Aira pov.
Selama kurang lebih satu bulan ini bekerja dengannya aku banyak melihat perubahan pada diri bosku yang cool itu. Dan bisa dibilang hubunganku dengannya juga membaik tidak seperti saat awal-awal aku menjadi sekertarisnya dan dia sangat jauh berbeda sekarang lebih memiliki rasa perikemanusian terhadap karyawan. Walaupun masih banyak karyawan yang mengeluh dengan kinerja pak Azfer karena sangat teliti sehingga sekecil apapun kesalan yang mereka buat akan diketahuinya. Malahan banyak yang bilang kalau pak Azfer menyukaiku karena dia jarang sekali memarahiku, dan pernyataan itu sagat membuatku terkejut aku langsung mengelak omongan para karyawan yang sangat khayal. Dan aku sampai tak terbayangkan jika itu benar terjadi aku harus hidup dengan manusia es selama sisa hidupku.
“ Pacarnya pak Azfer.” Panggil Riana mengejutkanku
“ Eh iya…eh iya.” Jawabku dengan latah sampai aku tersadar dengan jawabanku membuat Riana tertawa terbahak-bahak. “ Ngga bukan itu maksud aku, abisnya kamu bikin kaget sih.”
“ Alah, dengerin ya Ai biasanya jawaban pertama itu adalah jawaban jujur, iya kan.” Ledeknya lagi.
“ Apaan sih ri jangan ngaco deh kamu,” Ucapku sambil membungkam mulutnya takut pak Azfer di dalam ruangan mendengar ucapan Riana, kan aku jadi malu nanti. “ Jangan keras keras nanti bos denger kan aku jadi malu.
“ Jadi bener kamu suka sama bos.” Tanyanya lagi
“ Ih siapa juga yang suka sama dia, sembrangan aja deh kamu.” Elakku dengan cepat.
“ Kalau ngga suka ngapain tadi ngalamunin si bos.” Ledeknya lagi
“ Siapa juga yang ngalamunin dia kurang kerjaan banget tau.” Jawabku dengan tegas walau berbohong. “ Udah sana balik daripada disini Cuma bisanya ngledekin terus.”
“ Ya…. Marah, iya-iya sayangku, jangan cemberut gitu dong nanti cantiknya hilang, terus pak Azfer ngga suka lagi deh ke kamu.” Aku langsung melotot mendengar ucapan Riana dan dia hanya tersenyum. “ Iya maaf Cuma bercanda, aku kesini Cuma mau ngasih tau kamu kalau nanti kita dijemput sama bian dan yang lainnya untuk acara santunan minggu depan.”
“ Owh gitu, ok deh setuju.” Jawabku
“ Eh tapi nanti kamu lembur ngga Ai.” Tanyanya
“ Keliatannya ngga sih, kan proyeknya udah selesai kemarin, kalau ngga nanti kita izin aja lebih awal dan bilang aja ada acara dikampus pasti diizinin kok.” Ucapku dan Riana hanya mengangguk setuju.
“ Oh ya ini kan jam istirahat yuk temenin aku ke kantin.” Ajaknya dan aku pun menyetujuinya karena akupun sedang tidak banyak kerjaan.
Saat dikantin aku heran kenapa Riana tak mengajakku sholat dzuhur dulu dan memilih kekantin. Aku pun bertanya.
“ Ri kenapa kita ngga sholat aja dulu.” Ajakku dan dia hanya cengegesan.
“ Aku lagi libur Ai,” Jawaban Riana membuatku menghela nafas.
“ Pantes aja ngajak aku kekantin, ya udah deh kamu ke kantin duluan aku sholat dulu.” Ucapku walau sudah ada didepan kantin aku langsung melenggang pergi meninggalkan Riana dan menuju ke mushola di kantor.
Setibanya disana sudah banyak karyawan dan karywati yang menunaikan sholat. Dan aku melihat seseorang yang tak asing bagiku yaitu pak Azfer. Ini satu hal lagi yang tak kusangka bahwa orang seperti pak Azfer yang punya segudang pesona bisa menambahkan lagi pesonanya saat wajahnya tersiram air wudhu. Aku benar-benar tak menyangka pak Azfer memiliki suara yang sangat merdu ketika sedang mengimami sholat dan bacaan lantunan ayat suci Al Qur’an menyentuh hati. Ini yang membuatku menjauhkan perasaan benci padanya. Dan mulai menerimanya dengan baik. Tapi sebenarnya aku takut jika aku terus melihatnya berubah menjadi lebih baik seperti ini akan memunculkan rasa suka padanya. Aku belum ingin merasakan perasaan seperti ini dulu. Lamunanku kembali buyar saat orang dibelakangku memegang pundakku dan menyuruhku untuk mengambil air wudhu karena giliranku.
***
Selesai jam istirahat Aira kembali keruangan dan langsung masuk ke ruangan Azfer karena untuk meminta izin pada bosnya itu kalau hari ini dia akan pulang lebih awal.
“ Assallamualaikum, pak.” Salamnya sambil mengetuk pintu.
“ Waalaikumsalam.” Jawab Azfer sambil mendongakkan wajahnya melihat Aira yang akan masuk dan mendekatinya. “ Ada apa Ai.” Tanya Azfer.
“ Ini pak hari ini saya mau izin pulang lebih awal.” Ucap Aira membuat Azfer mengerutkan dahinya dan langsung berjalan kearah Aira membuat Aira mundur karena terkejut dengan Azfer yang tiba-tiba mendekatinya.
“ Kamu sakit, kalau kamu sakit kenapa tadi berangkat.” Balas Azfer dengan gusar.
“ Ngga pak saya ngga sakit kok, saya izin pulang lebih awal karena saya ada acara di kampus.” Jawab Aira membuat Azfer salah tingkah karena salah menebak dan terlihat sangat khawatir. Dan akhirnya membuat Aira dan Azfer jadi kikuk
“ Owh jadi gitu.” Ujar Azfer sambil kembali ketempatnya. “ Memang ada acara apa dikampus.”
“ Ini pak ada rapat untuk acara di kampus.” Jawab Aira dan Azfer hanya mengangguk
“ Ok saya izinin, hari ini pun lagi ngga banyak kerjaan.” Azfer mengizinkan Aira.
“ Makasih pak, kalau begitu saya permisi dulu. Assallamualaikum.” Pamit Aira dengan wajah cerianya karena telah diizinkan.
“ Waalaikumsalam.” Balas Azfer.
“ Baru diizinin pulang lebih awal aja seneng banget gitu, dasar Aira.” Ucap Azfer sepeninggalan Aira.
Azfer pov
Hari ini pun aku akan pulang lebih awal karena aku merasa badanku yang lelah karena kerja lembur beberapa minggu ini. Setibanya di lobi aku melihat seseorang yang sangat tak asing bagiku dan benar saja dia adalah Aira, tapi siapa laki-laki yang membukakan pintu mobil untuk Aira dan mereka pergi satu mobil. Jangan-jangan dia adalah kekasih Aira. Tapi mama bilang kalau Aira belum punya kekasih. Sebenarnya siapa laki-laki itu, awas aja kalau dia menggagalkan rencana yang sudah aku rancang. Aku benar-bear tak suka melihat Aira dekat dengan laki-laki itu.
Setibanya dirumah aku langsung merebahkan tubuhku ke sofa dan mengejutkan mama yang ternyata ada didepanku.
“ Kamu kenapa fer, kok mama lihat kamu keliatannya lagi banyak masalah sih, kalau masalah pekerjaan jangan terlalu di forsir kamu juga harus sayang sama tubuh kamu yang juga membutuhkan istirahat.” Ujar mama
“ Tapi semua proyek harus segera selesai ma, ya Alhamdulillah sekarang tinggal tahap akhir penyelesaian proyeknya jadi agak santai, makannya sekarang bisa pulang lebih awal.” Jawabku dan mama mengangguk paham, tapi aku heran mama tiba-tiba mendekatiku
“ Azfer gimana hubungan kamu sama Aira ada kemajuan apa ngga.” Tanya mama yang sangat atusias.
“ Aduh pertanyaan mama bikin Azfer tambah pusing tahu, dan Azfer pun ngga tahu gimana kelanjutannya nanti, mungkin Azfer nyerah ma.”Jawabku dengan malas.
“ Hei kenapa kamu bilang seperti itu, mama ngga pernah melihat anak mama ini pantang menyerah.” Balas mama sambil menepuk pundakku.
“ Ya abisnya aku kesel ma gimana aku ngga bilang nyerah, aku liat dengan mata kepalaku sendiri kalau Aira dijemput sama laki-laki tadi pulang kerja.” Jawabku membuat mama malah menertawaiku. “ Azfer serius ma kok mama malah tertawa sih.”
“ Itu tandanya kamu cemburu fer, berarti kamu udah suka sama Aira, mama seneng banget dengernya sayang.” Mendengar ucapan mama membuatku salah tingkah dan malu. “ Tapi setahu mama Aira belum pernah punya kekasih mungkin yang kamu lihat itu cuma temennya fer jangan asal nuduh gitu dong.” Ucap mama meledekku.
“ Mungkin mereka baru jadian ma.” Jawabku.
“ Azfer dengerin mama, walaupun mama baru mengenal Aira mama yakin Aira bukan wanita yang asal mau jadian sama orang nak. Dia hanya akan mencintai seseorang yang halal baginya mama yakin itu. Jadi kamu ngga perlu khawatir dan jangan pula kelamaan takutnya nanti ada yang nyelip kamu karena terlalu banyak berfikir, mama mohon halalkan Aira secepatnya sayang.” Aku melihat ketulusan pada ucapan mama membuatku sangat tersentuh dan kupeluk tubuh mama.
“Insyaallah ma, Azfer janji akan berikan Aira menjadi menantu untuk mama, Azfer ngga akan menyerah untuk memperjuangkan Aira.” Jawabku dengan mata yang mulai berkaca-kaca tapi langsung kucegah agar tak keluar, karena aku tak ingin terlihat lemah dihadapan mama. “ Kalau begitu Azfer keatas dulu ya ma.” Pamitku langsung ke kamar.
***
Sepeninggalan Azfer mama hanya tersenyum bahagia dia seperti melihat kembali sosok anaknya yang dulu.
“ Mama kenapa melamun.” Papa mengejutkan mama Azfer.
“ Astagfirullah, papa ngagetin aja deh.” Kaget mama Azfer
“ Ya abisnya sore-sore gini malah ngalamun, emang lagi ngalamunin apa sih ma serius amat.” Tanya papa Azfer lagi.
“ Mama Cuma lagi seneng pa, mama seperti melihat sosok Azfer yang seperti dulu lagi yang nurut, lembut walau masih tetap dengan gayanya yang cool.” Jawab mama
“ Mama bener papa juga melihat perubahan Azfer jauh lebih baik ma, dikantor pun seperti itu sekarang dia tak pernah meninggalkan sholatnya, dan tak banyak keluar malam keluyuran ngga jelas.” Ujar papa Azfer pula.
“ Dan tadi papa tahu ngga Azfer merajuk sama mama kerana dia cemburu ngliat Aira dijemput sama laki-laki, lucu deh pa liat Azfer begitu.” Balas mama Azfer sambil tersenyum.
“ Jadi maksud mama Azfer udah mulai suka sama Aira.” Mama Azfer pun mengangguk dengan pertanyaan sang suami. “Bagus dong ma, kalau begitu rencana kita untuk mempersatukan mereka hampir berhasil dong.”
“ Iya pa mama juga seneng banget akhirnya Aira bakalan jadi menantu mama, pasti Azfer akan bahagia memiliki isteri seperti Aira.” Papa Azfer hanya mengangguk menyetujui pendapat sang isteri.
“ Iya ma semoga saja semua jalan dimudahkan sama Allah.” Harapan sang papa dan mama.
***
Sedangkan dilain tempat yaitu dikampus Aira dan teman-temannya sedang mendiskusikan masalah kegiatan social yang akan dilaksanakan oleh kampusnya untuk acara peringatan HUT kampus. Walaupun Aira makasiswa akhir tapi dia masih sangat aktif dalam berbagai kegiatan positif yang ada dikampus dan banyak mahasiswa juniornya yang selalu meminta bantuan atau ide dari Aira.
“ Ai liat tuh Ai.” Ucap Riana sambil menyenggol lengan Aira membuat Aira menoleh kearah yang dimaksud oleh Riana.
“ Apa sih maksud kamu ri.” Tanya Aira yang tak paham.
“ Alah pura-pura ngga paham lagi nih anak, maksud aku liat tuh Fabian ngga berhenti nglliatin kearah kamu terus.” Ledek Riana kembali menyenggol lengan Aira membuat Cika sahabat Aira pun ikut meledeknya.
“ Iya tuh Ai, gila ya Fabian ngga nyerah walau sudah pernah kamu tolak, Ai aku pun sebenarnya bingung deh sama kamu Ai apa coba yang kurang dari Fabian dia tuh calon arsitek terkenal yang masa depannya akan terjamin.” Ledek Cika yang langsung mendapat cubitan dari Aira. “ Awww sakit tahu Ai.”
“ Jelaslah kurang banget dong cik dibandingkan abang Azfer yang ngga ada tandingannya.” Aira langsung melototi Riana karena ucapannya.
“ Hei siapa tuh Azfer kok aku ngga tahu sih Ai, kenapa kamu ngga cerita ke aku kalau kamu udah punya pacar.” Rengek Cika membuat gaduh saat rapat sehingga semua mata tertuju pada mereka bertiga. “ Maaf ganggu.” Ucap Cika merasa bersalah sedangkan Riana dan Aira pun kut menunduk karena malu.
Seusai rapat mereka bertiga pun keluar disusul oleh Fabian yang mengejar mereka.
“ Ai tunngu, Aira tunggu.” Dan merasa dipanggil Aira dan sahabanya pun berhenti kemudian menoleh kebelakang.
“ Ada apa ya fab.” Tanya Aira.
“ Kamu pulang sama siapa.” Bukannya menjawab Aira justru memandangi sahabatnya. “ kalau kamu mau aku bisa nganterin kamu kok.” Lanjutnya.
“ Oh ngga perlu bian aku pulang sama Riana dan Cika kok, kita mau ada perlu.” Jawab Aira dengan cepat.
“ Oh gitu ya udah deh aku pamit dulu ya, Assallamualaikum.” Pamitnya dengan wajah kecewa.
“ Ya Allah Ai lelaki taman kaya Fabian kamu tolak gitu aja, andai aku jadi kamu Ai pasti langsung aku jawab oh aku mau kok mas jadi pacar kamu.” Ledek Cika membuat Riana dan Aira tertawa.
“ Ngimpi kamu cik, jelas lah Aira ngga mau sama Bian orang ada yang jauh lebih baik segalanya dari dia.” Jawaban Riana membuat Aira kembali melototinya.
“ Bisa ngga sih ri kamu ngga usah asal bicara gitu.” Pinta Aira sambil mencubit pipi Riana.
“ Tuh kan ngga ada yang mau ngasih tau aku kenapa sih kalian nyebunyiin semua dari aku.” Rengek Cika lagi.
“ Ngga ada yang kita sembunyiin dari kamu Cik, udah ngga perlu difikirkan ucapan Riana dia ngaco bilangnya.” Balas Aira tapi kata-kata Aira tak membuat Cika percaya dia beralih mendekat kearah Riana dan merangkul lengan Riana.
“ Ri kasih tau aku siapa pacar Aira.” Tanyanya
“ Bener kamu mau tahu.” Tanya Riana balik dan Cika mengangguk dengan semangat. “ Tapi nanti kamu jangan kaget ya denger cerita dari aku.” Cika kembali mengangguk dengan semangat.
“ Apaan sih kamu ri, jangan buat gossip yang ngga-ngga deh.” Kesal Aira tapi tak membuat Riana bungkam dia tetap menceritakan pada Cika.
“ Sebenarnya di kantor udah ada yang suka sama Aira, Massyaallah cik orangnya mmmm.” Jawaban Riana yang menggantung membuat Cika maki enasaran.
“ Orangnya kenapa ri dia kenapa.” Tanya Cika.
“ Orangnya tajir melintir Cik, dia bosnya Aira.” Lanjut Riana tapi justru respon Cika membuat Aira dan Riana terkejut karena dia malah jngkok sambil menangis.
“ Cik…. Kamu kenapa kok malah nangis sih bukannya seneng.” Tanya Riana yang langsung ikut jongkok begitu juga Aira.
“ Ai aku ngga rela, Ai aku ngga rela kalau kamu… kalau kamu…. Hiks..hiks.”
“ Kok kamu malah ngga rela sih Cik, harusnya kamu dukung dong.” Bingung Riana.
“ Harusnya aku yang tanya ke kamu apa kamu rela kalau sahabat baikmu jadi selingkuhan, harusnya kamu cegah itu ri dia ngga boleh jadi pacar gelap orang yang udah menikah.” Ucapan Cika membuat Aira dan Riana saling pandang karena bingung.
“ Apa maksud kamu jadi selingkuhan cik, aku ngga bilang Aira jadi selingkuhan kok, ihhh amit-amit deh.” Tanya Riana sedangkan Aira pun ikut bergidik ngeri.
“ Ya kan kamu bilang Aira disukai sama bosnya, kan kamu Ai pernah bilang ke aku kalau bos kamu udah tua pasti dia udah menikahkan apa coba namanya kalau bukan jadi selingkuhan.” Ucapan Cika membuat Aira dan Riana tertawa terbahak-bahak. “ Kok kalian malah ketawa sih.
“ Ya Allah cik jadi orang yang kamu maksud itu pak Dani.” Tanya Aira dan Cika pun mengangguk. “ Ya Allah cik ya ngga mungkinlah pak Dani tuh udah aku anggap sebagai ayah aku sendiri.”
“ Lah kalau bukan dia siapa dong kan Riana bilang bos kamu.” Tanya Cika bingung.
“ Maksud aku itu anaknya pak Dani cik bos Aira yang baru.” Jawab Riana dengan tegas membuat Cika beranjak berdiri.
“ APA.” Ucapnya dengan keras membuat mereka menjadi tontonan mahasiswa di kampus. Dan akhirnya Aira dan Riana pergi meninggalkan Cika sendiri yang masih terbengong. Sadar dirinya ditinggal Cika langsung mengejar Aira dan Riang. “ Hei kok aku malah ditinggal, Ai, ri kalian belum cerita sepenuhnya ke aku tungguin aku.” Teriak Cika membuat Aira dan Riana tambah berlari kencang menghindar dari Cika.