Sam berdiri dengan terengak-engah. Masih berusaha untuk menormalkan napasnya. Ana hanya bisa menatap lelaki tersebut tanpa ekspresi. Namun air matanya mulai mengalir di pipi. “Kenapa kamu nangis pas ulang tahun begini?” Sam mengusap air mata yang berlinang pada pipi Ana. Lalu duduk pada bangku yang kosong. “Maaf ya, aku buru-buru ke sini jadi gak sempat beli kado.” Sam masih berusaha untuk membuat Ana tertawa meski percuma. Gadis tersebut masih tidak mengubah ekspresinya sejak tadi. “Mau cerita?” Ana hanya tersenyum sembari mengelap pipinya yang masih basah dengan punggung tangan. Lalu menggeleng. “Gak ada yang bisa diceritakan lagi.” “Hmm... Kenapa rasanya kita kompak sekali ya. Sampai-sampai mengalami hari yang bu
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


