Permintaan Maaf

1114 Kata
Rencana mereka untuk naik kincir angin, bianglala, dan wahana lainnya akhirnya batal. Mereka sudah tidak ada mood lagi untuk melakukan hal yang menyenangkan. Cincin yang melingkar di jari manis Adis, sudah membuat hati Jordan rontok. Niatnya dia ingin membahagiakan Adis dengan membawanya ke pasar malam. Namun ternyata tak ada kebahagiaan di sana. Malah hatinya hancur. Jordan mengantar Adis tepat pukul 10.00 malam. Jordan langsung pulang, tanpa berbincang lebih jauh. Dia perlu menenangkan dirinya dan perlu berpikir dengan suasana hati yang tenang, begitu juga dengan Adis. Cinta ini begitu rumit untuk mereka. Karena mereka sama-sama tahu, cinta mereka bukan lagi cinta monyet yang hanya untuk sesaat. Adis tidak pernah menyangka, bahwa dia akan terjebak dalam dua cinta. Dia harus memikirkan semuanya matang matang. Karena jika dia salah langkah sedikit saja, maka semuanya akan berantakan. Mana yang harus dia pilih? Laki-laki yang Koret tapi perhatian dan mau melakukan apapun demi wanitanya? Atau laki-laki yang sangat royal tetapi lari tunggang langgang ketika melihat wanita yang dicintainya muntah-muntah? Well, butuh pertimbangan yang sangat berat untuk ini. Beno, laki-laki yang sudah menemani nya kurang lebih 1 tahun. Dia tidak pernah pergi saat Adis butuh bantuan. Dia tidak pernah pergi, bagaimanapun keadaan adis. Itulah, yang membuat posisi Beno masih kuat di hati adis meskipun pelitnya setengah hidup. Keesokan harinya, Beno datang pagi-pagi ke kost Adis dengan membawa sekotak pizza. Setahun menjalin hubungan, dia baru tahu kalau adis suka Pizza. Tentu saja itu adalah sogokan, agar Adis sedikit melunak hatinya setelah kekecewaan tadi malam. "Ini, gue bawain sarapan buat Lo." Seperti biasa, mereka duduk di kursi teras berdampingan dan terhalang meja kecil. "Ngapain kesini pagi-pagi?" "Hari ini gue kuliah siang, Jadi pagi gue kerja dulu. Gue sempetin bikin pizza dulu buat lo, supaya bisa anter kesini pagi-pagi sebelum gue ke bengkel. Lo belum sarapan kan?" Adis menggeleng. Oooh … Pizza buatannya sendiri. Nggak heran lah, memang seperti itu kelakuan si Koret. "Sayang, maafin gue ya? Gue janji bakal jadi orang yang lebih baik lagi. Gue bakal kerja keras, supaya gue bisa cepat-cepat meresmikan hubungan kita, dan supaya nanti bisa membahagiakan keluarga kecil kita. Sabar dulu ya?" Keluarga kecil? Adis begidik. Keluarga kecil macam apa yang akan dia bangun? Keluarga kecil yang kurang gizi? Keluarga kecil yang harus menunggu lebaran kalau mau beli baju? Atau keluarga kecil yang untuk membeli snack saja harus menunggu 1 bulan sekali? Mengerikan. "Sayang, please? Maafin gue ya?" "Hmmm ... " Adis mengiyakan pendek. Beno lega, meskipun jawabannya terdengar seperti kurang ikhlas. "Alhamdulillah, lega. Oh ya … Sebenarnya gue mau minta maaf satu hal lagi sih," ucap Beno sambil menggaruk tengkuknya. Adis menoleh, dia tidak bertanya. Namun, tatapannya sudah menyiratkan sebuah pertanyaan. "Gue tahu besok lo ulang tahun, tapi ... gue minta maaf banget kalau gue nggak bisa nemenin lo di hari spesial lo. Soalnya nanti gue harus ke luar kota sama si bos untuk cari sparepart motor dan t***k bengek yang lainnya. Nggak tau mau diajak ke mana lagi. Katanya sih 3 harian. Honornya gede, lumayan kalau nggak diambil. Jadi gue nggak bisa nemenin lo di hari ulang tahun Lo. Maaf ya? Nggak apa-apa kan?" "Hmmm … " Adis cuma menggumam pendek lagi. Tentu saja adis sudah tidak kaget. Dia tahu betul isi otak Beno. Dia sengaja menghindar di hari ulang tahun Adis supaya tidak membelikan apapun untuk kekasihnya. Benar-benar sudah kebaca oleh pikiran Adis. "Nggak apa-apa kan?" "Nggak apa-apa. Udah biasa," Jawab Adis jutek. "Jangan gitu dong. Ini urgent soalnya." "Nggak apa-apa, Beno. Lo pergi aja. Kerjaan Lo kan juga penting." "Lo serius nggak marah?" "Adis menggeleng." Beno segera meraih tangan Adis yang saat itu sedang duduk di sampingnya, Lalu dia mengecup lembut. "Gue janji, bakal mengusahakan yang terbaik untuk kita nanti. Love you, kepiting rebus. Gue berangkat kerja dulu ya?" Adis kembali mengangguk. Lalu, laki-laki itu segera pergi dari rumah Adis dengan hati yang sedikit lebih lega. Dia harap kekasihnya benar-benar akan memaafkan dirinya. Beno sudah menghilang dari pandangan Adis. Perempuan itu segera membuka kotak pizza yang ada di atas meja. Dia tersenyum. 'Jiwa pelit Lo ternyata bisa membuat lo serba bisa ya, Ben. Sayangnya gue udah banyak makan pizza premium beberapa hari ini. Jadi gue males makan makanan buatan lo yang pasti Rasanya nggak karu-karuan,' ucap Adis dalam hati. "Waaaah … enak nih pagi-pagi udah dapat kiriman pizza." Bella, perempuan yang menghuni kamar kost di samping Adis berdiri di sampingnya sambil mengamati Pizza itu dengan muka mupeng. "Lo mau?" tawar Adis. "Bodoh banget kalau gue nggak mau dikasih bisa pagi-pagi begini. Meskipun bentuknya sedikit tidak beraturan, tapi nggak apa-apa. Gue mau, minta satu pizza." "Ini buat Lo semua. Abisin," ucap Adis sambil memberikan sekotak pizza yang sengaja dibuat Beno khusus untuk dirinya "Lo serius? Ini buat gue semua?" Bella mengambil sekotak pizza yang baunya memang menggoda. "Iya, ambil aja. Gue masuk dulu." Adis melangkahkan kakinya menuju ke kamar lalu menutupnya rapat. "Oke. Makasih banyak ya Dis, besok-besok pacar lo suruh sini lagi bawa pizza lagi, biar gue yang makan," teriak Bella dari luar kamar. Lalu, Dia segera berjalan menuju ke kamarnya dengan wajah yang berbinar. Tak ada lagi yang lebih menyenangkan dari mendapatkan makanan gratis pagi-pagi bagi anak kos. *** "Ditungguin sama selingkuhan Lo di luar." Santi berbicara dengan nada ketus kepada adis yang saat itu sedang merapikan modulnya. Adis menoleh ke luar. Ada Jordan di sana. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum. Adis meletakkan kembali buku-buku itu di atas meja dan segera menghampiri Jordan. "Ada apa, Dan?" "Tas Lo," ucap Jordan sambil memberikan tas Adis yang ketinggalan di mobilnya. Padahal Adis sengaja meninggalkannya di mobil, barang-barangnya sudah diambil, dan tasnya dia tinggal. Berharap Jordan nggak ngeh. Karena dia masih merasa tidak pantas untuk menerima tas mahal itu. "Em … ketinggalan ya?" "Iya, tapi lucu banget. Tasnya kosong momplong nggak ada isinya apa-apa. Ini ambil. Nggak usah cari cara untuk mengembalikan tas ini diam-diam. Oh ya? Happy birthday ya? Lo Ulang tahun kan Besok. Gue mau ngucapin yang pertama. Maaf nggak bawa hadiah. Habisnya udah ada yang bakal ngasih lo hadiah spesial pasti nanti malam?" "Hahaha … Thank you BTW. tapi siapa yang Lo maksud? Beno? Bahkan dia nggak ada di sini sekarang. Di ke luar kota sama bosnya. Katanya pulangnya lusa." "Jadi Beno nggak ada saat ulang tahun Lo?" "Udah biasa. Ya udah, gue masuk dulu ya?" "Em … nanti malam gue ke kost Lo." "Ngapain?" "Tunggu aja." Jordan tersenyum, Lalu dia pergi meninggalkan Adis yang masih menenteng tasnya. 'gue sudah berniat untuk menjauh, tetapi kenapa Rasanya sulit. Apalagi setelah gue dengar bahwa Beno nggak ada di sisi Lo di hari spesial. Jika Mungkin orang yang Lo sayang tidak bisa memberi kebahagiaan buat Lo, biarkan gue yang menawarkan kebahagiaan itu, Adis,' ucap Jordan dalam hati. Dia terus melangkahkan kakinya menuju ke tempat parkir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN