Hampir sejam Remy hanya duduk, menunggu Ana hingga berhenti menangis. Sama sekali tidak menginterupsi, sesuai yang dia katakana sejak awal. Dia hanya ingin menemani agar Ana tidak perlu sendirian melawan kesedihannya. Setelah terdengar pengumuman bahwa pesawat yang dinaiki Sam akan segera berangkat, barulah Ana memutuskan untuk beranjak dari sana. Dia pulang bersama Remy. “Nih, kamu pasti haus.” Remy menyerahkan sebotol air minum, setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil. “Makasih,” ucap Ana lemas. Mobil Remy pun mulai berjalan dengan pelan. Membawa penumpang yang salah satunya terdiam dengan wajah sebam. Ana beberapa kali mengusap muka dan menghela napas panjang. Remy tidak pernah tahu seperti apa rasanya berada di posisi Ana

