Pelukan Persahabatan

1005 Kata
"Lo kenapa?" tanya Jordan sambil memusatkan perhatian ke depan. Kedua tangannya masih sibuk di depan kemudi. Adis tidak menjawab. Dia masih diam menyembunyikan beribu kekesalan di dalam hatinya. "Ya udah, kalau lo memang belum bisa cerita sekarang, nggak apa-apa. Nanti kalau lo udah agak sedikit tenang, lo bisa cerita sama gue." Tidak ada jawaban apa-apa dari Adis, hanya terdengar tangisan pilu. Ya, tangis Adis pecah. Rasanya dia ingin menyerah saja dengan keadaan ini. Begini saja, dia rasanya seperti tidak kuat. Apalagi kalau sampai mereka membawa hubungan mereka ke arah yang serius. Pasti akan lebih menyakitkan bagi Adis. Mendengar tangisan sang gadis yang dicintainya, Jordan langsung meminggirkan mobilnya dan menghentikan di sana. Dia menoleh kearah Adis yang sedang sesenggukan dan meneteskan air matanya. "Adis, Lo kenapa? Are you O.K?" Tak ada jawaban, hanya suara tangisan yang terdengar. Jordan memegang pundak Adis, lalu menyibak rambutnya yang menutupi wajah. "Nangis aja nggak apa-apa. Biar lo sedikit lega. Gue bakalan dengar suara nangis lo. Kadang, hati kita akan lebih lega ketika kita menangis di samping seseorang. Kalau Lo butuh pundak untuk bersandar, lo tahu, pundak gue selalu ada buat lo." Adis menoleh, lalu langsung berhambur ke pelukan Jordan. Dipeluknya erat laki-laki yang dianggapnya sahabat itu. Dia menangis di sana. Sedangkan Jordan, Dia membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Ini kedua kalinya Adis memeluk dirinya erat seperti ini. 'Lo kenapa Dis? Apa yang membuat lo sedih Seperti ini? Kalau Lo memang nggak bahagia sama Beno, ngomong sama gue! Biar gue bisa gantiin posisi Beno. Gue janji bakal bikin lo bahagia, Dis.' Ya, kata-kata itu hanya bisa diungkapkan Jordan di hatinya saja. Dia tidak sanggup mengungkapkannya secara langsung. Hatinya ikut tercabik-cabik saat melihat gadis yang disayanginya menangis sesenggukan. Namun, dia bahagia. Dia ada disaat Adis butuh seseorang untuk merangkulnya. Dia ada, saat Adis butuh seseorang untuk membuat dia tenang. "Gue capek, Dan. Gue capek sama sikap Beno." "Gue kan udah bilang, kalau capek istirahat saja." "Lo pikir ini mudik, kalau capek tinggal ke rest area. Hubungan nggak bisa kayak gitu, Dan. Lo nggak pernah pacaran ya? Oon banget." Jordan tertawa, saat sedih begitu saja perempuan itu bisa mengata-ngatai dirinya. Dasar Adis. Adis adalah satu-satunya perempuan yang mengata-ngatai dirinya, mengejek dan kadang mengolok juga. Tak ada perempuan lain yang bersikap seperti itu pada Jordan. Karena kebanyakan dari mereka selalu memuja-muja. Ya, Siapa yang nggak tertarik sama laki-laki tampan dan kaya serta populer di kampus seperti Jordan? Hanya Adis yang lempeng-lempeng saja menghadapi laki-laki populer saat itu. "Kenapa lo ketawa?" "Lo aneh. Nikmatin aja tangisan Lo, nggak usah ngata-ngatain orang." "Udah hampir selesai tangisan gue," ucap Adis yang udah mulai tenang. Kalau dia sudah mau berbicara, itu artinya hatinya sudah membaik. "Kalau udah, lepasin pelukannya! Nanti kita dikira ngapa-ngapain di mobil! Bukan, bukan karena Jordan tidak suka dipeluk. Dia bahagia karena Adis nyaman dalam pelukannya, tetapi kalau terus-terusan begini, jantung Jordan bisa bisa melompat dari tempatnya karena terus-terusan dipeluk oleh Adis. Keringat dingin mengucur ke pelipisnya. Ternyata, laki-laki pujaan para gadis itu secemen itu. "Jual mahal banget sih Lo. Lo harusnya bersyukur ada yang mau peluk laki-laki yang pakai minyak wangi nyong-nyong begini," ucap Adis yang masih memeluk Jordan dan belum mau melepaskannya. "Enak aja minyak nyong-nyong. Parfum mahal nih. Kayaknya Lo keenakan banget deh di pelukan gue." 