“Hey, aku datang membawakanmu makanan.”
Suara Albert terdengar lembut ketika ia berdiri di ambang pintu apartemen Flora, membawa beberapa kotak makanan di tangannya.
“Oh, astaga … Albert, ini terlalu merepotkan,” ucap Flora tulus. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan datang sejauh ini hanya untuk hal sesederhana makan malam.
Albert menggeleng pelan.
“Tidak merepotkan sama sekali. Justru aku senang bisa melakukan ini. Setidaknya, aku bisa menjadi temanmu.”
Flora tersenyum tipis. “Terima kasih, Albert.”
“Ya, sama-sama.” Albert membalas senyum itu.
“Bolehkah aku masuk?”
“Tentu saja. Silakan duduk,” jawab Flora sambil menyingkir, mempersilakan Albert masuk.
Setelah itu, ia berjalan ke dapur kecil apartemennya untuk menata makanan yang dibawa Albert.
Tak lama kemudian, Flora kembali dengan beberapa piring di tangannya. “Ayo, kita makan bersama.”
Albert tertawa kecil.
“Hei, aku membawakan makanan itu untukmu.”
“Aku tahu,” sahut Flora sambil ikut tersenyum.
“Tapi mana mungkin aku menghabiskan semuanya sendiri.”
Albert mengangkat bahu ringan. “Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu … Kakak ipar,” ujarnya sambil bercanda.
Ia lalu terkekeh kecil. “Eh, ralat. Calon mantan ipar.”
Tawa kecil itu terasa menggantung di udara. Flora membalasnya dengan senyum, tetapi senyum itu tak sepenuhnya sampai ke matanya.
Ada sesuatu yang perih menggores dadanya bukan karena candaan Albert, melainkan karena kenyataan yang semakin nyata status pernikahannya yang tinggal menunggu waktu untuk benar-benar berakhir.
Namun Flora memilih diam. Ia duduk di seberang Albert, mencoba menikmati kebersamaan sederhana itu, meski hatinya perlahan-lahan terasa semakin sepi.
“Ah … aku baru tahu ternyata Vincent berada di luar negeri.”
Flora spontan mengangkat kepalanya, menatap Albert yang duduk tak jauh darinya.
Albert membalas tatapan itu dengan sorot mata sendu tatapan yang sengaja ia bangun, seolah ikut merasakan luka yang kini memenuhi d**a Flora.
“Di sana dia sedang mengurus bisnis barunya dan …” Albert menggantung kalimatnya. Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang terdengar berat,
“ternyata Vincent juga sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Jessica. Kekasih yang selama ini selalu ia banggakan.”
Kata-kata itu meluncur perlahan, namun menghantam Flora tanpa ampun.
“Mereka akan menikah setelah perceraian kalian selesai. Vincent juga berencana hadir di sidang terakhir nanti,” lanjut Albert.
“Seperti yang kamu tahu, dia sudah memutus pengacaranya dan menolak mediasi. Itu artinya … dia benar-benar ingin segera berpisah darimu.”
Degh.
Dada Flora terasa bergemuruh, seolah baru saja dihantam benda keras. Napasnya tertahan, tenggorokannya tercekat. Ia memalingkan wajah sejenak, berusaha menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dadanya.
Albert menatap Flora dengan raut prihatin.
“Flo … kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya lembut. “Are you okay?”
Flora memaksakan senyum, senyum yang rapuh dan hampir runtuh.
“Yeah … I’m okay. Aku baik-baik saja,” jawabnya, meski suaranya terdengar kosong.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar.
“Mungkin perpisahan yang cepat memang lebih baik. Aku harap pengadilan tidak memperlambat proses perceraian ini.”
Albert mengangguk pelan, seolah benar-benar memahami perasaan Flora. Namun jauh di lubuk hatinya, ada kepuasan yang berdenyut pelan.
“Aku akan membantu mempercepat prosesnya,” ujar Albert. “Kamu tidak perlu memikirkan apa pun. Biarkan aku yang mengurus semuanya. Kamu fokus saja pada dirimu sendiri.”
Flora hanya mengangguk lemah.
“Aku ingin bertemu Mama Meyla dan Papa Jobart. Aku—”
“Tidak perlu.”
Albert memotong cepat, terlalu cepat.
Flora mengernyitkan dahi. “Kenapa?”
“Ehm … Mama dan Papa sedang sibuk,” jawab Albert, berusaha tetap tenang. “Mereka juga sedang berada di luar negeri. Ada urusan bisnis yang agak bermasalah di sana.”
Alis Flora terangkat, matanya menyipit penuh tanya.
“Bisa bertepatan begitu, ya? Bersamaan dengan urusan Vincent?”
Albert mengangguk. Ada sedikit gugup yang menyelinap, namun segera ia tutupi.
“Namanya juga bisnis, Flo. Orang tuamu juga ke luar negeri karena urusan perusahaan, kan? Bertepatan dengan masalah rumah tanggamu juga.”
Flora terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Ya … benar juga.”
Albert menghela napas dalam diam, seolah baru saja melepaskan beban berat yang sejak tadi menghimpit dadanya.
Lihatlah, Vincent, batinnya bergema, dingin dan penuh kebencian yang terpendam.
Sedikit lagi. Tinggal satu langkah lagi, dan aku akan menghancurkanmu. Bukan sekadar merebut apa yang kau abaikan, tapi menghancurkan hidupmu perlahan seperti kau menghancurkan wanita itu tanpa pernah merasa bersalah.
Sudut bibir Albert terangkat nyaris tak terlihat. Bukan senyum bahagia, melainkan lengkung tipis yang lahir dari kepuasan gelap.
Ia telah menunggu terlalu lama untuk momen ini menunggu saat Vincent kehilangan segalanya, bahkan sebelum menyadari apa yang sedang direnggut darinya.
------
Sementara itu, di sebuah rumah sakit ternama di luar negeri, Vincent duduk terpaku di dalam ruang rawat khusus. Tatapannya kosong, menembus dinding putih yang terasa semakin menyesakkan.
Bibirnya pucat, tubuhnya masih lemah akibat cedera jatuh dari tangga yang belum sepenuhnya pulih. Namun satu hal terus hidup dalam benaknya nama Flora.
“Istriku …” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. “Tolong kembalikan istriku …”
Di sisi lain ruangan, Meyla dan Jobart menatap putra mereka dengan sorot mata penuh kecemasan. Hati seorang ibu tak pernah salah membaca luka anaknya bukan luka fisik, melainkan luka yang jauh lebih dalam.
“Sayang, tubuhmu belum benar-benar pulih,” ujar Meyla lembut sambil
mengusap punggung Vincent.
“Setelah kondisimu membaik, kita akan menemui Flora. Mama dan papa akan memohon padanya agar ia membatalkan perceraian itu.”
Vincent menggeleng pelan. Ia berusaha bangkit dari atas ranjang tanpa tongkat, menepis bantuan.
“Aku sudah sembuh, Ma. Aku baik-baik saja. Aku harus pulang.”
Namun baru beberapa langkah, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Brugh!
“Vincent!” teriak Meyla dan Jobart bersamaan.
Tubuh Vincent terjatuh ke lantai, napasnya terengah, wajahnya memerah karena menahan emosi dan rasa sakit.
“Tenangkan dirimu,” ujar Jobart tegas namun cemas. “Papa akan mengurus semuanya.”
“Urus apa, Pah?” sentak Vincent dengan mata merah menyala.
“Papa membiarkan Albert mengurus semuanya! Dia ingin memisahkanku dari Flora. Dia ingin merebut Flora dariku!”
Jobart menggeleng kuat.
“Albert itu adikmu. Tidak mungkin dia menghancurkan kehidupan kakaknya sendiri. Itu mustahil, Vincent.”
“Tapi …,” Meyla menyela dengan suara ragu, “sampai sekarang Albert memang tidak mengizinkan kita menghubungi Flora.”
Ucapan itu seperti percikan api di atas bensin.
“Apa?!” Vincent terkejut. Ia berusaha bangkit kembali dengan napas memburu, bahkan mendorong ayahnya tanpa sadar. “Aku mau pulang!”
“Vincent!” Jobart menahan tubuh putranya.
“Bagaimana aku bisa tenang, Pah?!” teriak Vincent histeris.
“Albert sudah mempermainkan hidupku! Selama ini dia bilang Flora w************n! Dia bahkan mengatakan pernah tidur dengannya! Padahal akulah pria pertama Flora!”
Meyla tersentak. Tangannya gemetar menutup mulut. “Apa… apa benar Albert melakukan itu?”
Namun Vincent tak lagi mampu menjawab.
Emosinya meledak. Ia menyapu meja, menjatuhkan barang-barang, menghancurkan apa pun yang terjangkau olehnya.
Jobart panik. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol darurat di dinding.
“Dokter! Tolong anak saya!” serunya ketika dokter dan perawat masuk tergesa.
“Lepaskan aku! Aku ingin bertemu istriku! Aku akan membunuh kalian semua kalau menghalangiku!” jerit Vincent meronta tak terkendali.
Dokter tak punya pilihan.
Sebuah suntikan penenang diberikan dengan cepat. Perlahan tubuh Vincent melemah, suaranya meredup.
“Flo … ra …” gumamnya pelan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Ruangan kembali sunyi, hanya tersisa napas berat dan kecemasan yang menggantung.
Dokter itu berdiri dengan sikap profesional, menatap Jobart dan Meyla secara bergantian sebelum akhirnya berbicara dengan nada tenang namun serius.
“Tolong, untuk sementara waktu, jangan membahas apa pun yang berpotensi memicu depresi Tuan Vincent,” ujarnya pelan.
“Kondisi mentalnya masih sangat rapuh. Ia membutuhkan pemulihan penuh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional.”
Meyla menggenggam tangan suaminya erat, matanya sembap, napasnya terasa berat.
“Jika memungkinkan,” lanjut sang dokter, “ajak Nyonya Flora untuk menemui Tuan Vincent. Dari pengamatan kami, nama wanita itu terus terucap bahkan saat Tuan Vincent berada di bawah pengaruh obat penenang.”
Dokter berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan hati-hati,
“Sepertinya, satu-satunya hal yang benar-benar mampu menenangkan kondisi Tuan Vincent adalah kehadiran Nyonya Flora. Ia seperti menjadi jangkar bagi kesadarannya.”
Jobart menunduk, rahangnya mengeras. Meyla menatap lantai, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
Jobart mengusap wajahnya lelah. Meyla mendekat, berbisik dengan suara bergetar,
“Pah … bisa saja apa yang Vincent katakan itu benar. Bagaimana kalau Albert benar-benar ingin menghancurkan hidupnya?”
“Jangan berprasangka,” jawab Jobart, meski suaranya tak lagi setegas tadi. “Albert tidak mungkin sejahat itu.”
Namun Meyla terdiam. Ada kegelisahan yang tak bisa ia singkirkan.
"Tidak … seorang ibu tahu kapan anaknya berbohong dan kapan ia berteriak meminta tolong."
Dalam diam, Meyla mengepalkan tangannya.
"Aku lebih mempercayai putraku. Aku akan mencari tahu semuanya."