Baper

2128 Kata
Adis manggut-manggut. Jawaban jordan masuk akal juga. Meskipun, untuk ukuran sahabat sikap Jordan itu terlalu berlebihan. Namun masih bisa diterima olehnya. 'Berati tadi gue keGR-an doang? Jadi gue cuma kepedean aja? Ah, Kenapa juga gue baper sama cecunguk satu ini. Bukankah sudah kebiasaan seperti itu? Melakukan hal yang sweet. Ah, tapi kenapa hati ini rasanya aneh. Kenapa Gue berharap kalau jawaban jordan tidak seperti itu?' "Gimana ibuk? Sudah puas dengan jawaban saya?" Adis berdehem. Membenahi posisi duduknya. Dia mencomot kembali pizzanya untuk mengatasi salah tingkah. Ah, dia malu karena merasa sudah ke gr-an. Jordan tertawa melihat tingkah itu. "Belum puas sih sebenarnya. Karena gue masih nggak percaya dengan apa yang diucapin. By the way, thanks ya. Terlepas apapun niat Lo, Lo udah baik banget sama gue. Gue yakin nggak mudah untuk nyiapin ini semua dalam waktu yang sangat singkat. Mungkin memang sederhana, tapi ini sangat berharga buat gue dalam keadaan seperti ini. Terima kasih, karena sudah bisa menghapus kekesalan gue pagi ini." Dia tersenyum, lalu menggigit potongan pizza baru. Pizza dan Danau. Entah mengapa Adis merasa bahwa itu paduan yang pas. Menikmati makanan kesukaan di tempat favorit adalah hal yang paling menyenangkan. Apalagi kali ini sangat spesial, di nyanyikan lagu manis di atas Perahu. Membuat suasana semakin syahdu. Perahu terus didayung, jauh meninggalkan tepian. Membawa sepasang manusia yang saling berharap meskipun hatinya belum saling bertaut. Rasa adalah rahasia Sang kuasa. Kita tahu, bahwa Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia? Mungkinkah Adis akan memiliki perasaan yang sama dengan Jordan? Semua yang dilakukan oleh Jordan kepada dirinya, berhasil mengusik hati Adis. Apalagi setelah dialunkannya suara merdu dengan lirik yang menyentuh. Dia benar-benar seperti tersihir. lagu itu terus terngiang-ngiang di telinganya. *** "Thanks ya untuk hari ini. Lo berhasil memperbaiki mood gue. Sekarang, gue udah siap kuliah. Udah bisa senyum dan otak gue udah bisa menerima materi baru dari pak Eko." Adis tersenyum di samping Jordan. Dia masih berada di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang kampus. Sebenarnya Jordan sudah tidak ada jadwal lagi. Hari ini dia hanya masuk pagi, dan itu pun dia bolos karena Adis. "Wiiiih … dosen kesayangan lo tuh. Pantesan aja moodnya membaik." "Enak aja, bukan dosen kesayangan gue. Tapi gue mahasiswa kesayangan dia," ucap Adis sambil tergelak. Tetapi itu fakta. "PD Boros!" Ya, Adis memang dosen kesayangan Pak Eko. Dosen mata kuliah bahasa Inggris bisnis. Adis jago bahasa Inggrisnya, jadi pak Eko lebih banyak memperhatikan Adis daripada mahasiswi lainnya. "Ya udah gue masuk dulu ya? Oh iya,lo nggak mendadak miskin kan gara-gara nyewa perahu buat gue?" goda Adis. Kebiasaan. Sudah pamit tapi masih nerocos. "Asal Lo nggak minta apartment, gue masih sanggup." "Asyeeek. Kalau begitu besok lagi ya?" Adis mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ogah. Lo pikir gue nggak ada kerjaan tiap hari harus naik perahu gitu." "Idiiih … sok jual mahal. Ya udah, gue masuk ya? Sekali lagi, terima kasih banyak buat semuanya." "Sama-sama." "Eh, Dan. Lo jangan punya pacar dulu ya? Seenggaknya sampai kita lulus kuliah nanti. Lo punya pacarnya nanti-nanti aja supaya gue bisa porotin lo kayak gini," ucap Adis sambil mengacungkan kantong keresek yang berisik permen lolipop rasa coklat. "Dasar gila! Gue nggak mau jadi perjaka tua. Udah Sono pergi. Lo udah pamit tiga kali tapi masih nerocos terus nggak pergi-pergi." "Oh iya ya, Ya udah Gue pamit dulu. Inget, jangan punya pacar dulu. Bye, Dan." Adis membuka pintu mobil dan segera berjalan menuju ke kelasnya. 'Bagaimana bisa gue punya pacar sedangkan ketika Gue deket sama cewek yang keinget lo terus. Ada nggak sih duplikatnya Lo Dis? Huft … Lo itu makhluk langka. Mana ada perempuan yang mau sama cowok koret kayak Beno kecuali Lo. Kalau ketemu orang lain, pasti Beno udah di depak. Ini salah satu alasan kenapa gue suka sama lo. Lo nggak munafik kalo Lo butuh harta juga, tapi Lo nggak suka manfaatin kekayaan orang. Semoga, kalau memang Beno bukan jodoh lo, gue harap, gue lah jodoh lo, Dis.' Jordan masih menatap punggung Adis, sampai hilang tak terlihat lagi. Sementara dari kejauhan, tampak Beno yang dari tadi sudah mengamati Adis dan Jordan. Hatinya terasa perih. Namun, tak ada yang bisa dilakukan untuk saat ini selain diam dan mengamati mereka berdua. Dia sadar kekurangannya. Dia belum bisa membahagiakan Adis, maka dia harus terima kalau Adis sementara diantar oleh orang yang mempunyai kendaraan yang lebih nyaman daripada miliknya. Sementara Adis, Dia sedang gaduh sendiri bersama dengan Santi sebelum pak Eko masuk ke kelas. "Dis, lo ke mana aja sih. Semales-malesnya elo, Lo nggak pernah absen kalau ada kuis. Mana Bu Ratna hari ini galak banget. Yang nggak bisa masuk, Dan nggak ada izin, dikasih nilai D langsung untuk semester ini." Santi langsung nerocos dan berbicara dengan berapi-api ketika melihat Adis memasuki kelas. "Busyeeeet. Sadis bener. Lo serius? Tapi tadi gue udah izin kok. Pasti nggak apa-apa dong? Lagi pulau Bu Ratna lagi PMS ya, gitu banget peraturannya." "Serius lo udah izin? Kata Bu Ratna, nggak ada yang wa dia minta izin satu orang pun. Coba cek hp Lo." "Serius lo?" Santi mengangguk. Adis segera meletakkan tasnya di atas meja, lalu segera mengambil handphone dan memeriksanya. "Ommo … ternyata belum gue kirim. Hp gue juga gue silent tadi. Gue nggak tahu juga kalau ada pengumuman di grup kalau yang nggak masuk hari ini bakalan dapat D dan nggak ada susulan. Gimana dong?" Adis panik sambil scrool hp terus menerus. "Huft … kebiasaan Lo, suka nggak ngecek hp. Kalau ada yang penting kayak gitu nggak tahu kan Lo. Sekarang temuin Beno! Dia selalu jadi jalan keluar dari semua masalah lo kan?" "Beno?" "Iya." "Dia tahu gue nggak masuk hari ini?" "Menurut Lo? Kalau soal kuliah lo, Dia adalah orang pertama yang paling perhatian. Dia udah ngorek-ngorek informasi ke gue dari a sampai z. Coba temuin dia, mumpung Pak Eko belum da_" Belum selesai santi berbicara, Adis sudah melesat keluar dari ruangan dan segera menuju ke perpustakaan tempat di mana Beno biasa menghabiskan waktunya. Tidak ada. Beno tidak ada di sana. Hari ini ada jadwal kosong satu setengah jam buat Beno, biasanya Dia menghabiskan waktunya di perpustakaan saat seperti ini. Tapi kali ini dia tidak ada, ke mana dia? Sejak tadi, Beno juga tidak menghubungi adis sama sekali meskipun dia tahu kalau adis tidak masuk kuliah. Adis cepat-cepat keluar perpustakaan, merogoh tasnya, mengambil handphone dan segera menghubungi Beno. Aktif, tapi tidak diangkat. "Beno, Lo ke mana sih?" ucap Adis pada dirinya sendiri. Dia masih menempelkan handphonenya pada pipi dan telinga dengan gelisah. Dia benar-benar berharap Beno memiliki solusi seperti biasanya. "Aku di sini." Terdengar suara yang benar-benar tidak asing bagi Adis. Dia menoleh. Segera Dia turunkan handphone-nya dan dimatikan sambungan telepon itu. "Beno? Gue kira Lo pulang." "Gue udah menemui Bu Ratna, gue bilang sama dia kalau motor Lo mogok, jadi Beliau memberi kesempatan Lo untuk ikut kuis di kelas lain, hari ini jam 02.00. ini gue udah introgasi Santi, garis besar quiz-nya udah gue tulis di sini. Jadi meskipun soalnya berbeda, pasti garis besarnya sama. Lo bisa mengikuti kelas Pak Eko dulu. Cuma 1 jam kan? Nanti Lo bisa pelajari ini sebelum masuk ke kelas bu Ratna." Beno terus nerocos, dan Adis hanya bisa bengong mendengar penjelasan demi penjelasan yang diutarakan oleh Beno. Lebih tepatnya, Adis tidak menyangka kalau Beno akan melakukan itu untuknya setelah kejadian tadi. Atau mungkin dia merasa bersalah dan ingin menebus kesalahannya? Tetapi bukannya adis juga bersalah karena telah meninggalkan Beno dan malah pergi dengan Jordan sampai tidak mengikuti kuliah? "Ayo ambil kertasnya. Sebentar lagi gue ada kelas." Beno kembali menyodorkan kertas itu pada Adis Dengan nada suara dingin tanpa senyum dan tidak ramah seperti biasanya. Meskipun kesal, dia masih perhatian sama gadis ngeselin tapi dia sayang itu. "Kenapa lo melakukan ini?" Hanya itu yang bisa Adis katakan. Jujur, Beno selalu berhasil membuat adis merasa bersalah. Karena laki-laki itu selalu melakukan hal-hal yang berhasil membuat Adis tercengang. Sesuatu yang sepertinya mustahil dilakukan oleh orang lain. "Bukannya gue memang selalu begini?" "Tapi gue sudah bikin Lo kecewa." "Cuma hal ini yang bisa gue lakuin buat lo. Gue nggak bisa seperti Jordan, sahabat lo itu, yang selalu bikin lu bahagia dengan hartanya. Yang bisa gue lakukan cuma kayak gini. Ayo ambil." Adis memandang Beno. Laki-laki berambut keriting dan berkulit coklat itu wajahnya tampak memelas. Muram dan kusam. Tidak, tidak sampai mengenaskan, tetapi benar-benar memprihatinkan. Dari sorot matanya adis tahu kalau laki-laki itu sedang kecewa tetapi dia berusaha untuk menahannya. Dia berusaha untuk menyembunyikan kekecewaannya. Pelan-pelan, Adis mengambil kertas yang berisi tulisan dari tangan kasar yang terbiasa kerja keras itu. Ah, rasa bersalahnya semakin berlipat. Dia selalu mengeluhkan tentang Beno, tetapi dia seolah melupakan kebaikan-kebaikan Beno seperti ini. Tidak ada laki-laki yang mau bersusah payah mencari informasi tentang kuis supaya pacar nya bisa mengerjakan soal dengan mudah. Tidak ada, hanya Beno satu-satunya. Sebenarnya dia sweet, tetapi dengan cara yang berbeda. Ah, benar kan apa yang telah aku katakan? Adis memang labil, saat ini bisa jadi dia sangat kecewa sama Beno, tetapi beberapa jam kemudian pasti itu akan merasa bersalah dan kembali respect. "Gue pergi dulu. Good luck." Beno berniat untuk pergi, tetapi ketika Beno baru melangkah dua langkah, Adis menahan lengan Beno. Laki-laki itu segera menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya lirih. "Maafin gue." "Maaf buat apa? Gue yang seharusnya minta maaf karena belum bisa menjadi kekasih yang baik buat Lo." "Gue nggak tahu bakal seperti apa hidup gue tanpa Lo. Benar apa kata Santi, lo selalu bisa menjadi solusi bagi setiap masalah gue. Maafin gue karena udah banyak bikin Lo kecewa." Mata Adis memerah. Sungguh, dia terharu dengan sikap Beno. Entahlah, Hati laki-laki itu terbuat dari apa. Seandainya saja Dia tidak pelit, pasti tidak pernah ada alasan bagi Adis untuk ragu hidup dengan laki-laki sebaik dia. "Masuk kelas sana! Sebentar lagi pak