'Ya, gue nyaman di pelukan Lo. Terimakasih, karena Lo udah jadi sahabat terbaik gue, dan datang di saat yang tepat, Jordan.' "Karena adanya cuma Lo doang, nggak ada yang lain," ucap Adis dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Jordan menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia lakukan berulang-ulang supaya dia tidak grogi. Dia yang menawarkan pundak, tetapi Kenapa dia juga yang kelicutan ketika Adis mencari kenyamanan dalam pelukannya? Andai saja, yang sedang dipeluknya adalah pacarnya sendiri dan bukan pacar orang. Pasti rasanya akan berbeda. "Makasih ya, udah ada buat gue saat gue butuh seseorang," ucap Adis akhirnya. Hidungnya kembali terasa pengar. "Gue bahagia bisa menemani lo saat Lo butuh." "Gue hari ini ada kuis. Tapi rasanya males beranjak dari sini. Pasti nggak bakalan bisa fokus. Lagi pula pasti udah telat juga," "Ya udah, kalo gitu Lo izin aja, minta kuis susulan. Lo mau gue antar ke mana?" "Terserah elo. Gue masih males ke kampus. Nanti jam 11 aja ke kampusnya untuk mata kuliah selanjutnya." "Ya udah, Lo ikut gue. Gue ajak ke suatu tempat yang bisa bikin Lo bahagia." "Ke mana?" "Lo lihat aja." "Eh Dan. Lo deg-degan ya? d**a Lo berisik bet dari tadi," ucap Adis yang sengaja menempelkan tangannya di d**a Jordan." "Namanya manusia hidup, pasti jantungnya berdetak, Oon. Udah lepasin gue! Keenakan banget peluk gue lama-lama," ucap Jordan sambil melepaskan tangan Adis. Terlihat sekali dia sedang salah tingkah. "Oe, Jordan! Lo kok salah tingkah sih," ucap Adis. Dia tertawa kecil. "Kalau pipi masih basah itu Nggak boleh ketawa. Pamali. Udah ah, gue harus nyetir lagi. Katanya Lo mau pergi ke suatu tempat." "Bukan gue yang minta, tapi Lo yang nawarin! Eh, tapi beneran deh! Kok Lo salah tingkah gitu sih, jangan-jangan Lo beneran suka sama gue ya, Dan?" selidik Adis. Ah, gadis yang baru saja sesenggukan beberapa menit yang lalu ini bisa-bisanya menggoda Jordan seperti itu. Ya, sekarang hatinya sudah kembali tenang. Kekesalannya pada Elena dan juga pada Beno sudah sedikit memudar. Ternyata benar apa kata orang, ketika kita sedang galau dan sedang sedih, terkadang obatnya sungguh mudah. Hanya menangis dan memeluk orang yang kita percaya. Maka kesedihan itu sedikit demi sedikit akan memudar. Bukan berarti kekesalannya hilang begitu saja, Tidak. Tetapi paling tidak apa yang menggondok di dadanya sudah menghilang. Jordan, dia memang tidak secare Beno. Kepeduliannya terhadap Adis memang tidak ada tandingannya dibandingkan Beno. Beno tetap nomor satu. Namun, Adis tidak bisa memungkiri kalau sahabatnya yang satu itu selalu berusaha ada untuk Adis disaat Adis membutuhkan teman untuk berbagi cerita. Adis memang punya Santi, tetapi terkadang, cerita dengan sahabat lawan jenis itu jauh lebih melegakan. Itulah kenapa saat-saat seperti ini Jordan lebih dia butuhkan daripada Santi karena dia tahu, pasti Santi akan selalu membela Beno. Entah yang dilakukannya salah atau benar, Santi selalu membela sahabatnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN