah membantuku aku tetap ketus pada Grembo ujo. karna jujur aku merasa risih urusanku di campuri makhluk astral itu. Toh semua masalah ini juga bersumber dari dia, yang kasang tanpa sepengetahuanku membantu mengobati tamuku yang datang berobat, sehingga orang- orang menganggfapku sakti mandraguna bisa menyembuhkan orang sakit. Jadi akhirnya seperti tadi ada orang tua sakti yang merasa tersaingi datang menantangku untuk adu ilmu kesaktian.
Dan jujur aku khawatir ada orang sakti lagi yang datang kerumahku untuk mengadu kesaktian. Ya.. karna jujur memang aku tidak memiliki kesaktian apapun.
BERSAMBUNG