Eko masuk!" "Sok tahu." Beno tersenyum, tak menjawab apa-apa. Lalu dia melepaskan lengannya dari tangan Adis dengan lembut. "Gue pergi dulu, good luck." Lalu dia melangkah pergi. Menjauhi Adis. Ternyata, yang menyakitkan itu bukan bertengkar adu mulut. Tetapi ada yang jauh menyakitkan dari itu. Ketika kita berbuat kesalahan pada seseorang, dan seseorang itu malah berbuat baik kepada kita. Dia diam, tak mengungkit dan tak mau membahas. Hanya diam. Itu yang bikin hati terasa ngilu, tersiksa oleh rasa bersalah yang dalam. Adis menghela nafas panjang, lalu dia menghembuskannya perlahan. Setelah itu dia segera berjalan menuju kelasnya. Benar, 1 menit setelah dia sampai kelas, pak Eko masuk. Ini adalah mata kuliah kesukaan Adis, tetapi adis sama sekali tidak bisa konsentrasi dan tidak bisa mengikuti mata kuliah dengan baik karena pikirannya masih tertuju pada Beno. "Adis, please answer my question." Pak Eko berbicara dengan nada suara keras di samping Adis. Adis tergagap. Ah, dia benar-benar fokus melamun sampai dia tidak menyadari kalau pak Eko sedang memberinya pertanyaan. "Em … pardon me, sir?" tanya Adis gelagapan. "Don't you listen to my explanation?" tanya pak Eko dengan nada kecewa. Ya, dia kecewa karena mahasiswi kesayangannya yang biasanya selalu aktif di mata kuliahnya, sekarang tampak bengong dan asik memainkan pulpen seolah tidak menghargai Mata kuliahnya lagi. "Sorry, Sir!" Adis hanya menunduk. Pak Eko hanya menatap sekilas, lalu dia kembali ke depan masih dengan perasaan kecewa. Semua mahasiswa dan mahasiswi di ruangan Itu tampak hening. Pak Eko jarang marah, malah dia sering bercanda dengan para mahasiswi dan mahasiswanya. jadi ketika beliau berbicara dengan nada agak sedikit tinggi, mereka langsung diam. Memang, marahnya orang yang jarang marah itu menakutkan. "Ish, Lo kenapa sih Dis. Annoying banget sikap Lo hari ini, udah bolos pas quiz, sekarang malah ngelamun pas jam kuliah pak Eko. Kena damprat kan Lo," ucap Santi lirih setengah berbisik. "Gue kepikiran Beno, San." "Lo nggak bisa belajar dari pengalaman deh. Udah kebiasaan ngambek, habis gitu nyesel sendiri. Makanya Lo tuh jangan kayak gitu. Jangan sok-sokan cari cowok yang sempurna. Kurang beruntung apa Lo dapet Beno. Kayak Lo sempurna aja," ucap Santi dengan nada kesal. Ya, memang dia kesal sama Adis. Dikasih berlian malah disia-siakan. Andai saja Santi berada di posisi Adis, pasti Santi tak akan menyia-nyiakan Beno. Apalagi Santi tahu kenapa Beno bisa sepelit itu sekarang. "Ih, Santo. Lo kenapa ngomongnya begitu sih. Ngrendahin gue banget." Adis berbicara agak sedikit kencang. Seluruh penghuni kelas langsung menengok ke arah Adis dan Santi, termasuk pak Eko. Dia menatap Adis dengan muka merah padam. Menyadari kecerobohannya, Adis langsung menutup mulutnya dan menunduk. Begitu juga dengan Santi. "Dodol banget sih Lo. Pasti gue juga kena gara-gara Lo," ucap Santi lirih tapi masih bisa didengar oleh Adis. "Santi, Adis, Get out of my class!" ucap Pak Eko. Entah Dia baru saja makan apa atau baru saja kepentok apa, hari ini dia memang benar-benar garang. Adis dan Santi hanya bisa diam dan menunduk. "Get out, Adis, Santi!" ucap Pak Eko sekali lagi dengan suara yang lebih kencang. Seluruh isi kelas langsung hening. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi langsung terdiam. "O.K, Sir," ucap Adis dan Santi bebarengan. Lalu mereka segera keluar dari kelas dengan muka ditekuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN